My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tiba-tiba rindu


__ADS_3

Hingar bingar malam di dalam sebuah kelab menemani Vanilla bersama temannya. Malam ini hanya Joana yang setia menemani. Sementara yang lain, seperti biasa akan meninggalkan Vanilla setelah semuanya difasilitasi. Selama Devan pergi berlibur, Vanilla tidak pernah lagi berkunjung ke rumah kakaknya itu. Karena percuma saja. Tidak ada kedua anak kembar yang bisa membuatnya terhibur.


Malam ini Vanilla kembali pada rutinitasnya. Pulang malam setelah hampir lima jam menghabiskan waktu di dalam kelab. Clubbing memang menjadi bagian dari hidup Vanilla sampai saat ini.


"Hei sudah berapa botol yang kamu habiskan malam ini? jangan gila, Vanilla!"


Vanilla merebut botol yang ada di tangan Joana, gadis yang selalu mengaku sebagai sahabat namun tak pernah Vanilla anggap.


"Bukan urusanmu, Joana."


Joana bangkit dan akan menarik lengan gadis itu. Ia memang suka pergi ke tempat seperti ini tapi tidak sampai kalap layaknya yang Vanilla alami setiap hari. Alasannya ingin ikut dengan Vanilla setiap kali gadis itu mengajak, karena Ia juga ingin menjaga Vanilla yang tidak punya teman di kampus karena kepongahannya.


"Kemarin ayahmu datang lagi ke kampus. Beliau tidak akan main-main lagi, Vanilla. Kamu mau dikeluarkan dari kampus?"


Vanilla terkekeh dengan mata yang mulai gelap. Ingin tidur tapi belum puas dengan ini semua.


"Sudah biasa untukku,"


"Tapi aku akan kehilangan teman,"

__ADS_1


Vanilla seharusnya senang ketika memiliki teman setulus itu padanya. Joana adalah sosok yang sama dengan Vanilla. Kurang banyak memiliki teman, Ia kurang akrab dalam pergaulan mungkin karena kondisi keluarga yang membuat Ia kurang percaya diri.


Melihat Vanilla yang selalu sendiri di kampusnya, hanya Jane yang menjadi temannya, Joana tahu betul rasanya menjadi Vanilla. Karena Ia pun sempat dijauhkan oleh teman-temannya dulu. Semakin sedikit saja teman di hidupnya. Karena ayahnya merupakan mantan perdana Mentri yang tertangkap oleh pihak berwajib karena tindakan menyuap.


Di media manapun pasti memberitakannya. Sehingga Joana juga Ibunya ikut terbawa. Hidup Joana semakin hancur saat Ibunya memutuskan untuk memisahkan diri dari ayahnya. Ia meninggalkan Joana dan Ayahnya yang masih menjalani proses hukuman di dalam jeruji besi.


Diasingkan dalam lingkungan pergaulan sangat tidak nyaman. Sehingga Joana tertarik untuk selalu berada di samping Vanilla. Meski jalan hidup mereka berbeda, tapi keadaan mereka saat ini tidaklah jauh berbeda.


****


"Besok kita lihat panda lagi ya, Dad?"


Adrian menghela bahu kecewa. Ia berharap bisa melihat binatang yang identik dengan lingkaran mata berwarna hitam itu.


"Aunty Vanilla suka panda." Ia berbicara sendiri. Adrian mengaduk-aduk jus alpukatnya dengan sembarang. Tiba-tiba saja merindukan Vanilla.


"Aduh kenapa jadi ingat Aunty Vanilla ya? hah! mungkin karena sudah lama tidak diajak jalan-jalan dengan Aunty. Setelah berlibur ini, aku harus mengajak Aunty pergi ke salon lagi supaya aku dapat mainan yang banyak,"


Devan dan Lovi menggeleng. Sudah Tidak tahu lagi ingin menanggapi seperti apa. Biarkan saja anak itu bermonolog. Nanti juga lelah sendiri. Bermain, makan cokelat, permen, dan es krim adalah dunia Adrian.

__ADS_1


"Kemarin aku berbicara dengan Aunty Vanilla..." Andrean meneguk sebentar jus wortelnya lalu kembali berbicara.


"Katanya aku yang akan diajak ke salon. Setelah itu, kami akan berenang saat musim panas nanti,"


Adrian menggeleng cepat. Seharusnya dia, kenapa malah Andrean? huh! Andrean sudah curi start. Vanilla harus dihajarnya nanti.


"Aku yang diajak bukan kamu. Setelah itu kami akan beli mainan dan akan datang ke peternakan sapi, lalu memerah susu, dan membawa pulang susunya,"


Andrean menahan tawanya. Cepat sekali mengarangnya. Kapan Vanilla mengatakan itu? Andrean tidak tahu.


"Memang kamu berani? waktu itu saat kamu memerah susu sapi, kamu tiba-tiba saja lari karena kaki sapinya terangkat sedikit. Padahal dia tidak ingin mengamuk. Sapinya hanya kebas,"


Lovi memijat pangkal hidung. Tidak mengerti dengan pembahasan kedua anaknya. Dia Tidak tahu kapan mereka memerah susu. Mungkin saat Ia masih berpisah dengan Devan? dalam seminggu Vanilla pasti menyempatkan waktu untuk mengajak keponakannya mengunjungi suatu tempat. Mulai dari yang menghibur, sampai yang mendidik.


Deni : Aku akan terus mengikutinya. Maaf kalau ini lancang menurutmu. Tapi jujur, aku khawatir sama seperti kau. Tidak perlu khawatir, aku akan membawanya pulang.


Rahang Devan mengeras saat menerima pesan berupa gambar dan juga kalimat dari sahabatnya. Di sana Vanilla tengah berada di dalam mobil dalam kondisi yang benar-benar mengenaskan. Rambutnya Tidak beraturan, bibirnya terbuka yang Devan yakini tak henti meracau, dan keringat yang terlihat memenuhi wajahnya yang sudah berantakan.


------

__ADS_1


MALEMM GEZZZ🙋 PA KABS? BAIK-BAIK YAA, SEMOGA SEHAT SELALU KITA SEMUAA. AKU CINTA KELEAN. TERIMA KASIH UNTK SEMUA YG UDH DUKUNG AKYUU. THANKISS POKONYA😘💙


__ADS_2