My Cruel Husband

My Cruel Husband
Vanilla terlalu rusak


__ADS_3

"Mabuk lagi?"


"I--iya, Kak. Kakak kenapa bisa ada di sini lagi?"


"Aku akan terus seperti ini kalau Vanilla tidak juga berubah,"


Deni menepuk pelan wajah Vanilla yang baru saja meminta satu botol minuman lagi.


"Ya Tuhan, ingin mabuk seperti apa lagi dia?"


"Devan tidak akan menyukai ini,"


"Semuanya memang tidak akan suka. Tapi aku tidak peduli,"


"Kamu adalah orang yang mempunyai pengikut di berbagai media sosial. Kalau ada orang yang berniat jahat padamu, tidak suka dengan popularitasmu, ini bisa dijadikan senjata mereka, asal kamu tahu."


Menjadi orang terkenal di kalangan media sosial dengan ratusan ribu pengikut, membuat hidup Vanilla lebih berwarna. Ada keuntungan juga kerugian yang bisa diperolehnya. Vanilla tidak perlu lagi merasa khawatir dengan keuangannya yang semakin menipis karena hukuman sang ayah. Hal itu menyebabkan Vanilla semakin berdiri di atas awan. Ia merasa mampu mencari uang sendiri, sehingga berbagai ancaman Raihan tidak lagi dipedulikan olehnya.


"Pulang denganku sekarang!"


"Aku tidak mau, Sial*n! kenapa kamu selalu ada di sini?! aku tidak ingin kamu ganggu,"

__ADS_1


"Aku menyayangimu, Vanilla. Sebagai adik tentu saja,"


Setelah mengatakan itu, Deni merasa kalau tenggorokannya sulit untuk menerima oksigen. Ada sesuatu yang mengganjal.


"Kamu tidak menganggap ku seperti itu. Aku tahu, Deni."


Joana hanya menjadi penonton saat ini. Ia tidak mengerti sama sekali dengan pembicaraan mereka. Kondisi Vanilla yang mabuk berat membuat Ia kesulitan untuk mengerti semuanya. Berbeda dengan Deni yang paham betul. Karena mereka sedang mengalaminya.


"Aku akan menikah sebentar lagi. Aku tidak akan mengganggumu. Istriku akan menjadi prioritas utama untukku ke depannya,"


Vanilla memukul dada Deni dengan membabi buta. Kenapa Ia dikelilingi dengan lelaki yang membuatnya bingung? Renald Tidak pernah menyatakan cintanya. Dan sekarang, Deni mengatakan sesuatu yang lagi-lagi membuat Vanilla merasa terasingkan. Bukankah ini keinginannya? Ia tidak ingin diganggu, diatur, dan ditentang.


"Kalau aku dianggap sebagai adik, seharusnya kamu tidak pernah melupakanku sampai kapanpun,"


Kembali dari ragunan dan dunia fantasi, Devan dan keluarga kecilnya kembali ke hotel. Besok pagi mereka akan melakukan perjalanan ke Yogyakarta.


Lovi menyadari kalau selama diperjalanan pulang, Devan nampak tidak tenang. Setelah mendapatkan pesan dari Deni yang mengatakan kalau Vanilla kembali memulai ulahnya, Devan merasa kehilangan akal.


Ingin rasanya membuat gadis itu babak belur. Masalahnya bukan hanya Vanilla yang akan terkena imbasnya. Tapi Devan juga akan mendapat hukuman dari Raihan. Raihan menganggap Devan selalu membela adiknya. Seolah membiarkan Vanilla berlaku semena-mena. Padahal Devan hanya mengikuti keinginan hati dan juga saran dari istrinya. Belakangan ini Devan tidak lagi menekan Vanilla. Ia kembalikan lagi pada Vanilla. Karena Devan juga tidak bisa mengatur terlalu banyak. Ia pernah berada di fase ini. Dan memang sulit keluar dari sana.


"Vanilla baik-baik saja, Devan. Aku yakin,"

__ADS_1


"Malam ini dia akan habis oleh Papa. Harus melakukan apa lagi agar dia berubah? apa dengan menikah?"


Lovi mendelik lalu memukul pelan lengan suaminya. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara menikah. Pernikahan bukan sebuah pelarian. Di tahap itu semuanya harus siap dengan segala konsekuensi. Melihat bagaimana sikap Vanilla selama ini, apakah calon suaminya mau menerima Ia apa adanya?


"Lov, kamu bisa menilai tidak, kalau Deni itu sepertinya menyukai Vanilla. Tapi--"


"Devan, kamu kenapa jadi berbicara seperti ini? Vanilla masih ada waktu untuk meraih masa depannya. Dan lagi---Deni terlalu--"


Lovi menggigit bibir bawahnya tak berani melanjutkan kalimatnya. Biar bagaimanapun Deni adalah sahabat Devan. Ia takut menyinggung perasaan Devan


"Deni memang brengs*k, sama seperti aku. Tapi kalau memang Ia bisa menjadi seseorang yang mampu memperbaiki Vanilla, aku rasa tidak masalah,"


Tadinya Devan berpikir adiknya Tidak pantas mendapatkan lelaki macam Deni. Devan sudah sangat lama berteman dengan lelaki itu. Ia tahu betul bagaimana Deni sebenarnya. Dari mulai yang baik sampai yang buruk, sudah tidak ada lagi yang mereka rahasiakan. Keduanya saling tahu.


"Bukan Deni yang memperbaiki. Tapi keluargamu dan kamu juga. Deni adalah lelaki yang baik, maaf Devan, aku rasa Tidak adil jika Deni mendapatkan Vanilla. Ada baiknya mereka sama-sama membenahi diri, setelah itu kalau memang ditakdirkan untuk menikah, Aku sangat bahagia mendengarnya,"


Devan menunduk. Ia mengusap kepala Lovi dengan lembut. Yang dikatakan Lovi memang ada benarnya. Vanilla terlalu rusak untuk seorang Deni yang terlihat begitu menyayanginya.


Mereka Tidak tahu kalau Deni baru saja memperjelas statusnya dengan Vanilla. Hanya sebatas kakak adik, Tidak lebih. Dan seperti apa yang diucapkan Deni, beberapa waktu ke depan Ia akan menikah.


-------

__ADS_1


AKU UDH BWT DRAFT NOPELNYA SI PANIL TP AKU BINGUNG POSTNYA KPN? MENURUT KALIAN GMN? OH YA, TERIMA KASIH YAAA UNTK SEMUA DUKUNGANNYA. KU SAYANG KALIAN🤗💙😘


__ADS_2