My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pop corn bersama


__ADS_3

Devan dan Lovi mengunjungi supermarket yang tak jauh dari resort mereka. Lovi sengaja tidak menahan pintu agar tetap terbuka hingga tubuh Devan terjepit di antara pintu.


"Lovi!" geram lelaki itu namun Lovi tidak peduli. Ie menelusuri setiap rak seraya mendorong stroller bayi kembarnya. Devan dengan setia mengikuti untuk menjaga istri dan kedua anaknya.


Ia harus menghela napas lelah seraya mengusap dada. Lagi-lagi Lovi mencari masalah dengannya.


Lovi tiba-tiba menoleh ke belakang dan mendapati Devan yang berjalan dengan mendorong trolley yang entah kapan lelaki itu mempunyai inisiatif untuk mengambilnya.


"Tolong ambilkan pisang itu!" titahnya dengan tangan yang menunjuk jajaran pisang segar yang berada di rak atas. Lovi tidak bisa meraihnya dengan mudah.


Devan melakukan apa yang diminta istrinya. Lalu meletakkan pisang itu ke dalam trolley.


"Itu terlalu banyak. Ambil saja dua sisir,"


Devan mengacuhkannya seperti apa yang dilakukan Lovi tadi.


'Memangnya kamu saja yang bisa egois?' betin Devan dengan arogannya. Ia berjalan mendahului Lovi yang menghentakkan kakinya kesal.


'Sial*n! awas saja kamu! akan aku balas nanti,'


Lovi meraih berbagai jenis makanan ringan untuk menjadi temannya menonton drama nanti malam setelah Adrian dan Andrean tertidur. Sejak kelahiran anaknya, Lovi jadi suka mengisi waktu luangnya dengan menonton bukan hanya menulis.


Devan mengembalikan dua kemasan dari banyaknya jenis snack itu. Lovi merebutnya namun Devan langsung menatap Lovi dengan tajam.


"Aku ingin itu,"


"Itu terlalu banyak penyedap, Lov. Cari snack yang lain!" ucapnya namun Lovi menggeleng dengan tegas.


Apa yang salah dengan snack itu? Kenapa Devan selalu melarangnya untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi kesukaannya?


"Kamu tidak mau aku mengabiskan uang terlalu banyak? katakan saja, Devan!"


Bibir Lovi mencebik kesal. Ia mendekap kedua tangannya di dada. Ah, Devan sangat rindu dengan rajukan perempuan itu. Beberapa waktu terakhir ini, mereka terlibat perang dingin.


"Hei, aku tidak peduli dengan uang yang akan kamu habiskan. Aku lebih peduli dengan kesehatanmu," jawab Devan. Walaupun masih datar, namun Lovi merasakan ketulusan dari kalimat Devan.


"Kamu mendengarku?"

__ADS_1


Lovi akhirnya mengangguk pasrah. Ia membiarkan tangan Devan mengembalikan kedua snack itu di rak. Setelah itu, Devan mengusap wajahnya sekilas.


Sejenak Lovi dibuat tertegun. Lovi tidak pernah merasakan sentuhan itu lagi. Dan sekarang, Devan kembali melakukannya. Lovi sudah lama merindukan kelembutan itu.


Devan selalu memilih waktu yang tepat untuk menyentuh Istrinya mulai dari mengecup hingga mengusap kening. Lovi tidak pernah tahu kalau di setiap malamnya Devan selalu menyempatkan diri untuk melakukan hal itu sebelum tertidur. Karena di esok hari, mereka akan kembali pada situasi dimana tidak saling mengenal adalah pilihan yang tepat.


"Apa lagi yang ingin kamu beli?"


Lovi mengerjap ketika Devan berbicara. Ia mengedarkan pandangannya.


"Sudah cukup,"


Devan mengangguk dan membawa trolley ke kasir. Di sana Ia bertemu dengan Vanilla dan Jane yang juga berbelanja.


Lovi mengurangi kecepatan langkahnya. Ia kurang nyaman bila harus bersi tatap dengan kedua gadis itu. Mereka sama-sama menghindari pertemuan.


Kedua gadis itu berada di depan Devan. Vanilla yang lebih dulu menyadari kehadiran kakaknya pun berseru senang hingga Jane pun menoleh.


"Devan, bayarkan belanjaanku juga ya!"


"Aku juga, Devan!"


"Tidak, bayar sendiri!"


Vanilla mendengus. Tapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Vanilla menarik tangan Jane agar berdiri dibelakang Devan.


"Hei, lelaki di depan kita ini yang akan membayarnya," ucap Vanilla ketika harga belanjaannya sudah di total. Ia menunjuk Devan.


Wajah Devan mengeras. Dengan pasrah Ia mengeluarkan dompetnya. Lalu meletakkan kartu debitnya di meja kasir.


Vanilla dan Jane berseru senang. Mereka saling bertepuk tangan. Dengan adanya Devan, uang mereka di dalam dompet akan aman.


"Terimakasih, Devanku yang tampan," ucap Jane lalu mengedipkan matanya pada Devan. Namun lelaki itu tidak menanggapinya. Ia justru sibuk mencari keberadaan Istrinya dengan mengedarkan pandangan.


Vanilla mengecup singkat wajah Devan sebelum pergi dari Supermarket tersebut. Dengan langkah riang kedua gadis cantik itu membawa kantung belanjaannya.


*************

__ADS_1


"Kamu tidak ingin bergabung dalam barbeque party ?"


Devan naik ke atas ranjang duduk di samping istrinya yang juga sudah mandi. Saat ini mereka bisa bersantai karena Adrian dan Andrean langsung tertidur setelah dimandikan dan di beri makan.


Lovi menggeleng dan meraih kantung belanjaannya tadi siang di atas nakas. Tangan mungil itu mengeluarkan pop corn.


Devan menatap Lovi dalam diam. Ia ingin waktu berhenti sejenak. Devan ingin selalu berada dalam kebersamaan ini. Bisa menatap perempuan itu di setiap detik yang Ia lewatkan dalam hidupnya.


Lovi kesulitan membuka kemasan pop corn caramel kesukaannya. Ia menyerahkan itu pada Devan.


"Apa?" tanya Devan dengan dahi mengerinyit tidak mengerti.


"Tolong buka pop corn nya,"


Lovi menengus dalam hati,


'Memangnya harus di perjelas ya? dasar lelaki tidak peka!!'


Dengan mudah, lelaki itu melakukannya. Ia mengambil segenggam pop corn sebelum di serahkan ke pemiliknya. Makanan ringan itu juga menjadi favorit Devan semenjak Lovi sering membelinya.


"Terimakasih," ucap Lovi setelah menerima makanan kesukaannya itu dari tangan Devan. Devan mengangguk lalu menggunakan tangan kirinya untuk mengusap kepala Lovi.


Wajah Lovi kembali dibuat menghangat. Lovi harus membiasakan diri lagi dengan sentuhan Devan yang belakangan ini tidak dirasakannya dalam keadaan sadar.


Jam tayang drama pun sudah dimulai. Dan Lovi tenggelam dalam kisah yang di tampilkan. Berbeda dengan Devan yang sibuk melahap pop corn dan snack lainnya seraya memandangi wajah Lovi dari samping.


"Aku menemanimu di sini," ucap Devan di sela mulutnya yang bergerak menyantap berbagai jenis snack.


Lovi menoleh sebentar lalu kembali menatap layar datar di depannya.


"Kamu harus bergabung, Devan! aku dan anak-anak akan tetap di sini,"


Devan menggeleng tegas seraya meraih air minum untuk diteguknya.


"Tidak mungkin aku meninggalkan kalian,"


**********

__ADS_1


YIPIIIII SELAMAT MEMBACA YAAAA


__ADS_2