My Cruel Husband

My Cruel Husband
Bahagia mendapat buah tangan


__ADS_3

"Adrian ikut Grandpa bekerja ya?"


Setelah ditinggal sangat lama kemarin, Adrian dan Andrean seolah tidak pernah ingin jauh dari kakeknya. Padahal sudah dijelaskan bahwa Ia memang harus sedikit lama bila menjenguk Auristella.


"Nanti Grandpa ingin jenguk Auris bukan? kami ikut, boleh ya Grandpa?"


"Orang sehat tidak boleh ke rumah sakit,"


"Grandpa sehat kenapa ke sana?"


Raihan terdiam, kesulitan menjawab. Kalimat itu membuatnya terdiam telak. Raihan menghela napas pelan sebelum memberi pengertian.


"Kalian tidak perlu menjenguk, cukup doakan saja Auris,"


Masalahnya kalau mereka datang ke sana, ada Devan yang Ia ketahui selalu menemani Auristella. Setelah bertemu dengan Daddy mereka nanti, kira-kira apa yang terjadi? mereka akan banyak bertanya, apalagi jika keduanya tidak melihat kehadiran Lovi di sana. Urusan akan semakin panjang. Lagipula kedatangan mereka ke sana tidak berarti apa-apa. Auristella belum bisa dijenguk oleh banyak orang. Mereka juga akan menimbulkan kegaduhan, terutama Adrian. Lebih baik diam di mansion daripada semakin memperkeruh suasana. Perasaan Devan saat ini sedang kalut. Ia perlu ketenangan dalam mendampingi anaknya.


"Kalau sayang dengan Daddy dan Mommy, tidak boleh sulit untuk diatur. Kemarin-kemarin pintar, tidak membantah Grandpa," telunjuknya menjawil hidung bangir Adrian.


"Tapi aku ingin sekali melihat Auris. Dia sudah disuntik berapa kali, Grandpa? pasti menangis ya?"


Grandpa hanya bisa tersenyum tipis untuk menenangkan kedua cucunya yang nampak cemas.


"Adik kalian tidak lemah. Dia kuat, jadi tidak perlu khawatir,"


*******

__ADS_1


Di saat seperti ini Devan harus pintar membagi waktu. Sesekali Ia akan melihat kondisi Lovi yang saat ini dijaga oleh Senata.


Devan jarang sekali beranjak dari sisi anaknya. Bila Auristella tidak sedang memejamkan mata untuk tidur, Devan akan mengajaknya berbicara. Anak itu sudah sedikit membaik walaupun wajah cantiknya masih pucat.


Devan mengeluarkan boneka kesayangan Auristella yang dibawa oleh supir pribadi mansion sekaligus dengan perlengkapan mandi dan juga pakaian gantinya selama menjaga Auristella di rumah sakit.


"Daddy juga sudah menyiapkan sesuatu untuk Auris. Daddy membelinya di London kemarin. Lihat ya,"


Devan beranjak untuk membuka kopernya yang diantar oleh pihak kepolisian usai penyelidikan. Tidak ada yang hilang ataupun rusak karena memang isinya bukan barang yang mudah hancur. Sehingga ketika tabrakan terjadi, semua kondisi barang Devan maupun Lovi masih baik-baik saja.


Ia mengeluarkan boneka Barbie. Ia perhatikan Auristella hanya memiliki Barbie sedikit saja. Padahal biasanya anak perempuan sangat menyukai itu. Yang koleksinya sangat banyak adalah boneka teddy bear semua ukuran, warna, dan tipe yang dibelikan Devan setiap kali Ia menjelajahi dunia untuk urusan pekerjaan. Harganya pun tidak main-main untuk anak tercinta.


Auris tersenyum menerimanya. Bibir mungil itu maju pertanda Ia ingin mencium Devan. Devan dengan senang hati mendekatkan pipinya. Setelah suara kecupan kecilnya terdengar, Devan melakukan hal yang sama. Melalui kecupan itulah Devan mencurahkan segala cinta dan kasih untuk Auristella yang tidak akan pernah berhenti.


"Mom...Mom..." ucapannya belum jelas. Tetapi Devan mengerti apa yang diucapkan Auristella. Awal mula Devan memiliki anak, Ia sangat kesulitan untuk memahami bahasa anak kecil. Tetapi ia sering belajar dari Lovi dan setelah Auristella lahir, kemampuannya semakin terasah. Kata pertama yang keluar dari mulut Auristella ketika sudah bisa sedikit bicara adalah 'Dad'. Dari situlah Devan semakin semangat untuk terus memahami. Kebetulan Ia sendiri yang mendengar Auristella menyebut namanya. Perasaan Devan saat itu benar-benar bahagia.


********


Raihan lebih banyak bekerja di mansion sejak Auristella jatuh sakit. Ia harus menemani kedua cucunya yang lain sehingga pekerjaan dinomor duakan.


Bila ada hal penting yang mengharuskan Ia ke kantor, Raihan tidak segan meminta bantuan pada tangan kanannya.


"Biar tidak bosan hanya menunggu Grandpa ketik ini dan itu, kita harus melakukan apa, Andrean?"


"Kalau aku, tidak bosan sama sekali. Aku sedang membaca buku,"

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau membaca buku,"


"Aku tidak menyuruhmu untuk baca buku. Terserah kamu ingin melakukan apa. Kalau caraku agar tidak bosan ya seperti ini,"


"Adrian mau apa biar tidak bosan?"


Raihan menutup laptopnya dan membereskan berkas-berkas yang tadi berhamburan di atas meja kerjanya.


Kedua anak kembar itu mengikutinya sampai ke ruang kerja. Ada baiknya karena ruangan tidak sepi. Tetapi sejujurnya Raihan juga merasa terganggu terutama bila Adrian sudah sibuk sendiri membongkar ruang kerja miliknya. Sebenarnya Raihan adalah tipe orang yang tidak ingin diganggu bila sedang bekerja, sama seperti Devan. Tetapi lain urusan jika cucunya yang melakukan itu. Tidak mungkin Ia marah.


Setelah dibuat berantakan, Adrian tidak menatanya lagi. Hal itu membuat mulut Andrean gatal untuk memberi petuah.


"Bereskan lagi, Adrian. Kamu kenapa tidak tanggung jawab begitu?!"


"Sudah, Andrean. Nanti dibereskan oleh pelayan,"


"Mereka juga ada rasa lelah, Grandpa. Grandpa memang membayar pelayan di sini, tapi selagi kita bisa melakukannya sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain yang melakukannya?"


"Errghh! dasar mulut kembang api!"


"Seingatku kamu yang dikatakan mulut kembang api oleh Adrina. Bukan aku,"


Adrian menghentak kakinya kesal. Ia mengarahkan kepalan tangannya pada Andrean.


"Sudah....sudah, jangan berdebat. Coba tenang lagi seperti kemarin-kemarin. Hidup Grandpa rasanya tentram,"

__ADS_1


----------


__ADS_2