My Cruel Husband

My Cruel Husband
Auris temani Mommy belanja lagi


__ADS_3

"Kenapa Adrian memeluk Adrina? kalian bertengkar lagi?"


Adrian segera menjauh dari Adrina. Ia menggeleng pada Acha, tidak ingin menjawab jujur.


"Tidak, Ms. Kami baik-baik saja,"


"Wajah Adrina tidak bisa bohong. Kenapa cemberut, Adrina? kamu diganggu Adrian lagi?"


Adrian menatap Adrina, berharap temannya itu sudah tidak kesal lagi. Ia sudah membuang sampah yang memenuhi tas Adrina, sudah meminta maaf juga, seharusnya mereka sudah baik-baik saja.


Melihat Adrina juga hanya menggeleng, akhirnya Acha tidak ingin mengulik lagi. Mereka yang akhir-akhir ini bertengkar terus terkadang membuat Acha bingung. Padahal penyebabnya hanya masalah kecil tetapi hampir setiap hari ada saja perdebatan yang terjadi diantara kedua anak itu.


"Tadi ada yang membuang sampah di tas Adrina, Ms. Adrina mengira kalau itu perbuatan Adrian. Padahal bukan," Revin menjelaskan. Biar bagaimanapun masalah ini seharusnya di usut. Karena sudah termasuk perbuatan yang tidak ada sopan santunnya sama sekali.


"Yang benar, Adrina?"


Acha memeluk Adrina hingga anak itu mengangguk. Ia menatap Acha dengan pandangan sayu, "Tapi aku sudah minta maaf pada Adrian karena sudah menuduh dia,"


Rupanya anak itu takut bila perilakunya tadi yang akan dipermasalahkan oleh Acha. "Pintar, memang seharusnya seperti itu. Jangan menuduh kalau tidak ada bukti yang jelas,"


"Ms akan cari tahu siapa yang melakukannya. Akan diberi pelajaran agar Ia tahu bahwa itu bukanlah tindakan yang baik,"


Mereka kembali belajar dengan situasi yang kondusif seperti biasa. Setelah ini Acha sudah punya rencana untuk segera mencari tahu siapa pelakunya. Setiap ada kejadian yang sudah keterlaluan, sekolah akan bertindak tegas. Hal-hal seperti ini akan mengganggu kenyamanan murid mereka. Sebelum Adrina melaporkan kejadian ini pada orangtuanya, Acha sebagai perwakilan sekolah akan mengatakannya lebih dulu dan meminta maaf.


******


Lovi sedang membawa putrinya untuk membeli kebutuhan pokok selama satu bulan di pusat perbelanjaan.


Seperti biasa, Auristella akan senang ketika diajak pergi-pergi. Hari ini Auristella tidak pergi bersama kedua neneknya. Mereka sibuk meninjau langsung persiapan untuk acara esok hari tanpa sepengetahuan Lovi. Keduanya kompak mengatakan ingin tinggal di mansion tapi setelah Lovi pergi, Rena dan Senata beranjak untuk ke hotel guna memastikan kesiapan tempat, konsumsi, lalu ke butik juga untuk melihat hasil akhir busana yang sudah dirancang oleh designer sesuai dengan keinginan Rena dan Senata. Tahun ini Lovi tidak terlibat sama sekali.


"Melihat cokelat, Mommy jadi mau. Tapi kalau dibawa ke mansion pasti bukan Mommy yang makan," Lovi bicara dengan anaknya. Auristella hanya menatap Lovi dengan bingung.

__ADS_1


"Tapi Mommy ingin sekali, Auris. Beli saja lah ya?" Lovi meminta persetujuan. Auristella hanya mengangguk saja walaupun Ia belum paham dengan kalimat Lovi.


Lovi terkekeh dan menggeram gemas. Ia meraih beberapa jenis cokelat. Mulai dari yang berisi kacang almond, berselimut green tea, dan lain-lain.


Auristella ingin memegangnya. Setelah diberikan oleh Lovi, Ia menatap dengan fokus seolah itu adalah objek yang menarik untuk Ia perhatikan.


"Auris belum pernah makan cokelat. Mau tidak?"


Mata Auristella mengerjap dan Ia bergumam tidak jelas, "Belum boleh. Gigi saja belum ada. Coba, Mommy ingin lihat," ujar Lovi seraya mengangkat dagu anaknya lalu membuka mulut Auristella dengan pelan.


"Masih gusi semua, Sayang." Lovi terkekeh melihat anaknya yang kian membuka mulut lebih lebar. Seperti meminta Lovi untuk melihat lebih dalam.


"Belum ada gigi,"


"Kalau kamu sudah mengenal cokelat, pasti akan seperti kakakmu Adrian yang tidak bisa lihat cokelat sedikit langsung kalap,"


Lovi kembali menjelajahi pusat perbelanjaan. Usai membeli semua kebutuhan mansion, Lovi datang ke butik-butik brand terkenal untuk membelikan suami dan anak-anaknya pakaian. Lovi jarang sekali memikirkan busananya sendiri. Cenderung Devan yang lebih suka membelikan Lovi pakaian. Lovi senang ketika memilah baju untuk anak dan suami ketimbang baju untuknya. Terlalu banyak model, dan Lovi menyukai semuanya, oleh sebab itu Ia sangat menghindari butik pakaian wanita dewasa. Kalau Ia tidak pintar menahan diri, dalam sebulan Devan harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Sebenarnya hal itu tidak pernah dipermasalahkan oleh Devan, justru lelaki itu senang bila istrinya belanja untuk diri sendiri.


Devan sudah menjadi pelanggan setia dan VIP brand-brand ternama sehingga bila ada model terbaru, mereka akan memberi tahu Devan lalu Devan akan meminta mereka untuk datang membawa busana-busana keluaran terbaru itu.


Setiap sales associate dari brand datang membawa barang yang diinginkan Devan, Lovi selalu marah-marah pada suaminya di dalam kamar. Tetapi Devan selalu punya cara sendiri untuk meluluhkan istrinya, berharap Ia paham bahwa penampilan adalah nomor satu untuk orang-orang seperti mereka.


Tidak hanya pakaian, tas dan sepatu pun demikian. Lovi benar-benar dibuat menjadi perempuan dengan penampilan luar biasa oleh suaminya sendiri.


"Tapi tidak sebanyak itu juga kamu membelinya. Buang-buang uang saja!"


"Setiap bulan kamu membelikan aku semua itu. Kenapa tidak ditabung saja uangnya?!"


"Memang setiap bulan? Kamu tidak usah cerewet, aku yang mencari uang. Jadi terserah aku,"


Itu sekelumit percakapan mereka ketika berdebat masalah kebutuhan penampilan. Devan sengaja menggunakan kalimat 'terserah aku' agar Lovi diam. Lovi tidak bisa membantah karena yang berkuasa atas itu semua adalah suaminya. Dia yang mencari uang dan dia juga yang menghabiskannya.

__ADS_1


******


"Jadi tidak perlu ada fitting, Nyonya?"


"Tidak perlu, Clara. Aku yakin semuanya akan sesuai ketika dipakai oleh cucu dan menantuku. Kalau fitting, Lovi akan bingung."


"Iya juga,"


"Baiklah, semuanya sudah siap. Terima kasih atas rancanganmu, Clara. Benar-benar menakjubkan. Seperti biasa, tidak pernah mengecewakan,"


"Kembali kasih, Nyonya. Semoga acaranya berjalan sesuai harapan,"


"Jangan lupa datang ya,"


"Pasti, Nyonya. Ini merupakan suatu kehormatan. Setiap diundang, aku pasti datang."


Setelah memastikan semuanya, Rena dan Senata kembali ke mansion dan menunggu kedatangan Lovi yang sedang pergi bersama Auristella.


"Senata, Raihan pernah mengatakan padaku kalau suamimu sudah keluar dari penjara. Dan kondisinya saat ini tidak baik-baik saja. Kamu tidak ada niat untuk kembali bersamanya. Kalian belum berpisah bukan?"


Sebenarnya Rena tampak enggan untuk membahas ini. Tetapi suaminya pernah meminta Ia untuk bicara serius pada Senata. Raihan sebagai laki-laki juga mengerti apa yang dibutuhkan Lucas sekarang, yaitu dukungan dari orang-orang terdekatnya.


"Dia sudah memiliki berbagai penyakit, Senata. Kamu tahu itu?"


"Tidak,"


"Aku harap kalian bisa kembali bersama. Maaf kalau aku terlalu ikut campur dalam permasalahan kalian. Tetapi bukankah lebih baik memulai semuanya dari awal lagi? seperti halnya kamu dengan Lovi beberapa tahun lalu,"


"Aku sudah memaafkannya. Tapi tidak dengan Lovi,"


"Mungkin kalau kamu bersikap lebih bijaksana lagi terhadap Lovi, Ia akan luluh. Biar bagaimanapun Lucas adalah ayahnya. Raihan juga pernah menjadi sosok yang paling dibenci oleh anak-anaknya. Tetapi aku bersyukur semua bisa membaik lagi. Ketika melihat Lucas, Raihan kembali teringat dengan masa lalunya. Dia tahu bagaimana rasanya dibenci oleh keluarga kecil, jadi itu yang menyebabkan dia peduli pada Lucas. Walaupun tidak bisa dipungkiri mereka memang pihak yang bersalah dan pantas untuk mendapatkan hukuman itu,"

__ADS_1


Senata mengangguk lalu tersenyum tipis. "Aku akan bicarakan ini pada Lovi. Aku juga tidak mau menutup mata soal masa laluku. Lovi bisa memaafkan aku. Semoga ayahnya pun bisa mendapatkan maaf itu,"


__ADS_2