
Devan menikmati deru angin malam di rooftop kamarnya yang sangat luas itu. Ditemani dengan secangkir minuman berkafein, Ia berada di kesunyian malam hari yang mampu menciptakan ketenangan untuknya.
Bintang bertaburan di langit membuat Devan nyaman memandang keindahannya. Sesekali Devan menghembuskan kepulan asap yang dihasilkan oleh benda terbakar yang terselip di antara kedua bibirnya.
"Dad..."
Devan menoleh saat mendengar suara yang memanggilnya. Lelaki itu menoleh dan menemukan Andrean berdiri di depan pintu rooftop.
"Ada apa, Sayang?"
"Kenapa di sana? ayo, tidur."
"Daddy masih ingin di sini. Andrean kenapa belum tidur?"
"Belum mengantuk,"
Andrean mendekati Devan. Ia berdiri bersandar di dinding seraya menatap Devan yang kembali tenggelam dalam lamunan.
"Daddy sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak, memang kenapa?"
"Tidak biasanya diam di sini. Kita hampir setiap malam menonton. Tadi aku cari Daddy, ternyata ada di sini..."
"Dan kenapa merokok? Aku tidak suka melihatnya. Kenapa minum kopi juga? nanti Daddy akan sulit tidur,"
Devan terkekeh lalu membawa anaknya ke atas pangkuan. Ia mengecup kepala belakang putra sulungnya. "Kamu kenapa jadi cerewet begini?"
Andrean yang biasanya kurang bisa menunjukkan perhatian nya, kini dengan terang-terangan memperlihatkan.
Auristella belum mengantuk sehingga Lovi sulit sekali membuatnya tidur. Sudah dibawa memutari ruangan demi ruangan di mansion, tetap saja matanya tidak terpejam.
Akhirnya perempuan itu membawa anaknya masuk ke dalam kamar. Adrian sedang duduk di tengah ranjang kedua orangtuanya seraya menulis.
"Belajar nya kenapa di situ? di meja belajar, Sayang."
"Meja belajar dimana?"
"Di kamarmu,"
"Aku ingin di sini saja,"
"Apa yang kamu kerjakan?"
"Tugas untuk dua hari lagi,"
Adrian menatap adiknya sebentar. Auristella menunjuk bukunya. Adrian langsung menyembunyikan nya di balik punggung.
"Daddy dan kakakmu dimana?"
"Di luar," jawabnya singkat. Adrian menggeleng saat Auristella merengek ingin meminta buku yang sedang dipegang Adrian itu.
Lovi segera membawa Auristella ke rooftop agar tidak mengganggu Adrian yang sibuk dengan tugasnya.
"Nanti kalau sudah selesai, beri tahu Mommy seperti biasa," pesan Lovi sebelum meninggalkan Adrian.
"Iya,"
Lovi melihat Devan dan anak sulungnya tengah duduk. Lovi melihat dari belakang Devan merangkul bahu anaknya yang kini duduk di sampingnya.
"Andrean sudah ada bayangan ingin menjadi apa ketika dewasa nanti?"
Devan mulai mengajak anaknya untuk berpikir kritis karena Ia menganggap Andrean sudah mampu untuk melakukannya.
"Kalau Adrian 'kan banyak sekali cita-citanya. Melihat pilot, dia mau jadi pilot. Melihat Daddy, dia mau jadi Daddy. Melihat Uncle Jhico, dia mau jadi dokter seperti Uncle Jhico."
"Sepertinya aku tidak mau menjadi seperti Daddy,"
"Kenapa?"
"Banyak sekali orang yang bergantung pada Daddy. Aku tidak yakin bisa seperti Daddy,"
Tawa Devan lepas mendengar ucapan polos anaknya. Walaupun polos tapi dari makna kalimatnya, Andrean sebenarnya sudah mengerti apa beban yang harus Ia terima bila ingin seperti Devan, menjadi pengusaha. Sebenarnya setiap pekerjaan ada risiko. Tapi karena Andrean terbiasa melihat Devan, jadi Andrean lebih tahu mengenai risiko sebagai pengusaha.
"Hei, kalian sedang bicara apa?"
Saat Devan akan bersuara lagi, suara Lovi menghampiri telinga mereka. Lalu sosoknya sudah berdiri di depan Devan dan Andrean.
Auristella langsung mengulurkan tangannya pada Devan. Dan Devan segera meraihnya untuk Ia pangku.
"Kamu kenapa belum tidur, Auris?"
"Sepertinya dia belum mengantuk,"
"Tadi sudah menguap,"
"Iya, aku dikerjai. Setelah digendong dan dibawa keliling mansion, tetap saja dia tidak tidur,"
Lovi duduk di tengah suami dan anak sulungnya. "Kalian sedang membicarakan apa?"
"Hanya bicara tentang cita-cita. Tapi kamu sudah mengganggu kami,"
"Cita-cita siapa? kamu sudah tua begini masih punya cita-cita?"
Devan merotasikan bola matanya kesal saat mendengar ucapan istrinya. "Cita-cita bisa dimiliki siapa saja, Mom. Anak kecil, orang dewasa, semuanya pasti punya cita-cita,"
"Dengar apa kata anakmu. Lagipula aku belum tua!"
"Punya anak tiga, Sayang." ujar Lovi menggoda Devan. Perempuan itu menjawil dagu Devan yang sedang merengut.
"Memang kalau sudah punya anak tiga bisa dikatakan tua? aku belum tumbuh rambut put--"
"Sudah, Daddy. Ada beberapa, aku sering melihatnya," sanggah Andrean sebelum Devan selesai berucap.
Lovi tertawa karena merasa didukung oleh anaknya untuk mengejek Devan. "Tidak ada, rambut Daddy masih sama seperti saat masih kecil,"
"Aku cari ya? untuk membuktikan,"
Andrean akan menyentuh kepala Devan dan Auristella yang melihat itu menghempas tangan Andrean.
"Apa? aku mau cari rambut putih Daddy,"
"NDAK!"
Devan berseru, "YESSS DADDY DIBELA." Tangan Devan mengepal lalu diangkat ke udara. Ia juga mengecup pipi Auristella.
"Huh? kenapa dia marah?"
"Auris tidak mau berada di pihak Mommy? Daddy kamu itu sudah tua, Sayang. Kamu harus percaya,"
"Ndak!"
"Oh jadi sekarang kita bersekutu ya? okay, Mommy dengan Andrean saja kalau begitu."
__ADS_1
Lovi memeluk anak sulungnya yang saat ini tampak beda dari biasanya. Banyak bicara dan ekspresi, tidak datar saja. Seperti sekarang ini, Ia terlihat kesal saat Auristella menghempas tangannya yang ingin menyentuh rambut Devan.
Auristella memegang bahu Devan sebagai penopang nya untuk berdiri. Devan masih bingung dengan apa yang akan dilakukan anak bungsunya itu.
Devan memegang perut anaknya agar tidak terjatuh karena Auristella belum bisa berdiri dengan baik. Tangan Auristella memegang rambut Devan.
"Tadi aku tidak boleh menyentuh rambut Daddy. Sekarang kamu melakukannya. Huh! apa-apaan itu?" gumam Andrean kesal. Ternyata Ia dilarang karena Auristella sendiri yang ingin memeriksa apakah benar Daddy nya sudah tua.
"Cari rambut yang warnanya beda dengan warna rambut asli Daddy. Pasti ketemu," suruh Lovi yang membuat Devan menatapnya tajam. Lovi terkekeh geli saat Auristella benar-benar mencarinya bahkan hingga rambut Devan berantakan karena Ia mengacak semaunya.
"Auris, ini rambut sungguhan. Jangan kamu acak-acak seperti rambut Barbie ya,"
"Ya,"
Andrean menggeleng pelan melihat adiknya yang begitu semangat sementara Mommy nya terpingkal-pingkal.
"ADUH SAKIT, JANGAN DITARIK RAMBUT DADDY," Devan berteriak kesakitan saat Auristella membuat kulit kepalanya terasa ingin lepas.
"Tidak ditarik, Devan."
"Kamu tidak merasakannya, Lov. Kulit kepala ku ingin lepas rasanya,"
"Itu creambath ala Auris, Dad."
Devan masih meringis kesakitan. Lovi mengusap kepala suaminya lalu menyuruh Auristella untuk duduk.
"Kamu yang menyuruh dia melakukan itu," cibir Devan pada istrinya. Lovi menggeleng tidak mengakui. "Aku tidak menyuruh dia menarik rambutmu."
"Aku mau pangkas rambut besok,"
"Mau menghilangkan rambut putih ya?"
"Apa sih, Lov? rambutku memang sudah panjang. Belum selesai juga meledek aku?"
"Aku saja yang memangkasnya."
"Memang kamu bisa?"
"Bisa, sekarang saja."
"Aku tidak yakin. Aku takut rambutku rusak. Kamu tahu 'kan kalau rambut itu sangat penting untukku,"
"Aku tahu,"
"Aku paling tidak suka bila rambut berantakan. Kapanpun dan dimana pun rambut harus mode on terus,"
"Daddy berlebihan,"
"Memang benar, Sayang. Kalau sekarang kamu masih kecil, jadi menurutmu penampilan rambut tidak penting. Saat sudah besar sedikit dan mulai memiliki teman perempuan, Daddy yakin kamu akan sama seperti Daddy,"
"Jangan bicara begitu. Aku belum mau anakku besar," rengek Lovi seraya menyandarkan kepala nya di dada Devan. Auristella mengusirnya halus. Ia seperti Adrian yang sangat kuat rasa cemburu nya.
"Huh? kamu mau mereka kecil terus? tidak mungkin, Lov. Sekarang saja mereka sudah besar,"
Lovi ingin anaknya kecil terus. Jangan besar-besar, tapi tidak mungkin. Kalau mereka sudah besar, pasti akan sibuk dengan urusan masing-masing. Pertemuan mereka tidak seintens sekarang, walaupun masih tinggal di bawah atap yang sama.
"Andrean akan tetap menjadi baby boy nya Mommy. Iya 'kan, Sayang?"
Mendengar kata 'baby boy' Andrean langsung menatap Lovi dengan alis bertaut. Hal itu membuat Lovi berpikir anaknya memang sudah besar. Dia tidak mau lagi disebut baby boy.
"Jawab 'iya' saja, Andrean. Biar Mommy senang,"
"Okay, Dad. Iya, Mommy. Aku akan tetap menjadi baby boy,"
Auristella menarik hidung kakaknya yang sedang menatap Lovi dengan hangat. Devan meraih tangan kecil Auristella lalu diusapkannya dengan rambut yang tumbuh di dagunya. Auristella terkekeh karena merasa geli.
"Okay,"
Mereka semua masuk ke dalam kamar. Lovi mulai menyiapkan alat pangkas rambut yang tersedia tapi hampir tidak pernah dipakai.
"Mom, tugasku sudah selesai," Adrian melapor pada Lovi. Mommy nya itu menghentikan kegiatannya sebentar untuk memeriksa tugas Adrian.
"Mommy mau apa pegang sisir?"
"Memangkas rambut Daddy,"
"Kapan?"
"Nanti, setelah memeriksa tugas mu ini,"
Adrian mengangguk paham. Devan menunggu di sofa bersama dengan Auristella. Sementara Andrean sudah menyalakan televisi.
"Andrean, tugasnya sudah selesai belum?"
"Sudah,"
"Sudah dicek Mommy juga?"
"Iya, Dad."
"Andrean jangan ditanya. Dia anak yang terlalu rajin. Tugas diberikan hari ini, langsung dikerjakan saat jam istirahat." ucap Adrian.
"Semoga terus seperti itu sampai sekolah ke jenjang yang lebih tinggi," ucap Devan lalu menatap anak perempuan nya yang sedang memainkan kancing baju tidurnya.
"Auris, ada tugas tidak?"
Auristella diam memandang Devan bingung. Devan mengangkat kepalanya seraya bertanya lagi, "Ada tugas tidak?"
"Ndak,"
"Yang benar?"
Auristella menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Kalau ada tugas, sebisa mungkin langsung dikerjakan, ya?"
"Ya,"
Devan menggeram gemas lalu mencium anaknya bertubi-tubi sampai Auristella mengusap wajahnya yang terasa basah.
Devan sengaja menjahili Auristella. Terlihat Auristella kesal atas sikapnya barusan. "Ada air yang tumpah di pipimu ya? nakal air itu," kata Devan seolah bukan dia yang berbuat salah. Auristella menunjuk Devan dengan wajah merengut. Ia tidak bisa bicara tapi saat ini Ia tengah mengungkap bahwa Devan yang sengaja membuat wajahnya basah. Karena selain dicium, Devan juga menjepit pipi Auristella dengan bibirnya.
Lovi mengalihkan matanya sebentar pada suami dan anak bungsunya. Ia melihat raut tak bersahabat di wajah Auristella.
"Kenapa, Auris?"
Auristella menggosok wajahnya kesal. "Oh Daddy menciummu sampai kuah dari mulutnya tumpah ya?"
"HAHAHAHA KUAH," tawa Adrian meledak seketika. Ia menggeleng tak habis pikir dengan kata-kata Lovi.
"Adrian berisik! Ini sudah malam," Andrean menegur sang adik yang tawanya lepas sekali. Ia hanya mengingatkan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk tertawa kencang-kencang.
"Siapa yang mengatakan kalau ini masih siang? kamu selalu saja tidak bisa melihat aku senang,"
"Kamu berlebihan kalau lagi senang. Giliran menangis juga begitu. Sampai semua penghuni mansion mendengar suara tangismu,"
__ADS_1
"Sudah Mommy periksa. Sekarang Mommy akan menggunting rambut Daddy dulu. Andrean dan Adrian tidur!" titahnya pada kedua pangeran kecil di kamar itu.
"Aku mau lihat Mommy menjadi hairdresser,"
Akhirnya Lovi membiarkan Adrian melakukan apa yang dia inginkan. Adrian mau melihat untuk pertama kalinya Lovi memangkas rambut Devan.
Lovi membawa kursi dan segala perlengkapan untuk memangkas rambut ke rooftop.
"Mom, kenapa tidak di kamar saja?" tanya Adrian pada Lovi.
"Nanti lantai kamar berantakan karena rambut,"
Adrian mengangguk paham. Ia mengikuti Lovi keluar. Sementara Devan meletakkan Auristella di ranjang bersama Andrean. Auristella merengek tidak mau dan mengulurkan tangannya pada Devan agar digendong lagi.
"Auristella di sini saja dengan Andrean,"
Saat Devan akan melangkah, Auristella berteriak tidak terima ditinggal oleh Devan.
Akhirnya Devan membawa anak itu ke dalam gendongan. "Andrean, tolong ambil baby chair Auris ya,"
"Iya, Dad."
Devan duduk di kursi yang tadi dibawa Lovi. Posisinya membelakangi Lovi. Kursi Auristella sudah dibawa keluar oleh Andrean. Tapi saat Devan ingin menempatkan Auristella di kursi itu, Auristella sengaja melipat kakinya.
"Luruskan kakinya biar bisa duduk di sini,"
Auristella menggeleng dengan wajah tengilnya. "Apalagi maumu, Auris? tadi mau ikut keluar, Daddy turuti."
"Tidak boleh duduk dengan Daddy karena rambut Daddy akan dipangkas. Nanti rambutnya berjatuhan dan bisa membuat kamu merasa gatal,"
"Auris semakin besar, semakin nakal ya. Ayo, duduk di kursimu," Adrian berseru marah. Ia menatap adiknya dengan tajam
"Duduk di sini, Sayang."
Harus Lovi yang membujuk. Auristella itu sama seperti Adrian. Terkadang patuh kalau diperingatkan dengan tegas. Tapi tak jarang malah semakin memberontak.
Akhirnya Ia duduk dengan tenang di baby chair nya. Lovi mulai fokus menggunting rambut Devan yang sudah lumayan panjang.
"Lov, jangan sampai bentuknya aneh ya,"
"Astaga, Iya. Kamu tidak percaya sekali padaku,"
"Bukan begitu, Lov. Penampilan adalah yang utama bagiku. Tidak mungkin 'kan aku bertemu relasi dengan rambut yang bentuknya aneh,"
"Aneh bagaimana sih? aku tidak akan membuat rambutmu berdiri seperti orang kesetrum. Tenang saja,"
Adrian terbahak mendengar kata 'rambut berdiri seperti orang kesetrum'. Otaknya langsung membayangkan bila rambut Devan seperti itu. Pasti lucu, dan bukan hanya itu, Ia akan dianggap sebagai orang stress.
Auristella dan Adrian fokus memperhatikan kegiatan Mommy nya. Sementara Andrean sudah kembali lagi ke kamar.
"Auris pegang-pegang rambutnya sendiri, Mom. Dia mau digunting juga mungkin,"
"Mommy mau rambut Auris panjang,"
"Tidak cocok. Rambut panjang terlalu anggun untuk Auris yang bar-bar,"
"Sembarangan saja kalau bicara. Anak Mommy anggun. Bar-bar bagaimana sih maksudnya?"
"Dia tidak bisa diam, sulit diberi tahu, hobi mengerjai orang, jahil---"
"Sepertinya itu gambaran dirimu sendiri ya?"
"Aku laki-laki jadi wajar. Dia perempuan, nanti saat besar tidak ada yang mau berteman dengan dia,"
"Ada, Auris anak yang baik sebenarnya. Tapi karena sering melihatmu bar-bar jadi dia mengikuti. Iya 'kan, Auris?"
"Ya,"
"Hih apa sih? kenapa jadi aku yang disalahkan?"
"Kamu yang---"
"Lov, kamu jangan sibuk berdebat dengan Adrian. Nanti kamu kurang fokus memangkas rambutku terus jadi kurang bagus hasilnya,"
"Kamu berisik,"
"Masalahnya ini rambut di kepala, Lov. Semua orang bisa melihatnya. Kalau rambut di bagian lain, aku tidak---"
"Aku mengerti, Ini sudah hampir selesai,"
"Yang sebelah kiri lebih pendek, Mom."
"HAH?! ASTAGA, LOV---"
"ADRIAN BOHONG, DEVAN!"
Adrian tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Devan panik seperti orang yang sedang berada di situasi terjebak dalam sebuah peristiwa.
"Adrian tidak bohong, Dad. Rambut Daddy pendek sebelah. Sepertinya memang begitu style yang diinginkan Mommy,"
"ERRGHH!" Auristella menegur kakak keduanya yang belum juga selesai membuat Devan panik. Sampai-sampai Devan ke kamar untuk bercermin.
"Rambutmu Mommy pangkas juga ya? kalau perlu stylenya seperti yang kamu sebutkan tadi. Mau tidak?"
Lovi mendekati Adrian dengan ancang-ancang ingin menggunting rambutnya. Adrian cepat-cepat berlari ke kamar untuk menghindari.
"Sudah selesai, Dad?" Andrean bertanya saat melihat Devan bercermin. Devan berbalik dan menatap Andrean.
"Rambut Daddy tidak berantakan?"
"Tidak, rapi sekali. Makanya aku tanya, sudah selesai?"
"Belum, kata Adrian pendek sebelah,"
Devan mendekati anak sulungnya agar Ia juga bisa menilai apakah ucapan Adrian benar adanya.
Andrean meneliti kemudian menggeleng yakin. "Sudah bagus. Potongan nya rapi. Mommy bisa menjadi hairdresser ternyata,"
"Okay, terima kasih sudah memberikan penilaian,"
Adrian masuk langsung dicibir Devan. "Kamu membohongi Daddy ya? Daddy sudah lihat tidak pendek sebelah. Malah kata Andrean bagus,"
"Tapi kenapa aku melihatnya miring sebelah ya, Dad?"
Andrean berdecak kemudian menyahuti dengan ringan, "Matamu yang miring. Rambut Daddy tidak,"
Adrian langsung membayangkan mata yang posisinya miring. Ia bergidik seraya mengusap-usap kelopak matanya sendiri.
"Bagaimana ceritanya mata bisa miring?"
"Coba analisa sendiri. Aku sedang malas berpikir,"
---------
__ADS_1
Kl 'otak miring' udh mainstream. Andrean mau yg beda wkwkwk.