
Lovi sedang membaca buku di saung bungalow dimana terdapat ikan-ikan kecil di bawahnya yang berkeliaran dengan bebas.
Lovi bisa bersantai karena kedua anaknya tertidur, Sementara Devan sedang mandi. Sehingga Ia bisa dengan bebas menggunakan sedikit waktu luangnya untuk kembali melakukan hal yang sangat disukainya itu.
Ia tersenyum ketika menemukan salah satu bagian cerita yang menurutnya lucu. Lovi menggoyang kakinya pertanda kalau Ia sangat menikmati kegiatannya saat ini.
"LOVI?! DIMANA KAMU?!"
"LOVI!!"
"LOVI!!"
Devan berteriak dengan wajah panik karena tidak menemukan Lovi dimana pun. Ia menggendong Andrean yang sedang menangis. Suara Andrean yang melengking membuat Ia khawatir.
Lovi langsung berdiri di atas papan yang menjadi pijakannya sedari tadi. Setelah meletakkan bukunya, Lovi langsung menghampiri sumber suara.
"Ada apa, Devan?" tanya Lovi.
Devan yang sedang berada di ruang keluarga, berbalik mendengar suara istrinya. Ia menghela napas lega.
Lovi langsung meraih putra sulungnya. Menimang balita itu agar tenang. Devan menatapnya dalam diam. Hatinya masih bergemuruh entah karena apa.
"Kamu dimana tadi?"
"Aku ada di saung, baca buku. Maaf aku tidak tahu kalau Andrean menangis,"
Devan mengusap kasar wajahnya. Ia menggigit lidahnya yang ingin mengeluarkan kata-kata tajam, Devan berusaha menahannya . Tapi tidak bisa. Devan terlalu khawatir. Ia khawatir akan Andrean dan juga Lovi yang tiba-tiba saja menghilang dari kamar. Ia ketakutan saat pikiran buruk menguasainya. Ia kira Lovi sudah meninggalkannya.
"Lain kali jangan ulangi hal ini lagi, Lov. Kalaupun kamu mau membaca, maka cari tempat yang dekat dengan mereka," pesannya pada Lovi. Perempuan itu bisa merasakan suara dalam suaminya yang menandakan kalau lelaki itu sedang menahan sesuatu yang buruk dalam dirinya.
"Kamu marah padaku?"
"Tentu saja, Lov. Kamu sudah membuatku khawatir,"
Rasa khawatir yang sudah melampaui batas menjadikannya marah. Lovi menunduk dengan tubuh yang masih menimang Andrean.
"Maafkan aku, Devan."
Tanpa menjawab, Devan pergi meninggalkan istri dan anak sulungnya. Ia masuk ke dalam kamar dan menghampiri boks anaknya. Adrian rupanya sudah bangun namun Ia sedang sibuk menggigit mainan lunak steril miliknya.
"Hei, Tampan! sejak kapan kamu bangun?" sapa Devan dan mengeluarkan Adrian dari sana.
Ia akan selalu merasa tenang bila berinteraksi dengan anaknya. Mungkin dengan Ia bermain bersama Adrian, rasa kesalnya bisa hilang perlahan.
__ADS_1
Devan mengangkat tubuh Adrian tinggi-tinggi untuk mengecup perut anak itu. Adrian tertawa saat kepala ayahnya masuk ke dalam baju yang Ia kenakan.
Bulu halus di wajah Devan membuat perut Adrian kegelian. Lelaki itu mengusap-ngusapkan dagunya semakin gencar sampai anaknya kesulitan untuk menghentikan tawa.
Tangan mungil Adrian menarik rambut Devan. Mungkin itu bisa dijadikan senjata dalam mengalahkan ayahnya.
Walaupun kecil, nyatanya tangan putra bungsunya itu berhasil membuat Devan memekik. Rambutnya terasa ingin rontok.
"Sakit, sayangku. Nanti rambut Daddy habis, kamu tidak punya Daddy tampan lagi,"
Tingkat percaya dirinya meningkat. Devan berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan anaknya. Andrean dan Adrian tidak boleh melihat wajah marah dan sedihnya.
Lovi membawa Andrean ke tempatnya tadi. Ia duduk di atas jembatan kayu lalu memangku Andrean.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?"
Andrean diam namun tangannya menunjuk-nunjuk ikan yang ada di bawah mereka.
Lovi menangkap telunjuk kecil itu lalu menciumnya.
"Jawab dulu pertanyaan Mommy!"
Lovi menggelitiki leher putranya yang langsung disambut tawa geli anak laki-laki itu.
Andrean langsung mengangguk. Lovi tertawa lebar melihatnya. Ia mengapit pelan pipi anaknya menggunakan bibir.
Lovi menggendong anaknya menuju dapur. Ia meminta Serry untuk mengambil stroller Andrean. Ia akan menyiapkan makan untuk putra sulungnya itu.
Ketika Serry membawa Andrean pergi dari jangkauan Ibunya, anak itu menangis.
"Biarkan saja, Serry. Mungkin dia mau melihat aku menyiapkan ini,"
mata Lovi melirik bubur yang sedang disaringnya. Andrean mengangguk seolah Ia paham betul dengan kalimat Lovi.
"Kamu tinggal saja. Andrean biarkan di sini,"
"Ya, Nona. Kalau perlu bantuanku, jangan ragu untuk memanggilku,"
************
Lovi menggeleng dengan perasaan kesal yang berusaha Ia tahan. Andrean membuang-buang bubur nasi yang ada di mulutnya. Kemudian Ia tertawa setelah mulutnya kosong.
"Jangan seperti itu makannya," gumam perempuan itu.
__ADS_1
Andrean merengek saat dagunya dibersihkan oleh Sang Mommy.
"Jangan kotor seperti ini, Sayang. Mommy tidak suka melihatnya,"
dengan tangan yang terus bekerja, Lovi menasihati Andrean. Anak laki-laki itu hanya bergumam tak jelas.
Perempuan itu larut dalam kesibukannya. Ia tidak menyadari kehadiran suami dan putra bungsunya.
"Adrian tidak kamu beri makan?"
Lovi menoleh kaget lalu terdiam kaku.
"Seharusnya kamu beri makanan untuk mereka dengan adil. Jangan hanya salah satu saja yang kamu utamakan,"
Lovi mengerinyit bingung. Kenapa suaminya ini jadi sensitif setelah kejadian tadi? Ini bukanlah masalah yang besar. Ia pikir Adrian sedang sibuk bermain dengan suaminya dan belum lapar, oleh karena itu Lovi belum memberi makan untuk Adrian.
Devan mengulurkan Adrian yang ada di dalam gendongannya pada sang Istri.
"Aku kira kalian sedang bermain,"
"Ya kalaupun dia bermain, sudah seharusnya kamu tahu jadwal makan dia. Kalau sudah waktunya makan, apapun kegiatan yang dilakukan haruslah dihentikan agar dia bisa makan tepat waktu,"
Devan mulai nyaman dengan mode garangnya. Ia memberi nasihat seolah hanya Ia yang tahu semua tentang anak mereka. Tanpa diberi tahu pun, Lovi sudah fasih dengan semua hal yang berkaitan dengan anaknya.
Sayangnya, Lovi tidak ingin melanjutkan perdebatan ini. Lelaki itu hanya ingin kesempurnaan. Oleh karena itu, Lovi harus belajar untuk beradaptasi. Lain kali, Ia tidak boleh meninggalkan anak mereka yang sedang tertidur untuk membaca buku sebentar.
Devan kembali ke kamar untuk mengambil laptop dan berkas-berkas pentingnya. Ia akan bekerja sembari melihat kedua anaknya makan.
Ia duduk di sofa yang terbuat dari kayu bernuansa village. Lalu mulai bergelut dengan pekerjaannya.
Hanya tangan Lovi yang bergerak. Mulut perempuan itu diam dan memilih sibuk untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut anaknya.
Andrean dan adiknya yang sudah bisa berjalan, semakin susah untuk dikendalikan. Mereka akan bergerak sangat aktif di setiap saat. Bahkan ketika makan pun, kaki keduanya seakan tak pernah lelah kesana-kemari membuat sekelilingnya berantakan.
Mereka mulai mendekat pada Devan. Menyentuh kertas-kertas yang ada di dekat Devan. Lelaki itu belum menyadarinya. Lovi berusaha menarik kedua tangan anaknya namun mereka malah ingin menangis.
"Jangan! nanti Daddy marah," bisiknya pada kedua anak laki-laki itu.
Lovi ketakutan saat kertas-kertas yang dipegang anaknya mulai berhamburan dan kusut. Bahaya kalau sampai Devan mengetahui hal itu.
Lovi merutuki sikap Devan yang seperti ini. Sudah tahu anaknya itu selalu penasaran dengan segala sesuatunya. Kenapa pula harus bekerja di dekat mereka? sebenarnya bukan salah mereka juga. Seharusnya Devan lebih paham dengan kebiasaan anak-anaknya.
Bunyi kertas yang di remat-remat membuat Devan menoleh. Ia langsung menatap datar ke arah Andrean dan adiknya.
__ADS_1