
"Aku harus mengerti perasaanmu? Kamu sendiri mengerti dengan perasaanku? Tidak 'kan? Dengan kondisimu yang seperti ini, aku semakin gila, Sayang."
Devan menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Pahami dirimu sendiri. Kamu sudah kuat untuk mencari mereka? Memang kamu yang lemah seperti ini bisa diandalkan?"
Devan tidak peduli lagi apakah kalimat itu menyakiti Lovi atau tidak. Karena Lovi sudah memancing amarahnya. Kalau Ia semakin lemah siapa yang akan mendorong Devan? Siapa lagi yang akan menjadi penyemangat Devan dalam mengejar jejak anak-anaknya. Mereka seharusnya saling menguatkan. Bukan memaksa keadaan seperti ini.
"Aku tetap ikut mencari mereka! Aku tidak peduli dengan ucapanmu!"
Devan menendang meja di depannya hingga Lovi berjengkit. Lelaki itu akan seperti ini jika dibantah.
"Ya sudah, kalau kamu mati setelah ini, aku tidak akan peduli."
"AKU TIDAK AKAN MATI SEBELUM BERTEMU DENGAN ANAKKU! KAMU--"
Devan keluar dengan langkah pasti. Ia menuju carport dan Lovi langsung berlari mengejarnya. Lebih baik menyelesaikan perdebatan dengan perempuan itu. Daripada Devan kehilangan kendali atas dirinya.
Devan memasuki mobilnya dan secepat kilat Lovi melakukan hal yang sama. Ia yang biasanya payah dalam berlari kini berubah menjadi tangkas. Walaupun tak bisa dipungkiri bagian bawah perutnya terasa sakit.
Devan mengendarai mobilnya dengan kecepatan luar biasa. Lovi mengesampingkan rasa takutnya saat melihat Devan seperti ini.
"Orang suruhanku sudah memberi tahu dimana keberadaan mereka,"
__ADS_1
***
"Sudah hampir malam, dan Devan masih belum menyerah untuk mencari mereka. Akses yang aku tutup tidak henti diserang orang suruhannya,"
Semua mata menatap Raihan menunggu kelanjutan dari kalimatnya tadi.
"Aku menyerah,"
Hela napas lega yang sedari tadi ditahan langsung terdengar. Mereka tersenyum. Memang begini seharusnya. Hanya saja mereka tidak bisa mengatakan apapun ketika mengetahui rencana yang sedang dilakukaan Raihan.
"Hidungku berdarah lho kemarin," Keyla adik Jemy kembali memulai ceritanya. Setelah sebelumnya membahas liburan akhir pekan di singapura bersama Jhon dan Joanna, orangtua mereka.
"Andrean juga. Banyak darahnya. Sampai hidung Andrean ditekan Mommy. Untung tidak sampai gepeng. Hanya saja Andrean sulit bernapas, Ya 'kan?" Adrian menoleh pada kakaknya yang kini semakin menunjukkan wajah datar. Matanya mengerjap menunggu jawaban 'Ya' dari kakaknya yang dingin itu.
***
Devan memukul kemudinya saat jalanan ramai hingga menyebabkan kemacetan. Seharusnya ini adalah waktu untuk orang-orang di bumi beristirahat setelah seharian bekerja.
"Masih jauh restorannya?" Lovi yang sedari tadi diam akhirnya berani membuka suara.
"Tidak, sebentar lagi kita sampai,"
"Bisa ditempuh jalan kaki? Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai," Lovi menggigit bibir bawahnya takut, belum siap mendapat reaksi yang menyeramkan lagi dari lelaki di sampingnya.
__ADS_1
Devan menghela napas dalam-dalam. Berusaha mengusir sisi jahat yang terus menyuruhnya untuk mencekik Lovi sekarang juga. Ia gila brengs*k! dipancing hingga emosi menyeruak dapat membahayakan keselamatan Lovi saat ini. Namun Devan masih berusaha mempertahankan kewarasannya yang tersisa sangat sedikit. Berulang kali Ia berkata di dalam hati,
"Aku mohon jangan sekarang! Aku bisa membunuh siapapun saat ini. Tapi bukan kamu yang aku inginkan, Lovi."
****
Restoran ini sudah sepi. Namun segala dekorasi masih terpasang dengan apik. Devan dan Lovi menegang beberapa saat. Menatap kue tart besar yang berada di tengah restoran. Juga foto kedua anaknya yang menjadi wallpaper panggung yang berdiri kokoh dekat kue tart tersebut.
Angka empat menjadi puncaknya. Lovi mengerjap, dan bulir yang berkumpul di pelupuk, akhirnya jatuh juga menghiasi wajah Lovi yang membeku.
"Mereka ulang tahun," bisik keduanya bersamaan. Lovi menunduk dengan isakan yang lolos dari bibirnya. Sementara Devan hanya diam, meratapi kebodohannya saat ini. Sesak memukul mereka bertubi-tubi hingga pecah menjadi serpihan. Devan dan Lovi sama-sama terjebak di dalam kubangan yang di penuhi dengan rasa penyesalan.
"DADDY, MOMMY?!"
Mereka menatap kedua malaikat kecil yang hampir membuat mereka mati karena panik.
Rasanya begitu bahagia bisa kembali melihat wajah polos gabungan dari dua darah itu.
Namun Tuhan belum membiarkan Lovi dan Devan bahagia sepenuhnya saat ini. Tuhan seakan belum puas memberi mereka cambukan tak kasat mata yang semakin meninggalkan perasaan bersalah. Mereka kembali dituntut untuk saling bertautan menghadapi cobaan selanjutnya.
"ADRIAN, ANDREAN! YA, TUHAN."
-----
__ADS_1
Vote msh dikit, aku udh up. Biar tidurku tenang mlm ini wkwkwk. LANJOOTT?? KUYLAH SEBAR VOTE DAN RATTING 5 SEBELUM LANJUT. TERIMA KASIH YAAA💙💙 AKU PAMIT, UP MINGGU DEPAN. BAAYY🙌👋💅