My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sahabat datang


__ADS_3

"Lov, ini bagaimana caranya?"


Lovi menatap suaminya dengan pandangan aneh. Ia baru saja selesai sarapan dan Devan langsung mendekatinya seraya menjulurkan lengan kemeja yang belum dikancing.


"Kamu selalu bisa melakukannya. Sekarang kenapa malah manja seperti ini?"


Devan terkekeh ringan. Setelah Lovi menutup kancing lengan kemeja, Ia mengecup hidung bangir Lovi dengan gemas.


"Kalau tidak ada anak-anak, aku bebas melakukan apapun,"


Lovi tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah ranjang untuk menatanya kembali. Di perjalanan mereka kali ini, Lovi meminta pada Devan agar diperlakukan sama seperti ketika di mansion atau rumah mereka sendiri. Tidak perlu ada bagian kebersihan yang datang untuk membersihkan kamar mereka. Karena kalau itu sampai terjadi, Lovi benar- benar akan mati kebosanan. Tidak ada anak di dekatnya membuat Ia bingung harus melakukan apa. Kalau berkeliling London sendiri, kurang menyenangkan rasanya.


******


Jino dan Istrinya datang ke mansion dengan mengikut sertakan putri mereka, Adrina. Adrian senang sekali sahabatnya datang.


"Sayang sekali kami datang terlambat. Kapan Devan akan pulang?" tanya Jino pada Rena dan Senata yang menjamu mereka.


"Rencana awal satu Minggu lebih. Tapi tidak tahu bagaimana kepastiannya,"

__ADS_1


"Lama juga boss besar itu pergi," guraunya mengundang tawa.


Andrean memilih untuk duduk di dekat kedua neneknya daripada bermain bersama Adrian dan Adrina yang berisik itu.


"Tidak ada Thalia mainnya dengan aku. Coba kalau ada Thalia, pasti lupa." sindir Adrina mengingatkan Adrian akan sikapnya yang menyebalkan itu. Bila ada si anak baru itu, Adrina akan menjadi yang terbelakang. Rupanya selain Adrina, Thalia juga sudah menjadi sahabat Adrian.


"Jujur, Thalia tidak riuh seperti kamu,"


"HEY SADAR DIRI!" teriak Adrina seraya mengejar Adrian. Apakah Ia tidak tahu kalau dirinya sendiri lebih dari riuh?


"Tapi temanku jadi lengkap. Berbeda sifat jadi menyenangkan,"


"Auris sudah besar ya? tidak terasa," Sheva meraih Auristella agar dipangkunya. Anak itu sempat menolak karena Ia tidak begitu kenal dengan Jino dan Sheva.


Setelah diajak bicara dan bermain, mencair juga sikapnya. Ia jadi nyaman bersama Sheva yang memiliki kepribadian tidak jauh berbeda dengan Mommy-nya. Lembut, keibuan, dan sangat mengayomi.


"Adrina belum minta adik?"


Jino terkekeh ringan mendengar kalimat Senata. Ia menggeleng, "Belum. Sepertinya memang ingin sendiri saja,"

__ADS_1


"Tidak kesepian kalau di rumah? salut juga Mama,"


"Kesepian pasti. Tapi dia selalu ada cara untuk menghilangkan rasa sepi itu,"


"Memang terlihat kalau sudah bergabung dengan Adrian. Dia pasti langsung bermain tanpa kenal lelah," sahut Rena yang menilai Adrina setelah beberapa kali bertemu dengan anak itu.


"Iya, memang seperti itulah anakku. Kalau sudah bermain dengan teman, akan lupa dengan semuanya,"


"Adrina harus sering dibawa ke sini. Kami sangat senang kalau Adrian ada teman bermain, jadi mengurangi sakit kepala nenek-neneknya,"


suara tawa langsung terdengar. Jino tahu kalau Adrian adalah tipe anak yang suka mengganggu bila Ia merasa bosan atau kesepian. Sama persis dengan Adrina.


"Biasanya dia melakukan apa kalau tidak ada kesibukan?"


"Sesuka hatinya. Membuat Auris menangis, membuat mansion berantakan, mengganggu neneknya masak di dapur, apapun dia lakukan agar tidak diam saja,"


"Paling tidak bisa jika disuruh diam ya, Grandma?" tanya Sheva dengan sisa tawanya. Tidak bisa dibayangkan seperti apa suasana di mansion ini kalau Adrian sudah berulah.


"Dia hanya diam kalau tidur saja. Selebihnya aktif sekali,"

__ADS_1


---------


__ADS_2