My Cruel Husband

My Cruel Husband
Anak kedua ikut membela


__ADS_3

Devan kembali memasuki kamarnya. Lovi cepat-cepat menghapus jejak air matanya lalu bangkit dari tepi ranjang untuk mencari lagi benda yang belum ditemukan itu.


Hati Devan menghakimi dirinya sendiri yang dengan tega membuat Lovi seperti ini. Tetapi Ia harus melakukannya agar ada kesan menegangkan yang membekas di hati istrinya. Tahun-tahun yang lalu Devan tidak pernah sampai seperti ini.


Melihat istrinya menangis, Devan sangat ingin memeluk erat. Tetapi kalau Ia melakukan itu, semua rencana akan hancur berantakan. Hanya untuk malam ini Devan harus tega, hatinya harus sekeras batu, tidak boleh luluh dengan air mata Lovi.


"Menangis, itu saja yang kamu bisa. Lalu berlindung di belakang anak. Seolah aku yang salah," ujar Devan.


Devan menghampiri Auristella untuk dibawanya tidur. Setelah berbaring di ranjang, Devan melirik Lovi yang masih sibuk membongkar isi kamar.


"Ya, sudah besok saja cari lagi. Sekarang aku mau istirahat,"


"Tapi kamu belum minum vitamin,"


"Lalu bagaimana?! ini salah siapa?"


Auristella naik ke atas dada Devan lalu menepuk-nepuk mulut Devan seolah memberi hukuman untuk Devan yang sudah melanggar ucapannya dengan Andrean yaitu tidak akan melanjutkan perilakunya yang tadi lagi.


Devan memang sudah menghentikan amarahnya yang sempat meluap-luap, tetapi Ia masih berusaha membuat kalimat tajam agar menyakiti hati Lovi.


Adrian memasuki kamar orangtuanya dengan wajah berseri seperti biasa. Ia bergabung dengan adik dan Daddy-nya. Dan menatap bingung ke arah Lovi yang tengah sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Mom, cari apa?"


"Tidak usah banyak bicara. Kalau ke sini artinya sudah ingin tidur," tukas Devan dengan tegas. Ia memeluk Auristella dan anaknya itu menyembunyikan kepala di dada Devan. Sementara Adrian memeluk Devan dari belakang. Devan sengaja berada di tengah, agar kedua malaikat kecilnya tidak menyelenggarakan drama lagi.


"Mom, tidur dulu. Besok saja bongkar-bongkarnya," Adrian berbicara pelan pada Lovi yang langsung tersenyum ke arahnya. Adrian menepuk tempat di sampingnya, mengisyaratkan Lovi agar segera berbaring.


"Andrean tidak tidur di sini?" Lovi bertanya pada anak keduanya itu. Adrian menjawab dengan gelengan kepala.


"Tadi aku ajak ke sini, dia tidak mau. Marah padaku tiba-tiba. Mungkin masih kesal dengan aku ya, Mom?"


Adrian tidak tahu kalau ada dua penyebab Andrean tidak ingin tidur bersama di kamar orangtuanya. Pertama, masih kesal dengan Adrian yang tadi mencari masalah dengan Auristella dan kedua, rasa tidak terima atas perlakuan Devan terhadap Lovi masih menggerayangi hatinya.


*******


Rencana Devan untuk membuat istrinya kesal masih berlanjut hingga pagi hari. Ia akan berhenti sampai acara tiba nanti malam. Perasaan Lovi saat ini pasti bercampur aduk. Melihat Devan yang sepertinya benar-benar lupa akan hari ulang tahun pernikahan mereka, lalu dimarahi oleh Devan tanpa sebab. Tidak bisa dibayangkan betapa sulit Lovi harus menahan emosinya.

__ADS_1


"Aku tidak meminta sereal. Kenapa dibuatkan ini?"


"Tadi aku bangun terlalu siang, tidak bisa memasak sesuatu selain dari sereal,"


"Kenapa bangun siang? tidak biasanya,"


"Karena aku sibuk mencari kotak obatmu sampai malam, Devan!" batin Lovi menjawab.


Kening Andrean mengerinyit kesal. Mata tajamnya memperhatikan Devan yang tengah mencicipi sarapannya. Ia harus tahan diri. Sepertinya yang semalam dibicarakan oleh Devan belum selesai.


"Aku mau--"


"Ya, sudah buat sarapan sendiri saja, Dad. Daripada banyak protes," sahut Andrean yang kesulitan menjaga mulutnya kalau sudah geram walaupun Devan tidak benar-benar punya niat untuk menyakiti Lovi, Tetap saja ada rasa ingin melindungi.


"Iya, Dad. Mulut Daddy berisik sejak tadi," Adrian turut memperkeruh suasana demi membela Mommy-nya. Anak ini belum tahu apa-apa seperti kakaknya. Devan memang berniat untuk melihat reaksi Adrian ketika Devan memarahi Lovi. Apakah sama dengan Andrean atau tidak. Tadi malam Adrian sibuk bermain sehingga tidak tahu kalau kakaknya sempat adu mulut bersama Devan.


Dengan melakukan ini, Devan jadi tahu sebesar apa rasa sayang kedua anaknya terhadap Lovi. Mereka sudah bisa menilai pihak mana yang seharusnya dibela.


"Hari ini, Aku ke kantor sedikit siang. Sekarang buatkan aku soup jagung!" titahnya pada Lovi.


"Berani sekali kamu menyakiti Daddy?"


"Daddy juga berani menyakiti Mommy. Itu akibatnya,"


Lovi tidak membantah. Ia segera bangkit untuk membuatkan makanan yang diminta oleh suaminya.


"Mommy, makan dulu. Nanti saja masaknya,"


"Daddy mau sekarang. Perut sudah lapar,"


"Makanlah yang sudah dibuat Mommy biar tidak lapar. Begitu saja dibuat sulit,"


"Kamu---"


"Daddy, mau terus berdebat di meja makan?" suara dalam Andrean menginterupsi. Devan memberi kode lewat mata pada Andrean agar tidak menjadikan dirinya sebagai pihak yang tersudutkan, berharap Andrean membantunya dalam melancarkan aksi. Tetapi Andrean tidak bisa. Ia tidak tega melihat Lovi.


"Kalian lanjutkan sarapan. Mommy hanya masak sebentar,"

__ADS_1


Auristella segera menarik ujung baju yang dipakai Lovi. Ia menggeleng, tidak ingin ditinggalkan.


"Sebentar, Auris. Nanti Mommy kembali lagi,"


akhirnya anak itu membiarkan Lovi menjauh. Andrean melihat adiknya sebentar. Auristella belum sarapan. Ia sedang menikmati camilan khusus untuknya. Saat Lovi ingin memberinya sarapan, Auristella menolak. Daripada Ia hanya memperhatikan orang-orang disekitarnya sarapan, Lovi beri saja camilan.


Tangan kecilnya kesulitan mengambil isi dari kemasan yang dipegangnya. Rupanya tinggal sedikit lagi.


Andrean mengambil piring Auristella lalu mengambil makanan dari tangan adiknya. Niatnya, Ia akan menuang camilan Auristella ke dalam piring agar adiknya tidak kesulitan. Tetapi Auristella malah menjerit tidak mau.


"Okay, maaf-maaf. Silahkan dilanjut kalau begitu," ujar Andrean seraya mengangkat kedua tangannya. Ia tidak berani melakukan apapun kalau adik kecilnya sudah berteriak seperti itu. Niat baiknya malah ditanggapi dengan penolakan, jadi Andrean kembali sibuk dengan kegiatannya mengisi perut.


"Mau masak apa, Nona? bukankah sarapan Tuan sudah ada?"


"Soup jagung, Netta. "


Netta mengangguk dan mulai membantu Lovi untuk menyiapkan bahan-bahan. Netta sempat bertanya-tanya juga dalam hati. Siapa yang meminta soup jagung? Devan kah? tapi tidak biasanya Ia menginginkan menu sarapan lebih dari satu.


"Devan, kenapa tidak dimakan? biasanya kamu lahap sekali,"


"Menunggu soup jagung, Ma."


"Oh, sedang dibuatkan?" Senata duduk di dekat ketiga cucunya. Lalu menatap santapan mereka pagi ini.


"Iya, tapi lama sekali."


"Tunggu sebentar! kalau tidak sabar, lebih baik buat sendiri. Andrean sudah berkata seperti itu tadi," Adrian mengeluarkan gerutuannya dengan bibir mengerucut.


"Hey, Adrian, tidak boleh menatap Daddy dengan tajam seperti itu." Senata menegur cucunya dengan lembut.


"Iya, lama-lama dia tidak sopan , Grandma." Sahut Devan membuat dada Adrian semakin panas.


"Daddy yang tidak sopan. Mommy sedang makan malah disuruh masak. Seharusnya biarkan Mommy selesaikan dulu sarapannya,"


Senata mengerjapkan matanya kagum. Adrian begitu dewasa ketika mengatakan itu. Terlihat sekali membela Lovi yang Ia ketahui tengah dibuat kesal oleh Devan.


Semalam Senata mendengar keributan yang disebabkan oleh menantunya. Tak disangka, Andrean ikut campur. Dia membela Lovi habis-habisan. Ia dan Rena hanya bisa menggeleng pelan mengetahui sikap yang diambil Devan demi sebuah kesan agar terasa lebih membekas di hati istrinya.

__ADS_1


__ADS_2