My Cruel Husband

My Cruel Husband
Extra part 6


__ADS_3

"Kamu cemburu ya?"


Adrian mengangkat sebelah alisnya, menatap Adrina dengan aneh. Dalam hatinya berkata, "Kamu terlalu percaya diri!"


"Jujur!" paksa Adrina pada Adrian. Ia bahkan mendorong bahu Adrian agar mengaku. Tawanya sudah menguar hingga mengalihkan perhatian Adrian.


"Jujur Adrian!"


"Apa sih? siapa yang cemburu? jangan terlau percaya diri jadi perempuan!"


"Hih? kenapa marah?"


"Aku tidak marah!"


"Ck! gemas sekali dengan kamu baby boy nya Aunty Lovi,"


Adrian menggeram kesal karena lagi-lagi Ia mendengar panggilan itu. Biasanya dari Auristella yang gemar meledeknya, sekarang Adrina.


"Aku belum punya kekasih, Adrian."


"Aku tidak bertanya. Aku harus masuk sekarang,"


"Ya sudah, masuklah. Kalau sudah berani mengakui bahwa kamu cemburu, segera hubungi aku ya,"


Adrina berlari ke rumah nya sebelum tangan Adrian mencubit pipi nya. Sebelum benar-benar memasuki rumah, Ia menjulurkan lidahnya ke arah Adrian.


"Bye, Baby boy."


Adrian memutar bola matanya. Kemudian Ia masuk ke dalam rumahnya. Sembari melangkah, Ia terdengar menggerutu.


"Aku tidak cemburu,"


"Berani sekali dia mengatakan kalau aku ini cemburu."


"Dasar aneh!"


"Adrian..."


Pandangan Adrian teralihkan pada neneknya, Senata yang baru saja memanggil dirinya.


"Rumah sepi. Mommy dan Daddy belum pulang, Grandma?"


"Daddy masih bekerja. Mommy dan Auris belanja kebutuhan untuk satu bulan. Andrean sudah pulang. Dia di ruang makan,"


Adrian melangkah menuju ruang makan lalu mengangkat sebelah alisnya menyapa Andrean.


"Tadi kamu menggerutu kenapa?" tanya Senata pada cucu nya.


"Gara-gara Adrina,"


"Kenapa dengan Adrina?"


"Menyebalkan seperti biasanya, Grandma."


"Jangan terlalu sebal dengan perempuan,"


"Iya, bahaya, Adrian." sahut Andrean menatap Adrian dengan serius.


"Bisa jatuh cinta. Daddy mu dulu begitu," tambah Senata denan senyum jahilnya.


"Astaga, Grandma, jangan bicara seperti itu,"


******


Saat ini Lovi sedang menemani putrinya mencari parfum yang Ia inginkan. Di usia remaja ini, Auristella benar-benar memperhatikan detail dirinya sendiri.


"Yang ini saja,"


Auristella menghidu aroma parfum yang baru saja disemprot di tangan Lovi. Ia menggeleng, "Aku mau yang lain, Mom."

__ADS_1


"Okay, jangan lama-lama pilihnya."


Sudah tiga puluh menit Auristella baru dapat satu parfum. Ia mau beli dua katanya.


"Yang ini aku suka,"


Auristella menunjuk salah satu dari tiga botol parfum yang dia pegang untuk dihidu harum nya. Lovi mengangguk kemudian membayarnya.


Mereka keluar dari mall. Lovi merangkul bahu anaknya. Mereka seperti adik dan kakak yang sedang hang out bersama. Wajah Lovi yang awet muda membuat orang terkadang tidak percaya kalau mereka Ibu dan anak.


*****


Sandra dan Keyla sedang bermain di rumah Auristella. Mereka datang tanpa ditemani kakak masing-masing yaitu Genta dan Kenith.


Mereka merupakan siswa sekolah menengah atas sekarang. Dan Auristella semakin dekat saja dengan mereka karena bisa menjadi teman curhat tentang kehidupan mereka yang tidak lama lagi memasuki jenjang perkuliahan.


"Kamu sedang mencintai seseorang tidak?" tanya Auristella pada Sandra.


"Tidak, memang kenapa?"


"Belum ada orangnya dan belum tepat waktunya untuk mencintai," jawab Sandra.


"Bagus! sekolah dulu yang benar,"


"Kamu pasti sudah ya?" Kayla menggoda Auristella yang langsung menggeleng tegas.


"Kalian saja belum, masa aku sudah? aku ini masih baby girl,"


"Kamu selalu menjadi baby girl memang," ujar Kayla.


"Tapi kamu mengagumi seseorang?" tanya Sandra.


Auristella menggeleng lagi setelah ditanya begitu oleh Sandra.


"Suka dan kagum itu berbeda ya?" Auristella merasa perlu untuk bertanya.


"Menurutku berbeda,"


"Kagum itu ketika kamu bertemu dengan seseorang dan ada suatu kelebihan dari dia yang membuat kamu tertarik untuk mengagumi nya. Kalau rasa kagum itu semakin bertambah lama-lama bisa menjadi suka. Rasa suka sifatnya egois. Terkadang kamu ingin dia melakukan apa yang membuat kamu suka dengan dia, dan terkadang rasa suka itu membuat kamu sangat ingin memiliki dia," Kayla menjelaskan panjang lebar. Auristella berusaha mencerna apa yang disampaikan Kayla.


"Setelah suka biasanya timbul rasa sayang, barulah hadir rasa cinta," tambah Sandra.


"Ah kamu bicara apa sih? aku belum mengerti cinta,"


Sandra dan Kayla terbahak melihat Auristella yang bingung. Perbincangan mereka kali ini sudah melipir ke perasaan terhadap seseorang. Padahal mereka tengah menonton drama di kamar Auristella tapi malah drama itu yang menonton mereka berbincang.


****


Pagi ini Adrina bersepeda dengan Daddy dan Mommy nya. Sudah lama Adrina tidak melakukan kegiatan yang menjadi kesukaannya. Beberapa hari ini Ia sibuk dengan tugas kuliahnya hingga tengah malam. Sehingga bangun lebih siang.


"Baru juga lima belas menit, Adrina. Masa sudah mau beli snack?" tanya Sheva.


"Aku lapar," rengek Adrina.


Biarpun mereka bersepeda belum lama, tapi perutnya sudah merasa lapar. Oleh sebab itu Ia ingin ke supermarket beli snack.


Jino dan Sheva mengikuti sepeda Adrina yang sudah jalan lebih dulu. Adrina memang paling tidak bisa menahan lapar.


Adrina memilih makanan ringan dan ice cream. Sementara Sheva memilih teh dan Jino mau kopi. Kemudian mereka duduk di kursi yang ada di luar supermarket.


"Mommy dan Daddy tidak mau beli makanan? kita masih di supermarket,"


"Tadi sudah makan roti,"


"Kamu lapar, Adrina? serius? padahal kita sudah sarapan,"


"Iya, satu roti ternyata kurang, Dad. Lima belas menit bersepeda membuatku kehilangan banyak energi," ucap Adrina seraya menggeleng pelan, seolah tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang begitu gemar makan.


"Daddy dan Mommy yang sudah tua saja tidak lelah sama sekali dan belum lapar juga,"

__ADS_1


"Aku sedang masa pertumbuhan, Dad. Jadi lagi hobi makan,"


"Masa pertumbuhan? setahu Mommy masa pertumbuhan mu sudah lewat,"


"Masih, Mom. Aku masih kecil,"


Rengekan Adrina membuat Sheva terkekeh. Adrina sedari dulu sampai sekarang selalu menggemaskan dan akan terus menjadi bayi kecilnya.


"Sudah belum? kita lanjut lagi bersepeda nya,"


"Sudah, Dad."


Mereka meninggalkan supermarket untuk kembali mengayuh sepeda masing-masing guna mengeluarkan keringat agar sehat.


*****


"Berangkat dengan aku?"


"Iya, tunggu sebentar,"


"Jangan lama!"


"Pakai sepatu dulu, Yan."


Adrian keluar lebih dulu, sementara adiknya yang hari ini mau berangkat ke sekolah dengannya, sedang mengenakan sepatu.


Adrian akan ke kampus setelah itu ada syuting. Tapi sebelum ke kampus, Ia harus mengantar adik nya yang jadwalnya hari ini adalah olahraga saja tanpa belajar.


Mobil sudah siap, Adrian tinggal menunggu adiknya di depan mobil yang sudah terbuka pintu kemudinya.


"Adrian..."


"Hallo, Uncle." Adrian membalas sapa Jino yang baru saja selesai bersepeda. Di belakangnya ada Adrina dan Sheva. Jino dan Sheva masuk sementara Adrina menyapa Adrian.


"Mau kemana, Adrian?"


"Kampus,"


Auristella keluar dengan baju olahraga dan sepatu sport berwarna putihnya. Adrina menyapa adik dari sahabatnya itu.


"Auris mau sekolah?"


"Iya, tidak mungkin mau berjualan kalau penampilanku begini 'kan?"


"Semangat belajarnya!"


"Hanya ada jadwal olahraga,"


"Oh okay, semangat olahraganya,"


"Hmm, terima kasih,"


Adrina mendengus saat ditanggapi ketus oleh Auristella. Selalu begitu, padahal dia sudah hangat sekali menyapa nya. Seingatnya dulu saat masih kecil Auristella tida seperti ini padanya. Adrina sempat berpikir apakah Ia punya kesalahan yang sangat besar hingga Auristella berubah? Ia tidak sakit hati, hanya saja bingung dimana letak kesalahannya?


"Kami pergi dulu, Adrina."


"Okay, hati-hati baby boy Adri--"


"Hey! itu panggilan Mommy dan aku untuk Adrian. Kamu tidak boleh mengikuti," ujar Auristella seraya menatap Adrina dengan sinis.


Adrina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menjawab dengan canggung, "Ba--baiklah, maaf. Panggilan itu menggemaskan sekali,"


Adrian menatap adiknya dengan intens. Tahu bahwa kakaknya akan menasihati, Auristella membuang arah pandangan.


"Auris tidak boleh begitu pada Adrina,"


Auristella masuk ke dalam mobil, setelah mendengar pembelaan Adrian terhadap Adrina.


 

__ADS_1


Kalian kl gk bisa tidur biasanya ngapain?


__ADS_2