
Kegiatan terakhir hari ini di kelasnya adalah membuat hamburger dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dari rumah. Semua murid dibebaskan untuk berkreasi.
Adrian meminta pada Mommy-nya untuk membawakan beef yang telah dibentuk menjadi robot. Walaupun tidak sempurna setidaknya Lovi berhasil memotong beef sehingga bentuknya hampir mirip dengan robot.
"Kalau daging yang dibentuk robot memangnya kelihatan? nanti akan ditutup dengan rotinya 'kan?"
Adrina menahan tawa saat Revin mengomentari hamburger milik Adrian. Ucapan Revin ada benarnya juga. Untuk apa membentuk daging beef kalau pada akhirnya akan ditutup dengan roti.
"Mommy tidak protes artinya bagus,"
"Itu karena Mommy-mu malas berdebat. Jadi mau-mau saja memenuhi permintaan kamu,"
Adrian melepas plastik yang membalut tangannya dengan perasaan kesal. Lalu mengambil daging beef milik kakaknya yang masih berbentuk lingkaran utuh.
"Itu punya aku!"
"Minta. Aku tidak jadi buat robot,"
"Tidak boleh! siapa suruh tidak dipikirkan dengan matang dulu?!"
"Salah Mommy juga--"
"Mommy hanya menuruti keinginan kamu, jangan salahkan Mommy!"
Adrian kesal karena otaknya tidak berpikir sampai sana. Seharusnya Lovi memberi tahu Ia. Karena pasti Lovi sudah memikirkan bagaimana jadinya nanti. Lovi malah diam saja dan lebih memilih untuk menuruti keinginannya.
"Ini namanya berkreasi, jadi apapun yang ada diotakmu sudah seharusnya diwujudkan,"
Pihak sekolah memang menyarankan agar orang tua yang mempersiapkan semua keperluan untuk membuat makanan ini. Lovi dengan senang hati menyiapkan segalanya karena memang kegiatan seperti ini hanya berlangsung satu kali dalam sebulan.
"Lagipula Mommy sudah menyiapkan banyak beef untuk kita. Coba lihat di box yang kamu bawa,"
Ketika kakaknya mengatakan itu, Adrian langsung memeriksa box yang berisi semua bahan-bahan untuk membuat hamburger. Masing-masing anaknya dibawakan satu box karena Lovi tidak mau ada perdebatan diantara mereka berdua.
"Oh iya, ada. Yeaayy!" serunya senang saat melihat masih ada beberapa beef yang sengaja dijadikan cadangan oleh Lovi bila daging beef anaknya rusak.
"Hey! kamu berdosa, sudah menyalahkan orangtua,"
__ADS_1
"Iya, kasihan sekali Aunty Lovi disalahkan oleh anaknya padahal Aunty sudah melakukan yang terbaik. Sampai semuanya dipersiapkan dengan matang," sambung Adrina ikut menimpali ucapan Revin untuk membakar Adrian dengan kalimat menyudutkan.
"Sudah-sudah, buat hamburger kalian dengan benar." Sela Andrean menengahi. Kalau Adrian kesal diberi tahu, bisa jadi mereka akan adu mulut. Adrian dan Adrina kalau sudah adu mulut, sampai musim semi datang pun tidak akan selesai.
********
Irene menemani Lovi untuk hadir di acara hari ini. Irene sudah datang lebih dulu. Ketika atasannya sampai, Ia segera menghampiri dan mengajak Lovi untuk bergabung dengan beberapa tamu yang datang.
Lovi cukup terkejut saat menemukan Elea diantara mereka semua. Ia tidak pernah tahu kalau Elea merupakan model atau pemilik butik. Yang Ia tahu hanyalah Elea sebagai pewaris dari perusahaan besar milik ayahnya yang bergerak dalam bidang property. Rupanya gadis itu sudah melebarkan sayap karirinya ke berbagai bidang.
Elea juga nampak terkejut. Alisnya menukik sebelah lalu ketika Lovi menyapanya dengan senyuman, Ia pun tersenyum.
"Elea seorang model, Nona."
"Kami sudah saling mengenal," jawab Elea sebelum Lovi mengangkat suara.
Ternyata Ia model. Lovi kira sama seperti dirinya. Setelah sekian lama tak jumpa, Elea semakin sempurna dalam segala hal. Baik karir maupun penampilan. Dan beruntungnya Lovi pun demikian walaupun tidak sesukses Elea. Karena Lovi membangun semuanya dari nol. Berbeda dengan Elea yang Lovi ketahui dari Devan hanya meneruskan perusahaan ayahnya.
Devan pernah menawarkan diri untuk mencarikan peluang agar Lovi bisa menjadi lebih baik lagi dalam perjalanan karirnya mengingat kekuasaan Devan bisa mempengaruhi itu semua, tetapi Lovi tidak mau. Ia yakin bisa berusaha sendiri.
Semuanya melirik Lovi yang langsung merasakan kaku disekujur tubuhnya. Kalimat itu begitu cepat tersampaikan dan sangat tajam sampai Lovi tidak tahu bagaimana caranya menghindar.
"Devan tidak menemani kamu? ini acara yang penting untukmu 'kan? kenapa dia tidak hadir?"
"Memperbaiki masa lalu itu penting. Aku sudah melakukannya, kamu kapan?" Lovi menanggapi dengan santai. Memilih untuk tak menjawab pertanyaan Elea yang menyinggung ketidak hadiran Devan di sampingnya saat ini.
"Maksudmu?"
"Kamu masih saja bersikap seperti ini. Kenapa tidak berusaha untuk memperbaiki?"
Elea tersenyum hangat. Walaupun demikian, sorot matanya tak bisa berbohong. Lovi sudah pintar membalas telak ucapannya.
Perhatian mereka teralihkan saat semua tamu diminta untuk memperhatikan catwalk karena sebentar lagi acara akan dimulai. Design rancangan Lovi menjadi pembuka. Sehingga Lovi benar-benar semangat ketika melihat model yang mengenakan hasil karyanya sudah mulai menunjukkan penampilan terbaiknya.
"Nona tidak ikut fashion show ?"
"Tidak, kali ini aku hanya menjadi tamu,"
__ADS_1
Irene mengangguk. Ia kira Elea menjadi salah satu bagian dari beberapa model yang akan tampil. Rupanya hanya datang sebagai tamu.
Bertepatan dengan berakhirnya karya Lovi dipertunjukkan, telepon dari Devan masuk ke ponsel Lovi. Perempuan beranak tiga itu bersyukur karena suaminya menelpon diwaktu yang tepat. Elea baru saja bertanya mengenai Devan, dan Lovi tahu apa maksud dari pertanyaan itu. Mungkin Ia berpikir Devan tak lagi peduli pada Lovi sampai membiarkan Lovi datang sendiri ke acara yang penting bagi Lovi ini.
"Sudah mau pulang, Lov?"
"Baru dimulai."
"Oh..." Devan terkekeh di seberang sana.
"Bagaimana di sana? pasti semua yang hadir membawa pasangannya. Hanya kamu yang sendiri ya? aku sudah katakan, aku bisa menemani kamu,"
"Tidak juga, ada--"
Lovi melirik Elea yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya. Lovi tahu gadis itu penasaran.
"Mantan kekasihmu juga datang sendiri," ujarnya sangat pelan, berharap hanya Devan saja yang mendengar.
"Huh? maksudmu?"
Lovi terkekeh tak mau menjawab. Mulutnya ingin memberi tahu Devan kalau saat ini ada mantan kekasih lelaki itu dan baru saja membuat Lovi kesal dengan cara yang halus tetapi Lovi masih sadar tempat. Tidak mungkin Ia membawa-bawa nama Elea sementara gadis itu masih berada di dekatnya. Akan sebesar apa kepala Elea ketika tahu Lovi membahas dirinya.
"Tidak, aku hanya bercanda."
"Selalu seperti ini. Setelah dibuat penasaran, malah tidak dilanjutkan pembahasannya,"
Lovi berbicara dengan Devan seraya memperhatikan satu persatu model yang tengah tampil. Berbeda dengan orang-orang disekelilingnya yang mulai sibuk sendiri dengan ponsel, seperti tak menghargai kerja keras para wanita-wanita cantik di atas panggung yang bergaya begitu anggun.
"Mantan kekasihku banyak, Lov. Jadi aku tidak tahu siapa yang kamu maksud,"
"Yang jelas dia tidak berarti lagi di hidupmu. Siapa dia? coba pikir sendiri,"
Tanpa mengucap nama tapi Lovi berhasil membuat Devan mengerti. Siapapun tahu kalau Devan sudah membenci gadis yang dimaksud Lovi. Sejak dulu Devan selalu mengatakan kalau Elea tidak akan pernah lagi berarti di hidupnya. Dan Lovi tengah mengulangi kalimat yang sering diucapkan lelaki itu.
Elea yang mencuri-curi dengar pembicaraan mereka nampak mengepalkan jemarinya. Elea belum sepenuhnya menjadi orang yang baik. Ketika disinggung seperti itu, rasanya Ia ingin menampar mulut Lovi agar tidak bisa lagi digunakan untuk berbicara.
Rupanya menjauhi Lovi dan Devan tak berhasil menghilangkan rasa dendamnya terhadap mereka berdua. Melihat Lovi rasanya Ia muak sekali. Apa lagi ketika mengetahui kalau Devan begitu membencinya. Ia ingin melakukan hal yang sama seperti lelaki itu. Membenci lalu melupakan. Tetapi sulit sekali. Kenapa Devan bisa, sementara Ia belum bisa? padahal Ia sudah memiliki pengganti Devan. Namun tetap saja masa lalunya bersama Devan masih menghantui hari-harinya
__ADS_1