
Auristella akan pulang dari rumah sakit siang nanti. Oleh sebab itu kedua neneknya sibuk mempersiapkan barang-barang Auristella yang berada di rumah sakit untuk kembali dibawa pulang.
"Kalau Lovi sehat, dia adalah orang yang paling cepat menyelesaikan ini semua,"
Rena terkekeh menanggapi. "Kita sudah tua, jadi lambat dalam bergerak,"
Devan baru saja selesai melihat kondisi Lovi dan membersihkan tubuhnya. Ia kembali ke ruangan sang putri. Setelah mendapat kabar dari dokter mengenai kondisi putri mereka, Devan langsung memberi tahukan hal itu pada istrinya agar tidak lagi khawatir. Yang seharusnya dikhawatirkan adalah kondisinya sendiri yang rencananya baru esok hari bisa pulang.
"Aku sudah makan tadi. Biar aku yang menatanya. Kedua Mamaku ini belum makan?"
"Belum, nanti saja."
"Selalu seperti itu. Makan, biar aku yang menyelesaikannya. Auris juga tertidur, dia tidak akan mencari neneknya,"
Tak bisa dipungkiri bahwa Devan juga khawatir dengan kondisi Senata dan Rena yang belum pulang-pulang ke mansion dan jarang sekali terlihat beristirahat. Padahal sudah ada Devan di samping Auristella. Mereka juga harus berbagi tugas menjaga Lovi. Jadi tenaga keduanya benar-benar terkuras hanya demi anak dan cucu. Sementara usia mereka sudah tidak lagi muda. Sangat mungkin bila setelah ini mereka yang akan tumbang karena kelelahan.
Devan paling tidak bisa membereskan sesuatu. Ada saja yang menimbulkan suara bising. Dan Auristella sama dengan kakaknya yang nomor dua. Bila ada yang mengganggu sedikit saja, mereka akan mudah terbangun.
Devan meringis lalu mendekati Auristella untuk menenangkannya. Devan menepuk lembut kaki Auristella juga mengusap keningnya yang tadi sempat mengerinyit.
Melihat mata anaknya malah terbuka, Devan tersenyum meminta maaf. "Daddy berisik ya? maaf, tidak sengaja,"
Auristella melenguh seraya mengerjapkan mata agar pandangannya lebih terang. Hal yang dilakukannya itu membuat Devan menggeram gemas.
"Ucapkan syukur, sebentar lagi kamu akan pulang."
*********
Adrian melakukan konser di dalam kamar mandi. Tidak ada lagi kegiatan menghibur dan orang yang bisa diganggunya, membuat Ia benar-benar hampir mati kebosanan. Bernyanyi sesuka hati di dalam kamar mandi adalah kegiatan paling tepat untuk mengusir rasa bosan itu. Ia tidak peduli sudah berapa kali pintu kamar mandi diketuk dari luar oleh Kakaknya.
"Adrian, cepat keluar! berisik sekali mulutmu,"
"Kita sama-sama berisik, jadi jangan protes!" sahutnya yang memancing Andrean untuk mengerang kesal.
"Kalau mau konser, katakan pada Daddy agar disiapkan panggung dan semuanya. Jangan di kamar mandi, tidak elite sekali,"
"BERISIK!"
"Andrean, biarkan saja. Dia sedang berimajinasi menjadi seorang penyanyi,"
Vanilla menarik tangan keponakan sulungnya untuk menjauh dari sumber kebisingan pagi ini. Tahu kalau Auristella akan keluar dari rumah sakit nanti siang, Vanilla sengaja datang pagi agar bisa menyambut keponakannya itu.
"Masalahnya, telingaku sakit. Aunty juga merasakannya bukan? kalau tidak, berarti telinga Aunty tidak sehat,"
"Huh? telinga Aunty sehat."
"Oh ya lupa. Suami Aunty seorang dokter, tidak mungkin dibiarkan istrinya memiliki telinga yang sakit,"
Andrean membanting tubuhnya di sofa. Di meja makan, kakeknya memanggil untuk segera sarapan sebelum mereka olahraga pagi ini.
"Tunggu Adrian," jawabnya ketika ditanya 'kenapa tidak mau sarapan?'
__ADS_1
"Entah kapan konser itu berakhir. Perutmu bisa sakit karena menahan lapar. Artis di kamar mandi itu masih harus bernyanyi beberapa lagu,"
********
Adrian berlari-lari menghalangi Raihan dan Andrean yang akan bersepeda usai sarapan dan menonton televisi karena harus melegakan perut.
"Apa?! sudah selesai konsernya?"
"Aku mau ikut, Grandpa. Boleh?"
Adrian tak mengacuhkan pertanyaan kakaknya. Ia menatap Raihan kemudian mengambil sepeda dengan terburu-buru padahal Raihan belum menjawab.
"Memang Grandpa izinkan?"
Sepedanya sudah siap dan Raihan mengeluarkan tanda-tanda tidak setuju sepertinya.
"Kamu belum sarapan,"
"Nanti saja. Setelah olahraga..."
"ADRIAN, JANGAN LARI KAMU!"
Vanilla keluar dengan langkah cepat. Adrian berputar mengelilingi Raihan dan Andrean karena dikejar oleh Vanilla.
"Hey, ada apa, Vanilla?"
"Pa... aku harus beri pelajaran untuk anak menyebalkan ini,"
Dengan kesal yang menimbun dada, Vanilla mengangkat lipstiknya yang sudah patah ke hadapan Raihan. Papanya itu menaikkan alis mata lalu menatap Vanilla dan Adrian bergantian.
"Ini maksudnya bagaimana? ada masalah apa?"
Raihan tidak mengerti masalahnya. Padahal jelas-jelas yang ada di depan matanya saat ini adalah salah satu alat make up kesukaan Vanilla dan harganya tidak main-main.
"Lipstikku dipatahi. Tadi aku sedang make up lalu tiba-tiba dia datang mengejutkan aku. Tangan Adrian seolah sengaja--"
"Aku tidak sengaja, Aunty!"
"Kenapa kamu yang marah?" Vanilla menatap kesal saat keponakannya itu mengelak dan marah. Seharusnya Ia yang mengeluarkan tanduknya.
"Sudah-sudah, nanti beli lagi, Vanilla."
"Ya ampun, Pa. Sekarang aku sedang hidup hemat,"
"Aunty hidup hemat? aku rasa sebentar lagi akan ada angin ****** beliung,"
Vanilla menggeram dan bersiap untuk memiting bibir kecil yang banyak bicara itu. Buka suara bukannya untuk meminta maaf, malah membuat Vanilla semakin ingin meraung.
"Tidak biasanya. Kemana Vanilla yang dulu?"
"Papa tahu, Jhico sedang kesulitan. Tidak mungkin..." sadar kalau Ia sudah bicara terlalu jauh, Vanilla membungkam bibirnya.
__ADS_1
Raihan memicing ke arah putrinya. Menunggu kelanjutan kalimat Vanilla. Tapi dia tidak mengeluarkan suara lagi.
"Jhico kesulitan tapi masih tanggung jawab padamu bukan?"
"Masih, dia masih baik padaku. Tapi aku tahu diri,"
"Wow, perkembangan yang bagus, Vanilla." seru Raihan yang tiba-tiba merasa senang. Ia bahagia karena Vanilla sudah bisa berpikir sedikit dewasa. Raihan sengaja memancing, "Kamu memiliki uang sendiri, kenapa tidak gunakan itu untuk membeli lipstik yang baru?"
"Lebih baik untuk hal lain. Bila aku membelinya dengan uangku sendiri untuk menjaga perasaan Jhico, lalu Jhico tahu, pasti dia akan tersinggung. Padahal niatku baik,"
"Kalian membicarakan apa sebenarnya?"
"Ah, tidak, Andrean. Ayo, kita pergi sekarang,"
"Aku ikut!"
"Tidak, tanggung jawab dengan kesalahanmu. Pantas saja sampai lari-lari ingin ikut, tidak tahunya karena menghindari serangan singa betina,"
"Papa, aku bukan singa."
"Ayo, Andrean."
Vanilla menghentak kakinya kesal. Sudah lipstiknya rusak, dikatakan singa betina, setelah ini apa lagi?
Ketika suasana hatinya sedang tidak menentu, Adrian mengajaknya bicara.
"Aku harus melakukan apa, Aunty?"
"Sambung lagi agar lisptiknya menyatu," ujarnya setelah itu meninggalkan Adrian yang terdiam dengan mulut terbuka.
"Aunty, memang bisa? dijahit?"
"Suka-sukamu, Adrian. Dijahit, ditenun, disulam, Aunty tidak mau tahu!"
"Benda ini tidak ada apa-apanya bagi Daddy. Nanti aku minta belikan,"
Vanilla memutar badannya dengan cepat untuk berhadapan dengan keponakannya itu. Ia menggeleng tegas seraya menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri.
"Bukan Daddy yang berbuat salah, tapi kamu. Jadi yang harus tanggung jawab siapa?"
"Aku,"
"Ya, sudah. Jadi kenapa Daddy?"
"Daddy yang punya uang, Aunty. Aku tidak punya, bagaimana caranya mengganti? aku tidak yakin kalau bisa disambung dengan cara dijahit,"
Vanilla menggeram gemas. "Memang tidak bisa, Astaga. Lama-lama Aunty panggil ikan hiu agar memakan kamu ya?"
"Tadi kata Aunty---"
"Ah sudahlah, lama-lama bisa putih semua rambut Aunty meladeni kamu,"
__ADS_1
-------