
"Ya, sayang. Daddy buatkan kalian susu dulu ya?"
Devan memasuki dapur lalu mulai melakukan apa yang ada di kepalanya. Wajahnya berseri karena bisa kembali mendengar segala keinginan anaknya.
Ia bisa melihat Andrean dan Adrian yang berlarian di sekelilingnya. Sebuah gelas berhasil jatuh karena Ia tak sengaja menyentuhnya. Saat itu Ia langsung tersadar.
Devan menggeleng seraya menyentuh kepalanya yang langsung terasa pening. Halusinasinya kembali hadir. Devan merasa benar-benar gila di setiap harinya.
Devan memukul kepalanya keras-keras untuk mengusir bayangan anak-anaknya. Ia menghempaskan botol susu yang ada dalam genggamannya hingga menimbulkan suara nyaring.
"ARGHH! SIAL*N! SIAL*N!"
"Devan, apa yang kamu lakukan?"
Devan tidak mengindahkan seruan Rena yang terdengar sangat panik. Wanita itu berusaha menghentikan aksi Devan yang ingin menghancurkan barang-barang lainnya di dapur mansion.
"DEVAN, SADAR NAK!"
"Aku selalu mengabaikan anak-anakku," bisik Devan dengan pandangan kosong. Rena menggeleng dengan air mata yang mulai tumpah dari pelupuknya.
Mereka terkadang meminta dibuatkan susu kalau Lovi sedang tertidur, namun Devan yang sibuk dengan segala pekerjaannya tak bisa memenuhi keinginan anak-anaknya itu.
"Devan...."
"AKU HARUS MEMBUNUH DIRIKU SENDIRI. AKU SUDAH MEMBIARKAN ANAKKU MATI,"
Devan ingin menghukum dirinya yang telah gagal menjadi suami sekaligus ayah yang baik. Ia semakin menggila ketika ingatannya terlempar pada kejadian menyakitkan itu.
-FLASHBACK ON-
"Devan, nanti aku akan periksa kehamilan. Kamu akan menemaniku, bukan?"
"Maaf, Lov. Aku harus mengunjungi proyekku yang hampir selesai. Untuk kali ini, kamu pergi sendiri, ya?"
Lovi mengangguk masih dengan senyuman walaupun keinginannya tidak dipenuhi oleh Devan. Ini adalah pemeriksaannya yang pertama. Tadinya Lovi sangat malas untuk datang ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya benar-benar lemah pagi itu. Namun ketika mendapati dirinya yang mengalami flek, maka Ia akan membuang rasa malasnya tersebut. Ia harus mengetahui kondisi anaknya di dalam perut.
Devan benar-benar pergi setelah meninggalkan kecupan untuk sang Istri.
Lovi menatap kepergian suaminya dengan sedih. Tapi hatinya tak henti memberi semangat. Masih ada waktu lain dimana mereka bisa pergi bersama ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
***********
"Cepatlah! lama sekali memilih minuman saja sampai lima belas menit," Jane menggerutu kesal. Ia merasa kakinya lelah berdiri menantikan Vanilla yang tak kunjung selesai memilih minuman di dalam lemari pendingin.
"Sabar, Bodoh!"
Akhirnya Vanilla memilih salah satu minuman dalam kemasan botol. Ia hanya membeli air mineral namun waktu yang digunakan benar-benar lama. Hal itu membuat Jane semakin kesal. Ia tak henti memaki sepupunya.
"Aku kira kamu mau membeli minuman yang lebih dari itu, Vanilla. Kamu sudah berhasil membuang waktuku. Uang banyak, tapi di minimarket hanya membeli air mineral. Aku maklum, karena kamu hanya menumpang nama di balik kekayaan orangtuamu,"
"Sial*n! berhenti menghinaku. Sebentar lagi aku akan menjadi kaya tanpa bantuan Mama dan Papa. Lihat saja nanti,"
************
"Vanilla, itu Lovi?"
Vanilla berdecak saat lengannya ditarik dengan kasar oleh Jane.
"Yang mana?!" nada suaranya sejak tadi memang tidak santai.
"Dia duduk di sana. Apa yang dilakukannya?"
Vanilla mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jane. Ia melihat seorang perempuan yang sedang duduk di sebuah bangku besi di tepi jalan raya.
"Apa sebaiknya kita menghampiri dia?" tanya Vanilla yang langsung ditolak oleh Jane.
__ADS_1
"Untuk apa? mungkin dia sedang menunggu selingkuhannya di sana,"
Vanilla memutar bola matanya malas. Jane yang suka berburuk sangka telah kembali. Untuk apa berbicara seperti itu? tidakkah Ia lihat kalau rumah tangga Kakaknya baik-baik saja? Vanilla yakin Devan dan Lovi sama-sama setia.
"Ayo pulang!"
Tangan Vanilla di tarik oleh Jane. Vanilla menoleh ke arah Lovi. Entah kenapa dia merasa khawatir.
Setelah masuk ke dalam mobil, Vanilla masih memperhatikan kakak iparnya. Jane yang bersiap menyalakan mobil pun menyadari apa yang dilakukan Vanilla.
"Apa sih yang kamu perhatikan? Lovi?"
"Iya, memangnya siapa lagi?!"
"Dia sedang hamil," gumam Vanilla dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Lovi yang kini terlihat menunduk.
"Lalu apa masalahnya?"
Vanilla memilih diam tak menanggapi argumen yang dikeluarkan oleh Jane. Ia tahu kalau Jane masih belum menerima sepenuhnya kehadiran Lovi. Ia pun terkadang begitu. Namun kondisi Lovi saat ini membuat Ia sedikit tidak tega menyaksikan Lovi yang duduk sendirian tanpa kakaknya di samping perempuan itu.
Jane mulai melajukan mobilnya. Terakhir kali yang Vanilla lihat adalah bangku dimana Lovi duduk telah dikelilingi banyak orang.
**********
Lovi merasa kelelahan saat ini. Oleh sebab itu Ia memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah bangku. Ia akan menghubungi supir pribadinya setelah rasa lelahnya sedikit hilang.
Ia mengamati keramaian kota. Di dekat rumah sakit tempatnya memeriksa kandungan, terdapat banyak distro dan juga pusat perbelanjaan. Ia merasa sudah terlalu lama tidak menatap keramaian. Kali ini Lovi bisa melihat dengan jelas bagaimana padatnya jalan raya ketika memasuki waktu siang seperti ini.
Seraya mengusap perutnya, Lovi menunduk. Ia sangat menikmati suasana ini. Ia merasa bebas walaupun tak dipungkiri kalau Ia juga sangat menginginkan kehadiran Devan.
Setelah beberapa waktu terdiam di sana, Lovi merasa perutnya sangat sakit. Seperti ada sesuatu yang mendorong anaknya untuk keluar. Nyeri yang menderanya berhasil membuat Lovi berkeringat dingin.
Beberapa orang di sana mulai menatap Lovi.
Lovi mulai merasa lemah. Napas yang sebelumnya tersengal perlahan tenang. Mata yang tadinya bisa menatap suasana sekitar kini mulai menutup. Orang-orang yang kebetulan melintas di sekitar Lovi langsung mengambil tindakan. Mereka bisa melihat kalau perempuan itu benar-benar sakit, bukan berniat untuk menjebak atau melakukan tindak kejahatan pada mereka.
*************
"Tuan, Janin dalam kandungan Istri anda tidak bisa diselamatkan,"
dokter langsung berbicara dengan seseorang yang diberi nama 'suamiku' dalam ponsel Lovi yang baru saja diserahkan oleh polisi.
"Aku tidak suka dengan permainan murahan seperti ini. Katakan kalau Istriku baik-baik saja!"
dokter menghela napas pelan. Ia mengembalikan ponsel tersebut pada polisi yang sedari tadi berada di dekatnya.
Biarkan polisi itu yang meyakinkan Devan. Karena Ia sendiri masih terkejut dengan apa yang dialami perempuan bernama Lovi itu. Tadi ketika Lovi mendatanginya, kandungan perempuan itu sudah Ia pastikan baik-baik saja. Namun selang beberapa waktu kenapa terjadi hal ini?
**********
"Aku harus ke rumah sakit sekarang,"
"Tuan, ini adalah tender besar yang sudah menjadi keinginan Tuan sejak beberapa bulan lalu,"
Mendengar itu, Devan berpikir sejenak. Ia benar-benar dilanda rasa bingung sekarang.
"Sebentar lagi rapat akan dimulai,"
Setelah sekretaris perempuannya keluar, Devan duduk di kursi kebesarannya. Ia menghembuskan napas kasar. Jantungnya berdetak tidak karuan. Otaknya berkelana memikirkan kondisi Istrinya saat ini.
Tender ini sangat penting dalam meningkatkan grafik perusahaannya yang sedang menurun secara drastis. Nasib perusahaan berada di tangan Devan. Tidak ada lagi kerja sama yang bisa menjadi malaikat penolongnya. Bahkan Raihan sendiri pun tidak peduli sama sekali dengan terancamnya perusahaan Devan. Raihan seolah benar-benar serius dengan ucapannya yang menginginkan Devan menjadi pemimpin di perusahaan Raihan. Raihan mengatakan Ia akan melakukan apapun agar Devan mau menjadi penggantinya.
Apakah Papanya itu senang ketika perusahaan anaknya hancur? atau mungkin saja ancaman yang sedang didapat oleh Devan dan perusahaan besarnya adalah bentuk dari keangkuhan Raihan? Ah! kenapa Devan baru menyadarinya sekarang?! kalau memang benar semua itu ulah Raihan, maka Devan tak akan segan memberi pembalasan yang setimpal.
Karena perusahaannya sedang berada di ambang kehancuran, Ia tidak bisa menemani sang Istri yang sedang kesakitan. Ia juga tidak bisa menghantarkan kepergian anak ketiganya.
__ADS_1
Devan harus mengembalikan kokohnya perusahaan itu. Ia sudah mengorbankan waktunya bersama Lovi dan anak-anaknya hanya untuk memikirkan perusahaan itu.
Sekarang Devan akan membuat semuanya kembali seperti semula. Setelah itu, Ia akan datang kepada Lovi, mendampingi perempuan itu sampai rasa kehilangannya sirna.
Devan tidak ingin bersedih, Ia yakin ada rencana Tuhan yang lebih baik dibalik peristiwa ini.
-FLASHBACK OFF-
"Aku akan membunuh Lovi kalau sampai dia masih memaksa untuk bercerai,"
Rena menampar wajah putranya hingga berpaling. Tak cukup sekali, dia melakukannya sebanyak tiga kali agar Devan sadar dengan ucapannya. Devan ingin membunuh perempuan yang dicintainya? sepertinya penyakit Devan kian parah.
"Sebelumnya dia sudah mau bertemu dengan kamu. Tapi apa yang kamu lakukan? kamu selalu menghindarinya. Seharusnya kamu gunakan waktu sebaik mungkin untuk berbicara empat mata dengan Lovi. Sebenarnya apa maumu, Devan?"
Devan mengangkat kepalanya lalu menatap Rena dengan tajam.
"Aku tidak ingin berpisah dari Lovi,"
"Mama mendukung Lovi yang seperti itu. Dia tidak pantas bersanding dengan lelaki gila,"
*********
"Kau melupakan obatmu lagi?"
Diyyon menggeleng tak habis pikir. Dua bulan divonis mengidap penyakit Skizofrenia, mengalami segala kesulitan dalam menghadapi halusinasi dan delusi, Devan tidak pernah mencoba untuk memenuhi peraturannya dalam hal mengonsumsi obat.
Mendengar cerita dari Devan mengenai perdebatannya dengan Rena, Diyyon terkadang merasa prihatin dengan Devan, sahabatnya itu.
Seharusnya dalam kondisi seperti ini, dia membutuhkan dukungan dari semua orang-orang terdekatnya. Apa yang terjadi pada Devan justru sebaliknya.
Dia ditinggalkan oleh Istri dan anak-anaknya. Sekarang, dukungan moril dari orangtuanya pun semakin berkurang.
Skizofrenia adalah penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Pasien dengan penyakit skizofrenia tidak bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan.
Devan mengalami Skizofrenia dimana dia akan sering mendengar suara-suara di dalam pikirannya. Serta melihat sesuatu yang tidak nyata.
Suara yang terdengar oleh pasien Skizofrenia dapat dikaitkan dengan orang-orang terdekatnya.
"Seharusnya kau jujur dengan Lovi. Mungkin dengan cara itu, dia akan kembali bersamamu,"
Devan menghembuskan asap rokoknya. Matanya menatap lurus ke depan. Suasana kafe nya malam ini benar-benar lengang.
Imajinasinya sudah penuh. Sebisa mungkin Devan menghindari suasana yang dipenuhi dengan keramaian.
"Kalau dia mengetahui penyakitku, maka aku akan melihat tatapannya yang seolah mengatakan 'kasihan' padaku,"
"Yang terpenting dia bisa kembali dalam pelukanmu,"
Devan menggeleng lalu menurunkan sebelah kakinya yang sejak tadi ditumpukan di kaki yang lain.
"Dia hanya boleh bersama dengan aku yang sehat. Sementara menunggu kondisiku lebih baik, maka kami akan tetap seperti ini,"
"Walaupun tanpa kejelasan status kalian?"
"Tidak ada kata cerai, kalau aku tidak menghendakinya,"
----------------
**Devan atit :( sbnrnya rada susah riset tntg penyakit ini krn aku hanya mengandlkn sumber info dr google. Org" dilingkungan aku Alhamdulillah sehat, gaada yg kena penyakit bahaya ini. Mngkn bwt kalian yg tau penyakit ini dr org" dilingkungan kalian, silakan sharing di kolom komen yaa :) spy kita sama" belajar. Aku prnh bljr materi ini di pelajaran Farmakologi farmasi tp emg ga sedalem itu sih materinya Hehehe. Yg dibahas kebanyakan obatnya aja. Krn emg bidang sekolahku ya disitu wlwkwk.
Readers : KENAPA DEVAN DIBUAT PENYAKITAN WOY?!
Daku : Biar dia bs hargai setiap kesempatan yg udh di kasih sm Tuhan. Wktu dia sehat dan msh bareng sm Istri&anaknya, dia jarang jd manusia bener. Dia cuek sm Anak istri, Dr dulu sampai skrg pas dia msh sehat dia msh aja nyakitin diri sndri dgn minum-minuman trlarang. Gatau deh gmn kelakuan Devan kedepannya. Krn dr yg aku baca, pasien skizo lbh gampang msk ke dunia negatif ky gt. Kan otak mereka udh dikuasai sm suara" halu yg kadang nyuruh mereka untk ngelakuin hal-hal buruk. Ya contohnya make narkoba, bunuh diri, dll.....
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACAAAAAA**
__ADS_1