My Cruel Husband

My Cruel Husband
Devan khawatir anaknya terluka


__ADS_3

Elea tampak kaku seketika. Ia langsung mengalihkan pembicaraan, "Aku mau detailnya yang seperti ini." ujarnya seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan baju pengantin yang menjadi inspirasinya.


"Wow cantik,"


"Apa lagi kalau aku yang pakai ya?"


Lovi terkekeh menanggapi Elea yang percaya diri. Elea memang selalu cantik mengenakan apapun, Lovi mengakui itu. Kalau tidak cantik, tidak mungkin Devan mau menjadikan Ia sebagai pujaan hati bertahun-tahun. Selera suaminya tidaklah main-main.


"Baiklah, deadline kira-kira kapan?"


"Acaranya dua bulan lagi. Kamu bisa sedikit santai mengerjakannya,"


"Baiklah, terima kasih atas kepercayaannya, Elea."


"Ya, kamu harus datang."


"Aku datang, asalkan diantar undangan,"


"Itu pasti, kalau begitu aku pulang dulu."


"Ya, hati-hati di jalan,"


Lovi setulus itu pada orang yang dimasa lalu sangat menyakitinya bahkan ayah Elea sendiri pernah hampir membunuh Lovi.


Devan belum tahu project Lovi bersama Elea ini. Tanpa membicarakan terlebih dahulu, Ia langsung menyetujui. Karena Lovi tak pernah ingin membuang kesempatan sia-sia. Kepercayaan klien terhadap dirinya sangat berarti untuk Lovi. Ia dipercayakan untuk menciptakan sebuah karya, oleh sebab itu Ia sangat bahagia.


Setelah Elea keluar dari butiknya, Lovi memasuki ruangan dimana Adrian berada.


"Mommy habis menemui siapa?"


"Aunty Elea,"


"Oh Aunty jahat? kenapa memanggilnya seperti itu? namanya tidak cocok sekali dengan sikapnya,"


"Ssst tidak boleh bicara begitu,"


Adrian sepertinya memiliki sifat pendendam sama seperti Devan. Bila orang lain melakukan kesalahan, akan terus membekas di hatinya.


"Mom, Adrian mau beli es krim. Sudah lama tidak---"


"Tidak, Mommy sibuk."


"Ah Mommy! Aku sudah lama tidak bertemu es krim,"


"Kamu tidak akan cukup satu kalau sudah minum es krim, sama seperti cokelat,"


"Iya, Mom. Minimal tiga,"


"Astaga,"


Adrian terkekeh geli saat melihat Mommy-nya menggeleng tak habis pikir. "Kalau mau satu saja. Kita pergi sekarang untuk membeli es krim,"


"Keluar jauh-jauh, pulang hanya bawa satu es krim?"


"Iya, kamu satu dan Mommy juga satu,"


********


Tidak hanya Adrian dan Mommy-nya saja yang bisa jalan-jalan. Andrean dan Auristella juga bisa ikut Devan bermain golf bersama kakek mereka juga. Setelah bermain golf, rencananya mereka akan datang ke rumah Lucas untuk mempertemukan Auristella dengan kakeknya yang satu lagi itu. Lucas pasti senang sekali karena sebelumnya Devan belum memberi tahu mengenai rencana mereka.

__ADS_1


"Jangan lama-lama di sini, Devan. Kita harus memberikan waktu yang lama untuk Auris dan Lucas," Raihan dan Andrean sudah selesai bermain. Hanya tinggal Devan yang masih belum puas melepas rindu dengan olahraga itu.


"Iya, Pa. Sebentar lagi,"


Raihan menghampiri cucunya, Auristella yang ditemani oleh perawatnya. Auristella serius memperhatikan ayahnya bermain. Ini untuk pertama kalinya Ia melihat Devan, Raihan, dan Andrean bermain golf. Sebelumnya hanya tenis meja dan itu juga di mansion.


"Nona Auris mau makan snack tidak?"


Auristella bergeming dan matanya masih fokus menatap Devan. "Auris..." panggil Raihan agar Auristella menoleh.


"Ditanya Serry, mau makan snack atau tidak?"


Auristella mengangguk saja. Dan Serry segera mengeluarkan snack milik Auristella yang sudah disiapkan Lovi tadi.


*******


"Adrian, tunggu dulu. Hey!"


TIINNN


"Aduh, pelan-pelan!"


"Kamu yang tidak lihat-lihat, bocah kecil!" sembur pengemudi dengan marah setelah membuka kaca mobil.


Lovi membulatkan matanya saat sang anak terduduk di aspal karena tak sengaja berbenturan dengan sebuah mobil. Beruntungnya tidak kencang, Adrian sempat terkena body depan mobil itu sebelum pengemudinya menarik rem.


Lovi baru saja bertanya pada semua karyawannya ingin makan apa siang ini. Tapi Adrian sudah tidak sabaran untuk pergi. Tanpa menunggu Lovi, Ia keluar dari butik dan kebetulan mobil yang tak sengaja berbuat ulah itu memasuki area butik Lovi.


Lovi segera membantu anaknya untuk bangkit. Pengemudi keluar dari dalam mobil dan menatap keduanya dengan tajam.


"Anak anda?" tanya lelaki yang mengemudikan mobil pada Lovi.


"Iya, ini anakku. Lain kali hati-hati. Sudah tahu ingin memasuki area parkir, kenapa masih mengemudi dengan kecepatan yang tinggi?"


"Anaknya dijaga. Beruntung, mobil saya tidak apa-apa,"


Lovi sedang sibuk memastikan Adrian tidak terluka. Jantungnya berdetak tidak beraturan saat melihat anaknya seperti ini. Bayangan-bayangan buruk langsung memenuhi pikirannya detik itu juga.


"Beruntung juga anak saya tidak terluka. Mobil anda bisa saya ganti. Kalau anak saya yang terluka, anda bisa menggantinya? huh?!"


"Akan saya laporkan sikap anda ini ke pemilik butik,"


Lovi tersenyum miring. Ucapannya membuat perut Lovi tergelitik. Benar-benar orang kaya yang miskin hati. Terlihat dari sikapnya yang seperti ini. Sedikit-sedikit minta diistimewakan. Mentang-mentang banyak uang, jadi bisa semaunya pada orang lain.


"Saya pemiliknya. Anda mau apa?!"


"Mom..." Adrian mencicit seraya menggerakan tangan Lovi yang menggenggam tangannya.


Ia terkekeh meledek dan hal itu membuat emosi Lovi naik hingga ke permukaan. "Ini butik milik Mommy-ku, Uncle. Lihat saja ke dalam. Ada foto Mommy, nama Mommy juga ada." jawab Adrian mendukung Lovi. Ia ikut kesal saat Mommy-nya ditertawakan.


Pintu butik terbuka, Irene keluar dengan wajah cemasnya.


"Nona, Adrian tidak apa-apa?"


"Aunty, bawa Uncle ini masuk ke dalam. Sepertinya Uncle mau jadi klien,"


"Siap, Boss kecil."


Saat itu juga wajah lelaki yang menjadi pelaku terasa jatuh ke aspal. Melihat Irene yang menurut saat Adrian memberikan arahan lalu panggilan yang disematkan untuknya, Ia percaya kalau Adrian memang anak dari pemilik butik ini. Dan pemiliknya adalah Lovi. Ia bisa tahu dari sikap Irene yang begitu khawatir sampai ingin membawa Lovi dan Adrian ke dalam untuk memastikan mereka tidak apa-apa, saat Lovi menggeleng, Irene menurut.

__ADS_1


*******


"Jangan banyak-banyak. Ingat, cuma satu!"


"Buat Auris,"


"Auris belum boleh. Giginya saja baru tumbuh sedikit,"


"Auris sudah ada gigi?"


"Iya, tapi sedikit sekali, belum terlalu keluar dari gusinya,"


"Kembalikan itu semua, Adrian. Kamu lupa ucapan Mommy tadi?" Lovi memberinya peringatan seraya menunjuk semua es krim yang dibawa Adrian. "Kembalikan!" telunjuknya mengarah pada tempat es krim.


"Mom, ini untuk Andrean dan Daddy. Oh, Grandpa Rai, Grandma Sena dan Grandma Rena juga. Terus---"


Lovi segera meraih semua minuman-minuman yang beku itu dari tangan Adrian lalu mengembalikannya. "Banyak alasan," ujarnya dengan tajam.


*******


Adrian dan Lovi sudah sampai di mansion. Auristella langsung memeluk Adrian dengan hentakan kencang. Hanya berpisah beberapa jam saja Ia sudah rindu dengan kakaknya yang kalau dekat justru bertengkar.


"Istirahat dulu habis mandi. Tadi katanya pinggangmu sakit kan?"


"Iya, Mom."


Ucapan Lovi didengar oleh Devan yang langsung menyambar, "Sakit karena apa?"


"Jatuh,"


"Jatuh sendiri? atau dijatuhi orang?" Devan tak puas hanya dijawab dengan satu kata.


"Tidak sengaja ditabrak mobil, tapi tidak apa-apa,"


"Kenapa bisa begitu? kamu memang dimana? sedang apa juga sampai anak bisa jatuh?"


Kalau tahu anaknya terluka barang sedikit, Devan bisa tiba-tiba marah. Siapapun bisa menjadi pelampiasannya.


"Tadi aku yang terlalu buru-buru. Tidak lihat ada mobil," jawab Adrian mengakui kesalahannya.


"Benar Adrian tidak apa-apa, Lov?"


"Iya benar, Daddy. Bukan salah Mommy!"


"Daddy tidak bertanya pada kamu. Lebih baik kamu mandi sekarang,"


Dengan wajah bersungut Ia masuk ke dalam kamarnya. Devan mengikuti Lovi ke kamar. Sementara Andrean membawa adiknya ke ruang bermain lagi.


"Siapa yang menabrak Adrian, Lov?"


"Pengunjung butik aku. Dia tidak sengaja melakukannya,"


"Adrian tidak perlu dibawa ke rumah sakit? Aku khawatir, Lov."


"Tidak ada yang terluka. Tapi memang sempat terjatuh. Kalau kamu tidak percaya padaku, kita bawa Adrian ke rumah sakit setelah dia mandi,"


Devan segera memeluk Lovi. "Aku bukannya tidak percaya. Aku khawatir saja kalau sudah berhubungan dengan tabrak menabrak begitu,"


Devan ingat kejadian yang pernah menimpa dirinya dan Lovi beberapa waktu lalu. Apa lagi Adrian sudah beberapa kali harus mendapat perawatan di rumah sakit. Ia jadi panik berlebihan.

__ADS_1


"Atau aku bunuh saja orang itu ya? bisa-bisanya dia melakukan itu pada anakku,"


Lovi berdecak seraya melepaskan pelukan Devan. Ia menatap Devan dengan tajam. "Kamu mudah sekali mengatakan itu. Tuhan saja memaafkan manusia yang berbuat salah. Kamu hanya manusia biasa, Devan! tidak berhak mengakhiri hidup seseorang,"


__ADS_2