My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kenangan yang masih ada


__ADS_3

"Perhatikan langkah kalian. Jangan terlalu sibuk berbincang!"


-Flashback Off-


Adrian tertawa ketika Andrean berhasil mengingat kejadian tadi bahkan mengulangnya. Kalimat yang tadi diucapkan Devan, kembali diperagakannya dengan gaya yang persis seperti ayahnya. Dingin dan menusuk.


"Daddy lucu kalau sedang marah," ledek Andrean dengan tawa yang belum juga reda.


Devan mendengus. Ia tersenyum miring menatap Andrean dan juga Adrian melalui kaca.


"Tadi saat jatuh kalian menangis sangat kencang. Sekarang sudah bisa tertawa rupanya. Dasar anakku,"


****


Lovi turun dari motor Fifdy. Ia tersenyum hangat setelah Fifdy melepas pelindung kepalanya.


"Terima kasih, Fifdy. Maaf merepotkanmu," ujarnya pelan. Fifdy bisa melihat rasa lelah di mata perempuan itu.


"Ya, sama-sama. Aku tidak merasa direpotkan. Justru aku senang. Besok kita pulang bersama lagi ya,"


"Hati-hati di jalan. Aku masuk ya,"


Lovi tidak menyetujui juga tidak menolak tawaran tersebut. Dan Lovi tidak menyadari kalau ada tatapan kecewa di mata Fifdy setelah perempuan itu mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ya, selamat malam, Lovita,"


Tangan lancang milik Fifdy yang akan mengusap wajah Lovi dihentikan oleh suara deheman keras milik seseorang yang rupanya sudah memperhatikan mereka dari tadi.


Lovi menatap orang itu dengan bingung. Namun tak dipungkiri bahwa ada rasa penasaran yang menelusup di hatinya.


"Kenapa dia masih ada di sini?"


"Sudah selesai salam perpisahannya? Bisa kamu masuk sekarang, Lovi?" Sindir sosok menyebalkan bagi Fifdy itu. Lovi meminta Fifdy untuk segera pergi melalui lirikan matanya.


Lovi mendengar Fifdy mendengus. Ia tidak mengerti dengan sahabatnya itu. Seharusnya reaksi Fifdy tidak seperti itu. Memangnya apa lagi yang harus Ia lakukan di depan gerbang rumah Lovi? Ini sudah malam, dan bukan waktunya untuk berbasa-basi.


Lagi pula Lovi sudah mengucapkan kata ' Terima kasih' dan 'Hati-hati'. Ia rasa itu semua sudah cukup untuk seorang sahabat bukan?


Lovi masuk setelah motor Fifdy tidak lagi dapat dijangkau oleh pelupuk matanya.


Ia emosi ketika melihat Lovi yang pulang bersama dengan lelaki lain. Dan dengan brengs*knya Fifdy ingin menyentuh Lovi.


"Lelaki itu lagi, Lov? Kalian sudah sedekat itu?"


Lovi tidak mengindahkan Devan yang merajuk. Kalau mereka masih suami istri mungkin Lovi akan dengan senang hati meladeni lelaki itu yang selalu saja posesif. Ya, Lovi yakin lelaki itu sedang menampakkan sisi arogannya sekarang.


Lovi memasuki kamarnya dan ketika ingin menutup pintu, Devan langsung menahannya.

__ADS_1


"Aku sedang bicara padamu," desis Devan yang tidak terima dengan reaksi istrinya.


Lovi menghela napas masih dengan wajahnya yang datar. Rupanya lelaki ini harus diperingatkan lagi mengenai status mereka.


"Kamu bukan lagi suamiku. Tidak perlu melarang ini dan itu. Karena aku bukan lagi urusanmu,"


Lovi ingin kembali menutup pintu. Namun lagi-lagi Devan yang menjadi pemenangnya.


Lelaki tampan berstatus duda itu tampak santai memasuki kamar mantan istrinya. Senyumnya terbit ketika melihat tidak ada satupun yang berubah di sana. Ruangan yang pernah menjadi kamar mereka berdua masih dalam kondisi yang sama seperti dulu. Bahkan bingkai foto pernikahan mereka masih terpajang dengan cantik di nakas. Dan Devan bahagia sampai-sampai Ia tersenyum tidak jelas.


Lovi berdiri seraya bersedekap dada. Ia tidak berdekatan dengan Devan yang saat ini duduk di atas ranjangnya.


"Ternyata kamu masih menyimpan foto kita ya? kamu masih mengharapkan---"


Secepat kilat Lovi berjalan menghampiri nakas lalu meraih foto yang dimaksud Devan untuk kemudian dimasukkan ke dalam laci dibawahnya.


Devan berdecak dan kepalanya menggeleng geli.


"Perempuan dengan segala gengsinya," sindirnya yang tak dipedulikan oleh Lovi.


"Kenapa disimpan? Aku senang melihatnya ada di sana. Kamupun merasakan hal yang sama bukan? Kalau tidak, kenapa masih kamu pertahankan di sana foto itu?"


Lovi memutar bola matanya kesal. Kesal ketika dirinya diusik. Kesal karena Devan berhasil membuatnya mati kutu.

__ADS_1


"Kamu tidak menjawabnya, Lov?"


"Devan, lebih baik kamu pergi dari sini! Kenapa kamu tidak pulang? Ini sudah malam dan kamu tahu kalau malam bukanlah waktu yang tepat untuk bertengkar hanya karena masalah foto,"


__ADS_2