My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kesalnya Vanilla


__ADS_3

Devan dan Deni menghabiskan waktu di sebuah cafe. Mereka sudah lama tidak berbincang karena sejak beberapa bulan lalu Deni menyelesaikan pendidikannya di luar negeri sebelum terjun langsung ke dalam perusahaan ayahnya.


Sehingga saat ini Devan dan Deni sama-sama menjadi owner atau pemilik, sementra ayah mereka berperan sebagai founder yang lebih kepada pendiri atau pencetus ide usaha.


Berbeda dengan Deni, Devan bukan hanya beperan sebagai owner di perusahaan ayahnya. Ia juga menjadi Founder dalam perusahaan yang Ia bangun tanpa campur tangan Raihan.


Jangan lupakan kemandirian Devan dalam meraih keinginannya. Ketika Ia mengenyam pendidikan sekolah menengah atas dan keluarganya hancur, Ia sudah mempunyai pemikiran yang jauh berbeda dengan anak remaja pada umumnya. Otaknya sudah merancang masa depan yang harus Ia raih ditengah krisis ekonomi keluarganya saat itu. Terbukti, Devan bisa mendirikan perusahaan besar dengan banyak anak perusahaan di dalamnya.


"Aku lihat pergerakan Elea semakin menantang,"


"Dengan beraninya dia bermain tender dengan perusahaanku,"


"Tenang saja, perusahaanku yang akan memenangkan tender itu. Kalau sampai perusahaan ayahnya yang menjadi pemenang, maka bersiap-siaplah untuk bertemu dengan dia hampir di setiap harinya,"


Deni mengatakannya dengan tawa puas. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana senangnya gadis itu ketika dapat bekerja sama dengan Devan.


"Sialan kau!!" maki Devan sebelum akhirnya Ia bangkit.


"Kemana?" tanya Deni mengerinyit.


Devan tidak mungkin merajuk bukan?


"Istri dan anak-anakku sudah menungguku di mansion,"


Devan tersenyum mengatakannya. Setiap hari Ia akan berkhayal kalau Lovi selalu menantikan kedatangannya dengan senyum mengembang.


"Bolehkah aku bertemu dengan kedua jagoanmu?"


Deni merindukan anak-anak Devan yang sangat aktif itu.

__ADS_1


"Tentu saja,"


Deni tersenyum senang. Ia mengikuti Devan namun sebelum sampai di area basement, Ia menghentikan Devan.


"Aku ingin membawa mainan untuk mereka. Kau pergilah lebih dulu,"


"Tidak perlu, mainan mereka sudah memenuhi ruangan bermain," ucap Devan.


Memang seperti itu kenyataannya. Devan tak pernah bosan membeli mainan untuk kedua putranya karena itu bisa menambah kebahagiaan mereka.


Deni tidak mengatakan apapun. Ia akan tetap membelikan mainan untuk Andrean dan Adrian. Lelaki itu memasuki mobilnya meninggalkan Devan yang mendengus.


***********


Devan yang sedang bermain dengan anak-anaknya menoleh ketika mendengar suara gaduh Deni yang berjalan memasuki mansionnya.


"Uncel dataaang," seru lelaki tampan itu yang berhasil mengundang tatapan aneh Vanilla dan Jane yang sedang membantu Netta menghidangkan makanan atas perintah Rena. Wanita itu heran melihat sikap Vanilla dan Jane yang semakin tidak peduli dengan sekitarnya. Mereka lebih memilih untuk bersapa dengan teman lewat sosial media membahas hal tidak penting daripada membantu orang lain.


"Ini untukmu,"


Deni menyerahkan sebuah mobil-mobilan berwarna merah dan juga pistol mainan yang lumayan besar sehingga untuk menggenggamnya pun Andrean dan Adrian perlu konsentrasi khusus, begitu lah pikir Deni. Akhirnya Ia kembali menarik pistol itu dengan tujuan agar mereka tidak kesulitan. Namun kebaikannya itu justru disambut buruk oleh Adrian. Si bungsu itu menangis ketika mainannya berkurang satu.


Deni berjalan mendekati Devan yang masih duduk. Kedua anak lelaki itu berjalan mengikuti Deni.


"Aku akan meletakkannya disini, Adrian," ucap Deni seraya meletakkan mainan mahal itu di atas karpet berbulu tempat mereka bermain tadi bersama Devan.


Andrean dan Adrian mengambil posisi duduk. Tangis Adrian berhenti dalam sekejap. Mereka memberikan mainannya pada Devan agar lelaki itu membuka kotaknya.


"Banyak sekali yang kau bawa," ucap Devan tidak enak hati. Ia tahu berapa harga semua itu. Memang tidak ada apa-apanya dengan semua mainan yang Ia beli untuk kedua putranya. Tapi hal itu berlebihan menurut Devan.

__ADS_1


"Biarlah, uji coba sebelum aku memiliki anak dengan Vanilla,"


Telinga Vanilla yang tajam langsung mendengar hal itu. Ia menoleh dan menatap Deni yang mengerling dengan tajam. Gadis itu geram melihat lelaki genit yang kerap mengumbar sejuta pesonannya.


"Kau pikir aku mau padamu? hih, lebih baik aku tidak memiliki jodoh,"


"Apa yang kamu katakan Vanilla?"


Vanilla menatap kedatangan Raihan. Ia tersenyum canggung seraya mengusap lehernya.


"Dia tidak sabar untuk dinikahkan dengan Deni, Om," celetuk Jane.


Vanilla berteriak kesal sebelum melempari sepupunya itu dengan sendok yang kebetulan ada di tangannya.


"Benar begitu?"


Barangkali Raihan mendengar penjelasan lain dari mulut putrinya.


"Benar, bulan berikutnya apakah aku sudah bisa menjadi menantumu?" sela Deni sebelum mulut Vanilla mengeluarkan suara.


Rena yang baru bergabung pun ikut tertawa bersama dengan suaminya dan Jane. Devan tersenyum. Setelah beberapa bulan ini hidupnya diisi dengan kekacauan, sekarang Ia bisa melihat orang-orang terdekatnya yang tanpa sengaja menghiburnya.


Seandainya Lovi ada di sana. Ikut merasakan tawa yang tercipta di antara mereka saat ini. Ah, mengingat Lovi senyum Devan kembali tenggelam. Ia tidak bisa tersenyum terlalu lama ditengah penderitaan Istrinya.


"Deni! kurang ajar kau!!" seru Vanilla dengan marah. Gadis itu menunjuk Deni dengan garpu yang baru diambilnya. Melihat itu, Deni tertawa keras. Vanilla selalu membuat hatinya mencair. Gadis yang dulu dianggapnya sebagai adik kini telah beranjak menjadi sosok perempuan yang menarik dimatanya.


"Apa, sayangku?"


************

__ADS_1


**Selingan dl guysss sblm ep slnjtnya yg.... hmmm.... ya gt dehπŸ˜‚πŸ˜‚ tnggu aja yaa sampe aku kelar US wkakwkwk. Doakeun bsk aku US smg lancar & hslnya memuaskn shingga mood aku baguss trs nnti aku up lg dehh. Ocee? JANGAN LUPA LIKE, VOTE, COMMENT!!!!


Terimakasih semuanyaaaa**~


__ADS_2