
Setelah sampai di hotel, tempat berlangsungnya pernikahan Vanilla, Adrian dan Andrean langsung diajak oleh kedua orangtuanya ke ballroom hotel untuk melihat persiapan acara.
Andrean diam sudah biasa. Yang aneh jika Adrian yang diam. Anak yang gagal menjadi bungsu itu hanya menampilkan raut murungnya setelah masuk ke dalam ballroom.
"Ternyata benar Aunty Vanilla akan menikah,"
Ia kira Devan sedang berbohong padanya. Saat Ia mendengar bahwa Vanilla akan memiliki seorang pangeran, Adrian tidak percaya. Saat pertama kali Jhico dinyatakan sebagai calon pangeran itu pun dia masih enggan untuk yakin.
Begitu melihat keindahan di ballroom ini, dimana begitu banyak bunga, lampu, dan segala persiapan yang berkaitan dengan sebuah acara besar, barulah Adrian percaya.
Devan merunduk saat tangannya diayunkan oleh Adrian, Ia menatap Adrian penuh tanya. "Jadi nanti Aunty Vanilla bukan milikku lagi ya, Dad?"
"Sejak kapan Aunty menjadi milikmu? Aunty milik Grandpa, Adrian." kakaknya langsung menyahuti ucapan Adrian. Aneh saja dengan pikiran adiknya itu. Andrean sudah cukup mengerti bahwa Vanilla butuh seorang pendamping seperti Lovi yang begitu membutuhkan Daddynya. Ia yakin setelah ini kehidupan Vanilla akan bahagia seperti kedua orangtuanya.
"Dia tetap menjadi Aunty untukmu,"
"Bukankah setelah menikah, Aunty harus mengikuti kemanapun Uncle Jhico pergi? seperti Mommy yang dulu selalu menemani Daddy kemanapun,"
Devan yang sejak tadi memperhatikan Raihan berbincang dengan pihak hotel dari jauh, langsung mengalihkan fokusnya pada sang anak. Ia merendahkan tubuhnya hingga tepat di depan Adrian.
"Memang seperti itu kalau sudah menikah, Sayang. Terlebih Aunty adalah seorang Istri. Dia tidak bisa sebebas dulu. Dan kamu pun demikian. Tidak bisa main bersama Aunty sampai malam. Dan mungkin bila pergi, Aunty tidak mengajakmu untuk ikut dengannya lagi,"
Adrian sangat bisa diandalkan menjadi seorang sahabat untuk Vanilla pergi kemanapun. Bahkan sebelum Vanilla buta, Adrian lah yang menjadi teman perginya ke salon, pusat perbelanjaan, lalu setelahnya memberi bayaran untuk anak itu dengan banyak mainan dan makanan-makanan kesukaannya. Mereka sedekat itu. Wajar bila Adrian merasa kehilangan. Vanilla pun demikian. Namun Ia tidak bisa berbuat apapun. Hanya mengusap kepala Adrian yang semalam berkali-kali bertanya mengenai kebenaran akan pernikahannya. Ia sudah menjawab sejujur mungkin, namun Adrian tetap tidak percaya.
*****
Menjelang malam, Adrian dan Andrean dipanggil oleh Lovi untuk bersiap-siap. Mereka yang tengah bermain bersama para sepupu dan keponakan dari Jhico langsung berhambur masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Aku siap-siap dulu ya. Jangan terkejut saat aku semakin tampan nanti," ucapnya untuk terakhir kali sebelum menghilang di balik pintu.
Keceriaannya sudah kembali lagi. Tingkat kepercayaan diri miliknya juga sudah berada di posisi semula bahkan meningkat berkali lipat.
Adrian melambai sebelum pintu ditutup oleh Andrean yang menunggunya berpamitan dengan bosan. Hampir lima menit Ia berpamitan tapi tidak selesai juga. Ia berbicara pada satu persatu sepupu dan keponakan Jhico. Seperti pamit mau pergi jauh saja dia padahal hanya berganti baju.
"Kenapa sama dengan Andrean?"
"Sudah biasa seperti ini. Kenapa sekarang protes?"
Adrian mencibir saat melihat jasnya dengan Andrean sama. Nanti kadar ketampanannya jadi sebanding.
Ia semakin melotot saat melihat jas Devan pun sama dengannya. Ia menghentak kaki kesal.
"Seharusnya tidak perlu disamakan, Mommy,"
"Kamu takut tersaingi ya?"
Dengan polos dia mengangguk. Hal itu mengundang tawa Lovi. Ibu beranak tiga itu menggeleng pelan.
Lovi segera membantu Adrian melepas bajunya. Sementara Andrean melakukan itu sendiri. Adrian bukan tidak mandiri. Tapi Ia sedang kesal. Bila menunggu ia ganti baju sendiri bisa dipastikan pekerjaan Lovi dalam memperbaiki penampilan anaknya sebelum pesta, tidak akan selesai.
Andrean menyusul Devan. Ia sudah selesai dengan pakaian formal yang membalut tubuh tegap nan mungilnya. Devan membawa Andrean ke depan cermin meja rias untuk membenahi tata letak rambut anaknya.
Saat Devan memberikan parfum di tubuh Andrean, Lovi protes. "Dia sudah harum. Tidak perlu pakai itu lagi, Devan."
Adrian yang masih dongkol pun menyahut dengan asal, "Nanti kalau terlalu harum jadinya seperti kuburan baru, Dad. Pakaian ini sudah harum. Sedang tersumbat apa hidungnya? kotorannya terlalu banyak ya, Dad?"
__ADS_1
"Adrian! mulutmu Daddy siram dengan parfum ini mau?"
Devan benar-benar mendekati anaknya seraya menggenggam sebotol parfum mahal yang memiliki aroma yang begitu menenangkan itu.
Adrian langsung berlari keluar dari kamar padahal kancingnya belum selesai dipasang oleh Lovi.
Lovi menghela napas lelah. Ia menghela bahu lalu setelahnya mendekati Auristella yang sedari tadi sibuk dengan bonekanya di dalam bouncer baby.
Saatnya mempercantik Auristella. Baru setelahnya Ia yang memperbaiki penampilannya.
Devan mengerang kesal saat anak itu berhasil lolos. Ia meletakkan botol parfum dengan sedikit kasar mengiringi suasana hatinya yang tiba-tiba saja dibuat buruk oleh Adrian.
Andrean memilih untuk bersama kedua orangtua dan adik bungsunya daripada mengikuti Adrian yang pasti kembali bermain atau bahkan mendatangi satu persatu kamar sepupunya untuk mengganggu mereka yang juga sedang bersiap.
"Biar aku saja yang menggantikan pakaian Auris, Lov. Lebih baik kamu berdandan,"
"Tidak, aku dan yang lainnya akan di make up oleh seseorang,"
"Oh ya, aku lupa. Ya sudah, kamu ganti baju saja kalau begitu. Yang lain mungkin sudah tampil cantik. Istriku masih menggunakan home dress flower- nya,"
--------
Aku datang. Ada yg kangen aku? eh mksdnya kangen Andrean & Adrian? cung tangan bwt yg kangen! NILLAKU udh up yaww. Ini lg dalam suasana pesta HASEKKK. Kasih selamat dulu sama Vanilla di lapak NILLAKU.
__ADS_1