My Cruel Husband

My Cruel Husband
Menemani Daddy bekerja


__ADS_3

Dashinta bersiap pulang. Ia bangkit lalu pamit pada Devan dan kedua anaknya. Devan memanggil sang istri.


"Hati-hati, Dashinta."


"Ya, Nona Lovi. Terima kasih," ujarnya dengan senyum hangat.


Dashinta hanya mengantar berkas setelahnya Ia harus pulang. Sebenarnya tadi Adrian mengajaknya bermain, tapi hari akan semakin malam kalau Ia menuruti keinginan anak atasannya itu.


"Bye, Dashinta. Kalau aku sempat, aku akan datang ke kantor Daddy. Untuk melakukan sidak,"


Devan, Lovi, dan Dashinta terkekeh geli mendengarnya. Devan mengusap kepala anaknya. Dashinta sudah keluar, dan Adrian kembali melanjutkan permainannya. Sementara Lovi beranjak ke ruang makan karena merasa lapar.


Adrian, Andrean, dan Auristella sekarang menemani Daddy mereka bekerja. Membaca satu persatu lembar yang diserahkan Dashinta tadi.


Auristella mulai bersikap jahil lagi pada kakaknya yang kedua karena orangtuanya lengah. Anak perempuan itu ingin meminjam mobil-mobilan milik Adrian, namun Adrian langsung meraihnya, tidak mengizinkan adiknya untuk menyentuh.


Lalu Adrian mengeluarkan mainan ular dan binatang lainnya dari kotak mainan miliknya. Ia melempar itu pada Auristella.


Melihat adiknya mundur ketakutan sekaligus berteriak, Ia tersenyum miring. Secepat kilat Adrian membawa mainan menggelikan itu ke belakang punggungnya agar siapapun tidak tahu sumber ketakutan Auristella. Andrean menoleh pada kedua adiknya. Ia yakin ada yang tidak beres.


"Kenapa, Auris?"


Auristella hanya menunjuk Adrian karena dia belum bisa menjelaskan apapun. Sementara yang ditunjuk sedang menyibukkan diri.


Andrean kembali menonton sekaligus menghabiskan makanan ringan yang menjadi temannya sejak tadi.


Auristella kembali mendekati Adrian. Dia tidak akan pernah berhenti mengganggu Adrian, maka sebaliknya pun seperti itu.


Adrian berdecak kesal saat adiknya mengambil mainan yang lain. Adrian kembali merebut seraya menjulurkan ular tipuan yang tadi.

__ADS_1


Auristella akhirnya menangis juga, bukan hanya berteriak lagi. Adrian terkekeh pelan lalu sedetik kemudian berhenti karena Devan menatapnya dan Auristella bergantian.


"Lov.."


"Ya, ada apa?" sahut Lovi dari ruang makan.


"Anakmu bertengkar lagi,"


Devan sedang sibuk dan tidak ingin kepalanya semakin sakit. Jadi lebih baik Lovi saja yang turun tangan. Sudah penat karena pekerjaan, kedua anaknya malah bertengkar. Rasanya Devan ingin mati berdiri.


"Auris ingin mengambil mainan milikku, Dad." adu Adrian yang tidak ditanggapi oleh Devan.


"DADDY! DENGARKAN AKU!" teriakannya melengking karena tidak terima Devan diam saja. Ia tidak tahu Devan sedang menahan kesalnya.


"Diam! gunakan mulutmu dengan baik. Memang boleh teriak seperti itu dengan orangtua?" tanya Devan dengan nada datarnya. Ia menatap Adrian dengan tajam.


"Bagaimana tidak disalahkan? kamu yang membuat Auris menangis,"


"Dia yang mengganguku lebih dulu,"


"Sebagai kakak harus mengalah. Coba kamu diam seperti Andrean, Auris tidak akan mengganggu,"


Lovi datang menghampiri sumber keributan padahal makanannya belum habis.


"Ada apa ini? kenapa bertengkar lagi?"


"Selalu dibandingkan dengan Andrean," cibirnya tidak terima.


"Karena---"

__ADS_1


"Devan!" Lovi menggeleng, mengisyaratkan suaminya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Devan akan membela Andrean, Lovi yakin. Dan itu akan menyakiti hati Adrian tanpa disadari.


"Kalian sama saja. Sama-sama anak baik. Jangan iri seperti itu, Adrian. Tidak baik,"


"Kalian selalu membela Andrean dan Auris. Bagaimana aku tidak iri,"


"Kalau kamu salah tidak akan dibela,"


Adrian beranjak seraya membawa mainannya yang sangat banyak itu ke ruangan lain. Malas mendengar ucapan kedua orangtuanya.


"Adrian, Daddy belum selesai bicara,"


"Devan, sudah! Auris juga salah bukan? jangan seperti itu pada Adrian,"


"Oh, ya. Anak Daddy yang bungsu ini juga salah. Maka harus dihukum," Devan membawa Auristella ke atas pangkuannya.


Ia mencium seluruh bagian wajah Auristella hingga anaknya itu merengek ingin turun dari pangkuan.


"Jangan jahil juga. Rambut Daddy bisa berubah warna menjadi putih sebelum waktunya. Daddy stres setiap kali kalian bertengkar,"


"Auris, dengar Daddy tidak?"


Auristella akhirnya diturunkan. Ketika si bungsu itu ingin menyentuh salah satu kertas yang ada di depan Devan, Devan langsung menahannya.


"Mau apa? tangannya mulai jahil ya? ini bukan urusanmu,"


"Calon boss, Dad." sahut istrinya.


--------

__ADS_1


__ADS_2