My Cruel Husband

My Cruel Husband
Setelah sembuh, liburan?


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu?"


Senata duduk di sebelah Rena. Sudah beberapa hari tak bertemu rasanya rindu dengan perbincangan mereka.


"Aku baik,"


"Syukurlah. Aku dengar Devan sakit?"


"Ya, aku yakin karena kelelahan. Kemarin saja pulang sangat sore bersama Adrian,"


"Adrian? Anak itu ikut dengan Devan ke kantor?"


Senata mengangguk seraya terkekeh. Pantas saja lelaki itu sakit. Karena yang diurusnya bukan hanya pekerjaan tapi juga cucu bungsunya itu.


"Kenapa dia mau ke kantor ya? Padahal tidak ada yang bisa membuat nyaman dari bangunan itu. Aku mengunjungi kantor Raihan saja sangat jarang karena membosankan,"


Senata menunduk dengan senyum lirihnya,"Kamu mengingatkanku dengan suamiku yang entah kemana,"


Rena terhenyak beberapa detik. Tidak biasanya Senata membicarakan suaminya, Ayah Lovi yang menghilang setelah menjual Lovi.


****


Lovi membawa anak-anaknya ke kamar Ia dan Devan. Membutuhkan waktu cukup lama untuk membuat keduanya berdamai mengingat mereka sama-sama keras kepala.


Setelah menutup pintu, Lovi melihat Devan sudah tertidur kembali. Matanya langsung membulat panik saat Adrian duduk di atas dada Devan dan menghentaknya tanpa tedeng aling-aling.


"Arghh sakit," Suaminya meringis dan Lovi semakin khawatir. Bukan Devan terlalu manja atau bagaimana, tapi siapapun yang berada diposisinya pasti melakukan hal yang sama. Ia sedang sakit dengan suhu tubuh tinggi, seluruh tubuhnya lelah dan tiba-tiba saja Adrian yang bobotnya sudah berat bermain-main di atasnya.


"Adrian, Daddy sedang sakit. Jangan seperti itu, Sayang." Seru Lovi mendekati anak dan suaminya.

__ADS_1


Andrean menarik tangan adiknya yang malah marah ketika diberi tahu.


"Kasihan Daddy," belanya. Andrean bisa melihat dengan jelas sosok Daddynya yang berbeda. Biasanya lelaki itu selalu tampil kuat sekarang benar-benar terlihat menyedihkan. Wajahnya pucat dengan dahi yang di kompres.


"Ayo kuda bawa aku lari! Cepat-cepat!"


Lovi mau tidak mau mengangkat anaknya tak peduli Adrian akan merajuk seperti apa.


"Kamu tidak sayang dengan Daddy ya? Daddy sedang sakit malah dianggap kuda," Lovi mendengus dan memilih untuk mengacuhkan Adrian yang mulai terisak. Ia merasa dimarahi Lovi.


"Mommy jahat! Daddy yang baik,"


Adrian, si anak yang suka mengatakan orangtuanya jahat kembali lagi. Kemarin Devan yang dicap jahat sekarang Lovi. Entah besok siapa lagi.


Kali ini Devan dianggap baik karena tidak membuatnya kesal. Malah kemarin membelikan Ia es krim. Nanti kalau Lovi membelikannya mainan, mungkin sosok jahatnya bukan Lovi lagi.


Devan menarik anaknya dalam pelukan. Adrian berbaring di sampingnya dan Ia usap punggung bergetar itu.


Adrian menggeleng dan tangisnya semakin kencang. Ia menahan Devan untuk bangkit. Padahal Lovi akan menyuapi bubur untuk Devan.


Devan mengisyartkan istrinya untuk menunggu sebentar. Devan berusaha mendengar racauan anaknya yang tak henti mengatakan Lovi jahat.


"Sudah selesai dramanya. Sekarang Daddy mau makan," Andrean berbicara dengan dingin. Ia menarik pelan lengan Devan. Ia mengerinyit tak suka saat Devan malah menyuruhnya untuk diam. Seharusnya Adrian yang diam.


"Sebentar, Sayang." Bisik Devan pada anak sulungnya. Tangan kokoh yang dulu hanya menimang anaknya sesekali kini tampak terbiasa menenangkan.


"Daddy sakit?" Tanpa mengangkat kepalanya Adrian bertanya. Devan tersenyum walaupun Adrian tak melihatnya. Ia mengangguk pelan, kini tangannya mengusap wajah kecil yang dipenuhi air mata itu.


"Daddy harus makan supaya cepat sembuh. Setelah itu kita berlibur,"

__ADS_1


Mendengar kata 'berlibur' beragam reaksi langsung didapat Devan. Lovi yang langsung meletakkan kembali semangkuk bubur di nakas untuk memukul pelan lengan Devan yang baru saja berkata sembarangan pada Adrian, Adrian yang langsung melepas pelukan seraya memekik senang, dan Andrean yang kini memicing ke arahnya.


"Dia akan terus menerormu, Devan."


Devan terkekeh dan Ia bangkit dengan bantuan Lovi. Apa kalimatnya terdengar meragukan?


"Kita memang akan liburan. Aku pikir seperti babymoon,"


Devan melirik mangkuk dan Lovi, "Ayo suapi aku. Aku sudah lapar," Ia membuka mulut padahal Lovi belum siap dengan buburnya.


Adrian menghapus jejak air mata dan cairan dari hidungnya menggunakan tangan. Lovi yang melihat itu berdecak pelan.


"Adrian yang suapi Daddy,"


"Aih! dengan tangan kotor seperti itu? yang benar saja kamu sayang!" Devan pun membatin dengan senyum menggelikannya.


"Mommy saja,"


"Adrian, pokoknya!"


Lovi menghembuskan napas pelan sebelum memutuskan, "Cuci tanganmu dulu. Kalau tidak, Mommy tidak akan mengizinkan kamu untuk menyuapi Daddy,"


Adrian mengangguk semangat. Ia segera turun dari ranjang, "Dan jangan biasakan mengelap lendir hidung menggunakan tangan. Ada tisu di dekatmu,"


Adrian hanya mendengar dan mengingatnya baik-baik walaupun percuma karena anak itu punya kebiasaan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.


Devan menatap Istrinya dengan pandangan protes. Keinginannya yang ingin makan dengan Lovi kini hanya tinggal harapan.


Disuapi Adrian? oh god! Devan yakin anak itu punya rencana lain dibalik kebaikannya ini. Buka Ia terlalu curiga, tapi Adrian memang tidak pernah seperhatian ini terhadapnya kecuali terhadap Lovi. Oh atau jangan-jangan Ia baik karena Devan akan mengajaknya liburan?

__ADS_1


---------


4 Ep untk hr ini. Krn aku lg gk mager ngetik wkwk. LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG 5, FOLLOW AKUN INI JANGAN LUPAAA TEMAN-TEMAN. MAACIW GENGS😚💙


__ADS_2