
"Ini sudah aku ambilkan. Mau aku suapi?"
"Ya," jawab Auristella seraya mengangguk. Andrean duduk di samping baby chair Auristella. Auristella mau disuapi tapi dia yang meraih sendoknya sendiri.
"Jadi kamu mau makan sendiri?"
"Ndak!"
"Ya sudah, kemarikan sendoknya,"
Ia mematuhi ucapan kakaknya. Anak itu menyerahkan sendok kecil berwarna merah muda itu pada sang kakak sulung.
Lovi, kakek, dan neneknya melihat kelakuan Auristella seraya menahan senyum. Andrean benar-benar tenang menghadapi adiknya. Walaupun terkesan dingin, tapi dia tetaplah kakak yang baik dan perhatian.
"Mom, tambah lagi lobsternya,"
"Wow suka sekali kamu?"
"Iya, enak."
"Sudah lama juga tidak makan lobster ya?"
"Iya, aku sudah rindu lobster,"
Lovi segera mengambil lobster untuk anak keduanya yang tengah merindukan lobster itu. "Mau yang besar,"
Lovi menuruti anaknya. Adrian menolehkan kepalanya pada sang adik yang begitu menikmati makanannya. Ketika ditawari daging lobster, Ia menggeleng.
"Itu kan lobster punyaku, Mom."
"Ya, tapi Auris tidak mau,"
"Mommy menawari lobsterku pada Auris,"
"Tapi dia juga tidak mau, Adrian." ujar Lovi dengan gemas. Ia memang menawarkan lobster milik Adrian pada Auristella tapi nyatanya Auristella menggeleng.
Andrean menyuapi adiknya dengan begitu perhatian. Adiknya mengunyah lumayan lama karena Ia sambil memainkan sendok yang dimintanya tadi untuk dijadikan mainan.
Sementara mereka makan malam, Devan sibuk menjelajahi ponsel istrinya dan Ia menemukan gambar dirinya yang sedang bersama Lianne. Tapi Lovi tidak membahasnya sama sekali. Apa mungkin Lovi sengaja menunggu dirinya yang bercerita sendiri siapa itu Lianne sampai Ia tidak canggung mengusap kepala Lianne.
***
"Ada suntikan dana dari perusahaan ini,"
Arnold melihat dokumen yang ditunjukkan oleh sekretarisnya. Ia tersenyum miring. Sedikit demi sedikit ada saja perusahaan yang mau menjadi penopangnya. Dan itu bisa membantu ia keluar dari jeratan Rigana atau yang biasa dipanggil Gana, pemilik perusahan senjata tajam dan obat-obatan terlarang.
"Rigana...Rigana, kau pikir, aku bisa selalu menjadi budakmu?" batin Arnold tersenyum miring.
"Perusahaan ini yang sempat menang tender pada waktu itu 'kan?"
"Benar, Tuan."
"Wow, dia yang aku anggap kecil ternyata bisa aku andalkan. Baiklah, Kau bisa kembali bekerja,"
Arnold tidak tahu kalau Devan sudah mulai menunjukkan taringnya. Perusahaan yang baik hati memberikan bantuan pada perusahaan Arnold itu adalah perusahaan milik Devan yang dianggap tak bernilai karena masih terbilang perusahaan yang tidak terlalu besar.
Hanya perlu waktu lima menit informasi mengenai keberhasilan perusahaan Arnold dalam menarik perusahaan lain untuk memberikan suntikan dana, sampai ke telinga Rigana.
"Arnold, jangan mudah percaya dengan kebaikan sebuah perusahaan,"
"Maksudmu?"
"Ya, bisa saja dia berbalik ingin memanfaatkan atau bahkan menghancurkan mu,"
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Gana. Kau tidak perlu khawatir,"
Tanpa diberi tahu oleh Rigana pun, Arnold mengerti bahwa Ia harus mencari tahu terlebih dahulu mengenai perusahaan itu. Apakah bisa menjadi temannya atau malah berpotensi menusuknya.
***
"Lov, kamu tidak mau bertanya sesuatu padaku?"
"Hmm? tidak,"
"Yakin?"
Lovi menepuk-nepuk pelan punggung Auristella yang sedang dipeluknya. Anak itu sudah tertidur tapi belum terlalu nyenyak. Sementara kedua kakaknya sudah pergi ke alam mimpi lebih dulu.
"Ada yang mengirim foto padamu. Tidak ingin bertanya tentang itu?"
Lovi mengerinyit sesaat. Ia kembali mengingat pesan berupa gambar yang tadi dikirim oleh nomor tak dikenal.
"Oh foto itu. Laki-laki di dalam foto itu kamu?"
Devan tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Ini yang Ia inginkan. Kalau Lovi tak bertanya, Ia merasa tidak dicintai oleh Lovi karena Lovi tak merasa cemburu sama sekali.
"Iya,"
Lovi mengangguk dan Devan menunggu pertanyaan lain tapi tidak juga keluar dari mulut Lovi. Akhirnya Ia memilih untuk menjelaskan.
"Perempuan itu namanya Lianne. Dia pernah menjadi teman One night stand aku dulu,"
"Wow," Lovi terperangah dengan mulut terbuka sedikit. Melihat hal itu, suaminya terkekeh.
"Sebenarnya aku dan dia pernah bertemu saat kita libur bersama keluarga waktu itu, Lov."
"Kenapa baru cerita sekarang?"
"Aku pikir, Aku dan Lianne tidak akan bertemu lagi setelah itu. Tapi ternyata tadi aku bertemu lagi dengan dia di rumah sakit. Dia sakit leukimia dan anak yang ada di foto itu adalah anaknya yang bernama Angel,"
"Suaminya dimana?"
"Pergi meninggalkan dia setelah tahu kalau dia sakit,"
"Ya Tuhan, tega sekali."
Harus memikirkan kebahagiaan anak dan juga penyakit merupakan hal yang berat menurut Lovi. Apalagi Lianne kehilangan salah satu orang yang seharusnya memberi Ia dukungan.
Melihat raut istrinya yang berubah sedih, Devan segera mengusapnya. "Sudah, jangan sedih. Kita turun sekarang menyiapkan kue ulang tahun untuk Andrean dan Adrian,"
Lovi mengalihkan perhatiannya pada kedua anak kembarnya yang sudah terlelap. Ia mengangguk dan mengikuti langkah Devan untuk turun ke bawah, bersiap memberikan kejutan karena sebentar lagi hari telah berganti.
"Wow Grandpa bangun lagi?"
Lovi dan Devan menemukan Raihan, Rena, dan Senata di meja makan.
"Sebenarnya tadi tidak tidur. Masuk saja ke dalam kamar menunggu mereka yang tidur," jawab Raihan seraya terkekeh. Tadi, kedua cucunya bermain bersamanya. Tapi Ia mengatakan ingin tidur lebih dulu pada mereka berdua. Andrean dan Adrian membiarkan kakeknya masuk ke dalam kamar walaupun sedikit sedih karena permainan mereka belum selesai tapi Raihan sudah tidur.
Lovi mengeluarkan kue ulang tahun yang dibelinya dari kotak, lalu menatapnya dengan senyum.
"Belum jam 12 malam,"
"Iya, lima menit lagi, Sayang." sahut Lovi setelah Devan bicara seperti itu. "Aku mau minum kopi rasanya,"
Devan menatap istrinya dengan pandangan aneh. "Jangan, Kamu tidak boleh minum kopi,"
"Tapi ingin. Sekali-sekali memang tidak boleh?"
"Jangan, Lov. Kamu kalau siang jarang istirahat, kalau minum kopi malam-malam begini kamu akan sulit tidur. Lalu istirahatnya kapan?"
Devan memberi pengertian pada Lovi seraya mengusap kepala sang istri. Ia juga mengecup pipi Lovi yang tengah serius menyalakan api di lilin yang ada di atas kue.
Melihat kemesraan mereka berdua, Rena "Mohon pengertiannya untuk tidak bermesraan di depan orangtua. Karena itu bisa membuat kami lupa umur,"
"Iya, apalagi aku yang sendiri,"
"Makanya tangkap dengan baik kode dari Lucas, Senata."
Padahal Lucas tidak melempar kode apa-apa. Kali ini Ia fokus pada penyakit dan bagaimana caranya bertahan hidup tanpa Devan yang terus-terusan membantunya.
Senata melirik Rena yang terkekeh geli. Tak lama Raihan menyahuti, "Iya, lagipula kalian tidak resmi berpisah,"
Devan dan Lovi sama-sama mencuri pandang pada Senata. Mereka belum pernah membahas ini sebelumnya. Mereka memang tahu seperti apa kondisi yang sebenarnya dari Senata dan Lucas.
"Aku berharap sekali-sekali kita bisa double date, Senata."
__ADS_1
"Ah Rena, jangan bicara begitu,"
"Nanti aku katakan pada Ayah, Ma supaya beliau mengejar Mama lagi,"
Devan ikut berbicara dengan nadanya yang serius. Sudah terlanjur dibahas, lebih baik dilanjutkan saja olehnya.
"Kenapa malah membahas ini? kita harus memberi kejutan untuk Andrean dan Adrian,"
Lovi segera menatap jam. Tinggal tiga menit lagi menuju pergantian hari. Mereka harus segera masuk ke dalam kamar untuk membangunkan kedua anak kembar yang sedang tertidur lelap itu.
Bukan hanya kakek dan neneknya saja yang ikut memberi kejutan, Rena juga sudah membangunkan Jane bahkan para maid pun tak ingin kalah.
"Lov, sepertinya Auris dipindahkan dulu tidurnya. Dia baru tidur, bisa-bisa dia bangun saat kita memberi surprise,"
Lovi berpikir sebentar sebelum akhirnya melaksanakan ide suaminya. Berhubung Andrean, Adrian, dan Auristella tidur di kamar orangtuanya, jadi mereka akan datang ke sana sementara Auristella belum lama tertidur. Kasihan dia kalau harus bangun karena terkejut.
Lovi memindahkan Auristella ke kamar Rena sesuai instruksi nenek yang akan memiliki empat cucu itu.
Devan membangunkan kedua anaknya. Adrian yang memang tidak sulit dibangunkan langsung mengerjapkan matanya. Andrean pun diganggu habis-habisan oleh Lovi agar segera menyusul adiknya untuk bangun. Saat mata Adrian terbuka sepenuhnya, suasana langsung berubah jadi ramai.
"HAPPY BIRTHDAY!"
Ia menatap bingung namun tak lama langsung tersenyum sementara kakaknya baru membuka mata secara sempurna.
"Ini kejutan ulang tahun?" tanya Adrian yang masih sedikit bingung.
"Iya,"
"Selamat ulang tahun, sayang." Lovi memeluk kedua anaknya. Di susul oleh Devan dan kakek neneknya.
"Tiup lilin, tapi sebelumnya make a wish dulu,"
Kedua anak kembar itu berdoa sebentar sebelum akhirnya memadamkan lilin yang menyala di atas kue yang dipegang oleh Lovi.
"Andrean, senang tidak?"
"Senang," wajah anak sulung Devan itu masih mengantuk sekali. Matanya terasa berat untuk dibuka.
Andrean menatap semua yang sudah turut serta dalam memberi kejutan. "Terima kasih, semuanya. Rela bangun malam-malam hanya untuk memberi surprise," ujar Andrean yang tidak biasanya panjang lebar.
Jane memberi pelukan untuk kedua keponakannya. "Selamat ulang tahun. Maaf tidak ada hadiah,"
"Tidak apa, Adrian sudah katakan, jangan pikirkan hadiah,"
Sekarang memang tidak ada hadiah tapi saat party besok, Ia sudah menyiapkannya.
"Mom, telepon Grandpa Lucas,"
"Oh mau dengar ucapan dari Grandpa?"
"Iya, cepat Mom,"
Lovi segera mencari ponselnya untuk menghubungi ayahnya. "Wow kebetulan sekali Grandpa menelpon ini,"
Tanpa menunggu waktu lama, Lovi segera menjawab panggilan ayahnya. Dan Adrian langsung merebut ponsel itu dari tangannya.
"Selamat ulang tahun untuk kalian berdua Cucu Grandpa,"
"Terima kasih, Grandpa." jawab Andrean dengan senyum tipisnya.
"Terima kasih, Grandpa. Kami ulang tahun, Grandpa tidak mau datang ke mansion?"
"Besok kita bertemu di party 'kan,"
Adrian dan Andrean langsung menoleh pada kedua orangtuanya. "Ada party, Dad?"
"Menurutmu?"
"YEAAAY ADA PARTY ULANG TAHUN ADRIAN,"
Semuanya terkekeh melihat keriuhan yang diciptakan Adrian. "Baiklah, aku tunggu besok ya, Grandpa."
"Okay, sekali lagi selama ulang tahun. Jadilah anak yang bisa menjadi penerang untuk sekelilingmu. Buat keluarga bangga dan sebagai kakak harus bisa menjaga adik dengan baik. Karena setelah orangtua tidak ada nanti, kalian yang harus bertanggung jawab pada adik,"
"Iya, Grandpa. Terima kasih,"
"Malam juga, Grandpa."
"Ayo, kita makan-makan kue dulu. Lalu menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh para maid yang baik hati,"
Lovi mengajak kedua anaknya untuk turun dari ranjang. "Tidak tidur?"
"Mereka belum tidur. Karena menyiapkan barbeque persembahan dari mereka untuk yang sedang berulang tahun,"
"Wow, terima kasih semuanya." Adrian memeluk maid yang tadi turut membuat kejutan.
"Semua doa terbaik untuk kedua Tuan kecil,"
"Doa terbaik juga untuk kalian. Sekali lagi terima kasih,"
Andrean tak henti mengucap syukur atas berkat ulang tahunnya kali ini. Setiap berulang tahun pasti dilimpahkan kebahagiaan. Hanya di usia lima tahun mereka merayakan ulang tahun dalam kondisi rumah tangga Devan dan Lovi yang pecah tapi beruntungnya Lovi dan Devan masih bisa merayakan bersama, namun setelahnya kedua anak kembar itu mengalami sesuatu yang mengharuskan mereka untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Tahun ini kebahagiaan semakin berlipat ganda karena Auristella hadir ditengah keluarga. Walaupun malam ini Ia tidak turut serta membuat kedua kakaknya terkejut, karena Lovi tidak tega membangunkan Auristella yang belum lama tertidur. Seperti biasa, Ia suka sekali mengajak Lovi tidur malam-malam.
***
Sekitar pukul delapan pagi, mansion tampak lebih aktif dari pagi-pagi biasanya. Karena semua orang sudah bangun bahkan ketiga anak Devan dan Lovi sudah mandi sebab harus segera pergi menuju balroom hotel dimana perayaan ulang tahun akan berlangsung.
Jane sudah cantik dengan pakaian ala robot perempuan berwarna merah muda. Ia melihat Lovi yang tengah menimang-nimang putrinya di luar kamar. Sepertinya ada yang sedang merajuk.
"Auris kenapa? kamu belum siap-siap, Lovi?"
"Ini juga belum siap. Bagaimana aku bisa menyiapkan diri?" jawab Lovi seraya menunduk menatap Auristella yang matanya memerah karena habis menangis.
"Kenapa dia?"
"Dibangunkan terlalu pagi. Jadi marah,"
"Oh sayangku. Sama Aunty ya? biarkan Mommy bersiap,"
Melihat Jane mengulurkan tangan, Auristella langsung menangis lagi tapi Ia mau digendong oleh Jane. Tangisnya seperti sedang mengadu pada aunty-nya.
"Kenapa, Sayang? Mommy nakal ya?"
Tangis Auristella masih keras. Seolah membenarkan ucapan Jane. Jane pura-pura mencubit lengan Lovi. "Sudah Aunty marahi Mommy mu. Jangan menangis lagi ya,"
"Dimana bajunya? biar aku yang pakaikan,"
"Kamu sudah selesai make up?"
"Aku sudah siap,"
"Okay, aku ambilkan dulu bajunya,"
Seraya menunggu Lovi mengambil baju Auristella di kamar, Jane menunggu di depan pintu kamar Lovi seraya mengajak Auristella berbincang.
Nampak Adrian yang tengah bercermin sementara Devan membantu anaknya untuk menata rambut.
"Sudah,"
"Terima kasih, Dad."
"Ya, jangan ganggu Daddy di depan cermin lagi. Menjauh dari cermin, saatnya Daddy yang bersiap,"
Adrian segera pergi dari hadapan cermin dan membiarkan Devan merapikan rambut. Sementara Andrean sedang mengenakan sepatu nya.
Lovi datang dengan membawa baju Auristella. "Auris ke kamarku dulu ya,"
"Ya, terima kasih, Jane."
Jane harus membantu Ibu beranak tiga itu. Kalau harus meladeni Auristella yang menangis, maka Lovi tidak akan selesai mempercantik dirinya. Mandi saja sepertinya belum. Karena setiap ingin pergi, Lovi selalu mengutamakan suami dan anak-anaknya.
"Saatnya Aunty dandani Auris,"
"Kamu itu harus tampil cantik, bayi kecil. Ini hari spesial untuk kedua kakakmu. Mengerti tidak?"
__ADS_1
"Tidak lama lagi kamu yang ulang tahun, Auris."
Seraya memakaikan anak itu baju, Jane selalu mengajaknya bicara. Dan Auristella juga memperhatikan dengan serius.
"Aduh gemas sekali Aunty padamu. Tidak sabar mau memiliki boneka hidup seperti kamu,"
"Semoga anak Aunty nanti perempuan. Supaya Auris ada teman. Mau punya teman 'kan?"
Dengan gertak gigi yang gemas, Ia menekan pipi Auristella hingga bibinya mengerucut. Saat Auristella merengek, cepat-cepat Jane melepaskan.
"Iya-iya, maafkan Aunty."
Tinggal pita kepala yang belum dipakai. Setelah itu, selesai. Jane tersenyum puas melihat Auristella yang berbaring di atas ranjangnya sudah tampil sangat cantik dan menggemaskan.
Jane mengangkat anak itu tinggi-tinggi lalu diciumnya pipi Auristella bertubi-tubi hingga Auristella terkekeh geli dan tak lama terdengar sesuatu yang keluar dari bagian bawah tubuh Auristella.
"Astaga, kamu pup atau hanya buang angin?"
Melihat wajah Auristella yang tegang dan sudah sedikit kemerahan, alarm di otak Jane langsung berbunyi.
"Aduh kamu pup pasti,"
Secepat kilat Ia berjalan ke kamar Lovi. Ia sudah memakai diapers dan tampil cantik, tapi pup nya baru menunjukkan diri sekarang. Jane menghembuskan napas kasar saat sudah sampai di kamar Lovi.
Ia mengetuk pintunya dan Devan lah yang membuka. "Cepat sekai dia sudah cantik,"
"Dia pup, tolong bersihkan!"
"Apa?"
"Tidak usah banyak tanya! mau aku lempar wajahmu yang polos itu dengan pup nya Auris?!" Sentakan Jane membuat devan terkejut. Saat Jane menyerahkan anaknya, Ia langsung menyambut.
Setelah itu Jane pergi. Tugasnya sudah selesai. Kalau masalah pup, Ia tidak bisa mengurusnya karena Ia sudah cantik. Tidak mau berurusan dengan sesuatu yang aromanya tidak sedap.
Devan segera mengetuk pintu kamar mandi dimana Lovi berada. Istrinya itu sedang mandi. "Lov, Auris pup."
"Aku bersihkan dulu di dalam boleh?"
"Aduh Auris...Auris," gumam Lovi setelah mendengar ucapan suaminya. Beruntung Ia sudah selesai mandi.
Ia membuka pintu dan langsung meraih anaknya. "Aku saja yang bersihkan. Kamu 'kan sudah siap,"
"Aku saja. Kamu belum apa-apa, Lov."
"Hanya sebentar. Nanti setelah Auris bersih, kamu yang menjaga dia, aku siap-siap,"
Akhirnya Devan mengangguk mendengar pembagian tugas karena anaknya pup. Lovi membuka semua pakaian Auristella di kamar, lalu Lovi segera masuk lagi ke kamar mandi, dan membersihkan kotoran Auristella.
***
"Adrina belum pakai lipsrik, Mom."
"Mau pakai lipstik?"
"Iya, biar bibir Adrina merah merona. Tapi tidak boleh berlebihan,"
"Tidak usah lipstik. Pelembab bibir saja,"
"Mau lips--"
"Jangan, Sayang. Anak kecil jangan pakai itu. Mommy kurang suka,"
Adrina begitu semangat untuk datang ke pesta ulang tahun kedua sahabatnya. Bahkan sejak semalam sudah mempersiapkan gaun ala princess miliknya.
Sheva langsung mengambil pelembab bibir saat anaknya tak lagi merengek ingin memakai pewarna bibir.
Dengan bibirnya yang mengerucut menggemaskan, Adrina diam menunggu Mommy nya selesai mengoleskan pelembab bibir.
"Hmmm enak,"
"Hey jangan dijilat. Hilang kalau begitu,"
Adrina menepuk jidatnya seraya terseyum meringis. "Lupa, Mom."
Sheva menghela napas. Ia kembali mengoleskan pelembab di bibir kecil anak tunggalnya.
"Sudah cantik. Ayo, keluar."
"Mommy hanya begitu saja dandannya?"
"Iya, sudah cukup."
Jino membuka pintu kamar untuk menghampiri Istri dan anaknya yang sudah Ia tunggu sejak tadi.
"Sudah belum dandannya, dua princess Daddy?" tanya lelaki itu dengan lembut dan senyum terpaksa. Setiap mau pergi selalu seperti ini. Ia harus rela menunggu istri dan anaknya selesai bersiap. Istrinya kalau dandan saja lama padahal yang Ia pakai tidak berlebihan, ditambah lagi dengan anak perempuannya yang kini sudah mulai mengerti make up.
"Sudah, Dad. Ayo berangkat,"
Ia segera menggenggam tangan Jino lalu mereka keluar dari rumah. "Hadiah sudah dibawa 'kan, Dad?"
"Sudah, di dalam mobil,"
Adrina mengangguk dan menoleh ke belakang dimana Mommy nya berada. Sheva sedang memasukkan ponsel ke dalam sling bag jadi jalannya sedikit lamban.
"Mommy, ayo cepat." seru Adrina yang sudah tidak sabar lagi tenggelam dalam suasana meriah pesta ulang tahun Andrean dan Adrian.
***
Adrian memeluk Thalia yang baru datang selang beberapa menit setelah Revin. "Kamu cantik sekali," puji Adrian menatap Thalia dari atas hingga ke bawah. Penampilan Thalia benar-benar berbeda dari biasanya di sekolah. Tentu saja, karena Thalia mengenakan dress pesta yang begitu elegan, tanpa lengan dan berwarna silver.
Wajah Thalia tampak merah merona. "Terima kasih," ujarnya.
Devan yang berdiri di samping Adrian mendengar pujian dari mulut anaknya itu, lalu Ia segera meraih kepala anaknya kemudian meraup bibir Adrian. "Sudah pintar memuji perempuan kamu ya,"
Adrian terkekeh dan menepuk-nepuk dadanya dengan wajah pongah. "Adrian selalu pintar dalam segala hal,"
Ucapannya membuat Devan menggeleng pelan. Semoga anaknya tidak hobi menebar pujian demi menjerat perempuan di masa depan nanti.
"Selamat ulang tahun Adrian, Andrean."
"Terima kasih, Thalia."
Thalia menjabat tangan Andrean dan adiknya lalu Ia memberikan dua buah kado pada mereka.
"Wow ternyata membawa kado. Padahal sudah aku katakan tidak usah,"
Sekali lagi Devan meraup bibir anaknya dengan gemas."Nyatanya kamu pasti berharap dapat banyak kado,"
Adrian mengangguk jujur. "Tepat sekali," jawabnya dengan tawa kecil. Adrian tidak menyangka teman-teman yang sejak tadi datang begitu pengertian padanya. Walaupun Ia sudah mengatakan pada mereka untuk tidak perlu membawa kado, tapi ternyata mereka pengertian sekali. Adrian dibuat bahagia dengan pemberian mereka.
"Ayo, ke sana, Thalia. Revin dan teman-temanmu yang lain sudah ada juga yang datang,"
"Ya, Uncle."
Devan membawa Thalia untuk mendekati kumpulan teman-teman sekolah Adrian yang sudah datang. Mereka telah disiapkan tempat khusus untuk menikmati pesta bernuansa robot itu.
"Hai, Thalia." sapa mereka semua dengan hangat. Revin segera mengisyaratkan Thalia untuk duduk di dekatnya. "Tinggal Adrina lagi yang belum datang," kata Revin yang membuat Adrian mengangguk. "Mungkin dia lupa kalau hari ini aku ulang tahun,"
"Tidak mungkin lah. Dia 'kan sahabat mu,"
"Atau barangkali dia ada dendam yang belum selesai, jadi tidak mau datang,"
Adrian kembali menyampaikan kemungkinan yang menjadi penyebab Adrina belum juga tiba di pesta ulang tahunnya dan Andrean.
Ada beberapa waitress mengantar hidangan ke tengah-tengah meja mereka yang memanjang.
"Ayo, dimakan dan diminum. Jangan dipandangi saja," Adrian langsung menawarkan mereka semua untuk menikmati hidangan. Ia begitu pandai memposisikan dirinya sebagai pemilik acara. Meskipun tidak ada kedua orangtuanya, Ia pintar membuat teman-temannya nyaman berada di acara tersebut. Sementara Lovi dan Devan sibuk menyambut tamu-tamu yang didominasi oleh rekan kerja Devan. Mereka juga membawa serta Auristella. Karena Adrian sibuk dengan semua teman sekolahnya, Devan memanggil Andrean untuk ikut menyambut rekan kerja nya serta anak-anak mereka.
"Biarkan adikmu bersama temannya. Kamu bersama Daddy dan Mommy mengucapkan 'terima kasih' pada mereka yang datang,"
Andrean mengangguk patuh atas ucapan Daddy nya yang terdengar seperti perintah agar Ia bisa menghargai mereka yang telah menyempatkan waktu untuk datang. Agar semua mendapat sambutan hangat, jangan hanya teman sekolahnya saja.
-----------
Mampir di lapak Vanilla yaa. Dukungannya jgn lupa juga. Maaciw semuanyaa😚💙
__ADS_1