My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kematian tidak pernah diinginkan


__ADS_3

"Ya Tuhan, apa lagi ini? baik-baik, aku akan segera ke sana,"


Kondisi Auristella belum sehat, tapi Raihan harus mendengar kabar bahwa anak dan menantunya kecelakaan. Bito, Lovi, dan Devan sedang dalam penanganan.


Rena dan Senata belum ada yang tahu mengenai kabar ini. Sebaiknya memang jangan dulu. Biarkan mereka fokus terhadap Auristella.


Saat matanya terbuka lalu Ia masih bisa melihat semuanya, Devan tidak henti memuji kebesaran Tuhan.


Ia kira kematian lah yang akan menyambutnya setelah peristiwa tadi. Karena Ia bisa merasakan bahwa kecelakaan itu tidaklah biasa saja. Ternyata Tuhan masih mengizinkan Ia untuk hidup di dunia ini.


Devan meringis sesekali memegang kepalanya yang pening luar biasa. Sudut bibirnya pun terasa nyeri entah terbentur dimana, Devan tidak ingat sama sekali. Namun semua rasa sakit itu tidak sebanding dengan perasaan Devan yang bahagia saat nyawanya masih ada.


Orang pertama yang ditanyakan setelah Ia tersadar adalah istrinya. Ia bersyukur masih baik-baik saja. Apa kabar dengan Lovi yang seingatnya mengalami kondisi lebih parah daripada dirinya.


"Lovi belum sadar, Pa?"


"Belum, tunggu saja. Kita harus banyak mengucap syukur pada Tuhan. Organ-organ tubuh kalian tidak ada yang rusak parah,"


"Bito bagaimana?"


"Dia masih belum sadarkan diri tapi kepalanya harus dijahit karena terbentur lumayan keras dengan stir mobil juga sedikit terkena pecahan kaca di sampingnya,"


"Lovi tidak begitu parah?"


"Lebih baik kondisi kamu daripada Lovi. Gigi Lovi ada yang patah dan itu menyebabkan pendarahan,"


Seingatnya juga bukan hanya itu saja. Devan sempat melihat hidung Lovi mengeluarkan cairan merah yang kental.


"Aku ingin melihat Lovi, Pa."


"Kamu saja masih seperti ini kondisinya,"


**********


"Sayang sekali Nona Auris tidak bisa meminum air susu Ibunya. Padahal itu cukup membantu untuk memulihkan dan juga meningkatkan imunitas tubuhnya,"


Rena dan Senata juga sedikit kesal dengan Lovi dan Devan yang tidak ada kabarnya sama sekali setelah telepon kemarin. Apa mereka tidak memikirkan Auristella di sini?


Usai melihat keadaan Devan dan Lovi, saatnya Raihan menjenguk sang cucu. Ia menghampiri dokter yang tengah berbicara dengan Rena dan Senata di depan ruang perawatan Auristella.


"Ibunya sedang sakit, Dok." Bisa saja dokter yang menangani Auristella salah paham. Mungkin Ia mengira Lovi tidak peduli. Nyatanya bukan seperti itu. Ia sendiri tengah berjuang melawan rasa nyeri di kepala, hidung dan mulutnya.


Tadinya Raihan akan menutupi ini semua sampai Auristella sehat. Tapi sepertinya sangat perlu dijelaskan.


"Pa..."


"Saya permisi," pamit dokter itu.


Raihan meminta Senata dan Rena duduk dengan tenang. Ia mulai menceritakan kronologi yang baru saja terjadi.


"Lovi tidak salah. Dia sudah berusaha untuk hadir tapi takdir berkata lain,"

__ADS_1


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Sudah sadarkan diri tetapi saat aku tinggal dia kembali istirahat. Ia mengeluh pusing dan mual. Giginya ada yang patah sampai pendarahan. Dokter menyuruhnya untuk banyak istirahat,"


"Lalu Devan?"


"Dia anak yang kuat. Baru sadar sudah bisa bangun dari bangsal hanya untuk melihat kondisi istrinya,"


*******


"Grandpa lama sekali tidak pulang-pulang,"


"Mungkin keadaan Auris masih membuat Grandpa khawatir jadi belum pulang sampai sekarang,"


"Aku takut sekali,"


"Takut kenapa?"


"Entah, perasaanku tidak enak sejak tadi,"


Andrean baru menyadari kalau adiknya memang berjalan kesana kemari sedari tadi. Mereka sudah sepanik ini padahal belum mengetahui kabar terbaru dari kedua orangtuanya.


"Tuan kecil, sudah mengerjakan tugas sekolah?"


Tidak melihat Andrean pegang buku setelah pulang sekolah adalah hal yang langka. Sehingga itu cukup mencuri perhatian pelayan.


"Tidak bisa konsentrasi. Aku juga bingung dengan otakku,"


"Belajar yang benar, Andrean!" Adrian menegur kakaknya yang membaca tapi terlihat gelisah. Mereka berdua sama-sama cemas. Selain karena Raihan tidak kunjung pulang, Auris sakit, mereka merasa ada hal lain yang juga mengganggu pikiran.


"Kalau tidak fokus, istirahat dulu. Jangan dipaksakan,"


"Aku bisa. Doakan saja, karena dua hari lagi ada olimpiade dan persiapanku belum matang,"


Hal itu semakin membuat Netta terkejut. Andrean akan mengikuti olimpiade tapi cara belajarnya sangat berbeda dari biasanya. Rupanya benar Andrean tengah khawatir dengan adiknya.


"Auris jangan terlalu dipikirkan, Tuan kecil. Ada Grandma dan Grandpa yang menjaga. Fokus saja pada olimpiade,"


"Netta, aku boleh gunakan telepon ini?" tunjuk Adrian pada telepon mansion yang selalu tersambung.


"Untuk apa?"


"Menelpon Grandpa. Aku penasaran kenapa Grandpa belum pulang juga. Tadi izinnya mau menjenguk Auris. Tapi kenapa lama sekali? aku takut terjadi sesuatu pada Auris,"


*******


Lovi sangat sulit diberi pengertian oleh Devan. Berkali-kali Devan mengatakan bahwa kesehatannya juga harus dipikirkan. Auristella akan semakin buruk bila penopangnya juga sakit. Devan memohon pada Lovi agar sembuh terlebih dahulu baru kemudian memikirkan Auristella. Tapi tetap saja tidak bisa Lovi turuti.


"Aku tidak melihatnya tidak apa-apa. Tapi aku ingin memberinya air susu,"


"Lov...."

__ADS_1


"Mungkin dengan susu, dia bisa lebih baik. Hanya dengan itu aku bisa menyapanya," lirih Lovi dengan perasaan hancur.


Melihat kondisi dirinya sendiri yang masih cukup parah, kali ini Lovi akan menuruti perkataan dokter yang belum mengizinkan Lovi turun dari bangsal dan banyak beristirahat. Tetapi setidaknya Ia bisa memberi dukungan untuk Auristella dengan sumber makanan darinya.


"Baiklah, kamu siapkan saja. Rencananya aku akan menjenguk Auris nanti. Susunya aku yang bawa. Tapi bukankah kamu baru minum obat, Lov? Memang itu baik untuk Auris?"


"Belum, aku belum minum obat. Aku sengaja melakukannya agar susuku baik untuk Auris,"


Devan tersenyum tipis mendengarnya. Ternyata baru luka yang dibersihkan. sementara rasa nyeri di dalam belum Ia hilangkan dengan obat.


Lovi setuju. Tapi Ia menatap Devan dari atas sampai bawah seolah memastikan.


"Kamu sudah lebih baik? apa bisa menjenguk Auris?"


"Bisa, Lov. Kepalaku hanya pening. Tidak ada yang terluka,"


"Kata siapa? keningmu kenapa diplester?"


"Hanya luka kecil,"


******


Raihan datang membawa makanan untuk Senata dan Rena. Mereka berdua belum ada yang makan sejak pagi. Karena ingin selalu mendampingi Auristella.


Rencananya Ia akan pulang setelah ini. Biar bagaimanapun Ia meninggalkan Andrean dan Adrian di mansion. Mereka juga butuh dirinya.


Saat melangkah keluar dari rumah sakit, ada sebuah panggilan yang masuk. Dari telepon mansion. Pikiran buruk langsung menghantuinya. Ada Andrean dan Adrian di mansion yang tidak Ia ketahui kabarnya sejak beberapa jam lalu.


Cepat-cepat Ia mengangkat. Dan suara Andrean langsung menyapanya.


"Grandpa, kenapa belum pulang?"


"Hallo, Grandpa." suara Adrian ikut terdengar.


"Grandpa sudah diperjalanan pulang. Tunggu sebentar ya?"


"Baiklah, hati-hati, Grandpa."


*******


Saat memasuki ruang perawatan anaknya, Devan tidak bisa menahan kesedihan. Auristella sedang terlelap dalam tidur. Bibir kecilnya pucat. Napasnya ketika tidur tidak tenang seperti biasanya. Mungkin karena ada rasa sakit di tubuhnya sehingga menjadikan Ia kurang nyaman dalam tidur.


"Hallo, Sayang. Daddy datang," Devan berbisik di telinga Auristella. Ingatan Devan terlempar pada saat Auristella juga pernah mendapat perawatan di rumah sakit setelah dilahirkan karena penyakit Transient Tachypnea of Newborn.


"Maaf, Mommy belum bisa datang. Maaf juga Daddy datang sangat terlambat. Cepat sembuh, kamu tidak rindu saling membalas kejahilan dengan kakakmu?"


Tangan kokoh itu mengusap lembut dan hangatnya pipi bulat Auristella. Ia tidak biasa melihat anaknya lemah seperti ini. Auristella selalu menjadi anak yang riang sekalipun sakit. Tetapi untuk kali ini sangat berbeda.


"Doakan Mommy cepat pulih juga ya? kalian harus saling menguatkan lewat batin tentu saja,"


-----------

__ADS_1


__ADS_2