
"Lovi sedang bicara dengan perempuan yang disebut Tante jahat itu bukan?"
Senata menyentuh tangan Rena hingga wanita itu menoleh dan menghentikan kegiatannya. Rena meletakkan brokoli, sayur terakhir yang belum dimasukkannya ke dalam troli.
Kemudian mengajak Senata untuk menghampiri Lovi setelah tahu dengan siapa Lovi bicara.
"Untuk apa lagi dia mencari masalah? benar-benar perempuan tidak tahu malu!" geramnya dengan langkah cepat.
"Devan tidak menemani mu belanja?"
"Kebetulan hari ini tidak," Lovi tidak terpancing sama sekali dengan kalimat bernada aneh itu. Mungkin dipikirnya Devan tidak lagi peduli dengan Lovi sehingga membiarkan Lovi belanja seorang diri. Tidak tahu saja dia betapa sulitnya Lovi meminta izin untuk pergi bersama kedua Mamanya tanpa lelaki itu. Devan selalu menawarkan dirinya namun sekali lagi, Lovi bukan Istri yang tidak mengetahui kesibukan suaminya.
"Ayo kita pulang, Lovi. Kamu sudah selesai mengambil susunya?"
Elea memandang datar Rena yang terlihat muak dengannya. Padahal tidak ada niat sedikitpun untuk mengganggu Lovi. Hanya sekedar penasaran dengan kehidupannya yang sekarang bersama mantan kekasihnya.
"Kami pergi dulu," Lovi menyempatkan diri untuk berpamitan pada gadis itu. Dayana melambai pada Auristella. Mereka bahkan belum berkenalan lebih jauh. Tapi karena kecanggungan yang hadir ditengah orang-orang dewasa itu, gagal sudah niat Dayana yang ingin mengajak Auristella berbincang. Tidak apa Ia yang mendominasi karena Auristella belum bisa bicara.
"Semoga lain kali aku bisa bertemu dengan Auris," harapnya sebelum dibawa pergi oleh Elea untuk kembali berbelanja.
*****
Sampai di mansion, pemandangan yang didapati Devan semakin membuatnya kesal. Perkara Lovi yang terlambat menjemput saja sudah berhasil membuat urat lehernya keluar. Sekarang Vanilla malah mencari masalah dengannya. Gadis itu pulang bersama Renald. Entah darimana mereka.
"Sudah merajut kasihnya?" sindir Devan pada sepasang manusia itu. Vanilla sedang mengobrol dengan Renald di living room. Seolah waktu yang mereka habiskan sebelumnya masih kurang.
Renald mengusap pelipisnya dengan canggung. Sebenarnya reaksi Devan ketika melihat Ia ada di sini biasa saja. Berbeda saat menatap Vanilla. Ayah dari tiga anak itu memandang adiknya dengan tajam karena memang Vanilla yang salah. Vanilla sudah mengizinkan orang lain untuk masuk lebih dalam ke hatinya bahkan setelah rencana pernikahan itu ada.
"Aku pulang dulu, Vanilla."
Adrian yang terkenal dengan sikap ramahnya pada siapapun kali ini tidak menyapa Renald karena Ia melihat raut Devan yang menyeramkan seolah tidak mengizinkan Adrian untuk melakukan itu.
Renald benar-benar pergi dari sana setelah menunduk sebentar sebagai tanda pamitnya pada Devan.
Devan tidak mengatakan apapun lagi pada adiknya. Lelaki itu membawa Adrian dan kakaknya pergi ke kamar.
Lovi tidak ada di sana. Menandakan bahwa ia belum pulang. Tadi di bawah pun Devan tidak melihat keberadaan Mamanya.
"Kalian mandi dulu,"
Keduanya mengangguk patuh. Karena terlihat sekali Devan lelah, mereka pun demikian. Sehingga Adrian tidak ingin membatah.
*****
"Mama dimana?"
"Belum datang, Nona. Tadi pergi bersama Nona Lovi dan Nyonya Senata,"
Vanilla menghela napas pelan. Padahal Ia ingin mencurahkan isi hatinya pada Rena. Vanilla ingin Mamanya tahu bahwa sampai saat ini Vanilla masih kesulitan untuk mengendalikan perasaannya terhadap Renald. Tidak peduli apa reaksi Rena nanti, yang jelas Vanilla hanya ingin Mamanya itu juga jujur pada Raihan.
Semakin dekat dengan hari pernikahan, cobaan yang dihadapi Vanilla semakin beragam. Mulai dari sikap manis Renald yang semakin membuatnya merasa bersalah, perasaannya sendiri, dan yang membuat Vanilla kian bimbang adalah perasaan Jhico nantinya. Vanilla mengakui bahwa Ia mulai peduli dengan calon suaminya itu. Dia tidak ingin lagi menjadi perempuan yang kerap menyakiti. Apakah dengan Ia menyerah sebelum pernikahan tiba akan membuat hati laki-laki itu tersakiti?
__ADS_1
Suara berisik setelah pintu dibuka membuat Vanilla mengangkat sudut bibirnya.
"Ma, sudah datang?" tebaknya.
"Ya, kamu baru pulang?"
"Aku mau bicara dengan Mama,"
Lovi dan Senata saling melempar pandangan. Tahu bahwa ada hal yang penting, Lovi memutuskan untuk langsung pergi ke kamarnya. Sementara Senata memilih untuk pergi ke dapur, membantu pelayan meletakkan semua belanjaan mereka.
Bukan hanya anaknya yang membersihkan tubuh, Devan pun melakukan hal yang sama. Ketika Lovi memasuki kamarnya, gemercik air dari dalam kamar mandi berhasil membuatnya semakin gemetar.
Setelah belanja tadi Ia langsung pergi ke sekolah anak-anaknya. Namun Acha mengatakan bahwa mereka telah dijemput Devan setelah mendapat laporan bahwa Adrian baru saja terjatuh saat bermain bola.
"Belanja membutuhkan waktu berapa lama, Lov?" belum juga Lovi tenang, Devan keluar dari kamar mandi dan langsung melempar kalimat bermakna sindiran.
Lovi meletakkan Auristella di dalam boksnya. Dia tertidur dan sebaiknya memang seperti itu. Agar Lovi bisa berbicara sebentar dengan suaminya. Setelah itu barulah waktunya Auristella untuk berganti pakaian.
"Adrian terluka. Kamu tahu?"
"Iya, aku tahu. Maaf aku terlambat menjemput mereka,"
"Kamu melakukan hal yang sama denganku kemarin. Jadi aku maafkan,"
Lovi mengikuti lelaki itu ke walk in closet. Suasana hati Devan belum baik. Lovi bisa tahu dari tatapan jengkelnya.
"Kamu tidak mengatakan apapun padaku saat di telepon tadi. Aku kira kalian semua sudah di rumah,"
"Itu di perjalanan menuju sekolah mereka,"
Lovi menghembuskan napas untuk menggantikan luapan kesalnya.
"Tadi aku bincang-bincang dulu dengan Elea,"
Lovi pikir sekalian saja Ia membuat suaminya geram. Ia penasaran dengan reaksi Devan setelah mendengar alasan keterlambatan Lovi menjemput mereka karena Elea.
"Apa?! untuk apa lagi kamu berbicara dengan dia, Lov? Ya Tuhan, segila apa istriku ini?"
Devan berbalik setelah mengenakan celananya. Ia bertolak pinggang seraya mendekati Lovi yang kini menahan senyum.
"Menyerahkan kamu. Aku sudah bosan,"
Setelah mengatakan itu Lovi berbalik. Namun tangannya dicekal oleh Devan yang memaki. Entah mengapa Lovi rindu dengan makian suaminya yang tidak pernah lagi Ia dengar.
"Sial!"
Lovi tersenyum miring menunggu kalimat lanjutan dari suaminya.
"Apa yang kamu katakan, Lovi?! kamu bosan denganku lalu menyerahkan aku dengan dia? yang benar saja?! memang aku barang?!"
"Bosan dengan gaya bercintamu,"
__ADS_1
Devan mengerinyit dalam. Rahangnya mengeras, masih belum mengerti dengan kalimat Istrinya.
"Lovi--"
Lovi menepuk lembut kedua wajah suaminya yang masih basah. Ia terkekeh setelah Ia mengerling.
Devan mendengus saat mengerti. Ia segera menahan langkah Lovi yang ingin melarikan diri lagi. Devan tidak akan membiarkan perempuan itu lolos setelah membuatnya emosi.
Devan membawa istrinya dalam gendongan. Lovi berontak di atas bahu suaminya. Punggung Devan di pukulnya agar Ia dilepaskan.
"Berhubung Auristella sedang tidur, dan kedua anak kembar kita lagi mandi, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Kamu berhasil mengusik ketenangan seekor singa, Lov. Saatnya balas dendam!" bisik Devan penuh gairah di telinga sang istri.
Lovi berbaring pasrah di bawahnya. Devan bukan lagi laki-laki pemaksa. Bila memang Lovi tidak menginginkannya maka Ia tidak akan melakukan itu. Devan mengerti bahwa rumah tangga bukan hanya tentang hubungan di atas ranjang seperti pemikirannya dulu. Kehangatan bisa diperolehnya dari hal-hal lain yang membahagiakan dalam sebuah pernikahan.
Prinsip Devan sebelum bertemu dengan Elea, tidak akan ada pernikahan. Mengenal gadis itu, lalu mengetahui semua hal-hal dalam dirinya membuat Devan menginginkan perubahan di hidupnya. Namun Elea belum berhasil merubah pola pikir Devan mengenai tujuan menikah hanya sebatas bercinta. Yang dia lakukan justru membenarkan apa yang ada di otak Devan. Mereka sama-sama tidak tahu arti menikah yang sesungguhnya.
Setelah mengenal Lovi, bukan hanya prinsip yang berubah. Pola pikir pun demikian. Sekarang Devan tahu seberapa pentingnya cinta dalam kehidupan seseorang.
Sudah seminggu lebih Lovi tidak membantunya dalam melepas hasrat karena periode datang bulannya dan Devan merasa biasa saja. Tidak seperti dulu, dimana dalam seminggu pasti ada waktunya Devan menjelajahi kenikmatan.
Mengakhiri kegiatannya, lelaki itu mengecup bahu polos Lovi. Ia menatap perempuan di bawahnya dengan penuh kelembutan.
"Sudah? aku mau menggantikan baju Auris. Kalau dia tidak merajuk, aku mau memandikannya,"
Devan mengangkat alisnya lalu menampilkan raut menyebalkan. "Kenapa bertanya sudah? kamu memberi aku kode agar aku tahu kalau ini semua masih kurang?"
Lovi membalikkan posisi sekuat tenaga setelah Ia memukul dada suaminya. Lovi seperti memegang kendali saat ini dan Devan suka dengan posisinya.
"Kamu sudah siap membuat aku terbang untuk yang kesekian kalinya, Lov. Cepat lakukan!"
Devan menggerakkan bagian bawah tubuhnya untuk memancing perempuan itu agar melakukan sesuatu.
Sebelum Lovi protes, lelaki itu ******* bibir Lovi dengan cepat. Devan berusaha untuk menyulut gairah Lovi secara pelan agar sang istri mau memberinya kepuasan tanpa dia yang terlihat sangat meminta. Devan bosan menjadi pihak yang menyedihkan, sementara Lovi selalu tampil dengan gaya arogannya seolah Ia tidak begitu menginginkan hal yang sama dengan suaminya, kepuasan.
"Lima kali pelepasan lagi baru aku lepaskan kamu,"
"Devan, tidak!"
"Baiklah, empat saja kalau begitu,"
"Gila kamu! aku tidak mau!"
lucu sekali mereka. Bercinta tetapi sambil berbincang. Topiknya pun menggelikan. Bergerak, berusaha meraih puncak diselingi dengan perbincangan memang terasa berbeda.
Devan mengeluarkan ekspresi andalannya ketika sedang merayu Lovi. Biasanya Ia selalu bisa meluluhkan Lovi. Semoga saja keberuntungan masih berpihak padanya yang sedang haus akan kepuasan itu.
"Empat, lov. itu sedikit, bahkan tidak sebanding dengan hari liburku yang sudah satu minggu lebih. Boleh ya?"
------------
GAYZZZZ AKU UP NIH. MERAPAT, KOMEN RAME-RAME KUY. VOTE & LIKE NYA JG HARUS RAME DUNGSSSS ;)
__ADS_1
WHY DAN NILLAKU NYUSUL UP YAAA. MAMPIR KE SANA NGERUSUH DI KOMEN SUPAYA MANTABBB😂