My Cruel Husband

My Cruel Husband
Embun malam


__ADS_3

Devan dan seluruh keluarganya keluar dari restoran penuh kebahagiaan. Tawa menghiasi wajah mereka. Seluruh tamu masih bisa menikmati malam mereka di restoran itu.


Sementara Devan dan Lovi harus membawa Adrian dan Andrean kembali ke mansion karena hari sudah semakin larut.


"Mereka haus, Lov," ucap Devan yang menggendong Adrian sementara Lovi di sampingnya berusaha menenangkan Andrean yang mulai menangis. Dapat dipastikan sebentar lagi adiknya, Adrian akan mengikuti apa yang dilakukan kakaknya itu.


Andrean menangis seraya mengusap matanya. Terlihat sangat mengantuk. Ferro membuka pintu mobilnya agar Tuannya bisa masuk ke dalam.


Setelah memastikan pembatas antara kursi penumpang dan kemudi aman, Devan mengisyaratkan Lovi membuka kancing bajunya untuk menyusui Andrean yang terlihat sangat tidak sabar itu.


Putra sulungnya menyesap rakus dengan mata yang mulai tertutup perlahan. Adrian mulai merengek di atas pangkuan Ayahnya.


"Sabar, Sayang. Kakakmu belum tidur," bisik Devan lalu merebahkan Adrian di dadanya. Devan melepaskan jemari kecil Adrian dari mulut kecilnya. Rupanya si bungsu itu sudah haus juga setelah ikut merasakan kemeriahan pesta yang diadakan Devan.


Beberapa detik kemudian, sesuatu terjadi begitu cepat. Kepala Lovi langsung terpelanting ke samping dengan darah yang menyelimuti kepala hingga matanya. Tubuh Andrean sampai berguncang. Telinga Devan berdengung beberapa saat. Matanya memanas menyaksikan peristiwa paling menyakitkan dalam hidupnya.


"LOVI?!"


Kepala Lovi di tembak oleh dua orang lelaki bertopeng yang mengendarai motor. Ferro langsung menghentikan mobil yang dikendarainya.


Devan berteriak marah dengan bulir air mata yang memenuhi wajahnya. Rena langsung keluar dari mobil yang berada tepat di belakang mobil Devan. Wanita itu membuka pintu mobil dan langsung meraih Andrean yang sudah terbangun dari tidur nyamannya di atas pangkuan sang Ibu.


"Lovi, bangun!!" teriakan menggema di dalam mobil. Raihan meraih Adrian yang sedang berada di dada Ayahnya. Raut si kecil itu terlihat bingung dan ketakutan melihat orang-orang disekelilingnya yang tampak panik.


"Cepat bawa ke rumah sakit!!" titahnya.


Ferro melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hatinya pedih melihat betapa terpukulnya Devan atas kejadian ini. Semuanya tidak pernah terpikirkan oleh Devan maupun Ferro. Ternyata ada segelintir orang yang menyimpan dendam pada Devan kemudian menjadikan Lovi sebagai korbannya. Yang membuat Ferro bersyukur adalah, Andrean bisa selamat dari tembakan kejam itu.


Devan tidak bisa berkata apapun lagi. Ia sudah memeluk kepala Lovi yang terkulai. Nyawa Devan terasa direnggut secara paksa ketika menyaksikan secara langsung bagaimana orang yang dicintainya tertembak mengenaskan.


'Kamu terluka karena aku, sayang,' batin Devan penuh sesal. Ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk melakukan hal serupa pada siapapun yang telah menciptakan permainan sialan ini. Darah harus dibayar dengan darah.


"LOVI BANGUN, SAYANG!!"


bibir Devan bergetar. Ia mengecup bibir yang sudah tak berwarna itu.

__ADS_1


"Lovi, aku mohon bangun sekarang!!"


"Jangan tinggalkan aku!!"


Napas Lovi mulai terasa halus. Bahkan Devan sangat sulit untuk merasakannya di kulit tangan.


"Lebih cepat, Ferro!!"


************


Sudah delapan jam oprasi berjalan. Namun lampu ruang oprasi belum juga redup yang artinya, proses pengangkatan proyektil yang bersarang di kepala Lovi belum selesai.


Devan duduk di lantai dengan penampilan yang sangat jauh dari kata baik-baik saja. Air matanya tak pernah mengering. Sementara Raihan dengan setia menemani Devan. Adrian dan Andrean sudah aman di mansion bersama dengan Rena.


Decitan pintu berhasil membuat Devan bangkit dengan cepat. Ia langsung memburu dokter dengan pertanyaannya.


"Istriku baik-baik saja bukan?" tanya Devan dengan raut berharap.


Godam seakan menghancurkan harapan Devan saat dilihatnya dokter itu menggeleng. Dokter merasa berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Devan.


"Kenapa tidak dituntaskan? istriku kesakitan di sana,"


Suara Devan serak dengan Sorotnya yang layu tidak seperti biasanya.


"Kita sudah mencarinya namun belum ditemukan. Berdasarkan pemeriksaan, ada dua benda asing yang bersarang di kepala Nona,"


"Jangan pernah berhenti berdoa, Tuan. Yakinlah semuanya akan baik-baik saja," pesan dokter itu sebelum meninggalkan Devan.


Devan berbalik lalu menghajar dinding rumah sakit untuk menumpahkan perasaannya yang berbaur jadi satu. Ada kesal yang menyelubung di sana. Ia telah gagal menjaga pujaan hatinya.


"Devan, berhenti!!" Raihan sedikit membentak Devan saat dilihatnya tangan Devan yang mulai terluka namun lelaki itu seolah kebal dengan rasa sakitnya.


Raihan menarik bahu putranya. Lalu menatap tajam untuk menembus pertahanan yang sedang rapuh itu. Ia menepuk pelan wajah putranya berusaha memberi semangat.


"Lovi membutuhkan pertolonganmu melalui doa yang kamu panjatkan. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri! Lovi tidak menginginkan itu, Devan. Ingatlah kedua anakmu yang masih membutuhkan perlindungan seorang ayah,"

__ADS_1


Rahang Devan mengeras. Ia berusaha membungkam mulutnya yang ingin berteriak meluapkan segalanya.


"Perbaiki keadaanmu, setelah itu kamu bisa kembali ke sini,"


Devan menggeleng. Walaupun pakaiannya masih terbalut dengan darah, Ia tidak peduli. Devan akan selalu ada di dekat perempuan yang sedang dalam masa koma itu.


"Aku ingin menemaninya di dalam," gumam Devan.


"Tidak bisa, Devan. Patuhi aturan yang berlaku. Ruangan itu harus steril. Ada waktunya kamu bisa masuk ke dalam,"


Raihan merangkul Devan agar ikut bersamanya ke dalam ruangan dengan fasilitas sangat memadai yang disediakan untuk keluarga pasien. Namun Devan memberontak. Devan akan setia menunggu di depan pintu ruang rawat intensif Lovi.


Raihan berucap dengan tegas,


"Papa sudah katakan patuhi aturan yang berlaku! Kita sudah disediakan ruangan khusus,"


"Ini milikku, jadi tidak ada yang bisa melarangku,"


"Kamu seperti orang bodoh bila berdiri sendirian di sini. Seharusnya kamu istirahat agar besok pagi lebih baik,"


Raihan menepuk pundak Devan yang kembali terdiam dalam lamunannya. Ingatannya kembali terlempar pada detik-detik terakhir sebelum dunianya hancur.


Devan menatap Raihan sebentar lalu bangkit dengan keseimbangan tubuh yang hampir hilang. Akhirnya Devan menerima saran sang ayah.


Devan membanting tubuhnya di sofa seraya menghela napas pelan. Mulai saat ini, semuanya akan terasa sulit bagi Devan. Pikirannya akan terbagi. Di sini, Lovi membutuhkannya begitupun dengan Andrean dan Adrian. Devan tidak mungkin membawa serta mereka ke rumah sakit ini karena akan sangat beresiko untuk kesehatan mereka. Sepertinya, Devan akan sangat jarang bertemu dengan kedua anaknya selama Lovi belum sadarkan diri.


Tidak ada yang tahu pasti kapan Lovi kembali ke alam sadarnya. Devan sangat berharap secepatnya. Lovi harus selalu di sampingnya, menemani kehidupan Devan dan menjadi penopang di kala Devan mulai lelah dengan hidupnya sendiri.


"Sampai kapan dia tertidur, Pa? kenapa bukan aku saja yang tertembak? kenapa harus Lovi? dia kesakitan sekarang,"


***********


**Maaf yaa upnya telat parah. Krn emg lg gunain wktu bwt lebih bljr selama UN ditunda wkwkw. Oh iyaaa aku mau bilang, kl setiap ep itu emg kdg gk berhubungan. Kenapa? krn emg itu udh jd kebiasaan aku. Kalian yg udh kenal aku dr ******* pasti tau, aku kalau bikin novel ditiap babnya itu selalu menampilkan suasana baru gk seperti bab sblm"nya. Jd jgn tanya lg yaa ' knp gk nyambung dr bab ke bab?' udh aku jelasin skrg.


Oiya jgn lupa baca karyaku yg lain yaaa. Ada yg judulnya 'Why', itu br up lhoo. Kl mau mampir silakan. Hehehe

__ADS_1


Trmksh ats pengertiannya**~


__ADS_2