
FLASHBACK ON
Mulai hari ini Devan dan keluarga kecilnya akan tinggal di rumah baru mereka. Oleh sebab itu Devan mengundang seluruh keluarga besarnya untuk datang dan turut merayakan kegembiraannya.
Kebahagiaan mereka juga dilengkapi dengan kabar kehamilan anak ketiga Lovi dan Devan. Devan selaku ayah dari si jabang bayi, semakin menggebu untuk mengajak keluarga besarnya ke rumah besar nan mewah yang baru dibangunnya itu.
Semua sepupu Devan hadir bersama dengan anak, istri, dan suami mereka. Adik dan kakak dari Rena dan Raihan pun turut hadir.
Devan, Jhon, Zio, dan sepupu laki-lakinya yang lain sedang berbincang di sofa bersama dengan Raihan serta Uncle-uncle mereka. sementara yang perempuan sibuk menikmati siaran televisi. Anak-anak mereka berlarian kesana kemari merebutkan sesuatu yang tidak diketahui oleh para orangtuanya.
Lovi selaku Tuan rumah sibuk menyajikan hidangan yang selalu mendapat decakan kagum dari para perempuan di sana.
"Pantas saja Devan takluk. Semua yang ada pada dirimu benar-benar berkualitas, Lovi."
"Iya, benar. Kamu tahu, selain masalah ranjang, masakanpun turut menjadi hal yang mampu menarik perhatian suami."
Lovi hanya tersenyum tipis mendengar Dallina dan Joanna yang memujinya.
"Devan beruntung memilikimu. Mempunyai keahlian dalam melakukan pekerjaan rumah, sifat lemah lembut, kira-kira apa lagi yang melekat dalam dirimu?"
"Kalian berlebihan," tanggapnya singkat. Memuji dalam kadar yang melampaui batas bukanlah hal yang baik untuk sisi kelam seorang manusia karena akan menciptakan perasaan tinggi hati. Lagi pula Ia melakukan semuanya juga turut dibantu oleh para pelayan dan Rena, yang tak membiarkan Lovi bekerja terlalu berat dimasa kehamilannya.
Lovi memasuki dapur lalu meletakkan beberapa gelas minuman dingin di atas nampan.
"Saya saja, Nona."ujar Serry namun Lovi menggeleng.
"Aku bisa melakukannya,"
Lovi kembali memasuki ruang keluarga. Tiba-tiba keseimbangan tubuhnya hilang ketika Adrian, Andrean, Daren, Jemmy dan Kaila yang sedang berlari tak sengaja membentur tubuh Lovi.
Semua gelas yang berada dalam kuasa tangan Lovi pun terjatuh dan pecah mengenaskan. Semua orang di sana menatap sumber kegaduhan. Mereka yang menjadi tersangka langsung menghentikan acara bermainnya.
Devan menatap datar kejadian itu. Rahangnya mengeras. Tak ada gerak cepat sedikitpun yang ditunjukkan olehnya dalam menenangkan sang istri yang masih terkejut luar biasa.
"KAMU BENAR-BENAR TIDAK BISA DIANDALKAN! HANYA KARENA ANAK KECIL, KAMU BISA MENGHANCURKAN GELAS-GELAS ITU?!"
Lovi kian membeku di tempatnya. Devan membentaknya bukan karena gelas mahalnya pecah, bukan? apa kesalahan Lovi benar-benar fatal?
Lovi terluka
Lovi malu
Ya, Dia malu karena Devan membentaknya di hadapan seluruh keluarga besar Devan.
__ADS_1
Saat ini Ia merasa tidak memiliki harga diri lagi hanya karena gelas.
"Andrean, Adrian! masuk ke kamar!"
Devan semakin membuat Lovi terluka. Bukan hanya dia yang menjadi sasaran Devan. Anak kecil bermain lari-larian bukankah hal yang wajar? usia mereka masih terlampau dini untuk Devan kasari seperti itu.
Kristal bening mulai mengganggu pandangan Lovi. Ia langsung menunduk untuk mempertanggung jawabkan kebodohannya. Dengan tangan gemetar, Lovi meraih pecahan gelas di lantai.
Sementara Andrean dan Adrian masih menunduk ketakutan begitupun dengan sepupunya yang lain. Mereka terlalu rapuh bila harus mendengar suara keras lelaki dewasa seperti Devan.
Rena datang dari arah dapur. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi ketika mendengar raungan keras Devan.
"Lovi, biarkan pelayan yang melakukan itu. Tanganmu bisa terluka,"
Ia meminta Lovi untuk bangkit dan meninggalkan kegiatannya. Namun Lovi yang sudah terlajur sakit hati dan malu, memilih untuk tetap bertahan.
Ia yakin kalau semua mata kini menatapnya dengan kasihan. Biarkan, mungkin memang itu yang diinginkan suaminya. Membuat Lovi terlihat rendah dimata keluarganya sendiri.
"Lovi, tinggalkan itu sekarang!" titah Rena lebih tegas. Ia melirik Devan yang tampak acuh. Bahkan membuang arah pandang dari Istrinya yang kini sedang menyembunyikan tangis.
Terlalu sibuk menahan dentuman sakit yang terus menyerang hatinya, Lovi tidak sadar kalau jarinya tertusuk salah satu pecahan yang sedang digenggamnya. Darah mulai mengalir, namun semuanya diam seolah tidak peduli.
Sementara Rena yang masih berada di belakang Lovi pun mulai mendekati perempuan yang sedang hamil muda itu.
"LOVI, DENGARKAN MAMA!" Rena tidak kuat lagi melihatnya. Otaknya berkelana di kala Ia juga pernah berada di posisi Lovi. Ia pandai betul bagaimana sakitnya ketika dipermalukan di hadapan banyak orang, walaupun mereka semua adalah keluarga.
Raihan pernah menghinanya, kini Devan mengulangi apa yang dilakukan sang ayah. Keduanya memang benar-benar mirip.
Lovi berlari menaiki undakan tangga. Perempuan itu telah salah menangkap arti dari peringatan keras yang diberikan Rena. Ia kira Devan dan Rena sama saja.
"Lovi, Mama bukan marah, Sayang! hei!"
Lovi tetap melanjutkan kegilaannya. Berlari menaiki anak tangga dalam kondisi hamil adalah hal terburuk yang pernah dilakukan Lovi. Ia terlalu depresi ketika mendapat tekanan batin seperti ini sampai-sampai melupakan kehadiran malaikat kecil di perutnya.
"Kau tidak punya hati, Devan!"
Suasana semakin berbahaya untuk Andrean, Adrian dan anak-anak yang lain ketika Raihan mulai berteriak pada anaknya. Oleh sebab itu, Rena meminta Joanna, keponakannya dan juga Vanilla untuk membawa mereka pergi dari sana.
"Aku ingin bersama Mommy, Aunty." cicit Si Sulung Andrean.
"Kalian anak-anak pintar ikut Aunty ke kamar saja,"
Andrean menggeleng dengan wajah sedihnya. Ia sudah menyaksikan semuanya. Daddy yang selama ini menjadi pahlawannya berubah menjadi monster menakutkan layaknya sosok dalam serial yang sering di saksikannya.
__ADS_1
"Mommy sedang sakit. Biarkan Mommy istirahat,"
"Aunty Lovi sakit karena kami, ya?" tanya Jemmy, anak Joanna dan Jhon.
"Tidak, tapi lain kali jangan berlarian seperti tadi ya? kalian bisa terjatuh,"
Kaila, adik Jemmy ikut berbicara,
"Aku menyesal sudah membuat Aunty Lovi dimarahi Uncle Devan tadi.
"Iya, aku juga," tambah Daren, putra tunggal Zio dan Thalia.
Sebelum kelima anak itu semakin lama berbicara di tengah suasana yang kian berang, Vanilla dan Joanna langsung membawa mereka semua ke kamar Vanilla.
Raihan masih memiliki otak. Setelah memastikan kepergian cucu-cucunya, Ia kembali melanjutkan peperangannya dengan sang putra.
"Hanya karena gelas kamu membentaknya. Dia pasti merasa sakit hati dan malu, Devan!"
"Aku tidak suka dia yang lemah,"
Jhon terkekeh tak habis pikir. Lelaki itu menghentikan sejenak perdebatan yang menyelimuti anak dan ayah itu.
"Lemah? kalau Lovi lemah, seharusnya dia sudah mati begitu kau menyiksanya dulu. Buktinya sampai saat ini dia masih bisa bertahan,"
"Tidak seharusnya kamu melakukan itu pada Lovi. Dia sedang mengandung, kamu menyakiti keduanya."
Rena tersenyum miring menatap keluarganya yang kini maju satu persatu membela Lovi. Kemana mereka sejak tadi? kenapa baru sekarang memperhatikan Lovi? apa mereka buta dengan Lovi yang terlihat begitu gila? Perempuan itu menahan rasa sakit di tangannya. Ia bersikap seolah kulitnya bukanlah korban dari pecahan gelas tersebut.
"Kalian tidak perlu melalukan ini untuk menantuku. Karena terlambat, dia sudah kesakitan sekarang,"
Mereka semua terdiam. Devan terlihat tidak peduli. Ia menganggap segala ucapan keluarganya adalah angin lalu.
Kini Rena menatap tajam suaminya. Bibir tipis itu terbuka lalu berkata dengan suara dalamnya,
"Dan kau Raihan, ingatlah masa lalumu. Jangan menghakimi Devan, karena apapun yang dilakukannya saat ini adalah bentuk pewarisan dari dirimu yang dulu."
Rena benci dengan mereka yang seperti ini. Ia benci ketika Lovi disakiti. Sekali lagi, Rena sudah lebih tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Istri yang awalnya tidak diinginkan sama sekali.
"Lihat darahnya sekarang! dia benar-benar terluka karena kamu,"
Devan melirik apa yang ditunjuk oleh Mamanya. Di lantai yang belum sepenuhnya dibersihkan oleh Netta itu, Ia masih bisa melihat jejak yang membuktikan bahwa semua ucapan Rena adalah kebenaran. Saat ini Lovi dalam kondisi tidak baik-baik saja.
**********
__ADS_1
BACA YAA DI AWALNYA!! INI FLASHBACK SEBELUM LOVI BENER-BENER KESEL SM DEVAN. SALAH SATU KESALAHN YG DIBWT SM DEVAN YA ADA DI EP INI. Lg hamil coyyyy di bntak kek gt cuma krn gelas pecah :( ihhh ga kebayang dah gmn sakitnya :'(