
Devan dan Adrian tiba di mansion. Begitu masuk ke kamar, Devan melihat Auristella terlelap di tempat tidurnya, Devan langsung menghampiri dan mengecup pipi nya. Sementara Adrian sudah ke kamarnya.
Terdengar suara aktifitas di dalam kamar mandi dan Devan yakin itu Lovi. Devan mengganti baju nya kemudian pergi ke ruang kerja tapi sebelumnya Devan melangkah ke kamar orangtuanya dulu. Ia ingin melihat kondisi papa nya yang belum juga sembuh.
Devan membuka pintu dengan pelan. Ia melihat Raihan tengah menatap layar iPad nya dengan kacamata yang bertahan di atas hidungnya.
"Pa, demam masih demam?"
"Tidak, Devan."
"Kenapa sudah sibuk dengan itu?" dagu Devan menunjuk iPad Raihan. Kemudian mata lelaki itu mencari-cari keberadaan mamanya.
"Papa bosan jadi lebih baik bekerja,"
"Mama dimana?"
"Menghadiri soft launching restoran nya yang baru,"
Devan berdecak kesal lalu kembali menutup pintu kamar di depannya itu. "Memang penting acara itu daripada suami yang sakit?" Ia bicara sendiri untuk meluapkan rasa kesal nya atas sikap Rena.
*****
Setelah mengganti bajunya, Adrian langsung mengangkut mainan nya ke tempat tidur. Andrean masih terlelap sementara dirinya sibuk bermain.
Adrian menoleh saat pintu kamarnya dibuka. Ada Lovi yang menghampirinya. "Kamu belum makan kata Daddy. Ayo, makan dulu. Bermain nya nanti,"
"Aku belum lapar,"
Kruk
Kruk
"Itu suara apa? ada demonstrasi di perut mu?"
Adrian terkekeh geli seraya memegang perutnya sendiri. Anak tampan hasil perpaduan Lovi dan Devan itu akhirnya melempar mainan yang tadi di pegangnya lalu mengikuti Lovi ke ruang makan.
"Daddy sudah makan?"
"Sudah menunggu mu di ruang makan,"
Memang benar, Devan sudah duduk di kursi berhadapan dengan menu makan siang yang dimasak oleh maid.
Lovi segera menyiapkan piring dan makanan untuk suami dan putra keduanya. Tanpa menunggu waktu lama, Devan langsung melahap nya.
"Mommy tidak makan juga?"
"Mommy, Auris, dan Andrean sudah makanan seafood tadi,"
"Uh enaknya. Ini seafood nya?" tangan Adrian menunjuk seafood yang ada di depannya. Lovi mengangguk.
"Iya, Mommy bawakan untuk kamu."
"Sepertinya lezat sekali. Terima kasih, Mom."
"Daddy minta kerang nya,"
"Tidak boleh, ini punya Adrian. Daddy dengar kata Mommy tadi? Mommy bawakan ini untuk Adrian,"
"Minta sedikit, Adrian."
Adrian menggeleng keras kepala. Akhirnya Lovi yang mengambilkan untuk Devan. Adrian langsung berseru tidak terima saat makanan nya di ambil Devan.
"Harus saling berbagi. Sudah tahu itu 'kan?"
"Tapi aku suka seafood,"
"Bukan berarti kamu jadi pelit. Suka boleh, tapi harus berbagi juga,"
Disela Lovi menemani suami dan anaknya makan, baby monitor yang dibawa oleh Lovi untuk memantau Auristella berbunyi memberi tahu bahwa Auristella menangis.
Cepat-cepat Lovi bangkit dari duduk nyaman nya. Kemudian Ia beranjak ke lantai dimana kamarnya berada.
Auristella sudah merangkak dengan tangis nya. Lovi segera meraih anak itu ke dalam gendongan.
Auristella sudah terlelap sejak dalam perjalanan pulang usai berenang tadi, jadi sudah cukup lama Ia tertidur. Pantas saja sekarang sudah bangun.
Lovi membawa putrinya ke ruang makan. Devan menaik turunkan alisnya menyapa sang putri.
"Hallo, princess."
Auristella melambai-lambai pada Devan yang menyapa nya dengan hangat. Wajah Auristella masih merengut karena habis bangun tidur. Ia mengusap mata nya lalu menatap Lovi.
"Auris mau makan?"
Auristella tidak menjawab. Tapi Ia meletakkan kepalanya di bahu sang ibu. Seperti biasa, bila habis bangun tidur Auristella akan bermanja-manja dulu seraya mengumpulkan nyawa nya.
"Bagaimana renang nya tadi? dia pintar tidak?"
"Pintar sekali. Seperti biasa, dia tidak menangis saat belajar renang. Baru melihat kolam renang nya saja dia sudah melonjak-lonjak kesenangan,"
"Auris tidak menangis? ah aku tidak percaya. Pertama kali dia belajar renang, aku ikut menemani dan dia menangis,"
"Kalau tidak percaya, nanti saat Auris renang lagi kamu ikut ya,"
"Lagipula kalau baru pertama kali pastilah menangis, semua butuh penyesuaian," Devan membela Auristella sama halnya dengan Lovi.
"Ngapain menangis? dia 'kan sudah sering berenang di mansion, masa melihat kolam renang di sekolah renang nya dia menangis," Adrian mencibir adiknya itu.
Lovi duduk di salah satu kursi namun Auristella tidak mau. Ia hanya ingin digendong sambil berdiri.
"Auris masih mengantuk ya? tidur lagi kalau begitu,"
Saat Lovi membelai rambutnya, anak itu segera menegakkan kepalanya kemudian menggeleng.
"Makan ya? sudah lapar 'kan?"
"Makan dengan Daddy. Mau tidak?" Devan mengulurkan sendok berisi makanan miliknya. Lovi segera melarang.
Auristella tidak bergerak dari posisi nyaman nya saat ini. Ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Lovi. Akhirnya Devan tidak menawari anaknya lagi.
Lovi berdiri saja sejak tadi memperhatikan Adrian dan Devan makan seraya menggendong putrinya, karena Auristella tidak mau dibawa duduk.
"Hallo, semuanya."
"Hallo, Grandma. Darimana saja?"
"Woaahh banyak cake,"
Rena datang dengan berbagai macam cake yang dibawa oleh ajudan nya. "Ini buat siapa, Grandma?"
"Buat kita,"
"Mama hadir ke soft opening dan meninggalkan Papa sendiri?"
Nada bicara Devan yang terdengar jengkel, membuat Lovi menoleh untuk menegur Devan. Rena tersenyum lembut pada anaknya.
"Iya, karena Mama harus hadir. Semuanya sudah direncanakan, dan Papa juga mengizinkan,"
"Tentu saja diizinkan. Karena tidak ada pilihan lain,"
Rena tahu Devan sedang kesal tapi Ia memilih diam. "Adrian mau cake yang mana?"
"Aku belum selesai makan kepiting, Grandma. Makan cake nanti saja,"
Rena mengangguk dan Ia segera beranjak ke kamar nya untuk melihat kondisi Raihan. Ia melihat suaminya sedang duduk bersandar di ranjang dan menatap layar iPad dengan serius.
"Bagaimana kondisimu?"
"Sudah lebih baik,"
"Pantas kamu sudah bisa bekerja,"
"Kenapa cepat pulangnya?"
"Sudah cepat saja masih ditegur Devan. Apalagi kalau lebih lama dari ini?"
"Dia menegur mu?"
__ADS_1
"Ya, dan sambutannya saat aku datang terlihat datar sekali,"
"Siapkan aku makan ya,"
"Okay, tapi aku ganti baju dulu,"
Sebelum menyiapkan makanan untuk suaminya, Rena mengganti baju formal nya dengan yang non formal.
"Dua hari aku tinggal. Kemarin saat acara pernikahan keponakanku, dan sekarang karena sakit, bagaimana dengan perusahaan?"
Rena keluar bertepatan dengan Raihan yang sedang menghubungi tangan kanan nya di perusahaan. Rena ke meja makan dan masih menemukan keluarga kecil Devan di sana.
"Grandpa mau makan?" tanya Adrian saat melihat Rena meminta bantuan pada maid untuk menyiapkan piring Raihan.
"Ya, Sayang."
"Minta disuapi aku lagi tidak?"
"Tidak, memang kenapa?"
"Oh, ku kira Grandpa mau disuapi lagi."
"Memang kamu bisa menyuapi Grandpa?"
"Ah Daddy tidak tahu ya? kemarin Grandpa minta disuapi makan olehku," jawab Adrian dengan wajah pongah. Mungkin Devan mengira hanya Ia saja yang bisa disuapi, nyatanya Ia bisa menyuapi makanan ke mulut kakeknya.
"Benar 'kan, Grandma?"
"Ya, benar."
"Aku sudah selesai makan, Mom."
"Ya sudah, bersihkan tanganmu."
Padahal Adrian makan dengan sendok, tapi tangan nya terkadang ingin ikut campur juga sehingga setiap makan tangannya pasti selalu kotor.
*****
"Hueek,"
"Hueek,"
"MY LOV, KAMU KENAPA?"
Devan berteriak dari dalam kamar mandi saat mendengar istrinya yang mual. Saat ini Lovi tengah membuatkan susu untuk Adrian. Ia senang karena Adrian yang meminta sendiri.
"Mommy kenapa?"
"Kurang suka dengan aroma susu punyamu,"
"Huh? itu susu yang biasa. Biasanya Mommy tidak seperti itu saat membuatkan susu untuk aku,"
Cklek
Devan keluar dari kamar mandi dalam balutan bathrobe. Air dari rambutnya turun sampai ke dada nya yang terbuka.
Ia segera menghampiri Lovi. Ia khawatir saat mendengar Lovi mual. Dalam hatinya berkata, pasti Lovi sakit karena kelelahan.
"Kamu mual?"
"Iya,"
Adrian mengambil susu miliknya lalu menunjukkan itu pada Devan.
"Dad, Mommy tidak suka dengan aroma susu milikku. Padahal ini susu yang biasa,"
"Kenapa, Lov? kemarin-kemarin tidak seperti ini,"
"Iya, Mommy aneh." sambar Adrian dengan raut bingungnya.
"Mungkin Mommy sedang sensitif dengan aroma-aroma susu," Andrean angkat bicara dengan tenang. Ia sedang dipeluk oleh adiknya yang sudah tertidur sehingga tak bisa menghampiri Lovi, hanya bisa menoleh.
"Kamu sakit, Lov?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Aku saja yang buat,"
"Daddy pakai baju dulu!"
"Ah sudah tanggung. Kamu bicara seperti itu setelah Daddy menuang air panas,"
Adrian mendengus. Anak kedua Devan itu menunggu Devan seraya berdiri tegap di samping Devan dan bersedekap dada, sehingga persis seperti algojo tapi sayang badannya kurang terlihat kekar seperti algojo.
Devan menyerahkan susu yang sudah dibuatnya pada Adrian. "Tidur sekarang, jangan banyak bicara lagi!"
Adrian meletakkan tangannya di pelipis dengan posisi hormat. "Siap, Dad." ujarnya. Ia segera bergabung bersama kakak dan adiknya.
"Kalian tidur di sini saja,"
"Memang aku mau tidur di sini,"
"Sepertinya aku juga, Auris memeluk aku erat sekali, Mom." jawab Andrean dengan pelan. Ia bergerak sedikit saja Auristella langsung melenguh dan mempererat pelukannya. Kalau Ia pergi, khawatir nya Auristella terbangun.
"Besok periksa ke dokter," ujar Devan sebelum Ia masuk ke dalam walk in closet.
"Aku sehat, sedikit-sedikit selalu saja ke rumah sakit,"
Devan sempat mendengar jawaban istrinya itu. Di dalam closet Ia menggerutu. Secepat kilat Ia mengenakan piyama yang sama dengan kedua putranya. Setelah itu kembali ke kamar.
"Kamu sakit, aku yakin."
"Apa sih? aku yang tahu badan aku, kenapa kamu yang sok tahu?"
Mereka jadi berdebat di depan Andrean dan adiknya. Devan terlalu khawatir sementara Lovi merasa bahwa dirinya baik-baik saja.
Devan membanting tubuhnya di sofa karena jengkel. Kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi dokter. Agar dokter yang datang ke sini karena Lovi keras kepala tidak ingin diajak ke rumah sakit.
*****
Senata sedikit terkejut melihat dokter keluarga Vidyatmaka menyambangi mansion. Yang Ia tahu kondisi kesehatan Raihan sudah membaik dan sepertinya anggota keluarga yang lain juga dalam kondisi sehat semua. Hal apa yang melatar belakangi kedatangan Fernando sekarang?
"Hallo, Nyonya Sena."
"Hallo, dokter. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, kabar Nyonya bagaimana?"
"Aku juga baik,"
"Dimana Devan? dia yang memanggilku ke sini? apakah kondisi Tuan Raihan menurun lagi?"
"Yang aku tahu sudah membaik,"
Salah seorang maid ditugaskan Senata untuk memanggil Devan. Devan segera menghampiri teman nya itu. Kemudian meminta Fernando untuk datang ke kamarnya memeriksa Lovi.
Lovi sudah terlelap. Saat dibangunkan oleh Devan, Ia sempat menggerutu. Tapi setelah melihat kedatangan Fernando, Ia terkesiap.
"Dokter?"
"Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Periksa dia, Bodoh. Begitu saja harus diajari?"
Fernando mendengus kesal saat mendengar Devan mencibirnya. Dia juga tahu tugasnya tapi Ia harus tahu dulu gejala yang dialami Lovi.
"Aku curiga dia sedang tidak sehat karena tadi mual,"
Lovi berdecak kesal dalam hati. Rupanya Devan tetap ingin tahu kondisi tubuhnya. Menurut Lovi, Devan terlalu berlebihan sampai mendatangkan dokter ke mansion setelah Lovi menolak mentah-mentah ajakannya untuk datang ke rumah sakit.
"Kamu sedang mengandung, Lovi. Dan asam lambung mu meningkat,"
Alis Devan bertaut. Devan dan Lovi saling bertatapan beberapa detik. Kabar yang tidak disangka telah mereka dengar malam ini.
"Hamil?"
"Iya, sepertinya sudah menginjak dua Minggu. Kamu tidak menyadarinya?"
__ADS_1
"Jangan bercanda kau, Fer." ujar Devan seraya meninju pelan bahu Fernando.
"Astaga, untuk apa aku bercanda?!" sentaknya kesal. Ia menatap Lovi kemudian mengulurkan tangan.
"Selamat ya. Agar kalian lebih yakin, besok periksa ke dokter kandungan sekalian untuk mengetahui kondisi kehamilan mu lebih lanjut,"
"Fer, kau serius?" Devan bertanya dengan tampang layaknya orang kebingungan karena Ia masih sulit percaya. Fernando menjawab singkat, "Percaya atau tidak, terserah."
"ASTAGA, MY LOV KAMU HAMIL LAGI, SAYANG."
Fernando sampai menutup telinga nya karena suara Devan. Auristella yang terlelap bahkan menangis histeris karena terkejut. Andrean yang terkenal sulit untuk dibangunkan bahkan juga tersentak sampai tubuhnya terbangun dan Auristella semakin kencang tangisnya karena tubuh yang sedari tadi dipeluknya tidak bisa Ia jangkau lagi. Adrian juga membuka matanya lalu menggerutu kesal.
"Ada apa sih?"
Andrean mengacak rambut lebat nya dengan mata yang masih setengah tertutup.
Lovi mencubit lengan suaminya. Lelaki itu benar-benar rusuh. Tiga malaikat kecil mereka bangun karena suara nya yang menggelegar itu.
"Maaf-maaf, Daddy kelepasan. Telinga kalian masih sehat 'kan?"
"Astaga, Daddy! jantungku seperti lompat dari tempatnya," Adrian menggeram kesal sampai giginya bergemelutuk.
Fernando keluar dari kamar diikuti oleh Devan. Sementara Lovi menenangkan putri kecilnya.
"Setelah dia buat menangis, lalu dia tinggal. Devan benar-benar menyebalkan," batin Lovi menggerutu atas perilaku Devan.
Ia segera menimang Auristella agar putrinya itu tenang. Ia tahu bagaimana rasanya ketika tidur lelap diganggu dengan seruan yang mengejutkan. Detak jantung Auristella bahkan masih belum beraturan.
"Maafkan Daddy mu ya, Sayang?"
"Adrian dan Andrean bisa tidur lagi,"
Mereka berdua mengangguk. Adrian kembali menarik selimut yang tadi membalut seluruh tubuhnya.
"Aku boleh ikut bergabung di bawah selimut mu tidak?"
"Tidak boleh! pakai selimut sendiri,"
Akhirnya Andrean mengambil selimutnya di atas sofa. Tadi Ia tidak merasa dingin, setelah bangun malah kebalikannya.
****
Devan dan Fernando berbincang sebentar di ruang tamu dengan suguhan teh hangat serta cookies. Setelah itu Fernando pulang.
"Fernando sudah pulang?" tanya Senata.
"Sudah, Ma. Aku punya kabar bahagia," raut bahagia Devan memang sudah disadari oleh Senata sebelum lelaki itu mengatakan ada kabar bahagia.
"Apa itu?"
"Lovi hamil lagi. Besok kami akan periksa ke dokter kandungan,"
"Huh? kamu serius?" Senata sampai membungkam mulutnya sendiri. Ia benar-benar tidak menyangka kalau malam ini akan mendengar kabar bahagia itu. Cucu nya akan bertambah.
"Serius, Ma. Begitu hasil pemeriksaan Fernando tadi,"
"Astaga, Mama turut bahagia mendengarnya. Selamat ya, semoga semakin baik lagi dalam menjalani peran sebagai orangtua,"
"Ya, terima kasih, Ma."
*****
Setelah belajar sekitar tiga jam di kelas, seluruh murid di kelas Andrean dan Adrian ke lapangan untuk olahraga bersama.
Yang perempuan berlari sementara laki-laki bermain sepak bola. Thalia menyemangati Adrina yang belum apa-apa sudah kelelahan.
"Ayo, Adrina. Ah kamu payah. Baru satu putaran. Tadi sudah sarapan belum sih?"
"Sudah, tapi aku tidak biasa lari."
"Makanya biasakan,"
"Halah, kamu sendiri memang rajin berlari?"
"Buktinya aku masih kuat," Thalia mengeluarkan lidahnya, mengejek sahabatnya yang tertinggal di belakang. Adrina menghentikan langkahnya sebentar untuk mengatur napas. Tak lama, Ia kembali melanjutkan lari nya.
"Astaga, aku paling malas kalau sudah jadwal nya olahraga. Ingin rasanya aku tidur saja di kelas," Ia hanya bisa menggerutu dalam hati. Karena Ia akan merasa lebih lelah kalau berlari sambil mengeluarkan suara.
"Hanya lima putaran ya. Seperti biasa,"
"Okay, Ms."
Adrina baru tiga sementara Thalia sudah hampir lima. Beruntung bukan Adrina saja yang lamban dalam hal berlari.
"Aku yakin Thalia juga jarang lari-lari. Tapi kali ini Ia sedang memaksakan diri agar lebih unggul dari aku,"
Mereka bersahabat tapi sering sekali saling menyindir. Awalnya marah dan tidak bertegur sapa, tapi lama-lama baik sendiri.
Setelah semuanya berlari lima putaran di lapangan khusus lari, mereka diizinkan untuk istirahat sebentar dan bergantian bermain sepak bola dengan siswa laki-laki nya.
Adrina meneguk air minumnya sangat rakus. Inilah sebab nya Ia sangat tidak menyukai olahraga. Selain Ia kurang nyaman karena berkeringat, Ia akan minum terus. Setelah itu sering bolak-balik kamar mandi. Belum lagi rasa lelah yang begitu menyiksa.
"Kamu seperti unta ya? minum nya banyak? tapi dimana punuk mu?" tanya salah satu teman Adrina yang bernama Davinka. Adrina mendengus apalagi saat beberapa temannya yang juga mendengar ucapan Davinka, menertawakan dirinya.
"Davinka cerewet,"
"Maaf, aku hanya bertanya tadi."
Davinka menyentuh sekilas dagu Adrina yang sedang merengut itu agar Adrina tidak marah. Adrina segera menyingkirkan tangan Davinka dari dagu nya.
"Istirahat dulu,"
"Kami masih kuat,"
Berbeda dengan perempuan, yang laki-laki justru menolak untuk istirahat. Mereka memilih untuk lanjut berolahraga tepatnya berlari.
Adrina salut dengan mereka terutama Adrian yang sangat semangat. Padahal anak lelaki yang memiliki nama hampir mirip dengannya itu sudah berkeringat parah.
Setelah berlari, Adrian dan teman-temannya diperbolehkan untuk melanjutkan permainan sepak bola. Tanpa pikir panjang mereka segera ke lapangan sepak bola yang satu lagi untuk lanjut bermain.
Adrina berbeda tim dengan Thalia. Setelah dibagi menjadi dua tim, mereka langsung bermain sepak bola. Cara mereka bermain sangat berbeda dengan Andrean dan tim nya.
Perempuan lebih banyak berkumpul, tidak bagi tugas. Satu menguasai bola, yang lain pun demikian sehingga posisi yang seharusnya diisi oleh masing-masing dari mereka malah kosong. Dan hanya kiper yang menjaga pertahanan.
Thalia yang menjadi kiper sampai mengacak rambut panjang nya dengan gemas. Semua tim nya berada di daerah lawan, fokus untuk mencetak gol.
Ia ikut berteriak histeris saat salah satu anggota nya ada yang hampir mencetak gawang tim Adrina.
"GO GO GO," Sorak Thalia menyemangati. Sementara penjaga gawang tim Adrina sedang waspada sekali.
Tiba-tiba saja guru olahraga mereka mengeluarkan bunyi peringatan saat Adrina terjatuh di lapangan.
"Astaga, Adrina."
Thalia cepat-cepat menghampiri Adrina. Ia tak memikirkan gawang nya lagi. Karena semua teman-temannya juga sudah membantu Adrina untuk berdiri.
"Adrina, kamu baik-baik saja?"
"Aduh, kaki nya terluka." Ujar guru mereka setelah itu Ia memanggil petugas sekolah yang biasa mengobati murid bila sedang terluka. Adrina di gendong dan di bawa ke ruangan khusus.
Kegiatan olahraga untuk yang laki-laki tetap berlanjut, tapi Adrian sadar kalau Adrina sedang digendong oleh petugas kesehatan sekolah.
"Kita bermain masih berapa menit lagi?" tanya Adrian pada Steve, teman yang kebetulan sedang berada di sampingnya. Ia mencuri kesempatan untuk bertanya di sela merebut bola.
"Mungkin sebentar lagi. Memang kenapa?"
"Adrina sepertinya terluka,"
"Lalu apa urusannya denganmu?"
"Aku hanya penasaran saja. Kenapa dia bisa seperti itu,"
"Kamu tahu darimana kalau dia terluka?"
"Aku melihat dia digendong oleh Mr Adley tadi,"
"Adrian fokus!" tegur Revin saat bola yang Ia berikan tidak diterima dengan baik oleh Adrian.
__ADS_1
Haaeeee semuanyaa gmn kabarnya? stay healthy yaa❤️ Lop-lop hamidun sama kek adek ipar nya dunk? yah Auris gk jd anak bontot deh :(