
Jane dan Richard memilih untuk menghabiskan malam pertama mereka di mansion, berkumpul bersama keluarga Jane dan besok waktunya untuk berkunjung ke rumah orangtua Richard.
Jane dan Richard menjadi bulan-bulanan semua sepupu Devan saat ini karena mereka masih nyaman di luar, bukannya sibuk di kamar.
"Kalau aku jadi kau, sudah aku bantai habis, Ri." Zio menggebu-gebu dengan tujuan menghasut Richard yang terlihat santai saja di malam yang seharusnya menjadi awal menyenangkan untuk mereka setelah menikah.
"Terlalu buru-buru, tidak baik." jawab Devan dengan tenang.
"Halah tidak usah sok suci begitu kau, Dev. Malam pertama adalah hal yang paling dinantikan terutama oleh kaum-kaum seperti kita---"
"Kita? kau saja, tidak dengan aku." sanggah Devan dengan rasa tidak terima. Lovi menyenggol lengannya kemudian berbisik saat semua orang sibuk menggoda Jane.
"Anda terlalu naif," ujar Lovi yang membuat Devan menahan tawa. Lovi baru saja menyindir dirinya. Jelas-jelas apa yang dikatakan Zio adalah gambaran Devan di masa lalu. Tapi dia enggan mengakui.
"Kalau kau tidak, artinya kau bukan laki-laki."
"Hey, bukan hanya laki-laki. Yang perempuan juga begitu," sahut Jhon hingga mengundang tawa Akra.
Pembahasan ini sangat dewasa dan beruntungnya semua anak-anak sedang sibuk bermain. Mereka tidak ada yang ikut campur saat para orangtua berbicara sinting seperti saat ini.
*****
Raihan mengalami demam setelah acara pernikahan Jane tadi. Rena mengurusnya dengan sabar.
Kalau sedang sakit, Raihan lebih cerewet. Ada sedikit hal yang tidak sesuai dengan hatinya, pasti Ia protes.
Seperti saat ini, Ia tidak suka bila bubur yang dibuat maid kurang hangat. Jadi Rena terpaksa buat yang baru.
"Yang hangat ya. Ingat, jangan sampai lupa."
"Iya, aku buatkan sekarang."
"Terima kasih,"
Rena mengangguk dan keluar dari kamar. Raihan memang jarang sekali sakit tapi sekalinya sakit bisa bertahan lama. Sepertinya Ia terlalu kelelahan. Wajar saja, karena Ia masih tetap sibuk bekerja sementara usia sudah senja. Entah apa yang ingin diraihnya. Semua sudah tercapai. Tapi masih saja memiliki ambisius yang sangat tinggi.
Rena bingung melihat anak dan keponakannya tertawa riuh di ruang keluarga. Seolah dunia hanya milik mereka.
"Kalian menertawakan apa sih?"
"Orang tua tidak akan paham,"
"Huh? tidak sopan sekali anak ini," sahut Rena tidak terima atas ucapan Zio yang langsung tertawa begitu Rena menyahuti nya. Lelaki itu adalah Adrian versi dewasa. Pandai sekali membuat orang kesal dengan ucapan dan tindakannya.
Lovi yang melihat Rena ke dapur pun mengikutinya. "Ma, ada apa?"
"Hmm? tidak ada apa-apa, Mama hanya ingin membuatkan bubur untuk Papa,"
"Bubur? tidak biasanya--"
"Sakit,"
"Papa? Papa sakit?"
"Ya, demam."
"Sejak kapan, Ma? kenapa tidak dibawa ke rumah sakit? aku minta Devan untuk mengantar---"
"Tidak, Papa tidak akan mau,"
"Tapi sudah minum obat?"
"Belum, sekarang Mama mau buatkan bubur lagi. Bubur yang tadi dibuatkan maid kurang hangat katanya,"
"Aku saja yang buatkan, Mama temani Papa di kamar,"
Mendengar siapapun sakit, Lovi adalah orang yang sangat peduli. Bahkan bila ada salah satu maid yang sakit pun, Ia tidak segan untuk memberikan perhatian. Apalagi ini, Papanya.
Sebenarnya dengan Lucas juga demikian. Saat mendengar kabar dari Devan bahwa sang ayah sakit, Lovi langsung merasa cemas. Tapi ego mengalahkan kepeduliannya. Sehingga Ia terlihat seperti tokoh antagonis.
Lovi akan meracik makanan untuk Raihan, tapi tangannya dihalangi oleh Rena. Ibu dari suaminya itu menggeleng tidak mengizinkan.
"Mama saja, kamu kembali ke dalam."
"Ma, barangkali Papa ada keperluan lain. Lebih baik Mama--"
"Tidak usah, Sayang. Mama saja yang buatkan,"
"Ya sudah, kalau butuh apa-apa, segera beri tahu aku."
Rena mengangguk dan membiarkan Lovi keluar dari dapur. Lovi pergi ke lantai dimana Playground berada. Kebetulan tempat anak-anak bermain letaknya tidak jauh dengan kamarnya, kamar Raihan dan Rena, kamar kedua anaknya juga, sehingga bila mereka ribut apalagi sampai ribut diluar playground pasti cukup mengganggu.
Lovi berdecak saat melihat Adrian berlarian keluar dari playground seraya menaiki hoverboard miliknya, dikejar oleh Genta.
"Ssstt hey jangan berisik. Bermain di dalam playground,"
"Wwwwssttt ayo kejar aku," Adrian tetap saja sibuk sendiri. Lovi memanggil Adrian lebih tegas.
"Adrian berhenti!"
Hoverboard yang dikendarainya berhenti tepat di depan pintu kamar Raihan. Ia kabur ke arah kamar kakeknya.
"Jangan berisik, Grandpa sedang sakit. Kalian jangan mengganggu Grandpa,"
"Sakit apa, Mom?"
"Demam, jangan berisik ya. Main yang akur. Dan masuk ke playground, tidak usah lari-larian di sekitar kamar,"
"Okay, Aunty." sahut Genta dan segera mematuhi ucapan Lovi. Melihat Adrian berjalan ke kamar kakeknya, Genta mengikuti.
"Kamu mau apa?"
"Mau lihat Grandpa,"
Lovi sudah turun ke lantai bawah usai menasihati anak dan keponakannya. Sementara Adrian memasuki kamar Raihan. Pemiliknya tengah berbaring di atas tempat tidur seraya memejamkan mata.
"Grandpa, sakit? kenapa bisa?"
__ADS_1
Mata Raihan mengerjap saat mendengar suara sang cucu. Ia terkejut melihat Adrian dan Genta sudah berada di kamarnya.
"Grandpa kenapa bisa sakit?"
"Ya bisa lah, namanya juga manusia,"
Bukan Raihan yang menjawab tapi Genta. Anak itu ketus sekali menyahuti ucapan sepupunya. Pertanyaan Adrian terdengar menyebalkan. Memang Ia pikir Raihan itu robot yang tidak bisa tumbang karena kondisi tubuh yang melemah?
"Ke sini, temani Grandpa."
"Kata Mommy, aku tidak boleh ganggu. Aku hanya ingin melihat Grandpa saja tadi. Sekarang aku keluar ya,"
"Temani Grandpa. Keluar untuk apa? bermain ya?"
"Iya,"
Raihan menggeleng dan menepuk sisi di sampingnya agar Genta dan Adrian menempatinya.
"Grandma dimana? kenapa tidak menemani Grandpa di sini?"
"Sedang---"
Cklek
"Ini buburnya,"
"Woaah Grandma buat bubur? untuk aku?"
"Untuk Grandpa. Adrian mau? masih ada sisa nya di dapur, minta diambilkan oleh Mommy ya,"
Rena duduk di bibir ranjang kemudian membantu suaminya untuk bangun dari posisi berbaring nya.
Adrian dan Genta juga turut membantu, membuat kakek dan nenek itu tersenyum. "Terima kasih cucu-cucu Grandpa,"
"Ya, sama-sama, Grandpa."
"Aku mau makan bubur," seru Adrian semangat.
"Ikut-ikut Grandpa saja. Memang kamu sakit?"
"Orang yang makan bubur itu bukan berarti sakit," ujar Adrian dengan gaya nya yang tengil. Saat Ia akan keluar dari kamar, Raihan minta disuapi olehnya.
Kemudian Ia menggeleng. "Aku mau makan juga, Grandpa. Aku ambil bubur punya ku dulu, nanti aku ke sini lagi. Aku suapi Grandpa ya,"
"Okay, Jangan lama-lama,"
"Ya, tidak biasanya Grandpa manja,"
Anak itu keluar bersama sepupunya, Genta. Kemudian memanggil Lovi yang duduk di meja makan bersama Nindya dan Jo.
"Mom, tolong ambilkan bubur sisa Grandpa untukku ya. Aku mau makan itu,"
"Itu 'kan punya Grandpa. Adrian mau? Mommy buatkan ya?"
"Kata Grandma boleh ambil yang sisa Grandpa,"
Adrian mengikuti Lovi ke dapur. Sampai Lovi mengambil mangkuk pun diikuti olehnya. Setelah diambilkan bubur oleh Lovi, Adrian kembali lagi ke kamar kakeknya.
Ia melarang Genta untuk ikut. "Kamu seperti ekor saja. Tidak boleh ikut lagi!"
"Memang kenapa sih? Genta tidak mengganggu kamu," Lovi menegur anaknya yang galak pada Genta.
"Aku hanya ingin sendiri ke kamar Grandpa,"
Karena Jo juga melarang sang anak, Genta, akhirnya Genta tidak menjadi buntut Adrian lagi. Ia sempat kesal. Ia mau ikut Adrian karena saat ini teman bermainnya tidak ada. Andrean sedang bersama adik dan Daddy nya. Kayla, adik nya juga seperti itu. Sementara Kenith dan Sandra entah dimana.
Adrian memasuki kamar Raihan dan kakeknya itu belum selesai makan. Ternyata benar-benar menunggunya.
"Ayo, kita makan bersama."
"Adrian akan suapi Grandpa,"
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama, Grandpa." ujar Adrian seraya mengangguk kemudian mengambil alih sendok dari tangan Rena. Ia menyuapi Raihan dengan senang hati.
"Grandpa, kalau tidak salah aku dengar Daddy bilang pada Grandpa Lucas kalau aku akan pindah ke rumah kira-kira satu bulan lagi,"
"Oh ya? Daddy mu belum mengatakan apapun pada Grandpa,"
"Ya, kemarin Daddy juga mengajak Grandpa Lucas untuk tinggal bersama. Tapi Grandpa Lucas masih menolak. Aku kasihan pada Grandpa Lucas,"
"Kenapa kasihan?"
"Sudah tua tapi tinggal sendiri, tidak ada temannya. Kalau butuh apa-apa artinya harus dipenuhi sendiri,"
"Adrian sudah ikut membujuk Grandpa Lucas belum?" tanya Raihan di sela mulutnya yang bergerak untuk melembutkan makanan.
"Sudah, Andrean juga sudah. Tapi Grandpa Lucas masih saja menolak. Aku rasa karena Mommy tidak peduli padanya,"
"Huh? Mommy mu bukan tidak peduli,"
"Tapi Mommy selalu tidak acuh pada Grandpa Lucas. Yang terlihat sangat peduli malah Daddy. Sebenarnya apa sih yang membuat Mommy terlihat jahat seperti itu? aku penasaran,"
"Mommy tidak jahat, Adrian." Rena memberi pengertian pada cucunya. Ia tidak akan membiarkan Adrian salah paham. Lovi masih belajar untuk menerima kenyataan bahwa Lucas pernah menjadi orang paling kejam di masa lalunya dengan menjual dirinya, sehingga Ia perlu waktu untuk menerima kenyataan itu.
"Tapi kalau bertemu dengan Grandpa Lucas, Mommy jadi seperti itu menurutku."
"Tidak boleh mengatakan orangtua jahat. Apalagi kalau kamu tidak tahu apapun,"
****
Sambutan keluarga besar Richard terhadap Jane sangat hangat. Mereka sudah lama menantikan Jane dan Richard tapi karena dilanda kemacetan, keduanya baru tiba menjelang siang. Sebelumnya, Jane dan Richard juga harus mengurus barang-barang mereka sebelum pindah ke rumah milik Richard pribadi.
"Ayo kalian makan dulu,"
"Sudah makan, Mom." jawab Richard
__ADS_1
"Makan dimana?"
"Di rumah kami tadi,"
"Memang bahan-bahan untuk memasak sudah ada?"
"Hanya ada pasta instan saja tadi. Dan aku suruh Jane membuatnya,"
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kalian istirahat dulu,"
Jane menahan Richard yang akan pergi. Lelaki itu menoleh dan mengangkat satu alisnya seolah bertanya 'ada apa?'
"Mau kemana?"
"Mau gym sebentar. Kamu kalau mau istirahat, silahkan. Di kamar aku,"
"Kamar kalian, bukan kamar kamu sendiri." koreksi dari Mommy nya membuat Richard mengangguk.
"Ya, kamar kita,"
Jane memilih untuk mengikuti langkah Richard. Ini baru pertama kalinya Ia memasuki rumah keluarga Richard sampai sejauh ini. Biasanya hanya di ruang tamu saja. Dan itu pun sangat jarang. Karena Jane lebih sering mengunjungi apartemen Richard.
"Kamu sering olahraga di sini?"
Jane menggunakan matanya untuk menelusuri ruang olahraga suaminya. Fasilitas untuk olahraga yang dimiliki Richard lumayan lengkap.
"Iya, setiap datang ke sini."
"Hanya kamu yang senang berolahraga?"
"Tidak juga, Daddy ku sering berolahraga tapi memang lebih suka lari pagi,"
"Aku juga lebih suka lari pagi, ah lebih tepatnya jalan sih. Karena aku tidak kuat lari. Paling hanya bertahan lima menit, setelah itu napas seperti terkena serangan jantung," jawaban Jane membuat Richard terkekeh pelan.
"Kamu mau ikut? daripada diam saja di sana,"
Jane memang duduk di salah satu kursi, ingin memperhatikan Richard berolahraga. Richard hanya tak habis pikir dengan perempuan itu. Kenapa lebih memilih diam daripada berkeringat seperti dirinya agar tubuh jauh lebih bugar.
"Tidak mau, aku takut lelah."
"Namanya olahraga pasti lelah. Tapi manfaat nya banyak,"
"Tidak mau," sekali lagi Jane menjawab lebih tegas. Akhirnya Richard tidak mengajak nya lagi. Ia membiarkan Jane duduk, entah melakukan apa. Ia yakin kerjaannya hanya membuka sosial media.
Memang benar, Richard baru pemanasan Jane sudah bosan, Jane mengeluarkan ponselnya dan memotret sang suami. Richard tidak tahu perilaku istrinya itu.
Jane mengirimkan gambar tersebut ke grup chat yang beranggotakan sepupu-sepupunya. Tidak dengan grup yang dihuni juga oleh para orangtua. Mereka sengaja memisahkan grup antara yang tua dengan yang muda karena Ia dan semua sepupunya terkadang merasa canggung bila harus bicara di ruang chat yang juga dihuni oleh orangtua mereka.
Jane : Ini kegiatanku (menemani SUAMI olahraga) kegiatan kalian apa?
Jane terkekeh sendiri melihat kalimat yang baru dikirim beserta gambar. Ia sengaja menggunakan huruf kapital untuk kata 'suami' yang memperjelas lagi status nya, bahwa Ia telah bersuami. Biar yang masih single seperti Zio dan Devira kepanasan.
Vanilla : Halah cuih! norak!
Jane hanya membalas pesan Vanilla dengan emoticon 🙄
Zio : Kirim gambar apa sih? tiba-tiba mata ku tidak bisa melihat.
Jane : Mau aku kirim lagi?
Zio : TIDAK USAH! AKU YAKIN GAMBAR YANG KAMU KIRIM TIDAK PENTING!!!
Jane tertawa lumayan kencang hingga Richard menoleh bingung. Namun Ia tak ambil pusing.
Lovi : Hmmm so sweet :)
Devan : My Lov, ngapain di sini? kamu mau so sweet seperti mereka juga? ayo, temani aku olahraga. Tapi tempat olahraga kita tentu saja berbeda.
Jane mendengus saat sepasang suami istri itu menjadikan grup sebagai tempat chat berdua, layaknya tidak ada penghuni grup chat yang lain.
Akra : Devan tidak tahu malu! pengantin lama tapi masih saja berkelakuan seperti pengantin baru. INGAT TIGA KURCACI MU HEY!
Lovi di kamarnya tertawa membaca pesan dari Akra untuk suaminya. Sementara Devan sudah sibuk lagi dengan pekerjaan nya. Ia hanya punya waktu sebentar untuk melihat ponsel.
Jane : Iya, yang baru seperti aku ini kalah sama dia. Mentang-mentang paling senior di sini, jadi semaunya saja.
Jane menggeleng pelan masih dengan sisa tawanya. Mereka tidak terima ketika Devan tebar kemesraan, Lelaki itu sengaja membuat sepupunya kesal.
Vanilla : Jane, tidak ikut olahraga? apa yang kamu lakukan? hanya menonton? hati-hati lho, body mu bergelambir nanti Richard cari yang masih kencang. Bisa jadi dia naksir teman gym nya. Dia suka gym di luar 'kan?
Jane menggeram saat Vanilla mengirim pesan seperti itu. Ia menatap Richard dengan tajam sementara lelaki itu tidak sadar sama sekali.
"Richard!" panggilnya hingga Richard menoleh.
"Di rumah kita ada ruang gym 'kan? kalau tidak ada, kamu harus buat! supaya kamu tidak gym di manapun selain di rumah,"
"Memang---"
"Jawab saja, ada atau tidak?!"
Richard mengerinyit bingung dengan perubahan sikap Jane yang tiba-tiba itu. Tadi dia baik-baik saja. Sekarang malah bicara dengan emosi yang Ia tahu sedang disembunyikan.
"Ada, dimana pun aku tinggal selalu ada tempat untuk gym. Aku tidak pernah gym di luar. Keluar hanya untuk lari pagi, bermain golf dan sepeda,"
"Okay, terima kasih kalau begitu."
Jane menghela napas lega dan itu membuat Richard menggeleng pelan. Ia masih tidak paham dengan penyebab yang melatar belakangi pertanyaan Jane.
-------
Pocecip mode on. Si Jane sama kek Vanilla stlh jatcin ke donat jeko yeee 😂
Oiya bwt yg maooo temenan sama akyu boleh follow sosmed akyu yakk. Kita temenan kuyy🤪
__ADS_1