My Cruel Husband

My Cruel Husband
Pernah salah juga


__ADS_3

"Tidak sakit?"


"Tidak, aku kuat."


Andrean mengangguk dan duduk di samping adiknya yang saat ini sedang berbaring di ruang khusus untuk siswa yang sedang sakit.


Adrian baru saja jatuh saat bermain sepak bola dengan teman-temannya. Ini bukan pertama kali terjadi. Bagi Adrian terjatuh dalam sebuah permainan adalah hal biasa. Ia justru senang karena nilai perjuangannya lebih terasa.


"Tapi ini yang paling parah,"


"Biasa saja," jawab Adrian acuh saat kakaknya berkomentar seraya memperhatikan lutut nya yang sudah dibalut perban oleh guru. Andrean sengaja menemani adiknya di sini setelah meminta izin tidak mengikuti pelajaran dari guru yang sedang memberi materi di kelasnya.


Saat Miss Acha menawarkan diri untuk mendampingi mereka berdua, Adrian menolak tegas.


"Ada Andrean yang menjagaku di sini. Miss Acha keluar saja," Kalimat bermakna sebuah usiran begitu terbaca. Tak hanya mengusir, bahkan anak itu meminta pada Acha untuk tidak menelpon Devan dan menyampaikan kondisinya saat ini. Adrian sangat mengerti kesibukan Daddy-nya.


*****


Hari ini Lovi sudah berani membawa putrinya keluar. Ia akan belanja kebutuhan Auristella bersama dengan kedua Mamanya.


Setelah itu, rencana mereka adalah menjemput Adrian dan kakaknya. Devan sudah menyetujui hal itu. Sehingga Ia bisa tenang bekerja di kantornya tanpa memotong waktu kerja untuk menjemput kedua putranya.


"Kenapa Adrian sudah tidak ingin minum susu lagi, Ma?"


"Iyalah? Mama baru tahu,"


"Sudah hampir seminggu dia seperti itu. Katanya dia sudah besar, jadi tidak perlu susu lagi,"


"Tapi tetap kamu buatkan?"


Lovi mengangguk. Bahkan setelah membuat susu, biasanya Ia juga memaksa Adrian untuk meminumnya walaupun akan ada perdebatan karena anaknya itu sulit diberi tahu.


Kalau berat badannya tidak menurun, Lovi tidak begitu mempermasalahkan. Tetapi walaupun bobot tubuhnya berkurang, semangat anak itu tidak pernah surut.


Beruntung Lovi sudah membiasakan anak-anaknya untuk mengonsumsi makanan yang penuh nutrisi. Sekalipun Adrian tidak meminum susu, tubuhnya tetap kuat untuk berkegiatan.


Auristella menunjuk makanan manis kesukaan kakaknya. Ia menatap Lovi dengan raut memohon yang sangat menggemaskan.


"Auris belum bisa makan itu," ujar Lovi dengan lembut.

__ADS_1


Rena dan Senata tengah memilih sayur, daging, serta bahan makanan pokok yang lain. Sementara Lovi langsung membawa putrinya untuk mencari susu bayi. Agar Auristella tidak lagi melihat marshmellow dan teman-temannya yang lain.


Padahal hanya melewati sekilas. Tetapi mata Auris cepat sekali melihatnya. Benar-benar seperti kakaknya. Sekalipun tengah mengantuk, mata Adrian akan terang benderang bila melihat makanan sejenis itu.


Lovi memasuki beberapa kotak susu ke dalam troli. Auristella menjelajahi matanya ke segala penjuru. Ini pertama kalinya Ia keluar bahkan merasakan yang namanya berbelanja. Terasa aneh sekaligus menyenangkan untuknya.


Ia belum bisa berjalan namun saat melihat anak perempuan berjalan mendekatinya, Auris sangat ingin turun dari gendongan hingga membuat Mommy-nya itu kebingungan.


Setelah Lovi menyadari kalau Auristella ingin bermain dengan seorang anak perempuan, Lovi tersenyum namun sesaat kemudian memudar setelah menyadari bahwa anak perempuan itu diikuti oleh Elea dan kekasihnya. Lovi masih ingat jelas bagaimana kemesraan mereka disaat Ia dan Devan tidak sengaja bertemu keduanya di sebuah restoran.


"Dayana, ke sini, Sayang."


Elea tidak lagi mengikuti langkah anak bernama Dayana itu karena tahu kalau Lovi lah yang sedang berusaha digapai oleh keponakan dari kekasihnya itu.


"Hallo, Adik cantik." Sapa Dayana pada Auristella. Lovi dibuat tersenyum saat melihat reaksi anaknya. Ia tertawa pada Dayana lalu tangannya bergerak-gerak di udara seolah menyapa.


"Belum bisa berjalan ya, Aunty?" Dayana mengangkat kepalanya untuk menatap Lovi yang jauh lebih tinggi darinya. Tatapan mata bulat itu sangat ingin tahu dan menantikan jawaban Lovi.


"Belum, Dayana."


"Yah, sayang sekali." Dayana menyentuh kaki Auristella. Mengusapnya dengan lembut seperti sudah mengenal lama. Semudah inikah dalam menjalin pertemanan bila di dunia anak kecil? bertemu lalu langsung akrab. Tidak seperti orang dewasa pada umumnya yang membutuhkan waktu lebih lama untuk saling mengenal sebelum akhirnya memutuskan untuk berteman baik.


"Maafkan Dayana. Dia memang selalu berlebihan bila menyapa orang,"


Lovi menggeleng maklum, "Tidak masalah. Auris juga senang,"


"Ini anakmu, Lovi?" tentu saja bukan Kevin yang bertanya mengenai hal itu. Kesannya terlalu mengulik, namun Lovi tetap menjawab dengan sopan.


"Iya, Elea. Oh lebih tepatnya anak aku dan Devan,"


mendengar itu Elea tersenyum kecut. Ia tahu betul maksud dari ucapan Lovi.


"Putrimu cantik," ujar Lovi yang benar-benar tidak tahu kalau itu adalah keponakan Kevin.


"Dayana bukan---" belum sempat Kevin menyelesaikan ucapannya, Elea sudah menyanggah, "Tentu saja. Aku cantik, jadi anakku pun akan cantik."


*****


Acha tidak benar-benar menuruti keinginan Adrian. Entah Ia memang khawatir dengan muridnya atau memang sedang cari perhatian dari Devan. Acha memutuskan untuk menghubungi Devan setelah Ia keluar dari ruangan yang ditempati Adrian.

__ADS_1


Tidak sampai tiga puluh menit Devan berhasil tiba di sekolah kedua anaknya. Ia tidak peduli lagi dengan pekerjaan dan kesepakatannya bersama Lovi. Mendengar anaknya terluka, Ia tidak bisa berpikir jernih lagi.


"Terima kasih sudah mengatakan ini padaku,"


Devan langsung keluar dari sekolah setelah membawa Adrian dalam gendongannya dan Andrean mengikuti dari belakang.


Melihat perbannya Devan tidak tega membiarkan Adrian berjalan sendiri. Tidak peduli anak itu memberontak karena malu. Yang terpenting Devan bisa memastikan kondisi anaknya baik-baik saja.


"Sudah dibilang kalau luka ini tidak sakit sama sekali. Telinga Daddy kenapa tidak dipakai sih?!"


Devan tidak menanggapi bentuk protes Adrian. Ia langsung melajukan mobilnya agar segera sampai di mansion lalu bertanya pada Lovi mengenai alasan keterlambatannya dalam menjemput kedua anak kembar itu. Bukankah seharusnya mereka sudah pulang sedari tadi?


"Kapan pulangnya?"


"Hampir dua puluh menit yang lalu, Dad. Belum terlalu lama," jawab Andrean yang membuat Devan menghembuskan napas. Terlambat dua puluh menit sangat menjadi masalah untuk Devan. Ia lupa pernah terlambat menjemput mereka lebih dari satu jam.


"Kemana Mommy kalian? lama sekali belum menjemput," gumamnya. Ketika lampu lalu lintas menghentikan laju mobilnya, Devan menggunakan kesempatan itu untuk menghubungi Lovi yang katanya akan belanja bersama Rena dan Senata.


"Ya namanya Wanita pasti lama kalau belanja. Daddy seperti tidak mengenal wanita saja,"


Andrean mengangguk setuju dengan adiknya. Tidak bisa disalahkan juga. Karena seharusnya Devan tahu kebiasaan yang sering dilakukan oleh kebanyakan perempuan.


"Tapi Mommy tidak terlalu lama kalau belanja. Dia tidak seperti Grandma Rena, asal kalian tahu."


Dengan bangga Ia menunjukkan bahwa sudah sejauh itu Ia mengenal Lovi. Seiring dengan datangnya berbagai masalah dalam rumah tangga, Lovi dan Devan bisa lebih mengenal satu sama lain walaupun pernikahan mereka terbilang masih singkat. Belum menginjak puluhan tahun seperti halnya Raihan dan Rena.


"Ya sudah tidak usah dipermasalahkan. Kemarin Daddy terlambat menjemput juga. Ingat tidak?! dua puluh menit belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keterlambatan Daddy kemarin!"


---------


**AKU UP MALEM MAAP YEE :') BARU SEMPET WKWK. LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 5 KGN LUPA DUNGSS ;) WHY SAMA NILLAKU UDH UP JG YAK TD SORE.





**

__ADS_1



__ADS_2