My Cruel Husband

My Cruel Husband
Malam sebelum hari bahagia Jane


__ADS_3

Begitu mobil tiba, anak-anak itu berhamburan keluar dari mobil dengan mainan masing-masing di tangan mereka.


Mereka langsung ke meja makan. Andrean sudah duduk di samping sang Ibu. Mereka semua sudah siap untuk makan dan hanya tinggal menunggu kedatangan Devan dan semua keponakannya saja.


"Andrean, aku punya mainan baru, lho. Kamu sih tidak ikut, jadi tidak beli," Kayla menunjukkan mainan yang sudah dibelinya pada Andrean yang hanya melihatnya dengan datar.


"Ini 'kan belum malam. Kenapa sudah makan malam sekarang?" tanya Adrian.


"Sudah lapar semua. Cepat, cuci tangan. Biar kita semua makan bersama,"


Devan menyuruh mereka untuk menyimpan semua mainan yang baru dibeli agar mereka segera makan.


"Seharusnya Grandpa Lucas juga ada di sini, Mom."


Andrean tiba-tiba saja berujar seperti itu hingga membuat Devan segera menoleh, begitu pun Lovi. Terlihat sekali Andrean sangat kecewa karena Lucas tidak ikut serta bergabung bersama mereka.


"Grandpa Rai juga tidak ada di sini. Katanya kumpul keluarga, tapi masih sibuk bekerja,"


"Tadi Grandpa Rai sudah bilang, sebentar lagi dia tiba."


Andrean menghela napas pelan setelah mendengar ucapan sang nenek, Rena. Ia mulai menikmati makanan.


Kurang lengkap rasanya kalau kedua kakeknya sibuk masing-masing. Padahal saat-saat seperti ini sangat jarang terjadi.


Adrian, Genta, Kenith, Sandra, dan Kayla sudah mencuci tangan dan menyimpan mainan mereka.


"Wow aku jadi lapar melihatnya,"


"Makanya kita makan sekarang, tidak menunggu malam."


Di tengah suasana makan, Raihan datang menyapa mereka semua. Kemudian Ia beranjak ke kamar untuk berganti baju sebelum akhirnya ikut bergabung.


Satu kakeknya sudah selesai bekerja, sementara kakeknya yang lain masih sibuk mengantar kopi ke kafe-kafe.


Seharusnya jadwal Lucas mengantar kopi ke kafe menggunakan mobil besar itu esok hari. Tapi karena esok adalah hari pernikahan Jane, maka Ia meminta keringanan pada atasan agar jadwal nya bisa diganti.


"Minum dulu,"


"Terima kasih, Tuan. Tapi aku ingin langsung pulang saja,"


"Kau terlihat lelah sekali,"


"Wajar, namanya juga bekerja."


Pemilik kafe tersenyum kagum atas semangat kerja yang dimiliki Lucas. Biarpun usianya tak lagi muda, tapi Lucas tidak pernah mengeluh. Ia yang usianya jauh lebih muda saja belum tentu sekuat Lucas yang Ia ketahui memiliki macam-macam pekerjaan.


"Permisi, Tuan."


Lucas undur diri. Ia akan segera pulang untuk beristirahat. Hari ini cukup melelahkan untuknya.


Belum tiba di rumah, Ia mendapatkan panggilan dari Lovi. Tidak biasanya sang anak menelpon. Karena yang sering menghubungi adalah Devan.


"Hallo, Lov---"


"Hallo, Grandpa. Ini aku, Andrean."


"Oh Andrean. Ada apa, Sayang?"


"Grandpa, besok ingat 'kan akan ada apa?"


"Iya, ingat. Kenapa memangnya?"


"Tidak ada niat menginap di mansion? di sini ada Grandpa ku yang lain juga,"


Grandpa lain yang dimaksud Andrean adalah kakak dan adik dari Rena dan Raihan. Mereka hadir, seperti biasa setiap ada perayaan selalu menyempatkan waktu.


"Grandpa datang besok saja,"


"Aku dengar suara keramaian di seberang sana. Grandpa dimana?"


"Di jalan, baru pulang bekerja."


Andrean menatap jam yang melekat di dinding. Ia menghela napas pelan. Sudah memasuki waktu malam, kakeknya baru pulang bekerja.


"Baiklah, aku tutup teleponnya. Hati-hati pulang nya ya, Grandpa. Langsung istirahat,"


"Ya, terima kasih."


Andrean tidak sungkan memberikan perhatiannya pada Lucas. Yang biasanya terlihat tak acuh, ketika dengan kakeknya berubah seperti ini.


Sampai di rumah, Lucas segera mengunci pintu. Ia membersihkan tubuhnya setelah itu istirahat, menahan rasa lapar karena Ia belum membeli makanan. Biasanya setelah tidur, barulah Ia mencari makan di luar atau masak sendiri.


*****


"Anakmu itu harusnya sudah diajarkan untuk bergelut di bidang bisnis, Dev." ujar adik Raihan.


"Saat makan saja mereka masih suka disuapi, bagaimana bila diajarkan bisnis? masih terlalu kecil, Paman."


"Sayang sekali kalau tidak ada yang bisa diandalkan untuk mengurus semua milikmu kelak,"


"Kalau kedua kakaknya tidak mau, ada Auris."


"Belum apa-apa anakku sudah mau kamu kekang, Devan?"


Alis Lovi terangkat. Ia menatap Devan dengan raut datar. Ia tidak setuju dengan ucapan Devan. Auristella perempuan, kasihan bila dia harus diandalkan.


"Lagipula jangan mengekang anak begitu lah, Devan. Tidak baik,"

__ADS_1


"Iya, aku setuju. Biarkan saja mereka memilih sendiri ingin sukses sebagai apa," Jhico yang sudah tahu betul bagaimana rasanya di kekang ikut membela tiga keponakannya.


Devan tertawa tak habis pikir. "Memang siapa yang mau mengekang? kalau mereka tidak ada yang mau menjadi seperti aku, ya tidak apa."


"Yakin, kau tidak akan mengekang? saat mereka dewasa, bisa saja kau berubah pikiran,"


Devan juga bingung harus bersikap bagaimana dalam mengarahkan anak-anaknya nanti. Sebenarnya Ia ingin ada yang mengikuti jejaknya, tapi kalau tidak ada yang berkenan, Ia tidak bisa melakukan apapun.


"Semoga saja salah satu dari mereka ada yang mau memegang kendali seluruh perusahaan ku, tanpa dipaksa."


"Ah kalian itu terlalu jauh dalam berpikir. Lulus sekolah saja belum, masa sudah membicarakan perusahaan? jalani saja dulu apa yang sudah ada di depan mata,"


Lovi mengangguk setuju setelah mendengar ucapan Jane. Yang laki-laki memang gemar sekali membicarakan bisnis karena itu bidang nya mereka kecuali Jhico. Sementara yang perempuan sedikit risih karena itu bukan hal yang mereka pahami.


"Genta saja sudah sering aku ajak ikut rapat-rapat kecil. Paling tidak, dia bisa belajar untuk mengeluarkan pendapat dari orang-orang yang mengikuti rapat,"


"Tidak main-main si Jhon ini ya. Sepertinya ambisi mu untuk menjadikan anak sebagai pengusaha, sangat besar,"


"Benar, Devan! Aku kesal sekali kalau dia sudah mengikut sertakan Genta. Padahal sekarang ini waktunya Genta bermain dan menuntut ilmu," ujar Jo dengan semangat menggebu ketika menyampaikan rasa kesalnya.


"Sebentar lagi Kayla, aku yakin sekali." lanjut wanita itu yang mengundang tawa sang suami.


"Kau jangan seperti itu ya, Akra. Kenith mau jadi pilot katanya. Jangan paksa---"


"Kamu bicara apa sih? ?memang siapa yang mau menentang cita-cita Kenith?" sahut Akra dengan cepat saat sang istri, Nindya bersikap sok tahu.


"Sudah, jangan berdebat masalah itu. Besok aku menikah, lebih baik bahas aku saja,"


"Hih! apa yang mau dibahas darimu?" tanya Zio dengan raut anehnya. Jane menepuk kening Zio hingga lelaki tampan namun single itu meringis.


"Setelah menikah, rencana mu selanjutnya apa, Jane? program anak atau lanjut kuliah? katanya kamu mau lanjut---"


"Tidak ada program anak. Aku menunggu saja, kalau belum di berikan oleh Tuhan, aku anggap itu merupakan sebuah kesempatan untuk aku dan Richard belajar agar menjadi orangtua yang baik dulu sebelum hadir seorang anak,"


"Tumben mulutmu benar saat menjawab,"


"Van, entah kenapa ya setelah kamu hamil, bawaannya selalu saja ingin bertengkar denganmu."


"Vanilla setelah hamil mulutnya semakin tajam,"


"Aku rasa setelah ini waktunya tidur," Zio bicara keluar dari topik.


"Tidak boleh tidur! kita akan barbeque party,"


"Gila! makan lagi?!" tanya Zio histeris.


"Halah tidak usah berlagak kaget begitu. Aku tahu seberapa besar ukuran perutmu,"


Baru beberapa menit dari makan bersama, mereka akan mengadakan party sederhana di taman belakang mansion.


"Selesainya jangan terlalu malam ya. Biar besok kita semua bisa bangun cepat," pesan Sam, adik Raihan pada semua keponakannya.


Yang sangat antusias barbeque adalah Devan dan sepupu nya. Sementara yang perempuan duduk menunggu matang.


"Anak-anak dimana?" tanya Nindya pada Jane yang baru turut bergabung dengan Lovi, Jo, Devira, Jane, dan Vanilla. Jane baru saja mengosongkan perutnya. Sebentar lagi perut akan diisi kembali.


"Tadi menonton," jawab Jane.


"Coba aku lihat,"


Lovi beranjak untuk melihat keadaan anak dan keponakannya yang tidak biasanya tenang, tidak ada suara ribut-ribut.


Pantas saja telinga mereka aman. Ternyata Adrian dan pasukannya terlelap di depan televisi. Mereka kompak sekali. Televisi yang menonton anak-anak itu, bukan sebaliknya.


Posisi mereka juga membuat Lovi tersenyum. Kayla terlelap di atas perut Sandra yang lebih tua darinya. Sementara Adrian dan Genta tidur di atas permadani yang sama dan posisi keduanya beradu kaki. Andrean terlelap dengan gaya cool nya seperti biasa. Dan Kenith berbanding terbalik dengan Andrean. Kaki Kenith naik ke atas sofa yang ditempati Andrean seorang diri.


Lovi harus membuat mereka pindah ke tempat tidur agar nyaman. Kalau seperti itu sampai pagi, bisa terasa kebas.


"Nindya, Jo, anak kita tertidur di depan televisi. Mereka harus dipindahkan,"


Nindya dan Jo awalnya terkejut mendengar Lovi bicara seperti itu dan sedikit tidak percaya juga karena mereka tahu betul bagaimana kebiasaan anak-anak kecil itu, kalau sudah bertemu maka sulit sekali bila disuruh tidur karena maunya bermain terus.


Jo dan Nindya menyuruh suami mereka masing-masing untuk menggendong anak mereka yang terlelap. Kalau dibangunkan kasihan.


Akra dan Jo langsung cepat tanggap untuk melakukan apa yang diminta istri mereka. Sementara Devan yang tidak disuruh pun menoleh pada Lovi yang terdiam memandangnya.


"Lov, anak-anak kita dimana?"


"Tidur juga,"


"Di kamar?"


"Tidak,"


"Lalu?"


Lovi menunjuk lubang hidungnya sendiri lalu menampilkan wajah sebal. Devan tidak peka sekali. Masa harus disuruh juga baru tanggap?


Devan terkekeh melihat sikap istrinya yang baru saja melucu. "Di mana mereka tidur?"


"Ya sama, seperti yang lain."


"Oh okay,"


Devan kembali sibuk dengan kegiatannya mematangkan daging-daging yang akan mereka makan.


"Hanya okay?" tanya Lovi seraya menahan sabar.

__ADS_1


"Lalu aku harus mengatakan apa?"


"Pindahkan juga anakmu ke kamar. Aduh, begitu saja harus diajarkan,"


"Oh, kenapa baru mengatakannya sekarang? aku 'kan tidak tahu,"


"Bukan tidak tahu! tapi kamu memang tidak peka. Cepat lakukan apa yang aku katakan tadi,"


"Hmmm okay,"


Devan yang tadinya duduk di atas alas untuk menghindari rerumputan taman, langsung bangkit setelah wanita yang menjadi istrinya berkata seperti itu.


Tiba di depan benda berlayar datar itu, kedua anaknya sudah tidak ada. Sepertinya sudah dipindahkan oleh Akra atau Jhon.


Devan dan Lovi memasuki kamar mereka. Kedua anak mereka tidak ada, dan ketika mereka datang ke kamar Andrean dan Adrian, ternyata kedua anak kembar itu sudah berada di sana.


"Aku yang memindahkan mereka,"


Lovi dan Devan menoleh ke belakang saat terdengar suara Jhon di belakang Devan dan Lovi yang tengah mencuri pandang di depan pintu kamar untuk memperhatikan kedua anak mereka.


"Okay, terima kasih."


"Kalian lihat tidak si Adrian masih memegang mainannya?"


Lovi dan Devan segera beralih pandang ke tangan Adrian. Benar, anak itu masih memegang pesawat yang dibelikan Devan tadi.


"Dia tidak mau aku menyingkirkan mainan itu dari tangannya. Malah tanganku digigit,"


Devan tertawa dan pinggang nya langsung dicubit Lovi. Suaminya itu kalau sudah tertawa tidak bisa pelan-pelan.


"Ayo, ke bawah lagi."


Lovi menarik suaminya agar menyingkir dari depan pintu dan mengajak Devan untuk menyusul Jhon yang sudah turun ke lantai bawah.


Devan menangkup tangan Lovi yang sedang menarik handle pintu kamar kedua anak mereka. Lovi menoleh dan menatap suaminya bingung.


Melihat Devan tersenyum miring, Lovi langsung waspada. Devan aneh sekali. Tiba-tiba memasang wajah menyeramkan begitu.


"Kamu mau di bawah?" tanya Devan seraya menekan kata terakhir di kalimatnya. Otak Lovi masih mencerna maksud terselubung dari ucapan sang suami.


Setelah Ia mengerti, tangan Lovi langsung bergerak memukul Devan yang kini sudah tertawa terpingkal-pingkal.


"Kamu mau di bawah? yang lain sibuk. Kita berdua juga bisa sibuk di kamar,"


Lovi meninggalkan suaminya yang sedang tertawa itu. Sebelumnya Ia mencibir, "Gila, otak kotor." ucapannya itu membuat Devan semakin sulit menghentikan tawanya.


*****


"Akan ada pergerakan lagi dari kuman-kuman itu, Tuan."


"Apa yang akan mereka lakukan?"


"Acara besok adalah kesempatan besar untuk mereka. Karena orang-orang yang kau sayangi, semuanya berkumpul."


"Kalau begitu, jangan diam saja. Berikan penjagaan terbaik untukku dan keluarga,"


"Kami tahu apa yang harus dilakukan, Tuan. Tenang saja,"


"Aku tidak mau tahu. Semuanya harus aman,"


Lelaki serba hitam itu menghilang di balik ruangan tersembunyi yang sangat sempit, berada di depan Devan saat ini.


Rahang Devan mengetat, gigi lelaki itu juga bergemelutuk. Belum ada kata menyerah dari Arnold. Yang membuat Devan semakin geram adalah, rupanya Arnold memiliki penopang di belakangnya yang selalu membantu Arnold setiap diserang oleh pihak Devan. Tapi sosok itu juga menjadikan Arnold sebagai boneka. Dan bukan hanya Arnold yang memiliki dendam terhadap dirinya.


BRAKK


Devan memukul meja kecil di dekatnya. Hingga satu gelas berisi minuman berwarna merah terang di atas meja tersebut jatuh ke lantai dan menjadi serpihan.


Devan keluar dari ruangan bawah tanah. Vanilla dan Jhico tengah berada di ruang makan. Vanilla mengatakan pada suaminya bahwa Ia lapar akhirnya Jhico menemaninya ke ruang makan.


Jhico lebih dulu melihat Devan keluar dari ruangan kecil tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Ruangan itu berada di bawah tangga.


"Itu ruangan apa?" tanya Jhico pelan pada sang istri. Vanilla menoleh, mengikuti arah yang ditunjuk Jhico.


Devan mendengar ada suara dan Ia terkejut. Mata Devan beradu pandang dengan Jhico dan Vanilla.


"Kalian sedang apa di sana?" tanya Devan mencairkan suasana dan Ia berharap Jhico tidak bertanya apapun padanya.


"Aku sedang makan,"


"Makan terus,"


"Aku lapar. Kenapa sih? berisik sekali mulutmu!"


"Apa yang kau lakukan, Devan?" tanya Jhico langsung. Devan berdehem dan menggeleng.


"Aku? sedang mencari ketenangan saja,"


"Di ruangan super kecil itu? dari luar saja sudah terlihat sangat kecil. Apakah nyaman?"


Devan tersenyum miring. Orang yang melihat dari luar memang akan menganggap bahwa ruangan itu sangat kecil dan tidak layak untuk didatangi. Tapi begitu masuk lebih jauh ke dalam, banyak sekali ruangan yang pernah menjadi saksi bisu betapa kejamnya Devan dulu.


"Nyaman, kalau buatku. Tapi kalau untuk orang lain, tidak akan nyaman."


Vanilla mengangguk setuju. "Ya, benar. Yang ada merinding, bukan nyaman," jawaban Vanilla mengandung makna yang membingungkan.


-------

__ADS_1


Donat jeko mana paham😂 pujaan hatinya & Devan doang yg paham. Krn mereka kan sebangsa wkwk. Kl donat jeko org baek-baek 😂😂


__ADS_2