
"ADRIAN, ANDREAN! YA, TUHAN."
Mereka terjatuh dari undakan tangga restoran dengan desain elegan khas kerajaan itu. Tubuh rapuh keduanya bergelinding ke bawah hingga Lovi merasa dunianya hancur saat itu juga.
Lovi lemas namun Ia harus berada di samping mereka yang tengah berjibaku melakukan apa yang sudah digariskan Tuhan. Mereka adalah media untuk Devan dan Lovi memperbaiki diri.
Lovi sampai di dekat kedua anaknya yang sudah terpejam. Ia menangis histeris saat cairan berwarna merah mulai mengalir dari kepala mereka.
"DEVAN, DEVAN KITA BAWA MEREKA KE RUMAH SAKIT SEKARANG!"
Suara keras Lovi berhasil membuat semua orang bangun dari kebekuan yang memenjarakan mereka.
Seolah kepala mereka baru saja dipukul alat besar, mereka langsung menghampiri Kedua anak kembar yang sejak tadi tak henti menunjukkan lengkungan bulan sabit di bibirnya.
Raihan mengangkat cucu sulungnya sementara si bungsu masih dalam pelukan Lovi.
"DEVAN, CEPAT! APA YANG KAMU LAKUKAN DI SANA?!" Suara bariton milik Raihan menggelegar hingga menusuk kalbu siapapun yang memang sudah hancur setelah menyaksikan kejadian pilu tadi.
Devan di sana berdiri dalam diam. Ia dibekap dengan kebisuannya yang tak bisa melakukan apapun sampai Vanilla menghampirinya dan menampar lelaki itu.
__ADS_1
"ANAKMU SEKARAT SEKARANG! BAWA MEREKA KE RUMAH SAKIT!"
Raihan keluar dengan cepat sengaja Ia menemburkan tubuhnya pada Devan yang berdiri di pintu masuk.
Devan bukan tak punya otak dan cinta untuk anaknya. Tapi kakinya terasa tak bisa bergerak menyaksikan itu semua. Ia terlalu syok menjadi saksi sebelum anaknya dijemput oleh celaka.
Kini Ia mulai bangkit dari rasa pilunya. Secepat kilat mendorong tubuh Lovi lalu membawa anak bungsunya dalam gendongan.
"Maaf, Sayang maaf. Daddy bodoh ya? Daddy bodoh saat tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Maafkan Daddy yang tadi hanya diam saja melihat kalian terluka,"
***
Andrean mengalami luka robek di pelipis sementara Adrian di keningnya. Mereka memerlukan beberapa jahitan. Selain itu mereka juga mengalami gegar otak sehingga sempat hilang kesadaran.
"Mereka akan baik-baik saja, Devan?"
Lovi berada dalam pelukan Devan sejak tadi. Menyembunyikan tangis yang begitu pilu.
Tidak ada di Ibu di dunia ini yang merasa baik-baik saja setelah mendapati kepala anak mereka yang robek. Beruntung, Tuhan masih berbaik hati. Undakan dimana mereka terjatuh tidaklah terlalu tinggi. Namun tetap saja berhasil merenggut kesadaran kedua anaknya. Kalau saja mereka terjatuh dari puncak tangga, semuanya akan lebih parah dari ini.
__ADS_1
Sebelumnya Andrean dan Adrian sudah melakukan serangkaian tes mulai dari tomografi (CT Scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk memastikan tidak adanya pendarahan di otak dan gangguan struktur otak.
"Ya, Lov. Mereka akan baik-baik saja,"
***
Andrean dan Adrian masuk ke dalam ruang perawatan intensif anak. Mereka kembali dipertemukan dengan suasana rumah sakit. Bedanya, saat ini Devan selalu berada di dekat mereka. Tak henti berdoa untuk kesembuhan putranya.
Keduanya sudah sadar namun masih tampak linglung. Sesekali akan mual dan sakit kepala. Dokter bilang itu adalah bagian dari gejala yang memang akan terjadi ketika gegar otak.
Dokter sudah mengatakan kalau itu semua mungkin akan berpengaruh pada fungsi kognitif dan perilaku mereka. Kehadiran orangtua sangat diperlukan dalam mengawasi mereka sekalipun keduanya sudah diperbolehkan pulang.
Andrean dan Adrian berbaring di atas bangsal berbeda. Andrean terus digenggam sang ayah. Sementara Adrian, dalam genggaman Lovi.
Keduanya menyalurkan kekuatan tiada henti untuk mereka yang sedang berjuang. Lovi dan Devan selalu menatap mereka. Tersirat sebuah harapan di dalam sorot kedua orangtua itu.
"Kalian akan baik-baik saja setelah ini. Semangat untuk sembuh, Sayang. Ya Tuhan, engkau mempunyai segala keajaiban, aku mohon, bantu anak-anakku untuk segera pulih,"
------
__ADS_1
YAELAH AKUMAH GK BISA KL GK UP TUH. TERASA ADA YG KURANG KL GK NYAPA KLEAN SEMWAAA. ANGGEP INI UDH SEMINGGU KEMUDIAN DEH😂😂 JGN LUPA VOTE & KOMEN YOOOO. MAACIWW😘💙