My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pagi yang baru


__ADS_3

Pagi ini Devan bangun dengan status baru. Tanggung jawabnya sebagai 'suami' tidak lagi melekat dalam dirinya. Ternyata kisah cinta Devan benar-benar terdengar realistis tidak seperti cerita-cerita percintaan yang pernah di dengarnya. Dimana kadang Ia berharap bahtera rumah tangganya akan tetap baik-baik saja walaupun Ia berkhianat ribuan kali.


Kisahnya bukan dari skenario penulis yang merupakan seorang manusia. Inilah takdir hidupnya. Menikah, lalu berpisah setelah melewati berbagai rintangan. Tidak ada yang bisa di pertahankan. Ia dan Lovi sepakat untuk memulai hidup baru tanpa terikat lagi dengan status pernikahan.


Masalah hak asuh tidak ada yang dipermasalahkan. Begitupun dengan harta yang sudah menjadi hak Lovi dan anak-anaknya. Devan dan Lovi bebas bertemu dengan anak mereka kapanpun. Dan mereka juga bebas untuk memulai babak percintaan baru dengan siapapun. Tentu saja tanpa merusak kasih sayang untuk kedua anak kembar mereka.


"Kamu yakin sudah lebih baik?" Raihan menyapa Putranya yang baru saja menginjak undakan tangga terakhir di mansion mereka.


Devan kembali tinggal di sana. Sementara rumah baru yang sempat keluarga kecilnya tinggali beberapa bulan lalu sudah menjadi milik Andrean dan Adrian sepenuhnya. Mereka tinggal bersama dengan Lovi dan beberapa pelayan. Devan juga menempatkan satu orang supir pribadinya di rumah tersebut untuk mengantar jemput anak-anaknya yang sudah mulai mengenyam pendidikan usia dini.


"Ya, aku bahagia dengan hidupku yang sekarang,"


Melihat senyum Devan yang selama ini tenggelam, Rena dan Raihan pun mau tak mau ikut tersenyum. Mereka tidak menyangka kalau Devan akan secepat ini membangkitkan dirinya sendiri dari keterpurukan.


"Untuk saat ini fokus dulu pada penyakitmu," pesan sang ayah yang tentu saja sudah masuk ke dalam rencana Devan.


Ketiga orang tersebut duduk di ruang makan. Bersiap untuk sarapan sebelum kembali pada rutinitas masing-masing.

__ADS_1


"Pulang jangan terlalu sore. Ingat agenda kita nanti malam,"


Devan mengangguk seraya menghaluskan sandwich yang ada di mulutnya.


Sarapannya kali ini memang berbeda. Biasanya Lovi yang selalu menyiapkan susu hangat dan sarapannya. Ia yang melakukannya, bukan pelayan. Itulah sisi baik Lovi yang sampai saat ini masih tersimpan dalam ingatan Devan.


Kembali terlempar pada masa lalu sudah sering Devan alami setelah perceraiannya dengan sang Istri. Namun lagi-lagi Ia mencoba untuk menerima dengan lapang dada. Devan yakin ada hal lebih baik yang disiapkan Tuhan untuknya.


"HALO SEMUANYA!"


Vanilla duduk di samping Devan. Gadis itu akhir-akhir ini kembali lagi pada kebiasaan bangun siangnya. Karena Jane yang suka mengganggu di pagi buta sedang berlibur dengan teman yang dianggap kekasihnya.


Tapi Devan beruntung ketika Jane sibuk dengan kekasih bayangannya itu. Karena awalnya Ia khawatir setelah pisah dari Lovi, Jane kembali menggilainya.


"Hari ini aku akan berangkat kuliah dengan temanku lho, Devan."


Devan tidak menanggapi adiknya. Raut wajahnya masih datar, menikmati makanannya dengan tenang.

__ADS_1


"Dia anak pengusaha,"


Devan semakin acuh hingga adiknya itu mendengus kasar. Sepertinya Devan bisa membaca pikirannya.


"Cantik sekali. Aku saja sebagai perempuan sampai iri melihat kecantikannya,"


"Ya ya ya terserah padamu, Vanilla gila!" batin Devan berdecak malas.


"DEVAN! AKU BICARA PADAMU---"


"Vanilla, bisa kamu tenang sebentar? Devan sedang makan, tidak seharusnya kamu mengganggu dia,"


Vanilla memutar bola matanya. Ia kesal karena Raihan membela Devan yang saat ini tengah meliriknya dengan senyum miring.


"Papa! Devan meledekku itu," adunya pada sang ayah. Devan cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya lagi. Kini terlihat kembali seperti semula. Dingin tanpa seorangpun yang bisa membaca pikirannya.


*******

__ADS_1


"Grandma Sena ikut kita pindah saja,"


Ini adalah hari terakhir untuk Lovi, Andrean dan Adrian tinggal di rumah Senata. Beberapa hari tinggal di kediaman neneknya, mereka sudah mulai terbiasa.


__ADS_2