My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kamu cemburu?


__ADS_3

"Saat mengandung mereka, Lovi tidak bisa merasakannya. Jadi sekarang adalah waktu yang tepat aku rasa,"


Mereka mengangguk saat mendengar penjelasan Devan yang kini menatap Lovi dengan pandangan kosong. Perempuan itu gugup luar biasa berbeda dengan Devan yang merasa hancur setelah mengingat keadaan rumah tangganya dulu.


Lovi masih sibuk membujuk Adrian yang banyak tingkah ini. Ia melotot pada Lovi menolak di suapi obat.


"Kalian akan pergi kemana?"


"Aku akan membawa mereka ke Indonesia. Tadinya aku ingin menyerahkan keputusan pada Lovi. Tapi aku yakin dia akan menolaknya,"


"Indonesia? Kenapa ke sana? Kamu merindukan liburan masa lalumu?"


Raihan menyindir sang putra yang Ia ingat betul pernah menghabiskan libur akhir tahun bersama Elea di Indonesia sebelum gadis itu kecelakaan pesawat.


Devan menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Secara tidak langsung Raihan mengatakannya belum bisa melupakan kenangan itu.


"Asal kalian tahu, dulu bukan Indonesia lah tempat kami menghabiskan waktu,"


Raihan menunggu kelanjutan ucapan Devan begitupun Lovi yang sangat tahu siapakah sosok yang sedang diperbincangkan Raihan dan Devan.


"Perancis, dia lebih memilih negara itu."

__ADS_1


Raihan tiba-tiba saja emosi. Ia menunjuk wajah Devan terang-terangan.


"Dan kamu membohongi papa? Kalian mengatakan ingin pergi ke Indonesia tapi kamu malah memenuhi keinginan gadis itu. Devan...Devan... kamu sebodoh itu ternyata,"


Rena menyenggol lengan sang suami. Ia melirik kedua cucunya yang masih berada di sekitar mereka. Tidak seharusnya membahas masa lalu di hadapan Lovi dan kedua anak kembar itu.


"Ya sudah Adrian mau minum obat tapi nanti Adrian tidur dengan Daddy dan Mommy ya?"


Sebenarnya Adrian tak mendengarkan pembicaraan Devan, Raihan, dan Rena. Hanya Lovi yang mencuri-curi dengar namun tangannya masih beraksi membuat mulut anaknya terbuka.


Sementara Andrean sibuk membuka parsel buah yang dibawa kakeknya. Ia membawa itu ke dapur agar dicuci dulu oleh Serry. Tadi saat Ia ingin menyantap anggur, Rena melarangnya. Nenek dua cucu itu selalu cerewet masalah kebersihan sama halnya dengan Lovi dan Senata. Karena itu merupakan salah satu faktor keberhasilan tumbuh kembang anak.


"Saat itu perusahaan sedang dalam masa kritis. Papa tidak bisa melarang kamu yang keras kepala ingin membuat dia bahagia. Sekarang apa yang kamu dapatkan dari dia? Pengkhianatan!"


Setelah berhasil membuat kedua mata anaknya terpejam, Lovi menghabiskan waktu di balkon sampai kantuknya datang. Devan sedang mengganti pakaian untuk tidur.


Terpaan angin malam terasa menyapu wajah Lovi. Ia memejam, meresapi ketenangan yang ada.


Devan membuka pintu balkon dengan pelan. Ia berjalan mendekati Lovi. Kemudian melingkarkan tangannya di pinggang perempuan yang tengah mengandung itu.


"Udara sangat dingin. Seharusnya kamu tidak di sini, Lov." Deru napasnya terdengar menggelitik telinga Lovi. Tubuhnya menegang saat lelaki itu semakin mengeratkan tautan tubuh mereka.

__ADS_1


Sudah lama rasanya tidak berada di dalam suasana yang menenangkan seperti ini. Setelah mereka berpisah, tak ada lagi yang bisa menikmati waktu dengan benar. Yang ada hanya sibuk dengan kegiatan masing-masing dan berusaha membunuh ingatan satu sama lain yang berkaitan dengan masa lalu.


"Ada yang kamu pikirkan?"


Karena setelah Devan mengatakan rencananya pada Raihan, Rena, dan Senata tadi, Devan perhatikan Lovi banyak melamun. Bahkan saat mengusap punggung kedua anaknya agar tertidur, perempuan itu hanya memandang kosong tubuh anak-anaknya.


"Kamu selalu menghabiskan waktu berlibur dengan Elea?"


Devan tersenyum tipis. Apakah Ia boleh berharap kalau Lovi cemburu karena Elea? Devan akan sangat senang mendengarnya.


"Kamu cemburu?"


Mulut Lovi tidak mengatakan apapun. Namun hatinya langsung menjawab 'ya' ketika pertanyaan itu lolos dari bibir suami tampannya.


"Itu hanya masa lalu. Hal tidak penting seperti itu tidak perlu kamu pikirkan,"


"Kamu mengajakku berlibur karena belum bisa melupakan Elea?"


Entah mengapa kalimat itu tiba-tiba saja tercetus dari Lovi. Ia merasa kurang nyaman karena secara tidak langsung Devan menyamakan dirinya dengan Elea. Memang Lovi senang ketika mendengar rencana itu. Tapi setelah mengetahui kebiasaan Devan dulu yang sering membuat kekasih hatinya bahagia dengan liburan, Lovi menjadi kesal sendiri.


--------

__ADS_1


LIKE, KOMEN, VOTE, BINTANG 5, FOLLOOOWWW JGN LUPAA YAAWWW. TENGKYU😚💙


__ADS_2