
Pulang sekolah, Adrian langsung menonton televisi sampai sore tiba. Sementara kakaknya belajar lalu terlelap di kamar kakek dan neneknya.
Adrian tetap fokus menonton saat kakeknya pulang. Ia bahkan tidak menyadari kalau Raihan sudah duduk di sofa sebelahnya.
"Adrian...."
Adrian tersentak kemudian menatap Raihan seraya mengusap dadanya karena terkejut. "Grandpa buat aku kaget saja,"
"Sejak kapan menonton?"
"Baru tadi,"
"Yang benar?"
"Iya,"
"Coba Grandpa lihat cctv ya?"
"Huh? jangan, untuk apa melihat cctv? Grandpa tidak percaya padaku?"
"Tidak," sahut Raihan.
Melihat cucunya kembali fokus menyaksikan serial kartun kesukaannya yaitu kereta Thomas, Raihan mengajaknya bicara lagi.
"Adrian..."
"Iya, Grandpa. Ada apa?"
"Kemarin ada sesuatu yang terjadi di kantor Daddy?"
"Iya, Grandpa tahu?"
"Tahu, dan Grandpa hanya ingin memastikan saja,"
"Ada orang jahat yang melukai Daddy. Grandpa lihat luka di tangan Daddy tidak? itu karena orang jahat,"
"Lihat, tapi Grandpa tidak mau tanya,"
"Kenapa? seharusnya Grandpa perhatian pada anak,"
Raihan mencubit gemas pipi cucunya yang sudah bisa menasihati dirinya. "Grandpa sudah tahu, jadi malas bertanya pada Daddy mu. Dia pasti akan berbohong,"
"Iya, Daddy itu memang gemar sekali berbohong. Kemarin saja Adrian disuruh tutup mulut. Tapi tidak Adrian lakukan. Karena Mommy juga sudah mendesak. Ya sudah, Adrian beri tahu saja semuanya."
"Siapa pelakunya?" tanya Raihan ingin tahu apakah Adrian tahu Arnold.
"Tahu, hmm... tapi lupa,"
"Artinya kamu tidak tahu,"
"Adrian tahu! tapi lupa," sangkalnya.
Adrian menonton sambil mengingat-ingat namanya. Karena kemarin ia mendengar Devan memberi tahu Lovi.
"Heyy aku ingat!"
Raihan tersenyum tipis melihat sang cucu yang begitu semangat ingin memberi tahunya.
"Namanya mirip dengan kata 'astronot' seingatku,"
Tawa Raihan meledak. 'Arnold' tidak ingat. Adrian hanya ingat penyebutannya saja yang hampir mirip.
"Memang Daddy salah apa sih, Grandpa? aku benar-benar sedih saat Daddy terluka seperti itu,"
"Untuk apa sedih? Daddy mu adalah orang yang kuat,"
"Ya, Daddy tidak mengeluh sakit sedikitpun padahal aku tahu luka itu cukup menyakitinya,"
"Itu tidak ada apa-apanya untuk dia,"
"Daddy biasanya seperti itu sejak kecil? Daddy hobi bertengkar tidak, Grandpa?"
"Hmmm tidak. Dia anak yang baik. Maka kamu pun harus demikian,"
"Aku sudah baik, Grandpa. Tapi baiknya masih kurang,"
"Hahaha anak ini bisa saja menjawabnya,"
*****
"Dengan aku saja, Lovi."
"Aku saja, pekerjaan ku sudah selesai."
"Apa sih? Lovi mau belanja untuk kebutuhan aku menikah nanti,"
"Aku bisa menemani dia. Kamu seharusnya diam saja di sini. Sehari lagi menikah. Nanti kalau di luar sana bertemu dengan lelaki tampan yang lain, matamu akan liar dan lupa kalau sebentar lagi akan menjadi istri orang,"
"Gila kau!"
"Hey Daddy ku tidak gila, Aunty!"
"Ck! Lovi, bisa bantu aku bicara dengan dua orang yang menyebalkan ini?"
"Daddy, Adrian, biar Jane saja yang menemani Mommy belanja. Kita hanya memilih buah, setelah itu pulang. Buahnya akan diantar,"
"Aku akan mengantar kalian,"
"Ya sudah. Kapan lagi petinggi di Vidyatmaka corp bisa menjadi supirku,"
Devan tidak menjawab ucapan sepupunya. Perdebatan selesai, Ia akan mengantar Lovi dan Jane memilih buah di tempat yang menjadi langganan mereka. Berhubung buah yang akan dibeli dalam jumlah yang sangat besar, maka Lovi harus benar-benar memilahnya. Buah itu akan menjadi salah satu sajian di mansion untuk menjamu sanak keluarga yang datang besok.
Suasana menjelang pernikahan semakin dipenuhi kehangatan keluarga. Dan siapapun suka itu.
"Mommy aku ikut,"
"Tidak usah, jaga adikmu saja di mansion,"
"Aku mau ikut! kenapa tidak boleh?"
"Gunanya kamu ikut apa? kamu membantu Mommy dan Aunty tidak?"
"Bantu, aku akan bantu. Tinggal beri tahu saja apa yang perlu aku bantu. Pasti aku bantu, tenang saja. Niatku baik, ingin menemani Mommy, Aunty dan Daddy juga,"
"Bantu apa contohnya?"
"Menghabiskan uang Mommy dan Daddy. Aku beli ini, beli itu nanti,"
Lovi mengangguk tidak heran. Memang seperti itulah anaknya. Kalau sudah mau ikut ke suatu tempat bersamanya dan Devan, pasti karena ingin membeli apa yang dia mau. Sambil menyelam, minum air. Dari mansion mengatakan ingin menemani dan membantu, tapi setelah sampai di tempat tujuan, pasti ada maunya.
__ADS_1
Adrian cepat-cepat ke kamarnya untuk bersiap, mengikuti jejak sang ayah. Mereka hanya perlu mengganti celana yang panjang. Keluar bersamaan dari kamar masing-masing. Devan menatap anaknya bingung.
"Kamu mau kemana?"
"Mau pergi," ujar anak itu berjalan mendahului sang ayah menuruni tangga.
"Pergi kemana?"
"Ikut Mommy dan Daddy,"
"Huh? siapa yang mengizinkan kamu? tidak boleh, kamu di mansion saja bersama kakak dan adikmu. Lebih baik bermain bersama mereka,"
"Tidak mau, aku bosan main terus. Mainannya yang itu lagi, itu lagi,"
"Maksudnya bosan apa? kamu minta dibelikan yang baru?"
"Oh Daddy ku sangat peka ternyata,"
"Sayangnya tidak akan Daddy penuhi,"
"Huh! aku tahu karena Daddy itu pel---"
"Jangan mengatakan kalau Daddy pelit. Yang selama ini Daddy berikan masih kurang?"
"Hehhee tidak, Daddy tidak pelit. Baik, baik sekali malah. Selalu menuruti apapun keinginanku,"
Devan mendatangi Playground lantai bawah untuk mengatakan pada Andrean dan Auristella bahwa Ia akan pergi sebentar.
"Bye, Daddy pergi dulu ya. Hanya sebentar, kalian hati-hati."
Andrean yang tengah bermain puzzle langsung menoleh ke pintu dimana Daddy dan adiknya berdiri.
"Okay, Dad. Hati-hati,"
"Auris, bye."
Auristella melambai pada Devan yang berpamitan padanya. Anak itu tidak merengek ingin ikut karena sedang sibuk merias boneka Barbie nya.
"Lihat mereka, tidak banyak bertanya saat Daddy mau pergi. Coba kalau kamu, pasti banyak sekali pertanyaan yang diajukan. 'Mau kemana, Dad? lama tidak? memang mau beli apa?' ujung-ujungnya mau ikut,"
"Hahaha anak siapa itu ya," kalimat itu keluar dari mulut Adrian sendiri. Ia seolah menertawakan orang lain padahal yang baru saja dibicarakan oleh Devan adalah dirinya.
"Devan, Adrina boleh ikut?" tanya Lovi memastikan. Semua harus dengan persetujuan suaminya.
"Adrina? yang anak Mommy itu Adrian, bukan Adrina."
"Oh maaf, Mommy salah sebut. Dad, Adrian boleh ikut?"
"Dia sudah bersiap. Ya sudah, ikut saja."
"Adrina juga anak Mommy mu, Adrian."
"Apa sih, Aunty? anak Mommy hanya tiga. Sejak kapan menjadi empat?"
"Nanti kalau kamu sudah besar, dia akan menjadi anak Mommy dan Daddy mu juga,"
"Maksudnya bagaimana?"
Devan melotot tajam saat Ia mulai paham dengan arah pembicaraan Jane. Ia mendorong pelan kepala sepupunya yang sudah berpikir terlalu jauh itu.
"Anak menantu,"
"Jane, kamu bicara apa sih?" melihat raut Lovi yang sebal, Jane tertawa. "Aku tahu, kalian itu sedang menolak untuk memikirkan masa depan Adrian. Kalian menganggap sampai kapanpun Adrian akan menjadi baby boy untuk kalian. Padahal tidak begitu. Karena dia akan menikah,"
"Sampai kapanpun Andrean dan Adrian memang akan menjadi baby boy untukku," Lovi membenarkan.
"Jadi tidak boleh menikah?"
Devan bersiap menimpuk Jane yang duduk di kursi tengah bersama Adrian, dengan kotak tisu tapi tidak jadi karena Lovi melarangnya dan Adrian juga memperhatikan mereka.
"Siapa yang tidak membolehkan? tentu saja boleh, kalau sudah waktunya."
Jane mengusap dadanya lega. "Syukurlah, keponakanku tidak dilarang menikah."
"Dasar gila!" gumam Devan. Jane ada-ada saja pembahasannya. Dia yang mau menikah, malah membicarakan Adrian. Dapat dipastikan, kalau Adrian sudah besar nanti dan siap untuk menapaki jenjang pernikahan, pasti Jane semangat sekali.
"Sedang membahas apa sih? menikah-menikah segala. Siapa yang mau menikah selain Aunty Jane?"
"Tidak ada, Sayang."
*****
"My Lov, itu ayah 'kan?"
"Ayah nya siapa?" tanya Jane.
"Lovi,"
"Dimana?"
Tangan Devan menunjuk seorang laki-laki lumayan tua yang masih gesit bekerja membersihkan lantai. Saat ini mereka sedang berada di dekat toilet, menunggu Adrian yang sedang buang air kecil di dalam.
Pekerjaan Lucas saat ini kian bertambah. Selain menjadi supir pengantar kopi ke beberapa kafe dan menjadi cleaning service di sebuah kantor, sekarang Ia juga menjadi cleaning service di sebuah pusat perbelanjaan.
"Devan, tunggu..."
Lovi dan Jane berusaha menyamakan langkah Devan yang berjalan cepat menghampiri Lucas.
"Ayah...."
Lucas menoleh. Devan tersenyum tipis saat dugaannya benar. Walaupun posisi Lucas tadi menyamping dan menggunakan masker, tapi Ia bisa mengenali ayah mertuanya itu.
"Sejak kapan Ayah bekerja di sini?"
"Sudah hampir dua Minggu,"
"Astaga, banyak sekali yang ayah kerjakan. Jadi saat ini ada tiga pekerjaan?"
"Iya, Devan. Tapi semua pekerjaan tidak dilakukan setiap hari. Jadi bisa istirahat juga,"
"Kondisi kesehatanmu perlu dipikirkan, Ayah."
"Tidak apa, Ayah baik-baik saja."
Lucas melihat Lovi dan Jane semakin mendekat padanya. "Ayah bekerja di sini juga?" tanya Jane pada Lucas.
"Iya, tapi belum terlalu lama."
"Kenapa giat sekali bekerja sih, Ayah? kau memiliki menantu yang sangat kaya raya, kenapa tidak dimanfaatkan saja?" tanya Jane tak habis pikir. Lucas terkekeh mendengarnya. Siapapun yang mengenalnya dan tahu siapa menantunya, pasti akan mengatakan hal yang serupa dengan Jane.
__ADS_1
"Kalian ada keperluan apa di sini? tidak membawa tiga malaikat kecil mu, Devan?"
"Daddy!" Adrian berlari menghampiri orangtuanya usai membuang air kecil di toilet ditemani anak buah Devan.
"Grandpa, Hai."
"Kenapa meninggalkan aku sendirian?!" tanya Adrian pada orangtuanya.
"Tidak meninggalkan. Tadi hanya berjalan sedikit menjauh dari wilayah toilet. Masih dalam pengawasan Daddy,"
"Tetap saja, aku dibiarkan bersama anak buah,"
"Iya, maaf."
"Grandpa sedang membersihkan lantai? ini melelahkan, Grandpa."
"Tidak, Sayang."
"Ayah nanti datang ke pernikahanku ya? akan aku suruh orang mansion mengantar undangan untukmu,"
"Kamu akan segera menikah?'
"Iya, Ayah. Esok lusa,"
"Ya, Ayah pasti datang."
"Terima kasih, Ayah."
"Kalau begitu, kami pergi dulu, Ayah. Jangan terlalu kelelahan bekerja, Ayah." ujar Lovi sedikit lebih hangat daripada sebelumnya yang terkesan sangat dingin dengan ayahnya.
"Pikirkan kesehatan ayah," lanjut Lovi.
"Iya, Lovi. Terima kasih sudah peduli pada ayah,"
"Ayah, bila ada sesuatu, jangan sungkan mengatakannya padaku. Aku tidak tahu kalau Ayah menambah pekerjaan,"
"Ayah senang melakukannya."
"Sampai kapan Ayah bekerja? berhenti saja, Ayah. Aku akan melakukan apapun untuk Ayah," ujar Devan yang sudah kehabisan akal membujuk ayah mertuanya untuk berhenti bekerja.
"Selagi Ayah masih kuat, tidak ada salahnya berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup,"
"Grandpa, aku mau belanja dulu ya. Bye, Grandpa. Ayo, Aunty." ajak Adrian dan langsung menarik tangan Aunty nya untuk segera pergi dari hadapan Lucas. Sebelum pergi, Ia meminta Kakeknya untuk membungkuk dan menyematkan kecupan di pipi kakeknya itu.
"Kami pergi dulu, Ayah." pamit Devan. Lucas mengangguk dan membiarkan putri dan menantunya undur diri.
Ia tersenyum menatap punggung mereka berdua. Ia selalu bahagia melihat kebersamaan anak dan menantunya. Semoga kebahagiaan mereka kekal. Lovi sudah cukup tersiksa hidupnya saat masa remaja. Ia berharap sekarang, esok, dan selamanya mereka tetap bisa bersama-sama, berbagi kebahagiaan dan tawa.
Devan mengikuti saja kemana langkah sang istri. Mereka langsung datang ke pusat penjualan buah di dalam mall itu.
Lovi dan Devan bergenggaman tangan, Adrian dan Jane pun tak ingin kalah. Sekalipun yang digenggam adalah anak kecil, Jane tidak masalah. Daripada ruas jarinya kosong. Seperti inilah bila berjalan bersama Lovi dan Devan. Ada manfaatnya juga Adrian ikut bersama mereka. Ia jadi memiliki teman di saat Lovi dan Devan menganggap bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Bukan hanya Jane, saat Vanilla masih single juga demikian. Selain keponakan, Adrian bisa juga dianggap sebagai kekasih kecil mereka.
"Wow banyak sekali buahnya,"
"Adrian mau strawberry, Mom. Nanti dimakan dengan selai cokelat. Uh pasti enak sekali,"
"Ya, Mommy tahu kesukaanmu saat ini,"
Buah strawberry sampai habis dalam kurun waktu yang sangat singkat karena Adrian tengah menggilai buah itu yang dinikmati bersama selai cokelat sehingga rasa masam dari strawberry tertutupi oleh manisnya selai cokelat.
"Ini apa, Mom?"
"Blueberry, yang biasa kamu makan,"
"Tapi kenapa kulitnya---"
"Biasanya juga seperti itu, Adrian. Tapi selama ini kamu makan nya setelah dikupas, sesuai keinginanmu."
"Memang iya ya?"
"Kamu aneh, masa blueberry dikupas?" ujar Jane yang tak habis pikir dengan keponakannya itu.
"Ternyata begini kulit asli nya, Mom?"
"Iya, sebenarnya kulit blueberry baik untuk dimakan. Tapi kamu selalu menolak kalau dengan kulitnya. Dari kecil kamu sudah terbiasa seperti itu,"
Devan mengikuti mereka di belakang sambil sesekali mengecek ponselnya. Ikut istri belanja memang bukan pilihan yang tepat dan menyenangkan. Tapi Ia tidak ingin istrinya hanya pergi bersama Jane. Kalau Ia ikut, Ia lebih tenang karena bisa menjaga istrinya secara langsung. Adanya kehadiran Arnold belakangan ini, banyak menghadirkan rasa khawatir di benak Devan terhadap keluarga kecilnya.
"Kira-kira apalagi, Jane?"
"Hmmm aku tidak tahu. Kamu yang lebih mengerti apa saja yang sekiranya diperlukan. By the way, terima kasih kamu sudah mau dipersulit menjelang pernikahanku. Semuanya kamu urus terutama bagian konsumsi untuk di mansion saat keluarga berkumpul nanti,"
"Iya, sama-sama. Kita ini keluarga. Sudah seharusnya saling membantu,"
"Dad..."
"Hmm? kenapa, sayang?"
"Aku mau itu,"
Adrian mulai mengungkapkan keinginannya terhadap suatu barang yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
Yaitu parsel buah yang ditata membentuk sebuah mobil sport. Sangat unik dan menarik perhatian Adrian sejak awal kedatangannya. Karena kebetulan parsel itu dipajang di bagian depan, sehingga saat masuk, mata Adrian langsung tertuju padanya.
"Buat siapa parselnya?"
"Buat aku sendiri. Memang tidak boleh?"
"Tidak dimakan, pasti dijadikan pajangan saja olehmu. Iya 'kan?"
"Aku makan, tapi harus dipajang dulu beberapa hari biar orang juga lihat,"
"Busuk buahnya, Adrian."
"Tidak, Daddy!"
"Ya sudah, terserah. Minta pada Mommy mu,"
"Pakai uang Daddy saja. Kalau sama Mommy belum tentu boleh,"
Alis Devan bertaut. Apa bedanya uang dia dan Lovi? sumber nya sama. Hanya saja, yang memegang bukan hanya satu tangan.
Adrian memang lebih sering minta sesuatu pada Daddy nya. Dengan Devan, Ia tidak terlalu banyak membujuk. Kalau dengan Lovi, Ia rasa lebih sulit. Lovi akan memikirkan apakah sesuatu yang diminta oleh anaknya itu ada gunanya. Lovi termasuk perempuan yang hemat, suaminya saja hafal betul bagaimana sifat Lovi. Sebelum membeli sesuatu, pasti dipikirkan dengan matang. Adrian lebih sering meminta sesuatu yang tidak ada manfaatnya, hanya ingin menghamburkan uang secara sia-sia.
Tapi kalau urusan mainan memang tidak ada yang bisa dijadikan andalan oleh Adrian. Karena Mommy dan Daddy nya sama-sama kurang setuju bila Ia terlalu sering beli mainan baru.
"Ah atau aku minta dengan Aunty Jane saja. Aunty mau menikah, pasti uangnya banyak,"
__ADS_1
---------