My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tindakan penyuapan untuk Adrian


__ADS_3

"Banyak sekali,"


Adrian tidak peduli. Ia tetap mengambil makanan ringan yang disukainya. Deni mengikuti anak itu dari belakang dengan dua paper bag besar berisi mainan yang tadi sudah dibayarnya.


Deni benar-benar mengajak Adrian untuk berburu makanan dan mainan yang Ia inginkan agar Adrian tidak mengganggunya dengan Vanilla nanti. Rencananya Ia akan mengajak Vanilla ke sebuah restoran klasik untuk menikmati makan malam. Semoga saja Adrian menepati janjinya yang mengatakan tidak akan menjadi penyebab kerusuhan.


"Tolong ambil yang itu!" titahnya seraya menunjuk cookies cokelat yang letaknya ada di rak atas.


Deni mencibir kesal. Selain menjadi dompet berjalan, Ia juga menjadi asisten Adrian. Bukan hanya karena Vanilla, Deni melakukan ini karena Ia juga sayang pada Adrian dan Andrean. Mereka berdua adalah anak dari sahabatnya. Deni yakin kalau Ia memiliki anak, Devan pun akan melakukan hal yang sama. Royal dan tidak perhitungan selama yang mereka inginkan tidaklah menyalahi aturan.


"Anak? memang kau mau punya anak dari siapa? Keynie? hah, omong kosong macam apa itu?! menikmati malam pertama saja belum bagaimana anak itu akan hadir?!"


"Uncle, yang itu juga."


"Adrian, kenapa kau membeli makanan yang berbahan cokelat semua? biar saja gigimu berlubang seperti digigit tikus,"


Adrian memukul lengan sahabat ayahnya itu. Ia selalu protes padahal sudah berjanji untuk menuruti.


Deni terkekeh dan mengacak pelan rambut anak kembar yang lahir setelah Andrean itu. Sangat menyenangkan bila berdekatan dengan Adrian. Sesekali Ia akan berubah menjadi menyebalkan, tapi bisa dijadikan teman juga.


"Punya Andrean yang mana?"

__ADS_1


"Ya tidak ada,"


"Hei! mana bisa seperti itu? ingat kakakmu juga,"


Deni mengerinyit tidak mengerti saat Adrian terbahak. Deni mengusap tengkuknya bingung sekaligus bergumam dalam hatinya, "Devan...Devan... anakmu benar-benar abstrak sekali tingkahnya. Kau pungut dari mana dia. Astaga,"


****


Devan memasukkan segala perlengkapan Auristella ke dalam tasnya. Sementara Lovi sedang memakaikan putrinya itu jaket sebelum mereka pulang.


Rencananya Devan akan menjemput Andrean dan adiknya di mansion lalu setelahnya mereka akan kembali ke rumah. Namun bila anak-anaknya itu masih belum mau pulang, Devan mencoba untuk mengerti. Dan lagi Rena mengatakan ingin membantu Lovi dalam mengurus Auristella. Mungkin sampai kondisi Lovi benar-benar stabil, baru setelah itu mereka benar-benar kembali ke rumah. Menginap di mansion untuk beberapa hari ke depan sebenarnya tidak masalah. Karena sebelumnya Devan sudah menyelesaikan pekerjaan yang memiliki deadline cepat. Sehingga tidak menumpuk dan membuat otaknya penat.


"Sudah siap?" Devan menarik resleting tas berwarna merah muda milik Auristella setelah memasukkan botol susu milik anaknya itu.


Mereka berjalan bersisian. Devan sangat berhati-hati dalam memperlakukan putrinya itu. Ia sudah lama tidak menggendong bayi, sehingga di awal sempat merasa kaku.


Lovi tersenyum saat ada beberapa perawat yang menyapanya. Melihat Lovi dan Devan yang hangat seperti itu membuat siapapun merasa senang. Mungkin hanya beberapa orang yang tahu kalau mereka sudah memiliki tiga anak. Karena Lovi dan Devan terlihat seperti pasangan yang baru menikah.


*****


"Aku lapar,"

__ADS_1


Lovi menyandarkan kepalanya di bahu Devan yang tengah bergurau dengan Auristella.


"Itu ada buah. Kamu mau?"


Lovi segera meraih kotak makan yang ada di dalam tasnya. Buah yang selalu dibelikan Devan selama Lovi berada di rumah sakit memang belum habis hari ini.


"Jadi kita menginap dulu di mansion?"


"Terserah Adrian dan Andrean. Aku mengikuti kemauan mereka saja. Pulang ke rumah pun tidak masalah. Jadi aku punya lebih banyak waktu untuk bersama kamu,"


Lovi mencibir geli mendengar kalimat itu. Devan tidak cocok lagi mengatakan hal yang manis-manis seperti itu. Telinga Lovi hampir lepas mendengarnya.


"Kemarin Auristella baru berusia seminggu. Jangan aneh-aneh, Devan!"


Devan terkekeh lalu mengecup hidung istrinya dengan gemas. Bahagia sekali berada di samping Lovi seperti ini. Keadaannya berbeda dari proses kelahiran si kembar dulu dimana Devan masih kesulitan untuk menerima Lovi walaupun kedua anaknya sudah benar-benar menempati hati Devan. Rasanya tidak sebahagia ini.


Devan merasa hidupnya semakin lengkap. Di limpahkan kebahagiaan tiada henti. Ia menginginkan anak ketiganya seorang perempuan, ternyata Tuhan bermurah hati untuk memenuhi keinginan Devan.


Dari semua peristiwa yang datang silih berganti Devan belajar untuk lebih mendekatkan diri lagi pada penciptanya. Tuhan sangat baik padanya. Sementara Ia bukanlah manusia yang suci dan sering sekali lalai atas perintah Tuhan.


--------

__ADS_1


SELAMAT PAGEEE MANTEMANQUW. SELAMAT MENJALANI KEGIATAN YAAA. COBA CUNG TANGAN YG UDH NINGGALIN JEJAK SIAPAAA??? TERIMA KASIH UNTUK KAMYUU YG BAEK HATINYA :)



__ADS_2