My Cruel Husband

My Cruel Husband
Berbagi cerita tentang liburan


__ADS_3

"YEAAAYY THANK YOU, AUNTY. AUNTY BAIK SEKALI. I LOVE YOU,"


Jane terkejut ketika dipeluk secara tiba-tiba oleh Adrian. "Sebentar, bukankah kakimu keram?"


Adrian melepaskan pelukannya lalu menoleh ke bawah, "Sudah tidak lagi. Mungkin karena ingin dibelikan hadiah oleh Aunty. Aku tidak sabar mau beli robot besar lagi,"


Devan menggeram lalu menggendong Adrian dengan cepat. Ia meletakkan Adrian di atas ranjang dan akan memberikan pelajaran untuk sang anak. Ia angkat sedikit baju Adrian yang basah lalu Ia gelitiki dengan dagunya yang berambut tipis.


Jane yang melihat itu menggeleng pelan. Ia pun keluar dari kamar. sementara Lovi langsung berseru tatkala menyadari kalau baju yang dipakai Adrian basah, dan dia berbaring di ranjang.


"Adrian, mandi dulu. Aduh, tempat kita tidur jadi basah itu karena bajumu,"


"HAHAHA DADDY AMPUN,"


"Kamu sengaja mengerjai Daddy ya? kamu berbohong? kakimu tidak keram 'kan?"


"Keram! Ya Tuhan, Daddy tidak percaya dengan anak sendiri? tadi aku hampir menangis karena keram, Daddy masih bisa mengira aku mengerjai Daddy?" ucap anak itu mendramatisir. Hal itu membuat Devan berdecak malas. Ia segera bangkit dari ranjang seraya membawa Adrian ke kamar mandi.


"Mandi dan jangan lama-lama!"


"Okay, Daddy keluar kalau begitu,"


"Kenapa mengusir Daddy? biasanya juga minta dimandikan Daddy,"


"Sekarang tidak mau,"


Devan tersenyum jahil menatap anaknya. "Anak Daddy sudah besar ya. Sudah punya rasa malu kah?"


"Sejak dulu juga aku punya rasa malu, Dad! sembarangan saja kalau bicara,"


"Tidak, biasanya kamu bukan malu malah malu-maluin."


Adrian menyalakan shower lalu mengarahkannya ke arah Devan. Lelaki beranak tiga itu berseru tidak terima. "Daddy sudah mandi!"


Beruntungnya tidak basah karena Devan berhasil menghindar dan Adrian juga tak melanjutkan karena tatapan Daddy-nya begitu tajam sebagai peringatan.


"Daddy keluar, kamu mandi sendiri?"


"Iya,"


"Cepat ya!"


"Iya, tadi sudah diperingatkan begitu. Sekarang diulangi lagi," cibir anak itu.


Devan akhirnya keluar dan melihat Lovi yang tengah mengganti sprei ranjang. "Diganti, Lov? kenapa?"


"Tadi basah karena baju Adrian,"


"Anak kita sudah besar, Lov."


Lovi menoleh sebentar saat suaminya bicara seperti itu. "Memang sudah besar. 'Kan yang masih kecil hanya Auris,"


"Dia tidak mau lagi aku temani mandi. Aku diusir oleh Adrian,"


ucapan suaminya membuat Lovi terkekeh. "Mungkin dia memang sedang ingin mandi sendiri, tanpa bantuan dan pengawasanmu."


"Halah, biasanya juga tidak masalah aku mandikan. Aku melakukan itu agar Ia mandi cepat,"


"Mungkin saat ini Ia akan mandi lama, jadi tidak mau ada kamu,"


"Aku sudah peringatkan. Semoga saja dia mendengar ucapan ku,"


***********


"Hallo, Andrean. Bagaimana liburanmu?"


"Menyenangkan tentu saja. Kamu juga berlibur bukan? bagaimana dengan liburanmu?"


Sheva baru saja menghubungi Lovi karena putrinya, Adrina ingin bicara dengan Adrian dan Andrean, sahabatnya.


Akhir bulan ini sekolah memang menghentikan pembelajaran untuk satu minggu sebagai persiapan untuk tes naik kelas terakhir sebelum akhirnya semua siswa masuk ke sekolah yang tingkatnya lebih tinggi.


Berhubung Adrian belum selesai mandi, anak itu tak menuruti apa kata ayahnya, jadilah Andrean yang bicara dengan Adrina lebih dulu.


"Aku lebih banyak berlibur di dalam kamar," gerutunya yang mengundang tawa Sheva di dekat Adrina.


"Daddy masih sibuk bekerja. Besok baru bisa mengajak aku liburan. Itupun sepertinya tidak menginap seperti kamu. Hanya datang ke kebun binatang saja,"


"Tadi, aku juga ke kebun binatang. Menyenangkan sekali, bisa memberi makanan untuk buaya dan menonton pertunjukkan gajah,"


"Wow, aku belum pernah memberi makanan untuk buaya. Kamu tidak takut kah?"


"Tidak, ada pagar yang membatasi, untuk apa takut?"


"Besok kalau dibolehkan Daddy, aku mau coba,"


"Ya, kamu harus mencobanya. Buaya-buaya itu akan berkumpul, menunggu makanan dari kita,"


"Makanan buaya itu apa sih?"


"Kamu,"


"Heh? enak saja! sekalinya bicara malah melucu anak ini," Adrina mencibir. "Mommy, makanan buaya itu semacam daging ya?" tanya Andrean pada Lovi yang baru saja laporan ke Devan di balkon mengenai anaknya yang mandi lama sekali, Lovi langsung mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan anak sulungnya.


"Iya, dia makan daging,"


Adrina mendengar dari seberang sana. Ia langsung berseru tak sabar pada Sheva yang berada di dekatnya, ikut mendengarkan pembicaraan sang anak dengan sahabatnya.


"Kita video call saja, ayo. Kita ajak Revin dan Thalia juga,"


"Boleh, tapi Adrian belum selesai juga mandinya. Tidak apa?"


"Biar saja, aku juga tidak menunggui dia,"


"Ah yang benar? tadi kamu menanyakan keberadaan Adrian. Aku kira kamu sengaja meminta Mommy-mu agar menelpon Mommy-ku supaya bisa bicara dengan Adrian,"


"Memang iya aku ingin bicara dengan Adrian juga. Tapi kalau dia belum selesai mandi, ya tidak apa. Ada kamu yang bisa menemani ku mengobrol untuk menghilangkan kebosanan,"


Andrean mengangguk saja. "Mommy, sambungkan menjadi video call saja," kata Adrina pada Sheva. Tak lama panggilan suara terputus dan disusul dengan panggilan video.


Devan tampak memasuki kamarnya usai memainkan ponsel di balkon. Begitu mendapat laporan dari sang istri, Ia akan langsung bertindak. Karena kata Lovi, Lovi sudah memarahi Adrian untuk cepat-cepat menyelesaikan mandinya tapi tetap saja sampai sekarang belum keluar juga dari kamar mandi. Terkadang Lovi dan Devan bingung dengan anak itu. Tidak kedinginan juga dia.


Panggilan video pun tersambung dan bukan hanya Andrean dan Adrina saja yang berada di dalam sambungan tersebut. Ada Thalia juga yang langsung menyapa sahabat-sahabatnya dengan hangat, tak lama Revin pun menyusul.


"Hai, Andrean, Adrina. Bagaimana liburan kalian beberapa hari ini?"


"Menyenangkan, rasanya aku mau libur terus," jawab Andrean dengan datar. Sementara Adrina tampak menggeleng tak setuju, "Aku malah mau sekolah saja. Karena kalau liburan, aku tidak ada kegiatan apapun. Jadi kebosanan,"


"Lakukan sesuatu agar tidak bosan,"


"Apa kira-kira?"


"Belajar,"


"Ck! beginilah kalau minta saran pada anak pintar. Pasti pada akhirnya di beri saran untuk belajar,"


Devan membuka pintu kamar mandi dan menemukan anaknya tengah bermain mobil-mobilan di dalam bathtub. "Errghh kenapa main mobil-mobilan harus di kamar mandi? bisa di dalam kamar saja 'kan?"


"Ini mobil-mobilan khusus untuk aku bermain di kamar mandi. Kalau di kamar berbeda lagi mobil-mobilannya,"


"Besok Daddy buang itu ya. Supaya kamu tidak ada mainan lagi di kamar mandi,"


"Jangan, Daddy. Ini memang sudah lama menjadi mainan aku ketika mandi. Tanya saja pada Mommy. Kalau dibuang, nanti aku tidak bisa main lagi,"


"Kalau mau bermain di kamar! bukan di kamar mandi! mengerti tidak?!"


Devan mematikan shower yang airnya menganggur karena Adrian sibuk bermain mobil-mobilan di dalam bathtub.


"Cepat keluar sekarang!"


"Aku belum pakai shampo," anak itu menjawab. "Lalu apa yang kamu lakukan sejak tadi? kenapa belum pakai shampo?"

__ADS_1


"Nanti, kalau sudah selesai main mobil-mobilan,"


Devan menggeram seraya mengacak rambutnya kesal. Ia mengeluarkan suara dalam dan tegasnya yang membuat Adrian cepat-cepat keluar dari bathtub dan menyimpan mobil-mobilan kecil berwarna merah, putih, dan kuning miliknya di sebuah wadah kecil yang memang sudah disiapkannya untuk menyimpan tiga mobil-mobilan itu.


"Selesaikan sekarang juga! sebelum Daddy marah,"


Devan menutup pintu kamar mandi setelah keluar. Ia menghembuskan napas seraya mengelus dada. "Lov, buang mobil-mobilan yang biasa dipakai Adrian untuk bermain di kamar mandi. Kamu tahu tentang hal itu tapi kamu biarkan?"


"Oh dia lama karena itu?" tanya Lovi bingung. Karena seingatnya saat Ia masuk tadi, Adrian tengah menyikat giginya. Padahal seharusnya cukup membasuh tubuh karena sebelum berenang tadi, Ia sudah mandi dan membersihkan gigi.


"Buang mobil-mobilannya. Aku tidak mau tahu,"


"Sudah pernah aku buang. Tapi dia menggunakan mainan yang lain. Waktu itu aku buang kereta Thomas yang dia pakai untuk bermain di kamar mandi. Lalu sekarang menggunakan mobil-mobilan," cerita Lovi pada suaminya.


Tak lama, Adrian pun keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk bergambar kereta Thomas di pinggangnya. Ia segera meraih baju yang telah disiapkan Lovi untuk dikenakannya di dalam kamar mandi.


"Berganti baju di walk in closet bukan di kamar mandi. Kamu lupa? atau mau main mobil-mobilan lagi di sana?"


Adrian segera berbalik seraya tersenyum lebar. "Lupa," katanya dengan santai. Lalu berjalan memasuki tempat yang dikatakan Daddy-nya itu.


Sebelum masuk ke dalam sana, Ia sempat mengerinyit ke arah Andrean yang sedang tersenyum kecil menatap layar ponsel Mommy-nya.


"Huh, senyum-senyum sendiri,"


"Apa? aku sedang mengobrol dengan Adrina, Thalia, dan Revin,"


"HAH?! ADA MEREKA? AKU JUGA MAU BICARA,"


"Hey, pakai dulu bajumu baru naik ke atas ranjang. Spreinya sudah Mommy ganti, jangan sampai basah lagi karena kamu, Adrian." Lovi menghalangi Adrian yang akan melompat ke atas ranjang.


Adrian mendengus lalu meneruskan langkahnya. "Cepat ganti bajunya! jangan lama-lama. Daddy heran dengan kamu. Mandi lama, bercermin juga lama. Mommy yang perempuan saja tidak seperti kamu,"


"Iya, aku akan cepat. Karena aku mau bicara dengan teman-temanku,"


"Itu suara Adrian?"


"Ya, dia sedang memakai baju,"


Adrian mendengar dari dalam tempatnya memakai baju sekarang. Ia menyahuti Adrina dengan suaranya yang kencang, "HALLO ADRINA!"


Sayangnya Adrina tidak mendengar sapa yang diucapkan oleh Adrian karena kebetulan Thalia sedang bicara.


Adrian selesai mengenakan baju. Kemudian, Ia segera bergabung bersama sang kakak dan teman-temannya yang sedang tersambung melalui panggilan video.


"Hey, aku menyapamu tadi. Tidak dengar?!" serunya pada Adrina yang sedang bercerita dengan Revin dan Thalia. Andrean lebih banyak menjadi pendengar. Oleh sebab itulah Ia menyerahkan ponsel Lovi pada Adrian yang lebih pandai berinteraksi daripada dirinya.


Andrean turun dari ranjang dan menghampiri boks tempat adiknya tidur. "Hey, kenapa aku sendiri yang di sini?" tanya Adrian menatap kakaknya.


"Aku 'kan sudah mengobrol dengan mereka. Sekarang giliranmu,"


Andrean ingin melihat adiknya tidur. Walaupun Adrian begitu riuh di dalam kamar, tumben sekali Auristella tidak bangun.


"Andrean, ayo keluar. Biar Mommy di sini jaga Auris,"


"Ada Adrian yang bisa jaga Auris, Dad." disela obrolannya dengan Revin, Adrian masih sempat-sempatnya menyahuti ucapan sang ayah.


"Mana mungkin? yang ada juga kamu buat dia bangun dan menangis,"


Adrian mengendikkan bahunya, "Ya sudah, kalau tidak mau. Padahal aku ini kakak yang baik,"


Andrean mengikuti Devan keluar setelah mengecup pipi Auristella. Bertepatan dengan pintu kamar dibuka Devan, rupanya Vanilla juga mau masuk ke kamarnya. Tangan yang ingin mengetuk pintu akhirnya tergantung di udara karena pintu sudah terlanjur terbuka.


"Ada apa?"


"Andrean, ikut Aunty jalan-jalan cari makanan, mau tidak?"


"Tadi 'kan sudah makan,"


"Makan lagi,"


Devan melewati sang adik yang tengah bicara dengan anaknya seraya berbicara, "Makan terus," Vanilla menoleh kesal.


"Ya sudah, aku perlu berganti baju?"


"Bukan masalah tampan, pakaianku tepat untuk dibawa pergi tidak?"


"Tepat, Sayangku. Memang kamu harus memakai apa? tuxedo? tidak mungkin 'kan?"


Akhirnya Vanilla berjalan mendekati suaminya, diikuti oleh Andrean. "Mau kemana?" tanya Zio saat Vanilla menarik tangan suaminya tak sabaran padahal Jhico tengah mendengarkan cerita dari Akra yang mengatakan perusahaannya hampir hancur karena sahabatnya sendiri.


"Tapi setelahnya kalian baik-baik saja?"


"Ya, aku berusaha untuk tetap baik padanya. Lagipula dia sudah mendapat ganjaran yang setimpal,"


Jhico mengangguk dan bangkit untuk menemani Vanilla pergi. "Mau jalan-jalan lah. Yang single lebih baik diam," jawab Vanilla atas pertanyaan sepupunya, Zio.


"Pasti beli makanan 'kan? jangan lupakan aku ya,"


*********


"Besok kamu berlibur ke kebun binatang, besoknya lagi kemana?"


"Entah, Daddy-ku orang sibuk jadi sulit sekali bila---"


"Daddy aku juga sibuk. Tidak usah belagu begitu kamu,"


Adrian mulai berdebat lagi dengan Adrina. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya. Tapi mereka tetap saja tersambung di video call, bukannya diakhiri saja daripada membuat keduanya sama-sama menarik urat.


"Aku tidak belagu! aku 'kan hanya cerita kalau Daddy aku itu orang sibuk, bahkan sangat-sangat sibuk, jadi sedikit sulit untuk ditebak jadwalnya. Aku belum bisa menentukan akan berlibur kemana besok lusa karena takutnya Daddy---"


"Iya, aku paham. Lanjut ke topik lain,"


"Revin, kamu pergi ke rumah Nenek?"


"Iya, dan itu menyenangkan sekali. Suasana di sana berbeda dengan di sini,"


"Jelas saja, 'kan beda negara,"


"Thalia, rasanya berlibur dengan teman-teman kerja ayahmu bagaimana? bosan pasti ya? 'kan semuanya orangtua,"


Thalia terbahak dan menggeleng, "Mereka semua juga membawa anak. Jadi aku ada teman,"


"Oh, aku belum pernah seperti itu,"


"Lain kali kalau ada gathering di kantor Daddy-mu ikutlah,"


"Tapi Daddy tidak pernah mengatakannya. Aku mana tahu kalau ada kegiatan seperti itu,"


"Makanya harus sering-sering bertanya pada orangtua tentang kegiatan mereka, itu bentuk perhatian juga. Jangan hanya mereka yang melakukan itu pada kita,"


Adrian mengangguk, Ia memang jarang sekali bertanya pada Devan 'Seharian ini Daddy melakukan apa saja?' 'Daddy lelah tidak?' karena Adrian pikir Devan tidak perlu pertanyaan itu.


"Liburan kita bermacam-macam ya."


"Iya, besok kamu akan mendatangi tempat apa lagi?"


"Belum tahu, Daddy yang punya rencana. Dia 'kan big boss. Aku juga calon big boss,"


"Mana ada big boss yang seperti kamu. Setiap hari pasti semua karyawan dibuat pusing dengan tingkahmu. Seorang leader itu harus bijaksana dan tegas, bukan yang hobi berlari ke sana ke mari, hobi bermain, dan mengganggu orang lain seperti kamu,"


"Halah jangan sok tahu kamu! nanti saat aku besar, aku pasti bisa berubah,"


"Berubah jadi apa? power ranger? atau robot besar milikmu yang pernah kamu ceritakan itu?"


"Errghh Adrina!"


"Adrina, sudah lama sepertinya kamu mengobrol. Kamu belum makan,"


"Iya, sebentar, Mom."


"Cepatlah makan! nanti sakit," ucap Adrian setelah mendengar Adrina ditegur Sheva.

__ADS_1


"Ah kamu cerewet."


"Diberi tahu malah begitu,"


"Sepertinya video call ini hanya untuk kalian berdua saja ya. Aku dan Revin tidak dianggap," cibir Thalia yang diangguki oleh Revin. Sedari tadi Adrian dan Adrina sibuk berdua, entah itu bercerita atau berdebat. Sementara Thalia dan Revin hanya sesekali diberi kesempatan untuk mengeluarkan suaranya.


"Hey, jangan merajuk Thalia yang cantik. Ayo, kita berbincang juga, jangan pedulikan anak nakal itu,"


"SIAPA YANG NAKAL?!"


Semuanya terkejut saat Adrina berteriak tidak terima, tak terkecuali para orangtua yang juga ikut menjadi pendengar ditengah perbincangan anak-anak mereka. Lovi yang sedang memeluk Adrian seraya berbaring, dan mendengarkan seksama sampai dibuat tersentak begitu mendengar teriakan nyaring milik gadis kecil itu.


"Kamu lah, siapa lagi? tidak mungkin aku."


"Nah 'kan mulai lagi sibuk berdua," Hela napas Revin seraya menggeleng, memperhatikan kedua temannya yang tak pernah tenang dan tentram bila dipertemukan. Bukan hanya pertemuan langsung, bahkan secara virtual pun seperti itu. Kalau di sekolah, mungkin mereka sudah saling berkejaran.


Lovi mengelus lengan anaknya, "Tidak boleh begitu dengan Adrina. Dia temanmu,"


"Sahabat," koreksi Adrian yang membuat Lovi menahan senyum. "Kalau sahabat kenapa selalu bertengkar?"


"Tidak ada pertengkaran rasanya sangat hambar, Mom. Namanya juga persahabatan," Lovi menggeleng merasa kalah bila anaknya sudah bicara seperti itu. Sebenarnya Lovi juga membenarkan perkataan Adrian. Tetapi Ia sudah lama tak merasakan persahabatan semenjak sahabatnya pergi meninggalkan dirinya dulu ketika Lucas, ayah Lovi tertangkap korupsi. Sejak saat itulah Lovi lupa bagaimana rasanya punya sahabat. Hidupnya langsung dibuat kesepian pada saat itu.


"Di tempat berlibur kamu, ada yang jual buah tangan tidak? nanti saat masuk ke sekolah, bawakan aku ya,"


"Ssstt, tidak boleh minta-minta begitu," Sheva menegur putrinya. Adrina langsung terkekeh karena di pelototi oleh Sheva. "Bercanda, Mom."


"Revin, Thalia, kalian juga jangan lupa bawa buah tangan. Kalau aku 'kan lebih banyak berlibur di rumah, jadi tidak ada buah tangan,"


"Adrina..." panggil Sheva dengan lembut, Ia menggeleng memperingati Adrina yang masih lanjut menagih buah tangan.


"Iya, siap! nanti setiap aku pergi ke suatu tempat, pasti aku bawakan buah tangan. Kemarin aku ke kebun binatang, aku pulang membawa buaya, kalian akan kebagian, tenang saja," jawab Adrian yang mengundang tawa semuanya.


"Jangan buaya! makanan atau mainan maksudku,"


"Yang penting buah tangan 'kan? kamu sudah meminta, malah banyak request lagi. Tidak tahu dir---hmmpp, Mommy!"


Adrian melepaskan bekapan Lovi di mulutnya. Lovi tak akan membiarkan anaknya melanjutkan kalimat itu. Ada orangtua Revin, Thalia, dan Adrina juga di video tersebut. Terdengar tidak sopan sekali bila Adrian mengatakan Adrina 'tidak tahu diri'.


********


"Huwaa panas,"


Andrean menggeram saat hotdog yang masuk ke dalam mulutnya terasa membakar lidah.


"Minum," Jhico mendekatkan orange juice miliknya pada Andrean. "Tunggu minum aku saja," jawab Andrean ekspresi yang lucu karena kepanasan.


"Tidak apa, minum punya Uncle,"


Jhico kasihan melihat anak itu. Minuman miliknya belum datang sama halnya dengan Vanilla.


Vanilla langsung mengambil minum suaminya dan memaksa Andrean untuk minum. "Lidahmu merah-merah nanti, dan kalau dilihat Daddy, habis Aunty."


"Daddy tidak sedetail itu, Aunty." akhirnya Andrean menyeruput minuman milik Jhico. Dibantu oleh Vanilla yang memegang gelasnya.


"Tidak terlalu dingin ya minumannya,"


"Sengaja, Uncle mau yang seperti itu. Lagipula kalau habis makan yang panas-panas jangan minum yang dingin apalagi kalau gigimu sensitif,"


"Gigi aku tidak pernah sakit, Uncle, walaupun habis makan yang panas dan langsung minum sesuatu yang dingin,"


"Kalau bisa, jangan dibiasakan. Sayang gigimu kalau diperlakukan seperti itu terus,"


Vanilla berseru senang saat makanan dan minuman yang dipesannya datang. "Aunty semangat sekali melihat makanan. Memang selapar itu?"


"Perut Aunty sudah berontak sejak tadi,"


"Kita lama sampai di sini karena kamu tidak mau menggunakan mobil. Kalau kita naik mobil, pasti sudah makan dari tadi,"


"Kamu sendiri bilang kalau aku ini jarang olahraga,"


"Aunty kalah dengan aku," ujar Andrean yang tidak biasanya menyombongkan diri. Dia menjadi pengganti adiknya untuk saat ini, hingga akhirnya Jhico terkekeh.


"Ya, kamu memang pintar dalam segala hal. Berkat olahraga, lihat badanmu sekarang! Astaga, masih kecil sudah kekar sekali,"


"Aku 'kan mau membentuk otot perut, Daddy langsung marah-marah,"


Vanilla terperangah mendengar cerita Andrean. "Jelas saja, usia kamu belum tepat untuk membentuk otot perut,"


"Supaya keren, seperti Daddy,"


"Daddy sudah dewasa. Kalau masih kecil tidak perlu membentuk otot perut. Cukup olahraga yang ringan-ringan saja,"


"Aneh-aneh saja kamu, Andrean." Jhico menggeleng heran. Tidak salah Devan marah. Kalau Andrean melakukan itu, bukannya Devan bangga, Ia malah khawatir.


"Uncle ada otot perut?"


"Tidak ada,"


"Ada!" Vanilla melotot pada suaminya yang tak mengakui.


"Kamu ada, tapi tidak terlalu terlihat,"


"Wow, keren! aku belum melihatnya karena setiap kita berenang, Uncle selalu pakai baju."


"Memang begitu dia. Sok malu-malu tapi giliran di kamar--"


"Hmm!" Jhico berdehem keras seraya menatap Vanilla dengan tajam. Vanilla segera membungkam mulutnya yang terkadang sulit dikendalikan itu.


"Kalau di kamar kenapa?" tanya Andrean penasaran karena ucapan Vanilla belum selesai.


"Hmm---"


Saat Vanila sedang berpikir untuk mencari jawaban, ponsel Vanilla yang ada di atas meja bergetar. Andrean sedikit mendekatkan kepalanya ke arah benda yang menyala itu, Ia membaca nama si penelpon karena ikut penasaran, "Mommy,"


"Iya, kenapa Mommy-mu menelpon Aunty ya?"


Andrean mengendikkan bahunya tak tahu. Ia menatap Vanilla yang langsung menyapa Lovi. Bukan suara Lovi yang didengarnya, melainkan teriakan Adrian.


"AUNTY, KENAPA PERGI TIDAK AJAK AKU? ANDREAN DIAJAK, MASA AKU TIDAK?!"


"Astaga, suramu bisa membuat telinga Aunty rusak, Adrian."


"Adrian benar-benar tidak sopan!"


Vanilla mendengar Lovi tengah menegur anaknya. "Bukannya sapa dengan baik, malah marah-marah."


"Aunty buat aku kesal,"


"Bukan berarti kamu bisa teriak-teriak,"


Vanilla mengusap dahinya bingung. Anak dan Mommy-nya tengah berdebat. Lovi tidak ingin anaknya bersikap kurang ajar sementara Adrian terus mengakui kalau Ia tidak salah dengan alasan kalau Vanilla yang membuatnya kesal.


"Maaf tidak mengajakmu. Nanti saat pulang Aunty bawakan sesuatu ya? kamu mau apa?"


Adrian tak langsung menjawab. Ia mendengkus sampai akhirnya Vanilla mengulangi pertanyaan yang sama.


"Sekarang Aunty sedang apa?"


"Makan,"


"JAHAT KAN!" serunya tak terima. Astaga, makan-makan apa lagi bila di luar adalah salah satu hal yang paling disukai Adrian.


"Makan apa?"


"Steak"


"Ya sudah, aku juga mau itu."


"Baiklah, nanti Aunty bawa."


"Iya, jangan lama-lama, Aunty."

__ADS_1


"Siap pangeran kecil,"


__ADS_2