My Cruel Husband

My Cruel Husband
Khawatir pada si kembar


__ADS_3

Devan menatap anaknya dengan jengah. Tadi mereka meminta untuk bermain di atas ranjang. sekarang tidak bisa diam. Ingin turun ke lantai sendiri hingga membuat Devan khawatir.


"Adrian, sebenarnya apa maumu? Tadi..."


"Mungkin mereka bosan di sini," jawab Lovi menengahi. Ia geli sendiri melihat frustasinya Devan pada anak mereka.


Ada benarnya juga ucapan Lovi. Devan menghela napas sebelum akhirnya meraih Adrian dalam gendongan. Andrean tampak merengek pula ingin di gendong.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini,"


Pandangan Devan kembali mengarah pada Lovi. Kondisi istrinya masih membuat Ia khawatir. Meninggalkan Lovi sendirian di dalam kamar bukanlah pilihan yang tepat.


"Ah, aku hubungi Mama saja,"


Devan meraih ponselnya di atas nakas namun Lovi menginterupsi.


"Jangan, kamu selalu mengandalkan orang lain ya dalam mengurus mereka?"


Kini Lovi menatap suaminya dengan curiga. Apa selama Ia koma, Devan juga seperti ini? seharusnya lelaki itu lebih mandiri dalam mengurus anaknya. Bukan malah membuat orang di mansion kesulitan.


"Aku selalu mengurus mereka, Lov. Kamu tidak tahu saja," sungutnya dengan raut kesal. Sungguh menggemaskan di mata Lovi.


"Apa yang kamu lakukan untuk mereka?" tantang Lovi yang juga penasaran. Memangnya lelaki seperti Devan bisa diandalkan dalam mengurus anak? Bukankah hanya pekerjaan yang lebih penting?


"Aku selalu memandikan mereka setiap pagi dan sore kalau aku pulang lebih cepat. Aku juga menyuapi mereka makan ketika pulang,"


Penjelasan suaminya membuat Lovi terharu. Benarkah pengorbanan Devan sebesar itu? Kalau memang benar, maka Lovi sangat bersyukur. Ia semakin yakin kalau disetiap kejadian akan ada pelajaran di dalamnya. Mungkin dengan keadaannya yang kritis, Devan bisa berubah menjadi sosok yang lebih hangat pada kedua anaknya.


"Devan, buka pintunya!!"


Sepasang suami istri itu menoleh ke arah pintu yang diketuk dengan kasar. Suara Vanilla membuat Devan mendengus.


'Ganggu saja,'


Devan kembali meletakkan Adrian di atas ranjang. Ia lupa kalau resikonya lebih besar. Lovi belum bisa menjaga mereka sepenuhnya.


"Devan!! Cepat buka pintunya!!"

__ADS_1


Devan membuka pintu. Ia menatap sinis Vanilla. Dagunya terangkat angkuh.


"Jangan sampai pintu kamarku hancur karena kamu, Vanilla!! Apa yang kamu mau?" Ucapnya dengan urat yang mulai nampak di leher. Devan benar-benar kesal. Ia seperti tawanan yang sedang disergap polisi.


Vanilla tidak menjawab, Ia berjalan meninggalkan Devan sebentar untuk mengambil nampan yang ada dimeja tak jauh dari kamar Devan. Lalu menyerahkannya pada Devan.


"Makanan untuk Lovi. Mama yang menyuruhku untuk mengantar itu,"


Devan menerimanya dengan kening berkerut. Ia menunduk untuk menatap makanan di nampan tersebut.


"Biasanya diantar pelayan. Sekarang kamu merangkap sebagai pelayan juga di samping menjadi anak Papa dan Mama?"


Devan sengaja menyulut amarah gadis itu. Pantang mengucap 'Terimakasih' pada Vanilla. Gadis itu akan besar kepala.


"Brengs*k kau!! Aku tidak akan menuruti Mama lagi. Seharusnya aku lempar saja makanan itu ke tempat sampah," dengan santai Vanilla membuat kakaknya kalah telak. Memangnya Devan saja yang bisa membuatnya marah?


Mereka tidak menyadari kalau Lovi mulai kesulitan menjaga anaknya. Ia sedang sakit dan yang harus Ia jaga bukan hanya satu anak. Ditambah lagi keduanya benar-benar aktif hingga Lovi merasa sangat khawatir mereka akan jatuh dari ranjang.


Vanilla mengerinyit saat dilihatnya Lovi bangkit dari posisinya. Matanya membulat ketika menangkap objek yang membuat Lovi terlihat panik. Kedua keponakannya sudah berada di pinggir ranjang.


"DEVAN!! ANAKMU SEBENTAR LAGI JATUH!!" teriakan Vanilla yang memekakkan telinga berhasil membuat Devan panik. Ia langsung berbalik untuk masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan kencang menggunakan kakinya hingga Vanilla terkejut di luar sana.


"Devan sialan!"


Devan tidak memedulikan adiknya. Pemandangan di depannya benar-benar membuat Devan khawatir. Ia langsung meletakkan nampan di atas nakas, lalu membawa kedua putranya dalam gendongan.


Kedua pangeran kecil itu terkekeh. Seolah mereka baru saja melakukan hal yang konyol. Devan sebenarnya kesal, namun melihat mereka baik-baik saja semua rasa kesal itu meluap.


Layaknya orang tua pada umumnya, Devan lega mendapati anaknya tidak berhasil terjun bebas dari ranjang yang cukup tinggi. Devan tidak bisa membayangkan sebesar apa rasa sakit yang akan dialami anak-anaknya kalau sampai mereka jatuh dari ranjang.


"Kalian semakin nakal, ya! Daddy hukum kalian,"


Devan kembali meletakkan keduanya di atas ranjang. Lalu menggelitiki perut mereka hingga tawa mungil memenuhi kamarnya. Lovi tersenyum melihat itu semua. Bagaimana gemasnya Devan terhadap Andrean dan Adrian, sampai tawa geli yang tak kunjung berhenti dari anaknya membuat Lovi sangat bahagia.


Melihat anaknya yang mulai terengah, Devan menghentikan sikap jahilnya itu. Kini Ia melihat Lovi yang ternyata sudah duduk.


"Lov, kamu kenapa bangun?"

__ADS_1


Lovi mendengus sebal. Kenapa lelaki ini baru sadar? Dia sudah sejak tadi duduk memperhatikan Ia dan anak-anak mereka.


"Berbaringlah! Jangan seperti itu lagi, Lov! Kondisimu belum pulih,"


"Aku khawatir melihat mereka sudah di sudut ranjang. Sampai tidak sadar kalau tubuhku sudah tidak berbaring lagi," kata Lovi dengan kekehannya yang terdengar mengalun indah di telinga Devan.


Oh shit!


'Kenapa kamu berlebihan seperti ini, Devan? Benar kata Vanilla, kamu sudah gila.' batin Devan mengejeknya. Memang benar, ia merasa nyaman ketika melihat Lovi tertawa.


***********


"Dimana cucu Mama? Kamu tidak membawa mereka?"


Begitu sampai di lantai bawah, Vanilla sudah dicecar oleh Mamanya. Vanilla malas membawa dua anak nakal nan menggemaskan itu.


"Mereka baru saja membuat ulah. Biarkan saja Devan menghukum mereka,"


Rena terkejut begitu mendengar kalimat putrinya. Apa lagi yang dilakukan kedua cucunya itu? Kenapa mendengar kata 'menghukum', membuat Rena merinding?


"Apa yang dilakukan Devan pada mereka?" tanya Rena dengan khawatir. Ia tidak akan memaafkan Devan kalau sampai lelaki itu menyakiti Andrean dan Adrian.


"Mama tidak bertanya mengenai kesalahan mereka?" tanya Vanilla. Kenapa Rena langsung bertanya mengenai hukuman yang diberikan Devan? Tidakkah Ia penasaran dengan perbuatan cucunya yang dilihat jelas oleh Vanilla?


"Mereka mau turun dari ranjang. Untung saja mereka masih dilindungi oleh Tuhan,"


Rena menggeleng tidak menyangka kalau kedua anak itu semakin menjadi sikapnya.


"Tidak ada yang terluka, bukan?"


Rasa khawatirnya belum hilang. Ia tidak sanggup melihat mereka kesakitan.


"Mereka tidak apa-apa. Tapi..."


Mendengar kata terakhir Vanilla, Rena menatap putrinya waspada.


"Tapi, jantung Devan hampir lepas,"

__ADS_1


**********


Ada² aja si bocah kembar😂😂 jgn lupa dukungannya yaa teman-temaann biar aku tmbh semangat :) cek novelku yg judulnya 'Why' yakkk udh aku up jg tuh wkwkwk


__ADS_2