
Lovi sedang ingin mendatangi suaminya di kantor. Ia menyapa Dashinta sebentar setelah itu mengetuk pintu ruangan Devan.
"Masuk!" titah Devan dari dalam ruangannya.
Lovi masuk dan Ia melihat suaminya sedang menelpon seseorang. Devan terkejut mendapati kehadiran istrinya di sini.
"My Lov..."
"Hai, aku datang membawa makanan untukmu,"
Lovi meletakkan bawaannya di sofa. Kemudian duduk memperhatikan Devan yang sedang mengakhiri panggilan.
"Aku mengganggu mu ya?"
"Tidak, aku senang kamu datang. Kebetulan aku belum makan siang. Ayo, kita makan bersama," ujar Devan.
Ia berjalan mendekati Lovi dengan perasaan tidak menentu. Ia baru saja mendapat kabar bahwa Lianne meninggal dunia. Devan sudah meminta pihak rumah sakit untuk menyelesaikan semua urusan mengenai kematian Lianne. Masalah biaya apapun yang berkaitan dengan Lianne sudah diselesaikan oleh Devan bahkan untuk biaya pengobatan pun sudah selesai sejak lama.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Devan membantu Lianne. Karena Ia juga manusia yang memiliki hati. Melihat kesulitan Lianne dalam menjalani hidup bersama anaknya, hati Devan tersentuh. Ia membantu Lianne dalam hal membiayai. Lianne yang tahu akan hal itu langsung berterima kasih pada Devan. Ia bahkan datang ke kantor Devan hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung. Bantuan Devan sangat berarti untuknya yang sudah tidak memiliki suami lagi sehingga dalam hal membiayai hidup sangat sulit dilakukan Lianne apalagi dengan kondisinya yang memiliki penyakit leukimia.
Rencananya setelah Lovi pulang nanti, Devan akan melihat prosesi pemakaman Lianne. Setidaknya Ia akan melihat Lianne untuk yang terakhir kalinya dan menguatkan putri dari perempuan itu.
"Kamu kenapa sih? melamun saja sejak tadi,"
"Tidak, aku tidak melamun." bantahnya yang membuat Lovi menggeleng tidak percaya.
"Mata mu tidak bisa fokus dan aku tahu itu,"
Lovi meraih tempat makanan yang ada di tangan Devan kemudian meletakkannya sebentar di atas pangkuannya. Perempuan itu merangkum wajah Devan.
"Ada apa? kamu sedang memikirkan sesuatu? boleh aku tahu?"
Devan menggeleng, enggan bercerita. Ia tersenyum menenangkan agar Lovi tidak lagi bertanya lebih jauh.
Karena Devan terlihat tidak ingin cerita apapun, akhirnya Lovi tak lagi bertanya. Ia membiarkan Devan melanjutkan makan siang nya.
"Kamu tidak makan? aku suapi mau ya?"
"Aku makan di mansion saja nanti. Sekarang belum mau,"
Devan membawa dagu istrinya agar mau menatapnya. Satu alisnya terangkat. "Kamu merajuk?"
"Tidak, aku hanya belum lapar,"
Devan langsung mengecup bibir istrinya hingga sempat mengeksplorasi mulut Lovi. Lovi menghindar namun kepala bagian belakang nya ditahan oleh Devan.
Setelah dilepaskan oleh suaminya, Lovi berdecak kesal. Ia mengusap bibirnya yang basah.
"Kamu sedang makan ya, kenapa malah menciumiku?!" sentaknya kesal yang membuat Devan terkekeh geli.
__ADS_1
Sampai Ia selesai makan, Lovi belum juga mau pulang. Ia jadi bingung sekarang. Niatnya bila Lovi sudah pulang, Ia akan datang ke rumah duka.
"Bagaimana ini? aku ingin sekali melihat Lianne dan bertemu dengan Angel, anaknya." batin Devan resah. Ia melirik Lovi yang nyaman di atas sofa. Kemudian tak lama, Ia masuk ke kamar yang menjadi tempat Devan untuk istirahat selama di kantor, tapi jarang sekali kamar itu ditempati karena Devan tidak ada waktu untuk rehat sejenak, paling hanya untuk makan siang.
Devan mendatangi kamarnya dan melihat Lovi yang tengah bermain ponsel. "Lov..." pangil lelaki itu pada sang istri.
"Kenapa?" jawab Lovi seraya menolehkan kepalanya.
"Kamu tidak pulang?"
Devan tersadar bahwa pertanyaan nya akan membuat Lovi curiga atau tersinggung. Ia segera menambahkan, " Auris di mansion baik-baik saja?"
"Memang kenapa? aku tidak boleh berada di sini?"
"Bukan tidak boleh,"
"Auris tidur saat aku tinggal tadi,"
"Aku ingin keluar sebentar ya?"
"Untuk apa?"
"Ada urusan di luar sebentar,"
"Iya, urusan pekerjaan?" tanya Lovi yang dijawab anggukan oleh Devan. Devan terpaksa berbohong seperti itu agar Ia bisa mengunjungi rumah Lianne yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Devan menutup pintu kamarnya lalu keluar dari ruang kerjanya. Sebelum benar-benar meninggalkan kantor, Ia berpesan pada Dashinta, "Aku keluar sebentar, Dashinta."
"Dia ada di dalam. Pastikan Lovi baik-baik saja,"
"Iya, Boss."
******
Ini untuk kedua kalinya Jane datang ke mansion selama menikah. Seperti biasa, Ia begitu antusias karena akan bertemu dengan keponakannya.
"Kenapa waktu itu berbohong pada Richard? kamu izin pada Vanilla pulang ke rumah ternyata saat Richard pulang, kamu tidak ada di rumah," begitu dia datang, Rena langsung menyambutnya dengan pertanyaan yang menghakiminya.
Jane tertawa awalnya tapi karena melihat Rena menatapnya tajam, bibirnya langsung bungkam.
"Ada temanku yang ulang tahun. Jadi aku menghadiri birthday party nya,"
"Apa sulitnya meminta izin pada suami? kalau kamu pergi tanpa izin begitu, malah membuat Richard merasa tidak dihargai,"
"Karena birthday party nya di kelab. Aku yakin Richard tidak mengizinkan. Aku kesal padanya, dia tidak membolehkan aku ke kelab, tapi dia sendiri sering datang ke sana,"
Rena menggeleng setelah mendengar ucapan keponakan dari suaminya itu. Padahal Richard melarang untuk kebaikan Jane juga. Karena sudah sering datang kelab, mungkin Richard tahu bahaya nya apa untuk Jane.
Jane duduk dan memanggil Auristella yang sedang menonton dengan tenang. "Mulutmu mengunyah terus, Auris. Pantas saja badan mu sintal ya,"
__ADS_1
Rena rupanya belum puas menegur Jane yang malah pergi ketika dinasihati. "Jane, dengar aku tidak? jangan seperti itu lagi lain kali. Dia terlihat khawatir mencarimu,"
Jane berdecak pelan. Ia menatap Rena dengan jengah. "Khawatir? dia marah-marah saat bertemu aku,"
"Jelas saja dia marah. Kamu sudah pergi tanpa izin, terus sampai malam 'kan?"
"Iya,"
"Errghh anak ini benar-benar,"
"Aduh, Aunty ini seperti tidak pernah melakukan hal yang sama denganku,"
"Pernah, dan Paman mu juga melakukan hal yang sama dengan Richard. Bahkan dia lebih parah lagi marah nya,"
Rena jadi mengingat kilas balik saat Ia sudah menikah dengan Raihan dulu. Raihan belum mencintai Rena tapi dia tidak suka ketika Rena membuatnya khawatir. Raihan terlalu peduli pada Rena. Sampai suatu ketika Rena pulang malam karena harus bekerja, Raihan marah besar. Raihan sampai menuduh Rena haus harta karena Raihan menganggap uang yang diberikan Raihan tidak cukup. Padahal Rena bekerja karena merasa tahu diri. Raihan bicara baik padanya saja jarang sekali. Jadi Ia takut untuk menggunakan uang suaminya.
Raihan tahu Rena bekerja dan dia masih marah saat Rena pulang larut. Apalagi Richard yang tidak tahu menahu istrinya pergi kemana, jelas saja dia marah.
"Iya, aku akan menjadi lebih baik lagi,"
"Kamu berubah makanya. Coba pelan-pelan seperti Vanilla. Dia saja bisa lepas dengan kebiasaan buruknya yang dulu,"
"Aku masih nyaman dengan aku yang sekarang. Mungkin nanti,"
Rena berdecak saat Jane menjawabnya dengan santai seperti itu. Auristella memperhatikan nenek dan Aunty nya dengan raut tenang dan mulut yang terus mengunyah.
Kaki anak itu naik ke atas meja makan kecilnya dan hal itu membuat Jane tertawa. "Kalau Mommy mu tahu, kamu akan kena marah, Auris."
Rena segera menurunkan kaki Auristella yang menggemaskan itu. Mungkin perutnya terlalu begah hingga ingin meluruskan kaki agar perut terasa lebih lega.
******
Devan mengusap kepala Angel yang belum juga berhenti menangis saat melihat jasad Ibunya tertanam di dalam tanah bersama peti nya. Devan menjadi sosok penguat untuk anaknya Lianne saat ini.
Hatinya tersayat melihat anak itu yang sangat merasa kehilangan. Ayahnya tidak peduli padanya, dan satu-satunya malaikat dalam hidupnya, kini telah tiada.
Devan menghapus air mata Angel. Mata Devan yang berkaca tidak terlihat karena berhasil ditutupi nya dengan sunglasses.
"Angel, jangan menangis. Biarkan Ibumu tenang ya,"
"Tidak ada lagi yang akan menemani hari-hariku, Uncle." jawabnya dengan terisak. Angel memiliki usia yang sepertinya sama dengan kedua anaknya. Dan usia itu terlalu kecil untuk diminta memahami bahwa inilah sakitnya perpisahan.
"Uncle siap menjadi teman Angel,"
Angel menggeleng. Ia tahu bahwa Devan dan dirinya memiliki kehidupan masing-masing. Walaupun Devan siap menjadi teman tapi hanya Lianne lah yang bisa selalu ada di sampingnya karena Lianne adalah sosok yang melahirkannya. Lianne, Ibu yang selalu ada di sisi Angel sekalipun Ia memiliki penyakit yang parah. Tapi sekarang, itu semua tinggal kenangan. Angel sudah kehilangan Lianne, sosok Ibu sekaligus ayah untuk nya.
--------
Ah Angel you're strong :'( jgn lupa titip semangat buat Angel yakk. Tencuu❤️🤗
__ADS_1
Kuyy mampir ke lapak ortu Devan di Raihan & Rena. Tinggalkan jejak di sana yaaa. Sekali lagi terima kasih🙏