My Cruel Husband

My Cruel Husband
Happy anniversary 6th


__ADS_3

Setelah atasannya keluar dari ruangan rapat, Dashinta langsung menceritakan semua hal mengenai pembicaraannya bersama Lovi tadi.


Ferro dan Devan yang mendengarnya terkekeh geli. Tak bisa dibayangkan betapa kesalnya Lovi sekarang. Ia merasa diberi tanggung jawab berat secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Selang beberapa detik Dashinta selesai bercerita, Lovi menghubungi Devan. Lelaki itu segera masuk ke dalam kamar khusus yang menjadi tempat istirahatnya bila sedang kelelahan ketika di kantor.


"Hallo?" Devan masih dingin.


"Hallo, Devan. Kamu meminta aku untuk menghadiri pertemuan dengan kolega? Kamu yang benar saja. Aku akan mempermalukan kamu di sana. Kamu sendiri tahu, aku tidak bisa apapun,"


"Kamu menolak perintah suami?"


"Astaga, tapi itu tidak bisa aku lakukan. Kenapa harus aku? ada orang lain yang bisa, jangan aku yang kamu suruh. Aku ini bodoh, Devan."


Telinga Devan panas mendengar Lovi yang sedari tadi merendahkan dirinya sendiri. Devan juga tahu kelemahan istrinya tapi Ia tidak suka ketika hal itu dibicarakan termasuk oleh Lovi sendiri.


"Aku tidak mau tahu. Kamu harus datang. Sekali-sekali menjadi aku,"


"Devan, aku serius--"


Klik


Devan mematikan telepon secara sepihak. Lovi di seberang sana mencak-mencak karena kesal. Lovi menggigit bibirnya sendiri. Ia panik, sekaligus tidak menyangka Devan akan Setega ini padanya.


Devan terkekeh kecil membayangkan wajah Lovi saat ini. Kalau Ia ada di sekitar Lovi, pasti Ia akan kesulitan menahan gemas.


******


"Mommy mau kemana?"


"Pergi sebentar ya, Sayang. Kalian baik-baik bersama Grandma dan Grandpa."


"Kemana? bagus sekali baju yang Mommy pakai. Biasanya tidak pernah make up sekarang semakin cantik karena make up. Uhh Mommyku seperti bidadari,"


Adrian menjadi komentator dadakan atas penampilan Lovi. Biar wajahnya masih murung, Lovi tetap memikat.


Lovi mencium anak-anaknya sebelum pergi untuk menghadiri pertemuan. Mereka tampak berat melepaskan Lovi yang tidak biasanya pergi sore menjelang malam seperti ini.


Supir yang membawa Lovi sudah memberikan kabar pada Devan bahwa Lovi sudah aman bersamanya. Mereka menuju hotel.


Begitu sampai di ballroom hotel, Lovi dibuat terkejut. Sudah banyak yang hadir padahal yang Ia tahu, rapat baru dimulai malam nanti. Sebenarnya mereka sudah datang sedari siang untuk melakukan rapat bersama Devan dan itu semua baru saja selesai karena sebelumnya Devan harus melakukan rapat juga di kantornya, tapi Devan sengaja meminta mereka semua untuk tidak dulu meninggalkan ballroom lalu bersikap seolah rapat belum dilaksanakan.


Semua kolega itu datang untuk membahas kerja sama sekaligus diminta oleh Devan agar membantunya dalam memberi kejutan untuk Lovi. Setelahnya, barulah mereka akan menikmati jalannya acara.


"Dashinta, Aku harus melakukan apa nanti?"

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu Nona lakukan. Cukup dengarkan, lalu bila tidak sesuai dengan apa yang Nona inginkan bisa mengajukan pendapat agar dirundingkan bersama. Proyek ini akan diselesaikan secara bersama-sama oleh sebab itu saling bertukar pendapat sangat dibutuhkan,"


Lovi mengangguk patuh. Ia memijat pangkal hidungnya. Sedari tadi Lovi terus berdoa agar tidak mempermalukan suaminya. Astaga, dia belum pernah berada di situasi ini. Berat sekali rasanya harus menjadi Devan.


*******


Setelah Lovi meninggalkan mansion waktunya Rena dan Senata menyulap penampilan cucu-cucu mereka.


Adrian sempat bingung ketika diminta untuk memakai tuxedo. Sementara Andrean tidak bertanya-tanya lagi karena semalam Devan sudah menjelaskan semuanya.


"Hari ini ulang tahun pernikahan Mommy dan Daddy. Kamu lupa?"


"Aku tidak mungkin mengingat itu, Andrean. Yang ada di otakku hanya tanggal ulang tahun kita saja,"


Rena terkekeh mendengarnya. Anak yang polos sekali Adrian ini. Seperti anak seusia dia pada umumnya. Tidak ada yang diingat kalau bukan tanggal ulang tahun sendiri.


Auristella tampak senang ketika dipakaikan gaun yang model dan warnanya sama dengan yang dipakai Lovi tadi.


Sama halnya dengan Adrian, Lovi pun bingung ketika Rena menyerahkan sebuah gaun yang sebelumnya tidak pernah Ia pakai. Ia yakin gaun itu baru, tetapi suasana hati Lovi yang sedang tidak baik membuat Ia malas bertanya lebih banyak dan juga memakai saja apa yang sudah diberikan oleh Rena.


Auristella berdiri di depan cermin besar yang memanjang di walk in closet milik Rena. Ia berdiri dengan cermin sebagai tumpuan. Kemudian anak bungsu dari Lovi dan Devan itu memutar pelan tubuh kecilnya. Tangan Auristella menghela anak rambut yang jatuh di samping telinga dengan gaya yang begitu anggun. Tingkah Aursitella mencuri perhatian Senata yang sedang melipat kerah kemeja Andrean.


"Kamu berbakat menjadi model, Auris. Percaya diri sekali berpose di depan cermin. Ya Tuhan, anak ini benar-benar menggemaskan,"


"Sama seperti Mommy-nya yang punya bakat terpendam,"


"Siapa yang mengatakan itu? aku bisa melihatnya dengan jelas saat photoshoot beberapa hari yang lalu. Sayangnya, Lovi tidak pernah berani menampilkan bakatnya,"


******


Rapat sudah berjalan lumayan lama. Dan Devan yang menurut Dashinta akan datang belum juga menampilkan wajahnya di ruangan yang begitu luas ini.


"Apartemen ini akan mulai dirancang arsitekturnya satu bulan yang akan datang. Kita perlu konsep bangunan yang menarik,"


"Klasik saja. Kita buat banyak ornamen unik dan rumit di hampir setiap sudut bangunan. Semua yang datang akan terasa di bawa kembali ke zaman romawi kuno," salah satu dari mereka ada yang memberikan pendapat.


Semua tampak berpikir sejenak. Lalu kompak melirik Lovi yang langsung gugup ketika menyadari bahwa Ia sedang menjadi pusat perhatian. Saat ini Ia dituntut untuk berperan dalam menyampaikan saran lainnya .


"Bagaimana, Nona?" tanya Dashinta pada Lovi sebagai istri dari pemimpin dalam pertemuan dan proyek kali ini.


Lovi menelan ludahnya kelat, la membasahi bibirnya yang terasa kering sebelum mengeluarkan suara.


"Proyek apartemen yang sudah diselesaikan mayoritas mengusung tema klasik. Untuk kali ini, bisakah menggunakan konsep retro yang sangat indentik dengan kesan jadul? Konsep retro pun kembali naik daun setelah sebelumnya pernah menjadi trend bangunan di tahun enam puluhan,"


Lovi mengeluarkan apapun isi pikirannya. Dulu, Lovi pernah bermimpi untuk memiliki rumah dengan konsep seperti itu. Tetapi belum bisa terwujud karena Lovi tidak pernah mengatakannya pada Devan. Ia mengikuti apapun selera Devan yang kebetulan Ia sukai juga.

__ADS_1


Lovi sudah mengunjungi beberapa apartemen hasil proyek suaminya, kebanyakan design interior yang digunakan adalah klasik.


Semuanya tampak berunding dan hati Lovi sudah benar-benar gelisah. Devan belum juga datang, Ia tidak menepati ucapannya.


"Kita harus totalitas dalam mencari furniturnya karena itu merupakan salah satu faktor penting yang sangat menunjang agar kesan retro lebih terasa," tukas Lovi yang masih mencoba tenang untuk berada lebih lama di ruangan ini. Karena dilihat dari gerak-gerik mereka, sepertinya belum ada tanda bahwa rapat akan segera diakhiri.


"Alasan Nona menyarankan konsep itu apa?"


"Karena sedang menjadi topik hangat, aku rasa itu bisa menarik minat seseorang untuk menjadi penghuni yang bisa turut merasakan hangatnya suasana dalam konsep retro,"


Keluar saja jawaban itu dari mulut Lovi tanpa Ia berpikir panjang. Semoga tidak menggambarkan kebodohannya. Mata Lovi sesekali melirik pintu utama ballroom. Masih dengan sikap anggun, gigi Lovi bergemelutuk geram. Lovi akan memberi pelajaran untuk Devan yang berhasil membuatnya panas dingin malam ini. Lihat saja!


Dashinta berdecak kagum dalam hati. Ia dan Devan salah besar sempat menganggap Lovi tidak mengerti apapun. Nyatanya Ia tahu konsep bangunan yang menarik, bahkan Lovi mengerti bagaimana caranya menarik minat calon pembeli yaitu dengan menghadirkan sesuatu yang sedang disukai.


Melihat salah satu kolega akan kembali mengajukan pertanyaan padanya, Lovi menghela napas pelan. Entah kapan akan berakhir, Lovi sudah ingin pingsan karena tidak kuat lama-lama berada di dalam lingkup yang bukan dirinya sama sekali.


Lovi mempersiapkan diri untuk menyimak seorang laki-laki yang sudah menatapnya dengan fokus. Melihat ketegangan Lovi, semua menahan senyum. Perempuan ini sebenarnya bisa, hanya saja terlalu takut untuk menunjukkan sesuatu yang cemerlang dalam dirinya.


Pintu utama ballroom terbuka lebar. Devan masuk bersama Ferro dan dua orang bodyguard yang menjaganya hanya melangkah sampai depan pintu setelah itu mereka berbalik, membiarkan Devan dan Ferro menghampiri meja yang membentuk lingkaran besar di tengah ballroom.


Lovi tidak bisa lagi menyembunyikan hela napas lega. Ia mengalihkan pandangan saat Devan tersenyum padanya. Sialan! bisa-bisanya dia bersikap sesantai ini sementara dirinya sudah keringat dingin sejak tadi.


Devan mengulurkan tangan ke arah Lovi. Perempuan itu mengerinyit dan menatap semua orang di sekitarnya yang sudah bangkit dari kursi masing-masing. Lovi enggan menerima uluran tangan suaminya.


"Bagaimana dengan meeting tadi?" tanya Devan masih dengan senyumannya. Alis lelaki menukik saat Lovi masih belum menunjukkan reaksi apapun.


"Happy anniversary, Lov." ujar Devan dengan tatapan dalamnya pada Lovi. Semua orang di sana bertepuk tangan. Lovi dibuat bingung. Dan itu terlihat lucu di mata Devan.


"Aku sengaja merencanakan ini semua.


Bagaimana rasanya?"


Lovi mengerang dalam hati. Devan memeluknya kemudian Ia memukul pelan dada suaminya yang menyebalkan itu.


"Kita pindah ke ballroom yang satu lagi. Meeting sudah selesai dan saatnya menikmati pesta,"


Semua orang tampak senang bisa ikut menjadi bagian dari keberhasilan Devan dalam memberikan kejutan untuk istrinya.


Di dalam ballroom yang lain, Devan dan Lovi sudah disambut oleh anak-anak panti yang rutin dikunjungi keluarga kecil Devan. Ketiga anak Lovi dan Devan pun turut serta dalam perkumpulan itu. Ada enam belas anak yang sudah termasuk Adrian, Andrean, dan Auristella yang berbaris di depan, masing-masing dari mereka membawa balon yang bertuliskan satu huruf lalu ketika dibaca keseluruhan hurufnya akan terbentuk dua kata 'happy anniversary'. Selain dari itu, di barisan tengah dan belakang juga turut meramaikan, mereka semua memegang balon yang bervariasi warna.


Lovi dibuat terharu. Ini kejutan yang tidak Ia duga sebelumnya. Devan tidak pernah turut mengundang anak-anak panti. Biasanya hanya rekan kerja saja yang diundang untuk menghadiri gala dinner yang digelar Devan dalam perayaan hari ulang tahun pernikahan mereka. Sekarang kebahagiaan terasa lengkap dengan kehadiran anak-anak yang kurang beruntung itu.


"Terima kasih atas kejutan ini. Aku bahagia sekali," ujar Lovi pada mereka semua ketika diminta untuk mengungkapkan perasaan oleh pemandu acara.


"Untuk suamiku, terima kasih. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kerja keras kamu untuk membuat aku bahagia. Sekali lagi terima kasih, aku harap kita bisa selalu bersama sampai tiba saatnya raga menyatu dengan tanah,"

__ADS_1


Semuanya memberikan tepuk tangan sebagai penguat untuk Lovi yang tak bisa menahan tangis harunya.


Auristella yang sedari tadi berada dalam penjagaan kedua neneknya sudah mengerti apa yang dirasakan oleh Lovi. Ia juga sangat bahagia, terlihat dari senyum yang tak pernah pudar. Tadinya Auristella tidak diperkenankan untuk bergabung bersama barisan tetapi anak itu ingin memegang balon juga. Akhirnya Ia digendong oleh Andrean sebentar hanya untuk menunjukkan wajah dan balon yang ada di tangannya bersama anak-anak lain. Ia terlihat paling kecil di antara yang lainnya, dan itu menggemaskan sekali.


__ADS_2