
Adrian, Andrean, Vanilla, Jane dan teman dekatnya, Richard sedang sibuk membersihkan kolam ikan besar yang berada di samping taman.
Ini kegiatan yang paling digemari Adrian. Berbanding terbalik dengan Jane dan Vanilla yang lebih suka berdiam diri di kamar tanpa menyentuh sesuatu yang kotor-kotor.
Vanilla hanya bekerja sebagai operator yang bertugas menjalankan alat untuk menghisap air kotor dari dalam kolam. Ia tidak bisa melakukan hal lebih.
Sementara Richard memindahkan ikan sekaligus menyikat kolam hingga bersih. Adrian dan Jane hanya bisa membuat kerusuhan saja. Adrian memainkan ikan-ikan itu, menjadikannya sebagai pesawat terbang. Andrean hanya memperhatikan, sementara Jane sibuk mengabadikan kegiatan mereka di media sosial. Padahal Ia ditugaskan oleh Richard untuk membilas kolam.
Sudah dua hari ini Jane berani membawa Richard ke mansion. Sambutan Rena langsung hangat sama seperti Mamanya. Rena memang baik pada siapapun sampai Jane lebih nyaman tinggal di mansion daripada rumahnya sendiri setelah Ia dipastikan sembuh dari masalah kejiwaannya.
Raihan dan Rena juga sudah menganggapnya sebagai anak. Sehingga kapanpun Jane pergi atau pulang ke mansion, mereka tidak masalah.
"Uncle ikannya jatuh. Tolong tangkap!"
Pekikan Adrian langsung membuat suasana gaduh. Ia menunjuk ikan yang sudah menggelepar di lantai setelah lepas dari cengkraman tangannya.
Richard langsung berusaha menangkap. Jane tertawa keras melihat Richard yang kebingungan sendiri. Kalau Vanilla bisa melihat mungkin dia akan melakukan hal yang sama dengan Jane. Mereka berdua adalah gadis yang sangat suka melihat orang kesulitan.
Adrian berteriak senang saat ikan yang dijadikannya sebagai pesawat tadi berhasil masuk dalam perangkap Richard.
Richard menghela napas jengah. Sial! belum apa-apa dia sudah diberi tugas aneh seperti ini oleh keponakan Jane. Ia yang tidak pernah menyentuh kolam ikan terpaksa memenuhi keinginan Adrian untuk membersihkan kolam ikan. Dan sekarang harus menangkap ikan yang nasibnya hampir hilang kesadaran.
"Jangan dimainkan! itu ikan bukan pesawat. Kamu kenapa aneh sekali sih?!" Andrean meluapkan kekesalannya. Adrian hampir membuat telinganya rusak.
Adrian meraih ikan berukuran sedang dari tangan Richard lalu menjulurkan lidahnya pada Andrean yang Ia anggap iri karena tidak bisa memegang ikan. Pikirnya Andrean adalah penakut.
"Bilang saja kalau kamu juga mau bermain dengan ikan. Sayangnya kamu tidak berani seperti aku. Ini, mau pegang?"
__ADS_1
Ia mengulurkan ikan itu pada Andrean yang langsung menghindar masih dengan gaya cool-nya.
"Adrian jauhkan itu!"
"Apa? kamu mau bermain dengan ikan juga bukan? ini aku berikan dengan senang hati,"
Lagi-lagi Ia mengulangi perilaku menyebalkannya itu. Richard dan Jane menjadi penonton sekarang. Sementara Vanilla tetap pada kegiatannya.
"ADRIAN!"
Adrian langsung terkesiap saat Andrean berteriak marah. Ia mengerjap singkat lalu menjauhkan ikan yang ada di tangannya dari jangkauan sang kakak.
"Oh bisa marah juga dia," batinnya yang baru menyadari. Selama ini Andrean tidak pernah mengeluarkan suara kerasnya.
"Pasti karena dia terlalu takut, makanya dia marah," pikirannya berkelana dengan argumennya sendiri. Padahal bukan karena takut. Melainkan Andrean merasa geli. Andrean menyukai binatang namun tidak dengan menyentuh bahkan menjadikannya sebagai mainan.
Adrian sangat bertolak belakang dengan kakaknya. Apapun yang bisa Ia mainkan, maka tanpa ragu Ia melancarkan aksinya sekalipun membuat suasana menjadi riuh.
"Uncle Deni datang terus ke sini. Memang tidak ada pekerjaan apa?! bosan lihatnya,"
Deni melotot kaget saat Adrian menyambutnya dengan perkataan tajam. Biasanya Ia sangat senang bila Deni datang ke sini.
"Pasti karena Uncle tidak membawa mainan makanya kamu tidak suka Uncle datang ke sini," tebaknya yang tepat sasaran. Adrian sudah terbiasa dibawakan ini dan itu bila Deni bertandang ke rumahnya atau ke mansion. Salah Deni juga yang terlalu sering melakukan itu. Berulang kali dilarang tegas oleh Devan dan Lovi namun Ia tetap saja keras kepala.
"Itu tahu. Jadi kenapa sore ini tidak membawa mainan atau es krim?"
"Tidak punya uang,"
__ADS_1
Adrian berdecak tidak percaya. Raut wajahnya benar-benar menyebalkan. Kalau bukan anak dari sahabatnya, sudah dipastikan Deni melakukan sesuatu pada anak itu.
"Kemana semua uang Uncle? hilang? semoga benar,"
"Hei! bicaramu sembarangan,"
"Uncle berbohong jadi aku sumpahi saja sekalian,"
Deni segera mengangkat anak itu tinggi-tinggi lalu membawanya untuk duduk di sofa. Adrian sudah pintar menerima tamu. Ia tahu apa yang harus dilakukan bila ada tamu yang datang. Membuka pintu, lalu mengatakan pada pelayan untuk menghidangkan sesuatu di atas meja.
"Dimana Aunty Vanilla?"
"Setiap datang ke sini pasti Aunty Vanilla yang ditanya. Sekarang ada aku di sini. Jadi tanya saja tentang aku,"
"Hah? untuk apa bertanya tentang kamu?"
Adrian melirik Deni dengan tajam. Tidak suka dengan jawaban Deni. Seharusnya Deni menuruti ucapan Adrian agar Ia senang.
"Sebelum menemui Aunty Vanilla, Uncle Deni harus bertemu dengan aku dulu, dan lakukan sesuatu yang baik agar aku mengizinkan Uncle untuk bertemu dengan Auntyku yang cantik,"
Adrian menepuk-nepuk dadanya dengan gaya angkuh. Ia bertingkah persis seorang kakak laki-laki yang begitu melindungi saudara perempuannya.
"Aku harus melakukan apa?"
"Ya, beli es krim, mainan, ajak aku liburan juga boleh. Karena liburan yang kemarin belum selesai tapi harus pulang karena Aunty sakit,"
---------
__ADS_1
HELAWWW SIANG GENGSSS🙋COBA ABSEN DONGG KALIAN DARI MANA AJA NIH ASALNYA. KOMEN DI BAWAH YAA. AKU PENISIRIN BINGIT WKWK. TERIMA KASIH UNTUK SEMUA DUKUNGANNYA. KU ZHEYENG KELEAN ZEMWAH🤗💙