
~SETELAH PULANG DARI RUMAH SAKIT~
Devan memutuskan untuk menaiki ranjang usai dari kamar mandi. Lelaki itu menatap tubuh perempuan yang masih di dalam balutan selimut tebalnya. Mulai tadi malam sejak kepulangan Lovi dari Rumah sakit, Devan membawa serta Lovi untuk tidur di atas ranjangnya. Dengan segala paksaan dan ancaman, akhirnya Lovi mau menjadi penghuni kamar itu selain dirinya.
Setelah sampai di dekatnya, Ia menatap istrinya tengah mendesis tak nyaman seraya menggeliat dalam tidurnya. Devan mengusap kerutan di dahi mulus perempuan yang sudah dibasahi oleh keringat dinginnya itu.
"Dingin,"
"Hei, Ada apa denganmu?"
Bodoh! Devan mengutuk kebodohannya. Ia berbicara pada orang yang sedang tertidur.
"Dingin,"
Lagi, Lovi menggumamkan kata itu yang membuat suaminya semakin panik. Lovi mengatakan dingin disaat tubuhnya malah berkeringat.
Dengan cepat, Devan meraih remote pendingin ruangan yang ada di nakasnya. Membuat suhunya menjadi sebesar mungkin untuk membuat istrinya kembali nyaman.
"Aku mohon ampuni aku, Tuan," Lirihan yang lolos dari bibir tipis itu berhasil membuat Devan membeku.
Hatinya seperti terbentur dengan ribuan batu yang menyebabkannya terluka parah. Suara menyedihkan itu mengingatkan Devan akan perbuatannya selama ini. Tiada hari tanpa menyakiti. Jerit dan tangis Lovi pernah menjadi salah satu bentuk kebahagiannya. Sekarang semuanya berubah menyakitkan. Segala kesedihan dan kehancuran Lovi yang pernah Ia berikan dulu seolah menjadi tombak untuknya.
__ADS_1
Devan yang tengah berkelana dengan masa lalunya itu langsung terkejut begitu melihat manik indah istrinya yang terbuka.
"Kamu merasa tidak nyaman? Dingin?" Tanya Devan lalu meraih wajah istrinya untuk Ia perlakukan dengan sangat lembut seolah dengan begitu Ia bisa menghilangkan perasaan bersalah yang menggebu dihatinya.
Lovi menangkup tangan kekar suaminya kemudian bangkit untuk menatap sekelilingnya sampai lupa menjawab pertanyaan itu.
"Aku tidur di kamarmu, Tuan?"
Mendengar pertanyaan aneh istrinya, alis Devan menukik. Apa Lovi baru saja hilang ingatan?
"Lupa?"
Kilasan ingatan hadir di kepalanya ketika Lelaki itu membawanya dalam gendongan lalu di turunkan di atas ranjang king size dengan perlahan kemudian pintu kamar langsung dikunci olehnya.
"Cepatlah tidur! Ini masih malam, belum waktunya kamu untuk bangun," Tanpa ingin dibantah, Devan mendorong pelan tubuh Lovi agar kembali berbaring lalu menarik selimut berharap kejadian tadi tidak terulang kembali. Sungguh, melihat kegelisahan yang ada pada perempuan itu membuat Devan khawatir.
Sebelum turun dari ranjang, Devan meneguk segelas air putih di dekat lampu tidurnya. Sekali lagi Ia melihat keadaan istrinya.
"Apa lagi? Kenapa belum menutup mata?"
"Aku juga haus," Jawab istrinya lalu duduk menerima gelas itu dari tangan suaminya.
__ADS_1
"Sudah cukup,"
Lovi menggeleng saat Lelaki itu kembali mendekatkan bibir gelas ke arahnya. Ia melihat Devan yang akan beranjak.
"Tuan,"
Devan yang sedang mengambil berkas-berkasnya di meja dekat sofa pun menoleh, menatap manik istrinya dalam temaram lampu.
"Aku akan bekerja sebentar," Ujar Devan seolah tahu pertanyaan apa yang kini melayang di kepala istrinya.
"Kamu tidurlah lebih dulu!"
Itu ucapan terakhir suaminya sebelum pintu kamar tertutup. Lovi menghela napas pelan menatap ruang kosong di sampingnya. Tidak semudah itu untuk Lovi kembali memejamkan mata. Jujur Lovi menyadari kalau saat ini Ia telah berubah menjadi sosok yang egois. Ia selalu menginginkan kehadiran Devan di sampingnya. Ketika mengingat kandungannya juga merupakan bagian dari Devan, Lovi mengerti kenapa janinnya seolah tidak terima bila ayahnya bersikap acuh.
Sedari tadi Lovi bergerak gelisah. Ia berganti posisi dalam beberapa menit guna menghilangkan rasa bosannya di tengah malam seperti ini.
Janinnya memang belum menampakkan tanda-tanda yang jelas, namun Lovi yakin rasa gelisah itu berasal dari anaknya. Oleh karena itu Lovi berusaha membuat kompromi agar Ia bisa kembali tertidur nyaman. Lovi mengusap perut yang mulai menonjol itu dengan lembut seraya memejamkan mata, mengucapkan kata-kata sayang untuk permata hatinya.
Hampir saja mata perempuan itu memejam untuk kembali ke alam mimpi, namun suara decitan pintu membuatnya menoleh.
"Aku tahu kalian membutuhkanku,"
__ADS_1
*********
Up mlm gezz smg gk lolos pagi yakk spy kelean bs lgsng baca. jgn lupa vote, like, commentnya yaaaa. makasyiii