
"Kenapa menangis?"
"Daddy sama saja dengan Tante jahat," Ia tampak menggebu-gebu untuk meluapkan emosinya.
Hati Devan langsung berdenyut mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau sedalam itu Ia menyakiti hati anaknya dengan suara keras yang sebenarnya tak sengaja Ia keluarkan.
"Tante jahat?"
"Iya, tadi kami bertemu Tante jahat, Mommy,"
"Siapa?"
"Andrean tidak tahu namanya,"
Alis Lovi menukik menatap mantan suaminya. Devan tahu kalau perempuan itu butuh penjelasan.
"Elea," suara Devan sangat pelan. Ia mengusar wajahnya lalu beringsut mendekati Adrian. Ia duduk di sebelah bangsal Lovi setelah Mamanya kembali ke sofa. Devan memangku anak sulungnya. Adrian membuang muka saat Devan menatapnya.
"Oh Elea. Pantas saja mereka menyebut Tante jahat..."
"Sebelum pesta ulang tahun mereka, kami memang bertemu dengan Elea. Saat itu kami mau membeli baju pesta untuk mereka. Kalian tahu sendiri 'kan Adrian tidak bisa diam? Adrian tidak sengaja menabraknya. Lalu dia marah-marah,"
Lovi menghela napasnya menahan kesal. Memang sebesar itu kesalahan Adrian?
"Membentak lebih tepatnya," Senata menyahuti Rena yang baru saja bercerita mengenai asal muasal Andrean dan Adrian bertemu dengan Elea.
***
Kerabat dekat Raihan mengunjungi Andrean dan Adrian malam ini. Syarief kembali membawa cucunya yang sangat terkejut begitu diberi tahu kalau Andrean dan Adiknya sedang berada di rumah sakit.
Selama di mobil dia banyak berbicara pada kakeknya,
__ADS_1
"Kakek, waktu pesta mereka baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba sakit ya?"
"Kasihan, ya, Kek. Hih Adrina paling takut masuk rumah sakit,"
"Adrian itu sakit karena panggil Adrina 'kakak'. Dia nakal sih,"
Syarief hanya tersenyum mendengar celotehan cucunya. Tangan keriputnya terangkat untuk mengusap kepala Adrina.
Adrina memang langsung mengajukan diri untuk ikut bersama kakeknya ke rumah sakit. Ingin memberi semangat untuk mereka katanya. Agar cepat sembuh, dan ketika bertemu lagi, mereka bisa bermain.
Adrian berseru senang saat gadis kecil yang pernah memarahinya sudah berada di depan pintu bersama sang kakek.
"Wah bertemu kakak lagi,"
"Masuk-Masuk,"
Raihan mempersilahkan Syarief dan cucunya masuk ke dalam ruangan si kembar.
"Ini bunganya, semoga cepat sembuh,"
Tidak mau memberi langsung, Adrina meletakkan di sebelah nakas Adrian. Sementara buah tangan kakeknya di letakkan di nakas Andrean.
"Kakak 'kan perempuan, kenapa memberi bunga? Harusnya aku yang memberi bunga untuk kakak,"
"Kamu kenapa masih panggil aku 'kakak' sih?"
"Anggap panggilan kesayangan,"
Devan menggelengkan kepalanya. Ingin sekali Ia mengelus dada.
"Adrian, kenapa mulutmu seperti buaya darat yang pintar membuat perempuan jatuh pingsan," batinnya tak habis pikir.
__ADS_1
Devan tidak pernah menjadi sosok yang manis pada perempuan di depan anaknya. Darimana Adrian mencontoh itu?
"Anakmu benar-benar berbakat jadi playboy seperti Daddynya ini," komentar Syarief kengundang tawa geli Raihan. Sementara Devan tersenyum kecut menanggapinya.
Sial*n!
Memang dia playboy ? Hanya Lovi yang dicintainya, Devan tidak pernah berbagi cinta. Dulu, hanya berbagi ranjang saja dengan banyak wanita bayaran yang haus akan harta darinya. Setelah puas meledakkan gairah, mereka seperti tidak saling mengenal. Devan selalu menegaskan, komunikasi yang terjadi hanya sebatas di atas ranjang. Di waktu dan tempat yang lain, mereka adalah orang asing.
"Jangan terlalu menuruni sifat Daddymu, Adrian."
Kini Adrian mendengarkan dengan serius setelah tadi Ia sibuk bercerita dengan Adrina yang sebelumnya marah-marah karena dipanggil 'kakak'.
"Sudah, Adrian tidak perlu mendengar itu. Kamu anak Daddy, jadi tidak bisa dipilih-pilih sifat yang mau diturunkan,"
Tawa Syarief meledak ketika Devan melarang anaknya untuk mendengar kalimat lanjutan darinya. Ia senang membuat Devan kesal.
***
Devan ingin pergi ke kantin untuk makan malam. Rena belum kembali dari mansion. Mungkin nanti tengah malam atau besok pagi. Ia punya tanggu jawab yang lain juga. Masih ada Vanilla yang harus dijaganya mengingat gadis itu semakin semena-mena dalam meninggalkan rumah. Party dengan teman-temannya sampai lupa waktu.
Terkadang tengah malam baru sampai mansion. Raihan sudah berapa kali memberi pelajaran unruk anaknya itu, namun Vanilla tetap membangkang. Menganggap aturan ayahnya adalah angin lalu.
Devan melewati sebuah ruangan pasien, dan kebetulan Elea keluar dari sana. Ia tersenyum sinis begitu melihat Devan. Sementara mata Devan langsung bergerak untuk memastikan keadaan. Setelah aman, dia menarik kasar tangan Elea. Rasa laparnya hilang setelah melihat gadis ini.
Sudah ingin menghajar gadis ini setelah melihat Adrian menangis tadi. Namun sayang, Ia tak mungkin mengejar Elea untuk memberi pelajaran sementara anak-anaknya belum tidur.
Devan mendorong tubuh Elea hingga terbentur dinding. Gadis itu meringis kesakitan. Mereka berada di koridor yang sepi paling ujung. Sehingga Devan bebas melakukan apapun. Bebas mencekik atau kalau bisa membunuh Elea.
"Kenapa kamu membawaku ke sini? kamu merindukanku?"
-------
__ADS_1
Hadeuh cari masalah si Tante jahat. Blm liat Devan kambuh kli yaa😂😂 istrinya sndiri aj diikat tangannya, Aplg doi. TEKAN 👍,❤, 💬5⭐ MAACIWW💙😚