
"Lov, kamu marah?"
Sepanjang perjalanan menuju basement rumah sakit, Devan selalu bertanya mengenai hal yang sama. Dan Lovi hanya menggeleng.
Ia kecewa karena menjadi orang terakhir yang mengetahui penyakit suaminya. Rasa sesak tiba-tiba saja menyeruak dalam dadanya.
"Skizofrenia?"
"Ya,"
Riyon menghela napas pelan dan itu dianggap Lovi sebagai permulaan sebelum menyampaikan kabar yang lebih buruk dari pada ini.
"Kamu tenang saja. Sebentar lagi, kalau Devan selalu mengonsumsi obatnya dengan tepat waktu, Ia akan segera sembuh. Yakinlah, Lovita,"
Lovi mengigit bibirnya dengan perasaan tidak menentu. Ia kira kehidupan rumah tangganya akan kembali diberi cobaan. Namun Tuhan punya rencana yang tidak pernah Lovi duga sebelumnya.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi. Devan membawamu ke sini karena kondisinya sudah membaik. Dulu, dia tidak ingin kamu tahu semua ini karena sebuah alasan yang tentunya untuk kebaikan kamu juga," Semoga setelah ini tidak ada perpecahan di antara keduanya. Begitu harapan Riyon.
Lovi hampir saja menyalahkan takdirnya. Ia hampir mengeluh, bersedih, dan kesal dengan semua itu. Dan Lovi sangat tidak menyangka sekaligus bangga karena suaminya bisa melewati ini semua walaupun tanpa Lovi di sampingnya.
"Lalu kenapa diam saja?"
__ADS_1
Lovi masuk terlebih dahulu ke dalam mobil setelah Devan membuka pintunya. Lovi menyatukan helai rambutnya karena siang ini lumayan terik dan suasana hati Lovi juga kian mendukung rasa panas itu.
Devan yang melihatnya segera menyalakan mesin mobil hingga mesin pendingin pun mulai bekerja.
"Lov... aku mohon, maafkan aku. Aku melakukan ini karena aku sayang padamu. Aku tidak ingin kamu terlalu memikirkan kondisiku,"
"Ya, Devan. Tapi kamu lupa kalau sebuah pernikahan tidak boleh ada yang disembunyikan. Harus saling terbuka, karena itu merupakan kunci sebuah kesuksesan dalam membangun rumah tangga,"
Devan memelankan laju mobilnya lalu meraih tangan Lovi. Ia mengecup punggung tangan perempuan itu.
"Aku salah, maafkan aku. Yang terpenting sekarang, aku sudah lebih baik. Hanya perlu menunggu sampai penyakit itu hilang sempurna dari tubuhku,"
"Adrian tidak ke sini ya, Ma?"
"Sepertinya tidak. Devan ada jadwal periksa hari ini,"
"Kenapa tidak datang ke sini bersama Mama Senata?"
"Akan rusuh, Sayang. Biarkan saja dia di rumahnya. Nanti mereka diajak ke mansion saat kita pertemuan dengan keluarga Thanatan saja,"
Vanilla berdecak pelan. Rupanya pertemuan itu masih akan berlangsung. Vanilla kira Raihan tidak serius ingin menjodohkannya.
__ADS_1
"Aku buta, Mama dan Papa jadi tidak menghargaiku ya? aku sudah mengatakan kalau tidak akan ada perjodohan,"
"Ini bukan perjodohan, Vanilla. Jhico benar-benar menginginkan kamu,"
"Tapi aku tidak. Kalau hanya satu pihak yang menyetujui, itu artinya pernikahan akan berlangsung secara terpaksa. Tidak jauh berbeda dengan yang namanya perjodohan,"
Rena memilih diam, Tidak menanggapi putrinya yang sedang meluapkan kekesalannya itu. Rena tetap pada argumennya yang menyatakan bahwa ini semua bukan perjodohan yang dilakukan oleh Raihan dan Keluarga Thanatan. Jhico menginginkan Vanilla, dan kebetulan Raihan pun sangat ingin putrinya memiliki belahan jiwa. Jadi apa salahnya mereka meluruskan niat lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu? Raihan yakin Jhico bisa menjadi pendamping yang mampu memperbaiki kesalahan Vanilla, dan menjadi pelengkap diantara banyaknya kekurangan Vanilla.
"Pernikahan itu indah, Vanilla."
Vanilla merasakan kehadiran Raihan di sampingnya. Entah sejak kapan lelaki paruh baya itu duduk lalu mengusap kepala Vanilla dengan lembut.
"Indah, kalau semuanya berjalan atas keinginan masing-masing. Sementara aku tidak mau sama sekali menikah dengan siapapun untuk saat ini,"
"Kalau keluarga Renald yang datang, kamu yakin tidak ingin menerimanya juga?"
---------
Wuw pilihan yg sulit wkwk. Pasti maolah si Panil 😝 MAMPIR KE LAPAKNYA VANILLA KUY. JUDULNYA 'NILLAKU' TINGGALKAN JEJAK JGN LUPA. DI SINI DAN DI SANA. CEMIWIW. TENCUU MANTEMAN ONLENKU💙🤗
__ADS_1