
"Bagaimana dengan pekerjaan? ada kendala selama aku pergi?"
"Tidak ada, Tuan. Semua baik-baik saja,"
"Kira-kira kalau aku menambah hari liburku, masalah tidak?"
Ferro tertawa di seberang sana. Keberatan sekali. Karena biar bagaimanapun selama Devan pergi, semua pekerjaan yang berada di kantor harus ditangani olehnya selaku tangan kanan Devan. Sementara Ia juga memiliki tugas sendiri.
"Terserah Tuan. Aku akan selalu membantu dan berusaha melakukan yang terbaik,"
"Kau sudah menjadi yang terbaik, Ferro. Bertahan belasan tahun dengan orang seperti Aku itu tidak mudah,"
Lovi masuk ke dalam kamar usai memberi Auristella makan karena saat makan malam bersama tadi, Auristella tertidur.
Ia melihat suaminya tengah tertawa dengan seseorang di seberang sana. Sesekali membahas pekerjaan, dan Lovi yakin dia Ferro.
Auristella diletakkan di atas ranjang sementara Lovi membersihkan wajahnya untuk memakai produk perawatan malam hari miliknya.
Auristella bermain seorang diri, menemani ayahnya yang sedang sibuk mendengarkan laporan Ferro dan cerita-cerita dari lelaki paruh baya itu selama Ia berlibur.
Auristella menendang-nendang udara seraya menggigit tangannya. Devan tak bisa terlalu fokus dengan suara Ferro, Ia menoleh pada sang anak yang menatap langit-langit.
Devan mengeluarkan tangan Auristella dari mulutnya sendiri. Auristella menoleh dan ingin kembali melakukannya. Devan menggeleng, memperingati. "Tidak boleh makan tangan. Kamu diberi makan yang bergizi dan enak, kenapa malah makan tangan?"
Bibir Auristella melengkung ke bawah. Devan yang melihatnya terkekeh gemas dan Ferro bingung kenapa Tuannya tertawa.
"Liburan membuat dia gila ya?"
Ferro menepuk pelan mulutnya yang hampir saja mengeluarkan isi pikiran. "Tuan jadi menambah hari libur kah?"
"Tidak, aku tahu kau sudah lelah menggantikan aku 'kan?"
"Tidak juga, Tuan selalu membantu kalau aku kesulitan," Ferro memberikan apresiasi untuk Devan yang tak masalah ketika Ia mintai bantuan seperti saat Ia meminta masukan walaupun Ia tengah berlibur bersama keluarganya. Devan bisa membantu karena Ferro selalu tahu waktu, tidak setiap saat menghubunginya seolah tahu betul waktu-waktu yang tepat untuk memberi laporan pada Devan.
"Baiklah, terima kasih, Ferro."
"Ya, Tuan."
Devan akan meletakkan ponselnya di nakas tetapi Auristella merengek dan menjulurkan tangannya ingin memegang ponsel Devan. Akhirnya lelaki itu memberikan setelah dimatikannya.
"Memang kamu mengerti cara menggunakannya?"
Auristella membolak-balik benda tipis di tangannya, memperhatikan dengan serius dan sangat penasaran.
Yang membuat Devan terkekeh gemas adalah, anak itu meletakkan ponsel Devan di telinganya, dia tahu fungsi benda tersebut, untuk berkomunikasi.
"Pintar anak Daddy,"
"Hallo, Auris. Kamu sedang apa?"
"Kenapa diam saja? jawab Daddy, Daddy sedang bicara padamu,"
Auristella terkekeh geli saat Devan pura-pura tengah menelponnya. Ia menepuk pelan wajah Devan, meminta Devan untuk mengulanginya lagi.
"Princess Daddy yang terkadang banyak tingkah sedang apa sih? kenapa tertawa? ada yang lucu?" Wajah anak itu cemberut ketika Devan mengatakan 'princess yang banyak tingkah' Ia tahu Devan sedang meledeknya terlihat dari tawanya yang menyebalkan.
********
"Kayla mau ke kamar Aunty Jane boleh tidak, Ma?"
"Untuk apa ke sana?"
"Mau make-up,"
"Jangan,"
"Tapi aku sering menjadi MUA untuk Aunty Jane,"
"Iya, hanya sekedar main-mainan saja kan?"
"Ya, aku mau main itu sekarang. Bosan menonton terus,"
"Adrian, temani aku ke sana, ayo."
"Tidak mau, aku sudah nyaman di sini. Sesuatu yang membuat nyaman tidak boleh ditinggalkan,"
"Apa sih? tidak nyambung!"
"Ayo, aku juga ingin ke sana,"
"Kamu mau jadi MUA juga?"
"Tidak, mau menonton di kamar Aunty Jane saja. Biasanya jam segini Aunty sedang menonton film horor. Bosan menonton film seperti ini terus," ucap Andrean seraya melirik televisi yang sedang menjadi tontonan Aunty, Uncle, dan semua sepupunya termasuk sang adik juga. Film yang mereka saksikan saat ini adalah komedi. Dan Andrean yang anaknya kurang suka dengan humor merasa tidak terlalu nyaman menyaksikannya. Anak itu memang selalu serius. Sampai terbawa ke selera film.
Kayla dan Andrean datang ke kamar Jane. Rupanya Jane tengah tertidur di depan laptopnya menampilkan film horor.
"Setan yang menonton Aunty. Terbalik ya," gumam Andrean seraya menggeleng heran ketika Ia mencuri pandang ke laptop Jane.
Anak sulung itu naik ke atas ranjang, lalu berbaring di samping Jane yang masih terpejam. Sementara Kayla mulai membongkar alat-alat make up milik Jane. Ini adalah kegiatan favoritnya bila sedang datang ke kamar Jane maupun Vanilla. Banyak sekali alat-alat make-up yang membuatnya tak henti penasaran dan ingin mencoba.
Tadinya ingin mempercantik Jane, ternyata rencana hanya tinggal rencana. Kayla malah merias dirinya sendiri di depan cermin. Dengan kemampuan yang jauh di bawah rata-rata Ia mencoba semuanya tanpa tahu fungsi produk yang dia pakai itu untuk apa. Ada beberapa yang tidak Ia pahami bagaimana cara pakai dan fungsinya. Seperti eyeliner, eyebrow, dan contour. Eyeshadow pun digunakan sangat berantakan oleh anak itu.
Tak lama pintu kamar Jane terbuka. Hadirlah Sandra, sepupu perempuannya. Sandra tersenyum antusias saat melihat Kayla tengah sibuk dandan. Ia pun turut serta, bahkan berebut kursi di depan meja rias.
"Aku yang lebih dulu datang. Kamu tidak perlu duduk, dandan seraya berdiri saja,"
"Tidak mau! mana bisa seperti itu?"
Andrean menoleh ke arah mereka berdua karena mulai terganggu dengan perdebatan mereka yang tidak penting itu. Tetapi Jane tetap saja nyaman dalam tidurnya.
"Geser sedikit, Kayla! kamu kenapa pelit sih?! nanti hidungnya lancip, kamu mau?!"
"Biarkan, justru bagus kalau lancip. Akhirnya aku punya hidung yang tidak terpendam di dalam," Kayla terlalu santai menanggapi ucapan sepupunya yang sudah kesal itu. Sandra mendorong Kayla, tetapi tak berhasil menyingkirkan Kayla. Justru Kayla semakin kuat mempertahankan posisinya.
"Kayla, ayolah berbagi tempat dengan aku. Aku mau dandan juga,"
"Dandan, silahkan. Tapi sambil berdiri,"
ucapan Kayla membuat Sandra geram. Ketika melihat Kayla akan memoles lipstik, Sandra sengaja menyentuh tangan Kayla hingga lipstik itu terpoles tidak pada tempatnya.
"SANDRA, AKU JADI SEPERTI BADUT KARENA KAMU! DASAR PERUSUH!"
Andrean menoleh kaget saat Kayla berteriak seperti itu, disusul suara bantingan benda kecil. Ia melirik Jane yang belum membuka matanya juga. Maklum, Jane memang tak beda jauh dengan Vanilla yang begitu mencintai tidur. Terlalu mencintai malah sampai setiap kali harus bangun dari tidur, mereka merasa tidak rela.
Kayla bangkit dari kursi dan mendorong Sandra dengan kesal. Sandra segera mengambil tempat Kayla tadi, Ia mencuri kesempatan ketika Kayla malah bangun dari kursi demi mendorongnya.
"HAHAHA AKU BISA DUDUK SEKARANG. YEAAY THANK YOU KAYLA,"
"SANDRAAAA!"
Jane tersentak dan bangun dari tidurnya. Andrean memang sudah mengira kalau Aunty-nya pasti akan dibuat seperti ini setelah mendengar perdebatan mereka di awal. Andrean tahu perdebatan akan berlanjut. Sekarang terbukti, mereka berhasil mengganggu tidur Jane.
Mata Jane membulat saat melihat meja riasnya sudah berantakan. Semua alat make up yang sebelumnya tertata rapi di dalam sebuah pouch kini tersebar di atas meja rias.
"Astaga, apa yang kalian lakukan?" tanya Jane yang masih syok. Ia baru bangun tidur, terbangun pun karena teriakan menggelegar, dan yang Ia dapati setelahnya adalah suasana seperti ini.
"Aku sedang dandan, Sandra datang-datang langsung menjadi perusuh, Aunty."
Jane segera duduk, meninggalkan bantal yang menopang kepalanya sedari tadi. Sementara Andrean kembali fokus dengan tontonannya.
"Bisa keluar dari kamar Aunty sekarang?"
"Aunty mengusir? aku adukan pada Papa ya?!"
"Iya, aku juga mau bilang ke Ayah," sahut Sandra yang tak mau kalah. Mereka pergi dari kamar Jane tanpa bertanggung jawab dengan semua yang sudah terjadi.
"Andrean, bagaimana ini? mereka pergi tapi tidak tanggung jawab,"
Andrean menoleh, tanpa berkata apapun Ia pergi meninggalkan kamar Jane. Gadis itu menghentak kakinya kesal. "Semuanya pergi tanpa peduli dengan kekacauan ini. Errghhh! benar-benar mereka semua. Akan aku laporkan ke orangtua masing-masing!"
Jane keluar dari kamar dan menghampiri ruang televisi karena terdengar suara Sandra dan Kayla yang sedang mengadu.
"Kayla, Sandra, kalian harus bereskan lagi semuanya. Kasihan Aunty Jane,"
Rupanya Andrean keluar untuk menegur kedua sepupunya. Sandra mengendikkan bahunya tak mau. "Bukan aku penyebabnya. Aku 'kan baru datang, dan ketika aku datang, semuanya sudah seperti itu,"
"Kayla, kamu yang membuat kekacauan itu 'kan? ayo mengaku, dan segera bertanggung jawab."
"Tidak mau, aku sudah tidak mood menyentuh alat-alat make up itu,"
Jane akhirnya sampai juga di tengah-tengah mereka. Dengan kesal Ia menarik pipi kedua keponakannya yang tidak sopan itu.
__ADS_1
"Jangan semau kalian ya. Bereskan semuanya! Aunty tidak mau tahu,"
"Kekacauan apa yang mereka perbuat?"
"Lihat saja sendiri di kamarku!"
Nindya segera bangkit untuk melihat penyebab kemarahan Jane. Begitu sampai di depan pintu kamar Jane, Ia melotot sempurna.
"Astaga, ini kamar?" Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Nindya. Yang Ia sendiri tahu apa jawabannya. Tentu saja itu kamar, bukan gudang.
Ia kembali menghampiri anaknya, Sandra dan keponakannya, Kayla. "Sandra, tanggung jawab atas semua yang sudah kamu lakukan. Bunda tidak suka kamu seperti itu ya,"
"Bukan aku! Kayla yang melakukannya,"
"Apa sih?! kenapa hanya aku?"
"Jelas-jelas saat aku masuk kondisinya sudah berantakan seperti itu. Aku belum make-up, Bunda. Kayla yang sudah make-up, berarti dia lah yang mengacaukan semuanya. Aku belum menyentuh apapun, sungguh."
Adrian, si tengil yang satu itu tetap fokus dengan film komedi yang disaksikannya. Bahkan masih bisa tertawa disaat suasana sedang panas. Ia bersama Genta dan Kenith justru sibuk dengan dunianya. Film yang mereka tonton lebih menarik daripada perkara yang para perempuan itu bahas.
"Kayla, ayo bereskan semuanya."
"Tidak mau, Ma! Sandra juga salah. Kenapa dia datang ke kamar Aunty Jane lalu mau ikut-ikut make-up seperti aku. Seharusnya dia di sini saja. Sudah benar, hanya aku dan Andrean yang datang ke kamar Aunty Jane."
Jane menggeram kesal dan membanting tubuhnya di sofa seraya menarik rambut panjangnya. Jangan sampai Ia stres karena ini semua.
Jo melempari Jhon dengan bantal sofa, agar fokus pada anak perempuan mereka, Kayla yang keras kepala itu.
"Apa sih?" tanya Jhon tak santai.
"Kamu lihat kamar Jane sekarang! Wakilkan aku, tadi Nindya sudah ke sana. Aku takut pingsan kalau datang ke sana,"
"Ada apa?" Ia malas sekali berjalan ke kamar Jane. Sedang menikmati film malah disuruh-suruh.
"Lihat sendiri! cepatlah, supaya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk Kayla,"
Jhon menatap datar istrinya, masih tidak mau. Jo semakin geram dengan Jhon. Akhirnya Ia menarik lengan Jhon agar bangkit.
Mau tak mau Jhon melakukan apa yang disuruh istrinya. Melihat suasana kamar Jane, Jhon malah menatap datar. Seolah tidak ada yang aneh, berbeda sekali reaksinya dengan Nindya tadi.
"Apa yang salah?" tanya lelaki itu dengan tampang bodoh. Nindya gemas sekali melihat suami Jo itu.
"Kamu masih bertanya? matamu masih normal tidak?!" seru Nindya dengan nada tinggi.
"Itu semua perbuatan mereka berdua," Jane menunjuk Kayla dan Sandra.
"Aku tidak mau banyak bicara ya, sekarang juga anak kalian harus bertanggung jawab!"
"Kayla..."
"Ayo, Sandra. Lakukan apa yang Mama katakan. Sekalipun kamu tidak salah, hitung-hitung kamu sedang membantu Kayla. Kamu akan mendapat keberuntungan kalau menolong orang lain,"
Sandra merengek, "Bundaaa." Kemudian Ia malah memeluk Nindya. Sementara Kayla bersedekap dada dan mengalihkan pandangan, tak ingin melihat Jo yang sedang memarahinya.
"Kayla! jangan keras kepala! cepat rapikan semuanya!" titah Jhon yang sudah ingin mengakhiri semua ini. Jujur, Ia sakit kepala menyaksikan perdebatan semacam ini.
Akra yang sejak tadi diam, akhirnya menatap Sandra dengan datar. Sang anak tahu kalah ayahnya sudah memperingati dari matanya itu.
"Dengarkan kata bunda. Kembalikan semuanya seperti semula," kata ayahnya yang membuat Sandra akhirnya mematuhi.
Ia segera berjalan ke kamar Jane. Dan Kayla masih bertahan dengan ego-nya. Adrian yang mulai jengah mendengar semuanya pun akhirnya menoleh.
"Ada apa sih?"
"Terlambat sekali kamu baru bertanya sekarang!" Jane mencibir Adrian. "Maaf, Aunty. Aku terlalu menikmati film,"
"Kayla, cepat lakukan! Sandra sudah baik mau membantu kamu,"
"Bukan membantu, dia memang harus melakukannya karena dia juga salah,"
"Papa hitung sampai tiga kalau kamu tidak mau juga, maka jangan salahkan Papa kalau besok kamu tidak boleh ikut kami berlibur lagi. Papa akan pulangkan kamu ke rumah,"
"ADUH SEDIH AKU," Adrian memanas-manasi hingga mengundang lirikan sinis dari Kayla.
"Daripada tidak bisa ikut liburan lagi, lebih baik kamu lakukan apa yang dikatakan Uncle Jhon." saran Adrian yang bijaksana.
Jo menyisipkan rambut Kayla ke telinga. Lalu mengangkat dagu anak itu. "Ayo, Sayang. Jangan sampai Papa marah padamu. Kamu tahu sendiri kalau papa sudah marah 'kan?" bujuknya dengan lembut. Berhasil! Kayla langsung melakukan apa yang diinginkan semua orang sejak tadi.
Melihat kedua keponakannya sudah pergi ke kamarnya, Vanilla menghela napas lega. Kemudian Ia berbaring di sofa, ingin kembali melanjutkan tidur.
"Malas, Aunty mau lanjut tidur,"
"TIDURRRR TERUSS."
******
"Bukan aku yang salah, malah aku yang disuruh membereskan ini. Aduh, sabar Sandra. Kamu anak baik, jadi harus patuh pada orangtua," tangannya sibuk bekerja, mulutnya pun begitu. Itulah Sandra, si anak cantik yang patuh kalau sudah dimarahi ayahnya itu.
Sandra memasukkan alat-alat make-up milik Aunty-nya ke dalam pouch berwarna merah muda dengan cepat.
Ia menutup loose powder dan semua yang terbuka. Kayla benar-benar tidak bertanggung jawab. Habis dipakai tidak ditutup lagi tempatnya.
"Aku bantu,"
Sandra menoleh saat Kayla masuk dan ikut serta membantunya. "Kenapa berubah pikiran? tadi angkuh sekali, tidak mau membereskan ini,"
"Daripada aku dipulangkan ke rumah, lebih baik bertanggung jawab,"
"Memang enak diancam begitu? makanya biasakan tanggung jawab,"
Kayla memasang ancang-ancang ingin melempar brush ke arah Sandra seraya menggeram, "Berisik!"
"Ini dimana tutupnya?!"
"Mana aku tahu?!" jawab Sandra tak santai saat Kayla menunjuk lipstik yang kehilangan tutupnya, "Kamu yang memakainya tadi. Lalu diletakkan dimana? coba ingat-ingat." mendengar ucapan Sandra, Kayla segera menjelajahi pandangan. Ia sampai menunduk ke lantai untuk mencarinya.
Tak ada, lalu Ia merendahkan tubuh dan mencari di bawah meja rias. Ia menemukannya. Ternyata sedahsyat itu pertengkaran mereka tadi sampai tutup lipstik tergelinding ke bawah meja.
Adrian mendatangi mereka, dan memperhatikan dari sela pintu yang terbuka setengah. Ia terkekeh sendiri melihat sepupunya sibuk membereskan kekacauan yang telah terjadi.
"Lantainya kotor terkena bedak tabur dan---apa ini namanya?" Sandra membaca nama produk di tangannya, "Foundation,"
"Astaga, kenapa bisa tumpah seperti ini sih?" gumam Sandra bingung. "Kayla, pel lantainya!"
"Kenapa aku?! kamu saja,"
"Kamu yang membuatnya tumpah! masih beruntung aku mau membantu kamu,"
"Tidak perlu dipel,"
"Harus! nanti Aunty Jane marah lagi. Kalau melakukan sesuatu jangan tanggung-tanggung,"
Adrian masuk ke dalam kamar lalu bersedekap dada, seolah menjadi Tuan besar untuk mereka berdua.
"Sudah belum? apa lagi yang diperdebatkan?"
"Kayla tidak mau mengepel lantai," ucap Sandra seperti laporan pada Adrian.
"Kayla, pel sekarang! kamu selalu saja membantah kalau diberi tahu. Tanggung jawab! cepat!"
"Astaga, aku tidak bisa melakukannya,"
"Harus bisa! aku yang anak laki-laki saja bisa,"
"Halah bohong!"
"Tidak percaya? tanya Mommy-ku. Terkadang aku membantu Mommy mengepel kamarnya,"
"Uncle Devan orang kaya tidak mungkin mengandalkan Aunty Lovi dan kamu untuk membersihkan kamar,"
"Kaya bukan berarti tidak boleh menyentuh pekerjaan rumah. Selagi bisa dikerjakan sendiri kenapa harus meminta bantuan pada orang lain sekalipun mereka dibayar untuk bekerja?"
"Ck! tapi aku 'kan perempuan, harus dimanja dan tidak dibolehkan Papaku untuk melakukan kegiatan seperti itu,"
Adrian memutar bola matanya. Ternyata Kayla begitu dimanjakan oleh Papa dan Mamanya. "Aku juga tidak boleh, tapi aku pernah mengepel lantai karena menumpahkan air minum,"
"Nah, Sandra saja pernah. Kamu yang berlebihan. Seperti keturunan raja saja tidak pernah melakukan itu. Kamu 'kan sudah cukup besar, seharusnya bisa mengepel. Mudah, tinggal di geser-geser saja alatnya,"
Kayla yang semakin disudutkan akhirnya keluar dari kamar dan bertanya dimana alat pel diletakkan.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk memotong rumput! tentu saja untuk mengepel lantai," sungut anak perempuan itu.
"Tidak perlu dipel,"
"Tidak bisa begitu, Jo. Kalau memang lantai kotor karena Kayla, dia harus membersihkannya lagi," ujar Akra, sepupunya dengan tegas.
"Biarkan anakmu bertanggung jawab. Semakin besar nanti, Ia akan semakin sulit untuk diajarkan bertanggung jawab. Makanya sedari dini," Akra menepuk bahu Jhon yang serius menonton. "Jangan salah mendidik anak, Jhon. Kau pasti terlalu memanjakan dia. Terbukti dari caranya menolak untuk membereskan kekacauan tadi, begitu keras kepala."
Akra tidak bermaksud untuk mengajari Jhon, adik sepupunya, dalam mendidik anak. Tetapi bila terus seperti itu, Kayla akan semakin buruk perangainya.
Jo akhirnya mengambilkan alat pel kemudian diserahkan pada sang anak. Kayla berlari masuk ke dalam kamar Jane untuk segera menyelesaikan tugasnya.
Devan tampak mengerinyit saat keluar dari kamarnya, tidak terdengar keramaian. Biasanya di ruang menonton masih ramai sekalipun waktu sudah malam.
"Anakku yang satu lagi dimana?" tanya Devan ketika tidak menemukan Adrian.
"Di kamar Jane,"
"Sedang apa dia? berbuat kekacauan pasti,"
"Malah anakku yang baru saja mengacaukan kamar Jane,"
Devan melirik Jane yang terlelap di sofa. Ia menggeleng pelan. Katanya kamar milik Jane dikacaukan, tetapi kenapa pemiliknya malah tertidur lelap?"
Devan segera menghampiri kamar Jane. Dan mengerinyit saat melihat Kayla tengah mengepel lantai, Sandra tengah menata meja rias, sementara anaknya berdiri di atas ranjang Jane seraya menata rambutnya, lalu berpose bak pangeran tampan.
"Ada apa ini?"
"Oh Uncle, aku terkejut." Kayla yang sedang mengepel dan membelakangi Devan langsung menoleh saat suara berat itu menyapanya.
"Sedang merapikan kamar Aunty Jane. Aku baik 'kan Uncle?" tanya Sandra dengan senyum bangga.
"Bohong, Uncle. Kami baru saja membereskan kamar Aunty Jane karena tadi kami berantaki,"
"Kami? jelas-jelas hanya kamu! aku tidak ikut memberantaki, tapi aku hanya membantu kamu,"
"Sudah, hey! itu lagi yang dibahas. Telingaku sampai panjang karena mendengar kalian menggerutu terus selama tangan bekerja,"
"Sudah selesai belum? kalau sudah, segera tidur."
"Sudah, Uncle. Cepat, karena tidak begitu berantakan dan dikerjakan oleh dua orang,"
"Seingatku tadi kamar ini seperti gudang karena super berantakan. Kamu bohong terus!"
Kayla menatap Sandra dengan sinis. Setelah Ia menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, Ia segera keluar dari kamar Jane.
"Ma, ini alat pel-nya."
"Kembalikan ke tempatnya"
"Aku tidak tahu dimana tempatnya,"
"Tadi kamu lihat Mama mengambilnya dimana 'kan?"
Kayla mendengus dan langsung berjalan ke dalam sebuah ruangan yang berada di samping toilet untuk meletakkan alat yang ada di tangannya itu. Kayla yang tubuhnya masih kecil nampak lucu ketika membawa alat pel. Alatnya tidak berat, dan anak itu tidak kesulitan sama sekali hanya saja Ia terlalu malas untuk mengepel.
"Pintar sekali keponakan Uncle ya. Teruslah seperti itu," puji Zio yang sedari tadi lebih banyak memperhatikan. Karena Ia juga bingung bagaimana caranya menghadapi anak karena Ia belum memiliki anak.
Kayla duduk di pangkuan Mamanya. Ia meminta dikipasi karena panas dan kelelahan. Jo segera mengangkat rambut panjang dan lembut milik sang anak lalu meniup lehernya. Kayla terkekeh geli. "Jangan ditiup, Ma."
"Lalu bagaimana caranya agar tidak panas? sebenarnya ini dingin, Sayang. Ada pendingin udara di atas kita,"
"Entah, aku merasa kepanasan. Mungkin karena tenagaku habis keluar jadi seperti ini,"
"Kamu tidak terbiasa melakukannya,"
"Payah anak Papa. Baru mengepel sekali sudah keringatan seperti itu,"
"Salah Papa yang tidak pernah mengizinkan aku untuk mencoba mengepel lantai,"
"Baiklah, besok-besok kamu saja yang mengepel rumah kita,"
"Huh?" Mulut Kayla terbuka terkejut. Jhon yang melihatnya terbahak. Tidak mungkin juga Ia melakukan itu. Kayla hanya perlu diperkenalkan tanpa perlu sering-sering melakukannya karena usia dia masih terlalu kecil.
"Akhirnya anak Mama memegang alat pel juga ya," ledek Jo yang mengundang rengekan anaknya.
"Selama ini Mama juga yang melarang aku. Kenapa sekarang seolah-olah aku yang sangat manja?"
"Lebih baik tidak usah daripada kamu merengek 'Mama, tanganku kotor,' 'Tanganku gatal-gatal', " Jo mengucapkan kalimat-kalimat berlebihan yang terkadang keluar dari mulut anaknya kalau Ia menemukan sesuatu yang kotor-kotor. Saat dirinya membersihkan debu dari meja kerja sang suami saja, Kayla protes seraya menutup hidung kecilnya. "Mama, sudah-sudah. Aku bersin karena debu itu," katanya pada saat itu. Padahal seharusnya Ia bisa keluar dari ruang kerja Jhon, sehingga tidak ada cerita dia merengek ingin bersin. Jo juga tak meminta anaknya mengikuti Ia ke ruang kerja Jhon. Kayla sendiri yang mau mengikutinya berberes rumah, membantu para pekerja di rumah mereka.
Hal itulah lah yang terkadang membuat Jo dan Jhon pada akhirnya memilih untuk menjadikan anaknya sebagai ratu yang tak kenal dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ringan, daripada Kayla selalu protes.
*******
"ADRIAN, JANGAN GERAK-GERAK! AKU TAKUT,"
Adrian semakin menggerakkan perahu berbentuk ayam yang sedang mereka taiki. Genta dan Kenith pun tak kalah jahil pada gadis-gadis kecil itu.
Kebetulan Zio lah yang mengendarainya. Ia santai saja, tak peduli keponakannya yang perempuan berteriak ketakutan karena perahu bergoyang. Zio mengendarai perahu seraya mendengarkan musik karena suasana begitu mendukung. Danau yang tenang dan sejuk berhasil membuatnya terbuai bila ditemani juga dengan iringan musik. Ia membayangkan bila nanti dapat jodoh, pasti menikmati waktu berdua di atas perahu tersebut sangat menyenangkan dan tentu saja romantis.
"ADRIAN!"
"Santai, kalian ini kenapa penakut sekali sih? kalau aku tenggelamkan perahu ini, kalian boleh berteriak. Aku hanya menggerakkan saja, reaksi kalian seperti orang stres,"
"Adrian, bisa tidak jahil untuk beberapa menit saja? seharusnya kamu berada di perahu Daddy saja agar tidak berbuat kerusuhan di sini,"
Adrian mencibir kakaknya yang tak bisa diajak bercanda. Hidupnya serius terus, sampai Ia bosan melihatnya.
"Itu perahu anak-anak kenapa bergerak ya? Zio juga tidak menyadari sepertinya," ujar Senata yang tak jauh dari mereka. Perahu yang ditempati Senata dan Rena dibawa oleh Jhon.
"Jhon, kamu lihat perahu Zio 'kan?"
"Iya,"
"Kenapa bergoyang?"
"Sepertinya Adrian yang melakukannya,"
"Astaga, kalau perahunya terbalik bagaimana?"
"Tidak, Zio saja santai, Ma. Kita tidak perlu khawatir. Lagipula danau ini tidak dalam. Mereka semua juga bisa berenang. Biarkan sekali-sekali mereka berenang di danau, bertemu dengan lumut-lumut jangan hanya terumbu karang saja," Jo mencubit lengan suaminya dan Jhon langsung berteriak. "Aku sedang membawa perahu ini. Kamu mau kita tenggelam?!"
"Ssstt bicaramu, Jhon. Seram sekali Mama mendengarnya,"
Jhon terkekeh melirik Senata yang wajahnya panik. Sebenarnya Senata tidak ingin naik perahu tadi. Entah mengapa Ia takut. Tetapi karena dipaksa oleh cucu-cucunya dan juga tidak ada yang tinggal di darat, akhirnya Ia ikut juga.
"Devan..."
"Apa, Lov?'
"Adrian tertawa kencang sekali. Pasti ada yang tidak beres,"
Kalau anak keduanya sudah terbahak seperti itu, pasti ia baru saja berbuat sesuatu. "Perahu mereka bergoyang," ujar Devan seraya tertawa kecil, Ia menyadari apa yang dilakukan Adrian.
"Kenapa kamu tertawa? bukannya khawatir melihat mereka," sungut Lovi pada sang pengemudi perahu.
"Sinting memang suamimu," jawab Jane yang juga memperhatikan pasukan Zio. Vanilla dan Jhico yang juga menjadi penumpang di kapal Devan hanya bisa menggeleng pelan melihat Adrian tertawa sekencang itu.
"ADRIAN JANGAN MACAM-MACAM! KALIAN BISA TERJATUH!" teriak Lovi namun tak membuat Adrian menoleh.
"Cepat-cepat susul mereka!" ujar Lovi seraya menepuk-nepuk bahu suaminya agar Devan melakukan apa yang dimintanya.
Devan berhasil mendekati perahu milik Zio dan Vanilla langsung melakukan sesuatu yang tepat agar Zio yang sedang menikmati musik itu menoleh ke arahnya.
Vanilla menggunakan dayung untuk menyiram Zio dan lelaki itu berhasil melepas earphone dari telinga dan menoleh kesal pada pelaku yang sudah berhasil mengganggu ketenangannya itu.
"Perahumu dibuat bergoyang oleh Adrian, kamu tidak menyadarinya?! huh? itu bahaya, Zio!"
Zio mengusap pelipisnya bingung. "Memang iya?"
"Bodoh!" maki Vanilla dan sekali lagi Ia menyiram Zio menggunakan dayung.
"Bajuku basah, Vanilla!"
"Makanya kalau membawa anak kecil jangan fokus sendiri," Vanilla mengalihkan perhatian pada Sandra dan Kayla yang pucat.
"Lihat Sandra dan Kayla! gara-gara keponakanmu yang laki-laki jahil, mereka ketakutan,"
Devan menggeram ke arah putra keduanya yang terkekeh tak bersalah. Bahkan Ia melempar kecup jauh untuknya.
"Hallo, Daddy."
__ADS_1
"Kamu mau tenggelam ya? kenapa sih kalau bercanda itu selalu membahayakan?"
"Entah bagaimana lagi caranya menghilangkan sifat jahilmu, Adrian. Mommy bingung,"