
"Aku pergi dulu, Lucas. Semoga cepat sembuh,"
"Terima kasih sudah datang, dan--- membawa ini semua,"
Lucas menatap satu persatu hampers yang dibawa oleh Raihan tadi. Benar-benar banyak. Raihan dan pengawalnya keluar dari ruangan Lucas.
"Pastikan Lucas tidak memiliki tanggungan biaya lagi di rumah sakit ini,"
"Siap, Tuan."
*******
Adrian bersorak senang saat waktu makan siang tiba. Begitu gurunya keluar, anak itu langsung membuka bekal yang dibawakan sang nenek.
Andrean menyelesaikan tugasnya yang tinggal sedikit lagi. Anak itu berbeda dengan adiknya. Apapun harus diselesaikan dengan cepat dan sekaligus agar tidak ada lagi beban ketika melakukan kegiatan yang lain. Kalau Adrian, yang terpenting mengisi perut terlebih dahulu, baru setelahnya menyelesaikan tugas.
"Hmm....Enak sekali. Tapi masih enak masakan Mommy. Aduh, aku rindu dengan masakan Mommy," gumamnya seorang diri seraya menikmati tempura kesukaannya.
"Andrean, serius sekali," tegurnya pada Andrean tapi kakaknya itu tetap bergeming dalam kesibukan.
Adrian merasa sepi makan sendiri. Dilihatnya Revin, Thalia, dan Adrina akan keluar dari kelas. Biasanya mereka ikut makan siang bersama dirinya.
"Kalian tidak bawa bekal?"
"Tidak, aku ingin beli makanan saja,"
"Ayo makan bersamaku. Ini porsinya terlalu banyak untuk aku sendiri,"
Senata kalau membawakan cucunya makanan memang tidak akan tanggung-tanggung. Sementara Adrian adalah tipe anak yang makan secukupnya bahkan cenderung sedikit. Berbeda urusan dengan cokelat atau es krim.
"Ayo, jangan diam saja. HANTAM MAKANAN INI, GO!"
__ADS_1
Thalia menahan tawa begitu temannya itu berseru semangat sampai teman-teman mereka yang lain memperhatikan.
"Aku juga boleh?" Adrina mengajukan pertanyaan. Sebenarnya anak itu dibawakan sandwich tetapi Ia sedang ingin membeli sesuatu.
"Boleh, ini makanannya untuk aku, kamu, kamu, dan kamu." ujarnya seraya menunjuk Revin, Thalia, dan Adrina.
Ketiga anak itu duduk di meja yang dekat dengan Adrian. Mereka mulai menikmati makan siang milik Adrian yang baik hati itu.
"Enak-enak,"
"Tentu saja, masakan Nenek dan Mommyku tidak ada tandingannya,"
Mereka menikmati makanan sambil berbincang sesekali. Setelah porsi hanya tinggal sedikit lagi, Adrian menyentuh lengan kakaknya yang sepertinya sudah selesai dengan kegiatannya.
"Makan punyamu, nanti bagi-bagi kami,"
Andrean mengangguk. Tidak perlu diberitahu juga Ia paham apa yang harus dilakukan. Tidak mungkin hanya Adrian saja yang berbagi. Mereka semua teman dan rasanya tidak akan cukup bila hanya menghabiskan porsi Adrian.
"Wow kalian baik sekali,"
"Kita harus saling berbagi. Kalian pun kalau membawa makanan sering berbagi dengan aku dan Andrean,"
*******
Adrina mengeratkan coat-nya saat udara dingin menyapa tubuhnya. Ia sedang menunggu jemputan. Sama seperti halnya Andrean juga adiknya.
"Hati-hati, Thalia. Semoga selamat sampai rumah," seru Adrian seraya melambai pada Thalia yang akan memasuki mobilnya.
"Revin, kamu tidak pulang?"
"Belum dijemput juga. Aku bersyukur, karena bisa menemani kalian di sini,"
__ADS_1
Adrian merasa terharu mendengarnya. Ia menepuk ringan bahu sahabatnya itu. Lalu mereka berdua duduk di dekat Andrean dan Adrina yang sedari tadi tidak bicara.
Adrian menegur Adrina dengan gaya tengilnya. Menyebalkan sekali anak itu, dengus Adrina.
"Hey, tumben diam?"
"Aku diam salah, tidak bisa diam pun dikomentari. Dasar mulut kembang api,"
"Huh?"
"Kamu suka sekali berisik, sama seperti kembang api yang dinyalakan saat tahun baru di Times square," celetuknya yang jadi mengingat momen pergantian tahun di salah satu tempat favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menghitung detik-detik menjelang tahun berganti yang lokasinya berada di New York.
Adrian mengulurkan telapak tangannya di depan wajah Adrina, lalu dengan pongah Ia berucap, "Berkaca dulu coba. Mulutmu juga sama berisiknya,"
Andrean akan mengeluarkan kalimat teguran tetapi mobil yang menjemput mereka sudah datang. Kebetulan yang sangat ditunggu. Akhirnya perdebatan mereka terhenti.
"Pulang dengan kami saja. Mau tidak?"
Adrina menatap Andrean dengan pandangan aneh. Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Ya, kamu dan Revin. Nanti kalian diantar oleh supir kami,"
"Tidak usah, Andrean. Sebentar lagi aku akan dijemput,"
"Aku tidak yakin kalau sebentar lagi. Ayo, Revin. Kita pulang bersama,"
Andrean menarik tangan Revin dan Adrina untuk memasuki mobil sementara adiknya ditinggal sendiri. Adrian menghentak kaki kesal lalu berlari menyusul.
"Andrean, adikmu ditinggal tapi orang lain diajak pulang bersama. Kamu benar-benar ya,"
------------
__ADS_1