My Cruel Husband

My Cruel Husband
Si tengil yang perhatian


__ADS_3

"Deniele, kamu mau kemana lagi? ini sudah malam,"


Keputusan Deni sudah bulat. Sepulangnya Ia dari rumah sakit, tidak ada sedikitpun rasa tenang di hatinya. Sehingga pukul tujuh malam ini Ia memutuskan untuk menginap di rumah sakit, menjaga Vanilla di malam kedua pernikahannya.


"Aku ada urusan di luar. Kamu jangan menungguku pulang lagi ya?"


Sejujurnya Deni juga merasa bersalah pada Istrinya. Karena sejak mereka menikah, Deni selalu meninggalkan perempuan itu sendirian di rumah. Dengan alasan yang sama, ada urusan. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut dan biasanya Keynie pun tidak berani bertanya.


Namun untuk kali ini izinkan Keynie meluapkan rasa penasarannya. Ia tidak salah bila mengkhawatirkan suaminya bukan? Seharusnya di saat-saat seperti ini pernikahan mereka sedang dibaluti dengan kehangatan. Bukan urusan salah satu pasangan.


******


"Okay, Dad. Siap, nanti Adrian jaga Mommy. Tapi kalau memasak apa yang Mommy inginkan, Adrian tidak bisa."


Devan dan Vanilla terkekeh mendengar suara di seberang sana. Lovi baru saja menghubungi Devan dan anaknya itu langsung merebut ponsel Lovi. Sudah terlampau rindu katanya.


"Harus bisa, Sayang. Semua tugas Daddy sudah dilimpahkan pada kamu,"


Sengaja Ia membuat anaknya berpikir keras. Penasaran bagaimana reaksinya ketika dipaksa Devan untuk menggantikan posisi Devan sementara waktu.


"Katanya kamu adalah anak yang bertanggung jawab,"


Sepertinya dia lupa kalau tempo hari sudah siap untuk mencari uang bila Devan mati karena dia adalah anak yang bertanggung jawab.


"Ya--ya memang. Tapi kalau memasak, Adrian tidak bisa, Dad."


"Menggemaskan sekali kamu," gumam Vanilla mendengar rengekan keponakan bungsunya. Rasanya Ia ingin memiting pipi bulat Adrian sampai puas, kalau perlu sampai dia menangis. Karena melihat wajah dan telinganya yang memerah ketika menangis adalah salah satu hal yang paling Vanilla sukai dari Adrian.


Sayangnya, wajah menggemaskan itu tidak bisa lagi ia lihat. Hanya bisa Ia sentuh kalau seandainya mereka bertemu.

__ADS_1


Tanpa mengucap apapun Deni masuk ke dalam ruangan Vanilla. Dan layaknya penguasa, Ia duduk di tepi bangsal Vanilla tanpa izin setelah Ia meletakkan hamper di nakas.


Devan yang melihat itu langsung maju ingin memukul wajah temannya yang seenak hati masuk tanpa izin.


"Hei! aku datang ke sini dengan niat baik!"


"Itu suara Uncle Deni?! Iya?! Hallo, Uncle!"


Beruntung suara Adrian berhasil menghentikan aksi tatap tajam antara Devan dan Deni. Devan kembali duduk di sofa dan bergumam untuk menjawab anaknya.


"Kenapa ada uncle di sana?"


"Ya menjaga Auntymu lah,"


"Memang Aunty kenapa? sakit? atau tidak bisa tidur jadi harus dijaga?"


Deni tertawa keras mendengarnya. Terdengar boleh juga. Huh! Ia lupa kalau sudah memiliki Istri yang kini sedang meratapi nasibnya di rumah.


"AUNTY SAKIT?! SAKIT APA?"


Devan menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara Adrian benar-benar melengking. Lovi yang sedang membaca majalah saja sampai dibuat tersentak. Lovi memicing pada anak bungsunya seolah meminta penjelasan.


"Aunty Vanilla sakit, Mom. Ya Tuhan, sakit apa ya?"


Lovi memilih untuk kembali fokus pada majalah di tangannya. Sepertinya ada seseorang yang berbicara seperti itu sehingga Adrian tahu.


"Adrian mau jenguk Aunty,"


Benar dugaan Lovi dan Devan. Anak itu tidak akan diam saja saat mendengar Vanilla sedang sakit. Dibalik sifat menyebalkannya, Adrian selalu bisa menunjukkan perhatiannya pada siapapun.

__ADS_1


"Aunty sakit apa, Adrian?" Andrean juga penasaran sehingga ia mendekati adiknya.


"Besok sudah boleh pulang, Sayang. Jadi Tidak perlu menjenguk,"


"Ya, Aunty baik-baik saja," sahut Vanilla menimpali ucapan kakaknya. Saat Deni mendekati matanya pada sisi kiri wajah Vanilla, gadis itu menghindar.


"Hei! berani kau macam-macam dengan Vanilla di depanku?!" Devan menyembur teman yang ia anggap sedang melancarkan aksinya sebagai buaya darat itu.


Sial! jantung keduanya sama-sama berirama kencang tidak beraturan. Deni yang lupa dengan sang Istri, dan Vanilla yang lupa akan komitmennya untuk menjauhi Deni.


"Aku hanya ingin melihat luka di wajahnya. Memang salah?!"


"Salah! kau sudah memiliki Istri kenapa jadi seperti brengsek?!"


"Apa kabar denganmu? sudah memiliki istri tapi masih suka jajan di luar!"


"Jaga ucapanmu, Deni! aku tidak pernah melakukan itu,"


"Saat kalian berpisah, maksudku." koreksinya. Bisa dilahap hidup-hidup dia kalau mengutarakan sesuatu yang bukan fakta.


"Karena Lovi bukan lagi Istriku. Jadi wajar kalau---"


"Daddy dan Uncle Deni kenapa jadi bahas yang lain sih?! Adrian tidak mengerti!"


Oh Astaga mereka lupa kalau sambungan telepon itu masih terhubung. Sehingga apapun yang mereka ucapkan pasti akan terdengar sampai ke telinga Adrian dan kakaknya atau bahkan Lovi.


Devan jadi panik sekarang. Khawatir Lovi menangkap hal yang seharusnya tidak Ia ketahui. Ya walaupun rasanya sangat biasa karena memang itulah kelakuan Devan sejak dulu. Apa lagi saat berpisah dengan Lovi.


"Bahas jajan segala lagi. Jajan es krim maksudnya, Dad? kenapa tidak ajak Adrian? kenapa Daddy malah jajan sendiri?!"

__ADS_1


-------


CERITA NYA VANILLA DGN JUDUL 'NILLAKU' UDH UP YAAA GAYSS! BWT YG PENASARAN, SILAHKAN MAMPIR. TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA. KUCINTA KELEANđź’™


__ADS_2