
"Kamu kembali ke kamar. Aku buatkan tehnya,"
Lovi tidak membantah. Ia segera meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamarnya sesuai perintah Devan.
Devan kembali ke dapur seraya mengusar wajahnya. Rena bertanya dengan panik.
"Lovi tidak membahas apapun 'kan?"
Devan menggeleng. Ia berharap Lovi tidak membahas penyakitnya sampai kapanpun. Itu adalah hal terburuk yang tak pernah Ia harapkan.
"Jane, mulutmu tolong dijaga. Bukan hanya takut penolakan, aku juga tidak ingin Lovi khawatir padaku,"
"Maaf, Devan." Jane menunduk penuh rasa sesal. Mulutnya memang terkadang tidak bisa dikendalikan. Sudah terbiasa berkata seenaknya.
"Memang seperti itu kalau kamu bertahan dalam kebohongan. Sepintar apapun kamu menutupi, kalau Tuhan menghendaki hal lain, maka kamu tidak bisa berbuat apapun,"
Perkataan Senata berhasil membuat Devan terdiam telak. Ini belum apa-apa dan Lovi sudah hampir masuk ke dalam lingkaran terlarang untuknya.
****
"Itu teh buat Adrian?"
Devan bertemu anaknya yang sudah mandi baru saja keluar dari kamar Lovi. Rupanya tadi mereka memanggil Serry dan Netta karena minta dimandikan?
Devan menggeleng dengan raut gelinya. Adrian terlalu percaya diri. Dan itu lucu di matanya.
"Kenapa tidak mandi dengan Daddy?"
__ADS_1
Devan mengisyaratkan Adrian untuk kembali membuka pintu kamar Lovi. Anak itu mengikuti Devan masuk. Niatnya untuk menghampiri sang kakak yang tengah bermain langsung hilang.
"Bosan mandi dengan Daddy,"
Devan mendelik setelah meletakkan satu cangkir teh hangat di nakas.
Devan mencari sosok Lovi di ruangan itu namun matanya belum juga menemukan.
"Mommy diman--"
HUWEKK
HUWEK
Devan langsung melangkah cepat ke kamar mandi saat mendengar Lovi yang tengah mual.
"Mommy muntah terus," lebih kepada berbicara pada dirinya sendiri. Anak itu tidak tahu kalau Lovi seperti ini karena kehamilannya.
Devan membersihkan sudut mulut Lovi lalu menggiring perempuan itu keluar dari kamar mandi yang otomatis membuat Adrian bergeser dari pintu.
"Memang begitu kalau mau punya adik bayi,"
"Jadi Mommy sakit karena adik bayi?"
Devan membantu Lovi berbaring di ranjang lalu menyelimuti kakinya yang terasa sangat dingin ketika tak sengaja tersentuh olehnya.
"Tidak, Sayang. Itu bukan hal yang menyakitkan untuk Mommy,"
__ADS_1
Andrean memasuki kamar Lovi. Ia pun sudah tampan dengan pakaian santainya. Andrean menatap Devan yang duduk di tepi ranjang dengan Adrian dalam pangkuan.
"Mommy sakit lagi?"
Devan menoleh, Ia mengisyaratkan Andrean untuk mendekat. Mereka bertiga menatap Lovi yang kini lemah. Sorot nya yang selama ini penuh kelembutan kini berubah mengenaskan.
"Oh ya, ini tehnya. Nanti kalau hangatnya hilang, kamu tidak ingin lagi,"
Devan meraih cangkir itu pada Lovi. Tak lama kedua anak mereka berhambur keluar. Lovi dan Devan menggeleng pelan melihat itu.
Kenapa tiba-tiba berlari keluar? Seperti melihat sesuatu yang aneh saja. Padahal Devan hanya mengusap kepala Lovi selama perempuan itu minum. Tidak ada yang aneh bukan? Belum sampai pada tahap...hmm temu sapa bibir.
Lovi tampak menatap Devan ragu. Ia menggigit bibir bawahnya seperti sedang menimang sesuatu. Devan mengerinyit, menunggu perempuan di depannya untuk mengatakan sesuatu.
"Devan, Aku--"
Hanya sepenggal namun berhasil membuat perasaan Devan tak menentu. Bolehkan Ia berharap kalau ini adalah saatnya Lovi memenuhi permintaannya tempo hari?
"Ya? Kenapa, Lov?"
Devan jadi merasa gugup juga. Jantung mereka kompak membuat pemiliknya berdebar tak nyaman.
"Aku--aku ingin--"
Devan ingin pingsan rasanya. Padahal Ia tidak tahu Lovi akan berbicara apa. Batinnya berusaha untuk tidak menebak-nebak. Namun bilamana Lovi memang ingin membahas itu, rasanya Devan tak ingin berharap terlalu tinggi. Ia khawatir jawaban Lovi nanti tak sesuai dengan ekspektasinya selama ini yang ingin kembali membangun biduk rumah tangga bersama Lovi. Ia siap untuk mendapat jawaban, artinya siap juga mendapat penolakan.
------
__ADS_1
Hae hae haee kira-kira si Lop-lop mo ngomong apa ya? hmmm... Devan udh kegeeran pdhl Lop blm ngemeng epe-epe😂syapa yg bs nebak??