
"Aku pulang ya?"
Devan mengangguk pelan tidak rela melepaskan pelukan dari Istrinya. Setelah Lovi mengatakan itu, Devan hanya bisa terdiam.
Lovi memang sudah seharusnya pulang. Kalau mereka tetap bersama di sini, maka Devan akan terus merasa bersalah karena telah membohongi Istrinya terlalu jauh.
"Kamu kapan pulang ke rumah?"
"Belum tahu, Sayang. Kalau sampai Vanilla pulang dari rumah sakit, tidak apa bukan?" Devan melirik istrinya yang langsung mengangguk tidak keberatan.
"Tadi aku bawa baju dan perlengkapan mandimu. Sudah aku letakkan di sofa,"
Sebelum meninggalkan suaminya, Lovi mengusap rahang Devan. Agar hatinya tenang. Berpisah dengan Devan untuk sementara waktu memang selalu menjadi hal terberat untuk Lovi. Apa lagi Ia sedang hamil. Kalau meminta sesuatu biasanya Devan yang akan memenuhinya.
"Hati-hati, ya. Katakan pada anak kita, aku belum bisa bertemu mereka,"
*****
Devan langsung meraih goodie bag yang dikatakan sang Istri. Ia akan membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum bergabung dengan kedua orangtua dan adiknya yang saat ini sudah lebih ceria bahkan tidak sedih lagi saat Raihan mencuri-curi kesempatan meminta Vanilla menjelaskan awal mula kejadian sebelum akhirnya Ia seperti ini.
"Nanti sore aku ingin menjenguk Joana dan Renald ya, pa?"
Raihan tersenyum mengangguk. Vanilla yang sudah berani keluar dari ruangan membuktikan kalau Ia sudah mulai percaya diri untuk kembali bertemu dengan dunia luar.
****
Baru saja Lovi sampai di kediamannya, Desira turun dari motor Fifdy. Mereka mengunjungi rumah Lovi setelah beberapa bulan lalu Lovi keluar dari tempatnya mencari uang.
Beruntung Fifdy masih ingat akses menuju rumah megah ini. Sehingga mereka masih bisa berkunjung walaupun bukan lagi sebagai teman kerja.
"LOVI SAYANGKU!"
Desira berlari memeluk Lovi. Lovi tersenyum menyambutnya dan langsung menyuruh Desira untuk masuk. Sementara Fifdy tengah memasukkan motornya di pekarangan.
"Minum apa, Desira?"
"Apa saja boleh. Tapi kalau boleh saran, jus mangga saja,"
Lovi dan Desira sama-sama tertawa. Fifdy memasuki rumah Lovi dan menjelajahinya dengan mata.
"Dimana suamimu? tidak masalah kami berkunjung ke sini?"
Lovi yang baru saja meletakkan tasnya di sofa menoleh. Ia menggeleng dan tersenyum. Tentu saja tidak masalah selama niatnya untuk melekatkan hubungan pertemanan.
"Devan sedang menunggu adiknya yang sakit di rumah sakit,"
"Sampai kapan?"
__ADS_1
"maksudmu? ya tentu saja tidak lama lagi. Karena kondisi adiknya sudah membaik,"
Aneh saja mendengar kalimat temannya itu. Seperti tidak nyaman bila ada Devan di antara mereka. Padahal suaminya tidak pernah mencari masalah juga. Bahkan saat Devan menemukan Ia dan Fifdy pulang bersama, Devan menegurnya secara langsung. Tidak melampiaskan emosinya pada Fifdy. Mungkin pada saat itu Devan sadar kalau Lovi bukan istrinya lagi.
Dan ketika Devan menghampirinya di rumah sakit, mengawasi setiap pekerjaan Lovi sebagai cleaning service di sana, Devan tidak pernah mengganggu Desira dan Fifdy walaupun memang ada rasa kesal ketika melihat Lovi yang sangat akrab dengan Fifdy sementara dengan Devan sendiri Lovi terus saja mengusir.
"Syukurlah. Karena tidak seharusnya Ia meninggalkan Istri terlalu lama di saat mengandung seperti ini,"
Desira memukul lengan temannya saat lelaki itu duduk di sampingnya. Desira melirik Lovi yang wajahnya sudah gelap.
"Tidak masalah dia meninggalkanku sementara waktu karena menjaga adiknya. Itu pertanda kalau dia sayang keluarga. Aku justru senang karena Devan bisa diandalkan sebagai kakak,"
*****
Selesai menjamu tamunya, Lovi naik ke lantai atas untuk melihat keadaan anaknya sebentar sekaligus mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.
"Hei, kenapa berdiri di sana? kamu bisa jatuh, Adrian!"
Adrian berdiri di atas kursi belajarnya yang Ia arahkan untuk berada di depan jendela. Andrean sibuk bermain iPad. Hanya Adrian yang melakukan itu.
Lovi menghampiri anaknya lalu menyuruh Adrian untuk turun. Namun seperti biasa, Anak itu menolak tegas.
"Adrian mau di sini saja!"
"Sampai kapan? turun!" Lovi akan mengangkat anaknya itu dari kursi yang dipijaknya. Adrian sudah sangat berat rupanya. Setelah berhasil memindahkan anak itu ke lantai, Ia segera mengusap perutnya yang langsung nyeri.
"Tidak boleh kelelahan, Nona. Jangan mengangkat beban berat juga. Berjalan-jalan santai disarankan tapi kalau untuk melakukan aktifitas yang cukup menguras tenaga jangan dilakukan ya, Nona."
"Ada teman Mommy di bawah. Aunty Desira membawa es krim,"
Tanpa berkata apapun lagi Adrian langsung berlari hingga berhasil menyerbu tubuh Lovi. Beruntung tidak sampai limbung di lantai.
Andrean menatap keluar pintu. Mendengar kata 'es krim' saja sudah membuat Ia seperti kesetanan. Adrian benar-benar aneh.
Lovi menggeleng pelan seraya mengusap perut besarnya. Ia berbisik dalam hati, "Semoga kamu tidak menyebalkan seperti itu ya, Sayang. Mommy bisa gila kalau itu terjadi,"
*****
"Wah Aunty baik sekali. Membawa hadiah terus setiap bertemu dengan Adrian,"
Begitu sampai di dekat Desira dan Fifdy, anak itu berseru riang. Tangannya langsung membongkar isi dari bingkisan yang dibawa Desira dan Fifdy.
Mereka sangat menghargai Lovi dan juga menganggap Lovi sebagai saudara. Saat Adrian dan kakaknya dirawat di rumah sakit, mereka menjenguk tanpa tangan kosong juga.
"Suka?"
"Suka, Aunty. Terima kasih,"
__ADS_1
"Kamu tidak mengatakan itu padaku?"
Adrian melirik tajam pada Fifdy. Ia mendengus lalu membuka kemasan es krim dengan gerakan kasar.
"Terima kasih,"
"Hei, kenapa terlihat kesal padaku?"
"Entah, Mungkin karena Uncle jelek. Tidak seperti Daddyku yang tampan itu,"
Fifdy berdecak dan ingin sekali memiting mulut kurang ajar itu. Biar Daddy nya tampan tapi kalau sifatnya buruk untuk apa? sepertinya Adrian akan mewarisi segala sesuatu yang ada pada diri Devan. Masih kecil saja mulutnya sudah tajam, menyakiti orang. Walaupun selama ini Devan tidak terang-terangan memakinya tapi Fifdy tahu kalau lelaki itu juga sama dengan Adrian. Bedanya Adrian sangat pintar dalam mengekspresikan ketidak sukaannya dengan ucapan sementara Devan dengan tindakan.
"Adrian tidak suka kalau Uncle menjadi teman Mommy,"
Itu yang dirasakan Adrian saat pertama kali bertemu dengan Fifdy di rumah sakit. Perilakunya memang baik namun entah kenapa ketika mengetahui fakta bahwa Fifdy adalah teman Mommynya, Adrian jadi kesal sendiri.
Desira tertawa dan membawa Adrian dalam pangkuannya. Ia mengusap gemas wajah anak itu.
Ia mencari-cari Andrean dengan matanya namun sepertinya Andrean masih berada di lantai atas bersama Lovi.
"Kenapa tidak suka?" Desira tahu itu yang akan diutarakan oleh Fifdy namun sebelum lelaki itu mengeluarkan suara, Ia sudah bertanya lebih dulu.
"Uncle jahat ya?"
"Hei! enak saja kamu! tahu darimana kalau aku jahat?"
"Mata Uncle kalau sedang menatap Mommyku sama seperti Daddy. Jadi aku tidak suka!"
Yang dimaksud anak itu adalah tatapan penuh cinta dan kasih sayang milik Devan. Sayangnya Ia juga bisa melihat itu di mata Fifdy.
"Kenapa kalau sama?"
"YA TIDAK BOLEH!"
Desira dan Fifdy sama-sama terkejut begitu Adrian bangkit dari pangkuan Desira seraya berteriak marah. Es krim di tangannya hampir saja jatuh.
"Kenapa tidak boleh?"
Fifdy suka melihat amarah di mata bulat Adrian. Terlihat menggemaskan. Ia tahu kalau ini sama saja mencari masalah. Namun tetap Ia lakukan.
Adrian memukul perut Fifdy dengan keras. Tangannya kecil sehingga tidak menimbulkan rasa sakit sedikitpun. Fifdy malah terbahak. Dan hal itu semakin membuat Adrian menggeram.
"Mommy hanya milik Daddy!"
--------
HELLAWW ZHEYENG-ZHEYENGKUH🙋TINGGALKAN JEJAKNYA DUNGS BIAR AKYU MAKIN SEMANGAADD. MAACIW YAAA💙😘
__ADS_1