My Cruel Husband

My Cruel Husband
Suara yang tak asing


__ADS_3

Devan keluar dari kamar yang disediakan khusus untuk para petinggi yang ingin menikmati hangatnya malam.


Seorang gadis juga keluar dari sana mengikuti Devan.


Devan kembali duduk di antara teman-temannya. Ketika gadis itu akan duduk juga, tentu saja Devan mengusir.


"Siapa yang menyuruhmu di sini? Jangan keras kepala, Nona! Kedekatan kita hanya sebatas itu saja, tidak lebih!" Ucap Devan dengan kejamnya. Gadis itu terlihat memutar bola matanya kesal.


"Bayaranku kurang, Tuan yang terhormat!"


Devan tidak protes. Ia mengeluarkan banyak lembaran uang bernominal besar dari dalam dompetnya. Lalu melempar uang-uang tersebut ke atas meja.


"Ambil itu! Jangan ganggu aku lagi!"


"Bagaimana malam kalian? Menyenangkan?"


Dirta mengalihkan perdebatan. Ia tersenyum menggoda gadis yang haus akan kekayaan itu.


"Menyenangkan, tentu saja. Kamu mau mencobanya denganku?"


Devan mendengus geli. Oh sialan! Yang Ia nikmati baru saja benar-benar seorang ******? Ia kira bukan hanya Lovi yang ditakdirkan menjadi ****** berhati malaikat. Ia berharap gadis itu adalah manusia yang baik.

__ADS_1


Melihat sikap gadis itu, membuat Devan kembali mengingat Istrinya. Belum genap dua puluh empat jam, Devan sudah merindukan perempuan cantik itu.


"Benar-benar murahan," Devan merendahkannya namun Ia tidak peduli. Targetnya malam ini, Ia harus mendapatkan ratusan juta rupiah dari sedikit orang yang mendapat pelayanan darinya.


"Aku ****** mahal. Aku hanya bisa melayani satu atau dua lelaki dalam satu malam. Tapi mereka harus bisa membayarku dengan uang yang banyak. Setelah itu aku akan pulang dengan perasaan senang,"


"Aku tidak memintamu untuk curhat, jal*ng sial*n!"


Devan memaki namun terdengar lucu ditelinga teman-temannya. Mereka sampai terbahak.


"Aku tidak curhat, Tuan! Hanya berbagi cerita, memangnya tidak boleh?"


"PERGI KAU! JANGAN BERBICARA APAPUN LAGI!!"


Tentu saja gadis itu lebih memilih untuk pulang ke rumahnya daripada Rumah sakit dan harus mendapat perawatan intensif akibat lemparan botol yang disebabkan oleh Devan.


"Berhenti tertawa! Tidak ada yang lucu," sergah Devan dengan tegas. Semua mulut yang sedang terbuka karena tawa itu, langsung menutup dengan otomatis.


Devan memantik tembakau kesukaannya yang sudah lama Ia tinggalkan.


"Sepertinya dugaanku benar. Kau kurang menyukai pelayanan Lovi, Devan?"

__ADS_1


"APA LAGI?!"


Bentaknya yang mulai kesal. Ada saja yang mengganggu ketenangannya. Setelah melepaskan dahaga akan berhubungan intim, seharusnya ia bisa tenang, bukan?


Ia perlu melupakan bayangan Lovi yang sejak tadi menghantuinya. Ia harus tenang barang sejenak. Agar Masalahnya dengan Lovi pun segera teratasi.


"Tenang, Devan. Kasihan uratmu selalu tertarik begitu,"


Entah niat untuk mengejek atau bagaimana, Deni benar-benar menyentuh urat yang tampak menonjol di leher Devan. Devan semakin naik darah. Ia menghempas tangan menjijikan sahabatnya itu. Hanya Lovi yang boleh menyentuhnya. Apalagi dibagian itu. Uh! Dia benar-benar merindukan istrinya.


"Mulutmu benar-benar kurang ajar, Deni!"


"Tanganmu juga perlu kupotong ya?" Ancaman itu tak membuat Deni takut sama sekali. Ia tahu kalau Devan tidak akan sekejam itu padanya yang sudah menjadi sahabat sejak lama.


"Hai, guys!" Suara lembut dan riang menghampiri telinga para lelaki itu.


Mereka semua langsung menoleh ke arah sumber suara.


Devan mengangkat sebelah alisnya, kemudian membuang wajahnya. Seseorang itu tak lagi menarik untuk Ia perhatikan seperti dulu.


"Aku merindukan kalian,"

__ADS_1


Deni mendengus keras. Lelaki itu menatap sinis perempuan yang sedang tersenyum ke arah Devan. Tidakkah Ia lihat bagaimana gerak-gerik Devan? Devan tidak ada niat sedikitpun untuk balas menyapa di saat teman-temannya yang lain sibuk melempar guyonan pada gadis yang sudah lama tak mereka jumpai.


"Tapi aku tidak merindukanmu,"


__ADS_2