My Cruel Husband

My Cruel Husband
Larangan makan cokelat di depan adik


__ADS_3

Tak lama, Daddy-nya pun datang menjemput. Adrian segera memanggil Andrean lalu mereka diantar pulang.


Apapun yang terjadi di sekolah, pasti akan diceritakan oleh Adrian. Termasuk kejadian yang dialami Adrina tadi.


"Dad, tadi Adrina sakit karena bekalnya dimasukkan sesuatu yang sangat pedas. Entah siapa yang melakukannya,"


"Huh? kenapa bisa?"


"Tidak tahu, tadi setelah aku dan Andrean mengambil bekal lalu kembali lagi ke kelas, wajahnya sudah merah lalu keringatan karena rasa pedas itu. Adrina tidak begitu suka pedas,"


Devan menatap Andrean yang duduk di tengah melalui kaca yang ada di depannya, "Benar, Andrean?"


"Iya, benar, Dad."


"Haissh! Daddy, kenapa tidak percaya sekali dengan aku?"


"Kamu suka mengarang cerita,"


"Astaga, tapi ini bukan karangan. Daddy harus percaya,"


"Siapa yang jahil sampai seperti itu ya?"


"Itu bukan jahil lagi, Dad. Tapi sudah jahat,"


"Iya juga, sampai membuat orang lain sakit,"


"Lalu orang tua Adrina sudah tahu?"


Adrian mengangkat bahunya lalu menjawab, "Tapi tadi Ms. Acha bicara empat mata dengan Uncle Jino, mungkin menceritakan semuanya."

__ADS_1


"Kalau kalian yang diperlakukan seperti itu, tidak ada ampun bagi Daddy," Devan mendesis sungguh-sungguh. Mendengar persoalan Adrina, walaupun Devan bukan orangtua Adrina, tetapi Ia tahu perasaan Jino dan Sheva jika mereka mengetahui anaknya diganggu separah itu.


"Daddy menyeramkan,"


"Kalau ada yang berani macam-macam, artinya dia mau lihat sosok Daddy yang berbeda dari ini,"


Mereka akan mengenal Devan yang gemar menyakiti orang, seperti dulu. Bila ada orang berbuat sesuatu yang menurutnya mengganggu kenyamanan diri sendiri, keluarga, dan bisnis, Devan tidak segan membunuh.


Devan menggeleng pelan. Semoga tidak ada yang seperti itu lagi dalam hidupnya, karena Devan sudah meminta maaf pada Tuhan atas perlakuannya dulu. Ia tidak ingin lagi menjadi orang jahat, tetapi kalau sudah dipancing sedemikian rupa, apakah Ia masih bisa menjadi orang yang baik?


*******


Andrean membuka lemari pendingin. Matanya dengan cepat melihat banyak cokelat di dalamnya. Ia segera menghampiri Lovi. "Mom, Andrean minta cokelat ya?"


Lovi berdecak seraya menepuk keningnya. Ia lupa menyembunyikannya. Tadi Ia meletakkan makanan manis itu secara sembarang karena ketika menata belanjaan, Auristella menangis.


"Ada cokelat? Iya, Mom?"


"Iya, boleh makan tapi jangan banyak-banyak."


"Yeaayyy, thank you, Mom."


Mereka kompak mengecup pipi Lovi yang tadi dipaksa menunduk oleh Adrian. Lalu Adrian dan Andrean mengambil cokelat. Adrian sampai mengeluarkan semuanya, tidak seperti Andrean yang cukup mengambil satu tanpa pilih-pilih.


Lovi mendekati anaknya ingin lihat mereka jujur atau tidak. Biasanya Adrian makan diam-diam dua batang cokelat di dapur padahal sudah dibatasi hanya satu. Bayangkan, dua batang cokelat sekali makan. Bagaimana Lovi tidak sakit kepala dibuatnya. Tapi yang membuat Lovi heran, Ia tidak pernah mengeluh sakit gigi. Paling hanya batuk-batuk saja esoknya.


Mungkin karena ketiga anaknya rutin periksa gigi setiap tiga bulan sekali. Bila ada yang berlubang, langsung diperbaiki oleh dokter yang biasa menangani mereka. Jadi gigi ketiga anaknya tidak ada yang berlubang, sehingga cokelat tidak ada yang berhasil mengganggu gigi mereka dan menimbulkan rasa sakit.


"Satu, Adrian. Awas ya kalau diam-diam mengambil dua lalu disembunyikan di dalam baju," ujar Lovi menegaskan. Beberapa kali Adrian melakukan itu. Tapi pada akhirnya ketahuan juga oleh Lovi.

__ADS_1


Memang benar, kalau berbohong dengan orangtua pasti Tuhan tidak akan diam saja. Tuhan punya cara sendiri agar orangtua mengetahui kebohongan yang sedang dilakukan. Seperti Adrian yang pernah tiba-tiba terjatuh di lantai licin yang sedang dibersihkan oleh pelayan kemudian cokelat yang ada di dalam bajunya keluar. Lovi kebetulan melihat itu karena Adrian tidak sempat lagi menyembunyikannya.


Pernah juga Adrian tertangkap basah sedang berbohong masalah cokelat. Lovi akan mengambil minum untuk Auristella, dan tak sengaja Ia melihat Adrian tengah menikmati cokelat diam-diam di bawah pantry. Lovi hanya mengizinkan Ia menikmati satu batang cokelat. Tapi begitu dilihat oleh Lovi, sudah dua bungkus cokelat yang dimakan oleh Adrian.


"Iya, Mom. Ini satu saja,"


"Coba Mommy lihat bajunya,"


Lovi meraba badan tegap anak keduanya. "Tidak ada kebohongan. Pintar!"


"Tapi Mommy penasaran. Waktu kamu menyembunyikan cokelat di dalam baju, itu bagaimana caranya?"


"Mommy tidak boleh tahu. Itu rahasia anak kecil,"


Lovi mencibir lalu menyuruh kedua anaknya untuk makan di meja makan jangan sambil berdiri di depan lemari pendingin.


"Tolong, makannya jangan di depan Auris. Sejak tadi mata adik kalian ini tidak berhenti menatap apa yang kalian pegang,"


"Okay, Mommy." Andrean segera menarik tangan Adrian yang akan memulai aksi menyebalkannya di hadapan Auristella. Ia membuka cokelat dengan gerak lamban lalu mulai menggigit cokelat dengan ekspresi berlebihan agar Auristella semakin penasaran dengan makanan yang sedang dinikmatinya. Adrian benar-benar tiada ampun jahilnya.


"Tadi kata Mommy makan di meja makan. Kenapa aku ditarik-tarik sih?!"


"Biar Mommy dan Auris yang pergi. Kalian di sini. Ingat ya Adrian, tidak boleh membuat adiknya menangis karena cokelat,"


Adrian hanya bergumam. Ia kecewa belum berhasil menjahili adiknya. Padahal momen ini sudah ditunggu-tunggu. Ia senang melihat Auristella tidak henti menunjuk cokelat yang ada di tangannya seraya menampilkan raut memohon. Lovi yang melihat itu tidak tega. Lebih baik Ia yang menjauhkan Auristella dari Adrian.


"Coba kamu kembali kecil lalu kamu diperlakukan seperti itu. Kamu kesal tidak?"


"Tidak, aku masih kecil." jawabnya dengan asal atas pertanyaan Andrean.

__ADS_1


"Justru itu, anak kecil akan kesal kalau keinginannya tidak dipenuhi dan malah dipermainkan. Kamu tidak boleh seperti itu, Adrian."


__ADS_2