
"Hei kerbau!! enak sekali ya menjadi istri kakakku?"
Vanilla masuk ke dalam kamar Devan yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya. Gadis itu berseru kencang saat melihat Lovi yang masih terlelap.
Lovi bangun dari tidurnya. Ia menatap jam yang bergantung. Hari sudah hampir siang dan Ia baru terbangun. Ketika hari menjelang fajar, Lovi kembali diserang gejala mual karena kehamilannya hingga Ia baru bisa tertidur nyaman setelah Devan terus mengusap perutnya.
Vanilla menatap Lovi yang kini membereskan ranjang. Senyum miringnya hadir saat mengingat kalau Ia belum mengucapkan selamat pada Lovi atas kehadiran janin itu.
"Aku senang kamu hamil. Tapi jangan berharap lebih!! Semuanya berperilaku baik hanya karena kandunganmu,"
Lovi yang sedang menunduk untuk menata bantal pun menoleh. Ia menatap sendu ke arah Vanilla. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan mengatakan semuanya. Vanilla berhasil membuat hatinya terluka pagi ini.
"Devan juga melakukan hal yang sama. Jadi jangan terlalu senang. Mungkin setelah kamu melahirkan, Devan akan membuangmu," Dengan santai gadis itu mengucapkan kalimat yang sangat dibenci oleh Lovi sekarang. Ucapan yang sarat akan peringatan kalau Lovi harus bersiap-siap sebelum perpisahan itu datang merampas Devan dari genggamannya. Sudah dikatakan bukan kalau saat ini Lovi sudah menjadi sosok yang egois? Ia tidak ingin kehilangan orang-orang yang disayanginya untuk yang kesekian kali.
"Tapi kamu jangan khawatir. Anak itu mungkin akan tinggal bersama kami," Lanjut Vanilla.
Hancur sudah dunia Lovi. Ia tidak bisa menerima kenyataan itu nantinya. Bila satu persatu pergi meninggalkannya maka hanya kepada anaknya lah Lovi berharap tetap bisa bersama. Namun mendengar itu dari Vanilla menjadikan jantungnya seperti ditimpa godam besar.
"Ini anakku, Jadi aku yang akan mengurusnya," Ucap Lovi yang merasa kalau pandangannya kian mengabur karena bulir air mata memenuhi kelopak matanya.
__ADS_1
"Ya, Itu memang anakmu. Lagipula siapa yang ingin mengakui anak dari seorang jalang?"
Amarah dan luka di hati Lovi tak bisa lagi dihitung seberapa banyak. Vanilla benar-benar membuatnya terjatuh kesakitan. Hatinya terasa di koyak dengan kejam.
"Jaga ucapanmu, Nona!" Ucap Lovi dengan suara dalamnya. Ia tidak ingin amarah menguasainya. Lovi juga memikirkan kondisi anaknya. Ini merupakan tugasnya sebagai Ibu dimana Ia harus menjaga harga diri anak itu agar tak merasakan kehancuran seperti dirinya.
Vanilla kembali mengucapkan ujaran kebenciannya dengan senyum mengerikan,
"Aku berbicara kenyataan. Tidak ada yang menyukai kamu begitupun anak itu. Sampai saat ini kamu masih mengingat posisimu, bukan?"
Kalimat itu membawa Lovi sampai pada puncak emosinya.
"Kamu marah padaku? Bagus sekali, Jalang. Kamu melakukannya pada orang yang salah,"
Vanilla maju agar lebih dekat dengan musuh satu atapnya itu. Kemudian berdesis di depan wajah Lovi,
"Aku tidak pernah menerima kehadiranmu di sini. Kamu hanya sampah dan parasit tak berguna untuk keluargaku."
"Vanilla, Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara Devan membuat Vanilla menjauhi dari Lovi yang kini menatap lekat Kakaknya. Lovi kira ketulusan di mata legam itu benar-benar untuknya. Devan memang handal dalam memainkan perannya.
__ADS_1
"Aku dan Lovi hanya sedikit berbincang hangat," Ujar gadis itu dengan nada berbeda di akhir kalimatnya.
Devan mengangkat alisnya mencari sesuatu yang sebenarnya terjadi di antara kedua perempuan itu melalui pancaran mata Vanilla.
"Kamu berbohong, Vanilla?" gumam Devan dengan pandangan menajam. Vanilla membeku dan membuang wajahnya saat kakaknya itu malah menilai ekspresinya.
"Kamu tidak bisa jujur padaku?"
Vanilla tidak terima dengan ucapan Devan yang seakan membuatnya tersudutkan.
"Aku berkata yang sebenarnya. Tanyakan saja pada Istrimu,"
Vanilla memilih untuk melemparkan semuanya pada Lovi. Vanilla yakin perempuan itu akan melakukan hal yang benar. Lovi akan melindunginya.
Devan akan mengisyaratkan Istrinya untuk berbicara namun Lovi terlihat tidak ingin menatap kehadirannya sama sekali di sini. Bukan Devan namanya kalau Ia tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Dengan lancang dia menepuk pelan wajah Lovi agar terbangun dari lamunannya yang seakan ragu untuk berkata sesuatu.
"Dia mengatakan kalau Tuan akan membuangku setelah bayi ini lahir,"
**************
__ADS_1
Uyeee up lageee jgn diem" bae yak wkwk. Keep reading guisee!!